Perluasan tanah-tanah partikelir di sebelah barat sungai Tjisadane hingga
sungai Tjikande (sungai Tjidoerian) dilakukan setelah pemerintah menjual lahan
kepada swasta pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811). Dengan perluasan
ini, yang menjadi tanah-tanah partikelir, maka sebagian wilayah Residentie
Banten dikurangi dan kemudian wilayah tersebut dialihkan menjadi bagian dari Residentie
Batavia. Batas Residentie Batavia dengan Residentie Banten yang baru adalah
sungai Tjikande (sungai Tjidoerian yang bermuara di Djasinga). Dalam
perkembangannya pemekaran land Balaradja, tidak hanya terbentuk land Tigaraksa,
juga terbentuk land Antjol Victoria atau Daroe, land Tjiokoeja, land Antjorl
Pasir atau Pasir dan land Tjikadoe (Tendjo).
nama Tigaraksa bukanlah berasal dari nama suatu kampong. Sejauh ini tidak
pernah ditemukan nama kampong bernama Tigaraksa. Berdasarkan peta-peta
mikroskopik tidak ditemukan nama kampong Tigaraksa di land Tigaraksa. Besar
dugaan nama Tigaraksa adalah nama yang diintroduksi.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






