Presiden Soekarno telah berkunjung
ke Sukabumi pada tanggal 1 Maret 1951. Presiden Soekarno kembali berkunjung ke
Sukabumi pada tanggal 31 Agustus 1952. Ada apa? Pada hari dimana Presiden
Soekarno di Sukabumi tepat pada hari raya Idul Adha. Apakah karena setahun sebelumnya Presiden Soekarno hari raya Idul
Fitri di Bandoeng? Tentu saja semua ini bukan karena itu.
![]() |
| Soekaboemi, 31 Agustus 1952 |
Pada tanggal 1 Maret 1951 Presiden Soekarno mengunjungi
Sukabumi dan melakukan pidato di Lapangan Merdeka di Sukabumi. Setelah
kunjungan ke Sukabumi ini pada bulan Juli 1951 Presiden Soekarno berkunjung ke
Bandoeng. Pada hari Minggu tanggal 6 Juli 1951 Presiden Soekarno melaksanakan sholat Idul
Fitri di Lapangan Tegallega Bandoeng. Setahun setelah (Hari Raya) Lebaran di
Bandoerng, kemudian Presiden Soekarno kembali berkunjung ke Soekabumi. Pada
tanggal 31 Agustus 1952 melaksanakan sholat Idul Adha di Lapangan Merdeka
Sukabumi. Untuk sekadar catatan: 65 tahun kemudian pada tanggal 1 September 2017
Presiden Jokowi melaksanakan sholat Idul Adha di Sukabumi sambil berkurban. Selama
di Sukabumi, Presiden Jokowi didampingi oleh Gubernur Jawa Barat, asli
Sukabumi, Ahmad Heryawan. Â Â
yang tetap menjadi pertanyaan penting adalah mengapa Presiden Soekarno
berkunjung kembali ke Sukabumi tepat pada hari Raya Kurban atau hari Lebaran Hadji? Dalam sejarah
Sukabumi catatan ini tidak ditemukan dan baru ketika Presiden Jokowi berkunjung
ke Sukabumi pada tahun 2017 catatan kunjungan Presiden Soekarno di Sukabumi ini
dianggap penting. Untuk mengetahui itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Soekaboemi bagi Presiden Soekarno. Negara Kesatuan Republik Indonesia begitu
luas dan begitu beragam persoalan yang dihadapi masing-masing daerah.
Lebih-lebih Presiden Soekarno belum lama berkunjung ke Soekaboemi (tanggal 1
dan 2 Maret 1951). Namun berbagai utusan berulang kali ke Djakarta untuk
meminta Presiden Soekarno berkunjung (kembali) ke Soekaboemi. Tidak diketahui
secara jelas apa yang menyebabkan utusan (pemerintah) Soekaboemi datang ke
Djakarta berulang kali untuk satu hal—Presiden Soekarno berkunjung ke
Soekaboemi. Presiden Soekarno akhirnya membuat rencana (darurat) ke Soekaboemi.
![]() |
| Het nieuwsblad voor Sumatra, 08-03-1951 |
Meski
tidak ada penjelasan dan kejelasan, sesungguhnya mudah dipahami mengapa
pemerintah Soekaboemi mengundang Presiden Soekarno berkunjung ke Soekaboemi,
meski Presiden Soekarno belum lama berselang ke Soekaboemi. Ketika Presiden
Soekarno akhirnya membuat rencana ke Soekaboemi, rakyat Indonesia sangat
memahami mengapa Presiden Soekarno berkunjung kembali ke Soekaboemi. Selama
tiga tahun terakhir situasi keamanan di Jawa Barat, boleh jadi secara khusus di
wilayah Soekaboemi, tidak pernah membaik dan selalu dianggap ada gangguan. Pada
kunjungan Presiden Soekarno ke Soekaboemi pada tahun 1951 terungkap dalam
pidatonya yang menyindir kelompok yang membuat ternjadinya pembunuhan dan
pembakaran di (sejumlah titik) di wilayah Soekaboemi. Potensi gangguan keamanan
di wilayah Soekaboemi ini diduga kuat karena faktor Daroel Islam pimpinan
Kartosoewirjo. Daroel Islam sendiri diproklamirkan pada bulan Agustus 1949. Foto: Saat Presiden Soekarno meninggalkan Sukabumi menuju Tjiandjoer,
1951 (Het nieuwsblad voor Sumatra, 08-03-1951).
diberitakan pada akhir bulan Juli (lihat De nieuwsgier, 27-08-1952). Disebutkan
untuk memenuhi permintaan dari pemerintah (burgelijk) Sukabumi, Presiden
Sukarno telah memutuskan untuk berpartisipasi dalam pertemuan doa bersama yang
akan diadakan pada tanggal 31 Agustus di Sukabumi pada kesempatan hari pengorbanan
Islam, Idul Adha. Kaum burgelijk di Kabupaten Sukabumi telah berulang kali
mengajukan permintaan kepada Presiden untuk mengunjungi Sukabumi pada hari
libur Islam.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





