Saat
ini Residentei Batavia, Residen membawahi tiga Asisten Residen (Meester
Cornelis, Buitenzorg dan Tangerang). Di Afdeeling Bekasi masih dipimpin oleh
Schout (di bawah Asisten Residen di Meester Cornelis). Pada tahun 1869 terjadi
kerusuhan di Bekasi, Asisten Residen Meester Cornelis dan Schout Bekasi
terbunuh. Oleh karena kekosongan pimpinan daerah di Meester Cornelis (termasuk
Bekasi) dirangkap oleh Asisten Resident Tangerang (hingga Asisten Residen
Meester Cornelis yang baru diangkat).
Bekasi) menjadi fokus soal keamanan (semacam kepala polisi). Fungsi schout ini selain
ditemukan Batavia (di Weltevreden dan Tanah Abang) juga trerdapat di Semarang
dan Soerabaja serta Cheribon. Schout telah bertransformasi menjadi polisi.
Inilah sejarah awal polisi di Hindia Belanda. Sementara itu fungsi
schout/onderschout di district Tangerang masih merangkap dalam tugas
pemerintahan untuk membantu Asisten Residen.
tahun 1873 fungsi Schout yang merangkap tugas pemerintahan ini di Residentie
Batavia digantikan oleh fungsi yang baru; Demang. Dalam hal ini demang adalah
pejabat pemerintah yang diangkat yang berasal dari orang pribumi. Demang
membawahi polisi-polisi yang dipekerjakan untuk membantu tugas demang.
Sementara di kota-kota, seperti di Batavia, schout adalah kepala polisi (semacam
kapolsek) seperti yang terdapat di Weltevreden, Tanah Abang, Pasar Baroe dan
Senen. Schout ini adalah orang Eropa/Belanda. Salah satu schout terkenal di Batavia
adalah Schout Hinne yang berhasil menembak si Pitoeng pada tahun 1893. Si
Pitoeng sebelumnya pernah dipejnajar di penjara Meester Cornelis dan melarikan
diri.
Penjara Orang Muda (Jeugdgevangenis) Tangerang
Tunggu deskripsi lengkapnya






