Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Bekasi (4): Kanal Pertama Bekasi, Antara Moeara dan Pantai; Kali Bekasi dan Sungai Tjitaroem Dihubungkan Kalimalang

Tempo Doelo by Tempo Doelo
24.06.2019
Reading Time: 29 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN



























































































































































*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Bekasi adalah sejarah yang unik. Kota
Bekasi kerap dihubungkan dengan kota kuno dari sebuah kerajaan tua. Kota Bekasi
juga kerap dihubungkan dengan kanal kuno, kanal yang dihubungkan dengan kali
Bekasi yang sekarang. Itu tentu adalah satu hal, sedangkan hal yang lain adalah
kanal melintang dari timur di Purwakarta hingga barat di Jakarta. Kanal itu
disebut Kalimalang. Kanal Kalimalang berpotongan dengan Kali Bekasi di pusat
kota Bekasi.

Sungai Bekasi tompo doeloe (Peta 1724), Kota Bekasi masa kini

Keberadaan
kanal di Indonesia pada masa ini sangat terkait sejarah kanal di era kolonial
Belanda (VOC/Pemerintah Hindia Belanda). Sangat banyak kanal dibangun oleh
Pemerintah Hindia Belanda. Kanal yang terkenal adalah Oosterslokkan di sisi
timur sungai Tjiliwong dan Westerslokkan di sisi barat sungai Tjiliwong. Kanal
terkenal di tengah kota Batavia adalah adalah Bandjier Kanaal. Di kota-kota
lain juga Pemerintah Hindia Belanda membangun kanal-kanal besar. Di Semarang
disebut kanal barat, kanal timur dan kanal Kali Baroe; di Soerabaja juga ada
kanal besar disebut kanal Kalimas. Tentu saja juga ditemukan di Padang
(Banda Bakali). Tentu saja di kota pegunungan juga ada dibangun kanal yakni
di Buitenzorg dan Bandoeng.

Lantas seperti apa sesungguhnya sejarah kanal di Bekasi? Pertanyaan ini
mungkin bagi umum tidak terlalu penting. Namun artikel ini justru menganggap disitulah
menariknya—karena dianggap tidak penting. Kanal adalah instrumen pengendali
banjir, kanal juga menjadi sumber pengairan lahan yang tidak pernah banjir.
Kanal-kanal di Bekasi memiliki sifat yang khas. Itulah mengapa kita perlu
meninjau kembali sejarah kanal di Bekasi. Kanal Bekasi di jaman kuno terkait
dengan kanal di Bogor.
    .

Kali Bekasi (Peta 1724)

Sumber
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Kanal Kali Bekasi, Kanal Sungai Tjipakantjilan di Bogor  

Merujuk pada prasasti Tugu (paruh abad ke-5),
disebutkan ‘dilakukan penggalian di sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui
ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut’ dan ‘saluran baru dengan air
jernih bernama sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur (12 Km)’. Lantas
dimana sungai (kanal) Candrabhaga dan sungai (kanal) Gomati ini berada.
Prasasti Tugu memang tidak jauh dari sungai Bekasi, boleh jadi karena itu sungai
Candrabhaga diinterpretasi sebagai sungai Bekasi.
Benteng (Fort) Bacassie (Peta 1695)

Kanal
dibuat untuk maksud tertentu, tidak selalu lurus. Kanal Gomati diperkirakan 12
Km, suatu ukuran jarak yang jauh. Jika itu berada di sekitar sungai Bekasi,
kanal 12 Km cukup kontras. Berdasarkan Peta 1724 apakah ada sifat kanal yang
muncul dalam peta? Tidak terlihat. Boleh jadi sudah hilang karena kejadiannya
sudah lampau (paruh abad ke-5). Lantas kalau tidak di seputar sungai Bekasi,
lalu dimana? Kanal kuno sejauh ini tetap menjadi misteri.

Dalam
Peta 1724 satu-satunya situs yang diidentifikasi di sekitar daerah aliran
sungai Bekasi adalah benteng (fort) Bacassie. Benteng ini tepat berada di muara
sungai Bekasi. Keberadaan benteng merupakan penanda navigasi bukti kontak orang
Eropa/Belanda di sungai Bekasi. Benteng Bacassie dibangun tahun 1695. Benteng
yang seumur dengan benteng Antjol, Maronda, Chirebon dan benteng Missier di
Tegal.
Pada era VOC/Belanda tidak ditemukan petunjuk
adanya kanal di seputar sungai Bekasi. Dalam plakat 1776 di seputar sungai
Bekasi di land Doea Ratoes, Telok Angsana dan Karrang Tjongok ditemukan enam
pabrik gula. Jumlah ini tidak bertambah, karena sudah kesulitan mendapatkan
kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar bagi keenam pabrik gula
terserbut, pemilik pabrik gula harus mengadakan kontrak dengan pemilik land
Tjilengsi dan land Klapanoenggal dengan cara membawanya dengan rakit ke hilir
melalui sungai Tjilengsi. Pabrik ini adalah milik Jeremias van Riemsdijk.
Jeremias
van Riemsdijk diduga adalah orang Eropa/Belanda yang pertama mengeksploitasi
wilayah pengaliran sungai Bekasi. Land Doe Raoes adalah lokasi terjauh properti
Riemsdijk di hulu sungai Bekasi. Land Doea Ratoes ini adalah tempat dimana
terdapat kampong Bekasi (cikal bakal kota Bekasi). Telok Angsana dan Karrang
Tjongok berada agak le hilir di sisi timur sungai Bekasi. Sebagai pionir di
Bekasi, keluarga Riemsdijk diketahui menjual sisa properti terakhir mereka pada
tahun 1818. Era pioner Riemsdijk berakhir di Bekasi, era pemilik baru land di
Bekasi dimulai.
Pada peta-peta mikroskopik yang terbit sekitar
tahun 1900, di wilayah daerah aliran sungai Bekasi juga tidak ditemukan
tanda-tanda sebuah kanal. Jika tidak ada pembangunan kanal di sungai Bekasi,
apakah yang dimaksud dalam prasasti Tugu hanya sekadar penggalian untuk
kebutuhan navigasi? Di dalam prasasti Tugu disebutkan: ‘dilakukan penggalian di
sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan
sebelum masuk ke laut’.
Sketsa batu berukir di landhuis Tjilintjing dekat Toegoe (1909)

Jika
mengikuti informasi ini penggalian sungai Candrabhaga dimaksudkan untuk
memperdalam sungai untuk kebutuhan navigasi. Hal ini karena tanda-tanda kanal
tidak ditemukan. Batas penggalian dimulai dari kota (‘setelah melampaui ibukota’)
hingga ke muara (‘sebelum masuk ke laut’). Kota yang dimaksud dalam hal ini
adalah kota Bekasi.

Satu informasi lagi dalam prasasti ini adalah
sungai baru seperti disebutkan ‘saluran baru dengan air jernih bernama sungai
Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur’. Sungai Gomati ini ini dapat diartikan
sebagai kanal (saluran baru) yang dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan air
bersih di kota Bekasi? Sumber air bersih ini berada di hulu. Saluran baru yang
disebut sungai Gomati haruslah diartikan bahwa ada bagian-bagian tertentu (jika
tidak keseluruhan) yang merupakan haris lurus.
Penggalian
sungai untuk kebutuhan navigasi dan pembuatan kanal untuk kebutuhan air bersih
adalah dua peristiwa besar, dua kebutuhan besar yang boleh jadi telah mengerahkan
penduduk dalam jumlah besar. Oleh karena itu dua peristiwa tersebut sudah
selayaknya diabadikan di dalam buku besar yang disebut prasasti (Prasasti
Tugu).
Sungai Bekasi (sungai Candrabhaga) adalah
gabungan sungai Tjilengsi dan sungai Tjikeas di sekitar Bantar Gebang. Pada
Peta 1724 satu-satunya nama yang diidentifikasi nama sebuah kampong di daerah
aliran sungai Bekasi adalah Bantar Gebang. Boleh jadi ini adalah sisa dari kota-kota
besar yang pernah ada di daerah aliran sungai Bekasi, dan kota Bekasi yang sekarang
adalah sebuah pelabuhan utama di daerah aliran sungai Bekasi.
Nama
kota (kampong) Bantar Gebang dapat diasosiasikan dengan nama-nama kota di wilayah
hulu seperti Bantar Jati dan Bantar Kemang. Kota Bantar Jati adalah hulu
sungaiTjikeas dan kota Batar Kemang adalah hulu sungai Tjilengsi. Penarikan
nama-nama-nama (kota) geografis ini mengarahkan kita ke sebuah kota besar yang berada
di pegunungan di Pakwan-Padjadjaran. Kota ini berada diantara titik singgung
terdekat antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane. Di timur kota besar ini
juga ditemukan kota (kampong) Bantar Pete. Nama-nama botanis pete, jati dan
kemang adalah nama pohon utama. Kota Bantar Pete, Bantar Kemang dan Bantar Jati
adalah tiga kota di sisi utara kota Pakwan-Padjadjaran. Lantas apa artinya kota
Bantar Gebang di hilir? Gebang adalah nama lain pohon beringin.  
Pelabuhan Bekasi (Candrabhaga) dari sudut pandang
(kerajaan) Pakwan-Padjadjaran adalah kota pelabuhan dari kerajaan Pakwan
Padjadjaran. Karena itulah di masa lampau, sungai Candrabhaga digali ke arah
hilir di pantai digali untuk memperdalam agar lalu lintas pelayaran dari laut
lepas ke pedalaman di Bekasi menjadi lancar (pengaruh pengendapan atau kenaikan
tonase kapal). Dalam hubungan ini, arti candrabhaga diinterpretasi oleh
Poerbatjarakan yang mana ‘chandra’ berarti ‘bulan’ dan ‘sasi’  berarti ‘bagian’, yang dengan demikian ‘candrabhaga’
adalah bagian dari bulan, dimana bulan itu sendiri berada di Pakwan
Padjadjaran.
Lalu
bagaimana dengan kanal sungai Gomati? Kemungkinan kita tidak menemukan di
hilir, tetapi justru di hulu. Dimana itu? Saya menduga itu adalah sungai Tjipakantjilan,
sungai air bersih yang membelah kota Pakwan-Padjadjaran yang bersumber dari lereng
gunung Pangrango. Sungai Tjipakantjilan yang berada di kota Bogor sekarang
adalah suatu sungai yang sangat unik dan di beberapa ruas terlihat dalam yang
tidak mungkin secara alamiah terbentuk. Sungai ini berada di ketinggian diantara
dua jurang dalam di sisi selatan (sungai Tjisadane) dan di sisi utara (sungai
Tjiliwong). Hanya tangan manusia yang dapat melakukan itu karena sungai-sungai
kecil di arah hulu sungai Tjipakantjilan secara alamiah harusnya jatuh ke
sungai Tjiliwong atau sungai Tjisadane.   
Dalam perkembangannya, Kerajaan Taroemanagara yang
dipercaya berada di daerah aliran sungai Bekasi lambat laun merdup dan tamat.
Kerajaan baru muncul yang diduga lebih perkasa muncul di daerah pegunungan di Pakwan-Padjadjaran.
Lokasi kerajaan Taroemanagara di hilir sangat rentan terhadap serangan, tidak
demikian dengan lokasi kerajaan Pakwan_Padjadjaran yang berada di dalam benteng
sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane.
Seperti
disebutkan dalam Prasasti Tugu ‘dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang
Mulia Purnawarman’ itu dapat diartikan kerajaan masih berada di sungai Bekasi.

Sementara dalam Prasasri Tugu
disebutkan ‘sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama
pendeta raja yang dipepundi sebagai leluhur bersama para brahmana’ diartikan
sebagai tempat suci di pegunungan. Dengan alasan tertentu, tempat suci ini
kemudian ditetapkan dan berkembang sebagai pusat kerajaan baru yang besar
dugaan adalah Kerajaan Pakwan Padjadjaran.
Dalam perkembangan lebih lanjut, rute perdagangan
Kerajaan Pakwan-Padjadjaran tidak mengikuti garis lalu lintas perdagangan di
Bekasi tetapi lebih memilih garis lalu lintas perdagangan yang baru melalui air
di sungai Tjiliwong dan kemudian terbentuk lalu lintas darat di sisi barat
sungai mulai dari Pakwan-Padjadjaran hingga ke pelabuhan Soenda Kalapa di
pantai.
Rute lalu
lintas ini adalah Kedang Badak, Tjilieboet, Bodjong Gede, Pondok Terong
(Tjitajam), Depok, Pondok Tjina, Srengseng, Tandjong, Doeren Tiga, Kampong
Malajoe, Menteng, Tjikini hingga ke Soenda Kalapa. Secara tekni jalur darat ini
tidak pernah memotong sungai mulai dari Pakwan-Padjadjaran hingga Soenda
Kalapa. Sedang pelabuhan sungai terjauh di hulu sungai Tjiliwong diduga
terdapat di kota (kampong) Moeara Beres (sekitar Bodnong Gede). Pelabuhan
sungai ini semua berada di sisi barat sungai yakni di Moeara Beres, Pondok
Terong, Ratoe Djaja, Depok, Pondok Tjina, Tandjoeng, Tjililitan, Kampong
Melajoe, Matraman, Tjikini, Sawah Besar, Mangga Doea dan Soenda Kalapa (Pasar
Ikan). .
Untuk kebutuhan beras, Kerajaan
Pakwan-Padjadjaran membangun pertanian di sisi timur sungai Tjiliwong dengan
membangun kanal baru dengan menyodet sungai Tjiliwong di hulu di Katoelampa.
Kanal baru ini (setelah sebelumnya terbentuk kanal air berish sungai
Tjipakantjilan) dialirkan melalui Bantar Kemang dan Bantar Jati untuk mendukung
sungai Tjilengsi dan sungai Tjikeas. Di hilir kanal ini terbentuk nama kota (kampong)
baru yang disebut Tjiloear. Nama ‘tjiloear’ apakah dikaitkan dengan nama sungai
yang keluar (kanal) dari sungai Tjiliwng?
Kanal
sungai Tjilioer yang bersumber dari sungai Tjiliwong di Katoelampa pada era
VOC/Belanda ketika Gubernur Jenderal dijabat oleh van Imhoif (1743-1747)
ditingkatkan menjadi kanal besar yang kemudian disebut kanal timur
(Oosterslokkan). Lalu pada era Pemerintah Hindia Belanda di era Gubernur
Jenderal Daendels (1808-1811) Oosterslokkan ditingkatkan dengan meningkatkan
debit air dengan menyodet sungai Tjikeas agar kanal dapat ditarik lebih jauh ke
hilir. Selain itu, Daendels yang telah membentuk kota baru, Buitenzorg juga
membangunan kanal baru di sisi barat sungai Tjiliwong dengan mengangkat air
sungai Tjipakantjilan yang jatuh ke sungai Tjisadane dan mengalirkannya ke
Kedong Badak melalu Paledang. Kanal ini diintegrasikan dengan sungai di
Tjileboet.
Dengan demikian, sejauh ini di seputar sungai
Kali Bekasi tidak ditemukan kanal. Yang ditemukan adalah pengerukan sungai Kali
Bekasi. Kanal sendiri hanya ditemukan di hulu di pegunungan yang kemudian
terbentuk Kerajaan Pakwan-Padjadjaran (suksesi Kerajaan Taroemanagara).
Sulit
mengetahui apakah tempat penemuan prasasti juga menunjukkan ibukota. Akan tetapi
isi teks dalam prasasti dapat dijadikan petunjuk awal untuk melacak dimana
posisi GPS ibukota. Disebutkan dalam prasasti bahwa ‘atas perintah Raja di Raja
dilakukan penggalian di sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota
yang masyhur dan sebelum masuk ke laut’. Penggalian sungai yang dimaksud melewati
kota besar (masyhur) hingga ke pantai. Jika diandaikan kota itu adalah Bekasi
yang sekarang, maka penggalian dimulai dari hulu sungai Bekasi di Bantar Gebang
hingga ke suatu tempat sebelum masuk ke laut (lihat Peta 1724), katakanlah itu
Moeara. Pada masa ini Moeara berada di Babelan, Dalam hal ini Moeara adalah
batas laut. Jika Moeara ini ditarik garis ke Toegoe, itu adalah dalam garis sejajar.
Jadi Toegoe dan Moeara adalah suatu tempat di garis pantai. Moeara pada 1000
tahun yang lalu adalah pintu masuk ke sungai Bekasi dimana terdapat ibukota.
Posisi imajiner muara sungai Bekasie dan Tjitaroem (Peta 1724)

Pada
waktu 1000 tahun yang lalu, apakah sungai Tjitaroem sepanjang yang sekarang?
Jika tidak, kita harus berpikir kasusnya sama dengan sungai Bekasi. Lantas
dimana muara sungai Tjitaroem? Tariklah garis dari tempat yang kini disebut
Tanjung Pakis ke Moeara. Tanjung Pakis akan tampak benar-benar suatu tanjung
(cape). Muara sungai Tjitaroem berada di sekitar garis Moeara dan Tandjoeng
(Pakis). Gambaran ini masih tampak pada peta 300 tahun yang lalu (Peta 1724).Oleh
karena itu daratan di depan muara sungai Tjitaroem pada tempo doeloe adalah
lautan. Dengan kata lain Teluk Jakarta yang sekarang telah berkurang. Itu
karena ada proses sedimentasi yang lama yang disebabkan oleh bahan lumpur yang
dibawa arus sungai Bekasi dan sungai Tjitaroem. Sedimentasi ini lambat laun
membentuk daratan. Dalam hal ini muara sungai Tjitaroem dan muara sungai Bekasi
tempo doeloe lebih dekat satu sama lain jika dibandingkan pada masa ini.  

Kanalisasi di Bekasi pada Era Moderen

Benteng (fort) Bacassie di muara sungai Bekasi
mulai dibangun tahun 1695. Benteng ini dibangun tidak (hanya) untuk menangkal
serangan dari laut tetapi juga untuk benteng pertahanan ketika memulai
eksplorasi dan eksploitasi di daerah aliran sungai Bekasi. Benteng Bacassie
adalah pintu masuk menuju hulu sungai Bekasi untuk pengembangan pertanian tebu
dan pembangunan pabrik gula. Riwayat kanalisasi di Bekasi dimulai.
Sebelum
benteng (fort) Bacassie dibangun, suatu ekspedisi tahun 1687 dikirim ke
pedalaman di hulu sungai Tjikeas dan hulu sungai sungai Tjilengsie (pangkal
sungai Kali Bekasi). Ekspedisi ini dipimpin Sersan Scipio. Rute ekspedisi yang
dilakukan tidak dari pantai utara, tetapi dari pantai selatan Jawa di muara
sungai Tjimandiri (Pelabuhan Ratu sekarang). Ekspedisi ini mengikuti sungai
Tjimandiri lalu bergeser ke arah utara mendekati gunung Salak (di sebelah timur).
Setelah menyeberangi sungai Tjisadane tidak jauh kemudian menemukan sungai
Tjiliwong. Tentu saja tim ekspedisi ini baru menyadari mereka telah berada di
titik balik (melihat jauh ke pantai utara). Tim ekspedisi ini dilengakapi oleh
pemandu yang handal, ahli bahasa, ahli geologi dan ahli botani serta ahli
geografi sosial (pemetaan).
Fort Padjadjaran (Peta 1687)

Tim
ekspedisi ini cukup lama berada di sekitar titik persingungan terdekat antara
sungai Tjisadane dan sungai Tjiliwong. Sementara para ahli melakukan tugasnya,
sejumlah militer dan koeli membangun pos pertahanan di titik tertentu. Pos
pertahanan ini kemudian disebut Fort (benteng) Padjadjaran). Posisi GPS fort
ini tepat berada di Istana Bogor yang sekarang. Dengan meninggalkan sebagian
tentara dan koeli di benteng (baru) tim ekspedisi yang dipimpin Scipio kembali
ke Batavia menyusuri jalan dari kampong ke kampong sepanjang sisi timur sungai
Tjiliwong. Tiga nama kampong besar yang diidentifikasi dalam peta ekspedisi
adalah kampong (kota) Tjiloear, Kedong Halang dan Tjibinong.

Setelah
benteng (fort) Tandjoeg (kini di Pasar Rebo) dan Fort Bacassie dibangun (1695)
sebagai benteng terjauh untuk menyangga benteng (fort) Padjadjaran, pada tahun
1703 kembali dikirim ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong dan meninjau wilayah Priangan
hingga ke Tjiandjoer. Ekspedisi ini dipimpin oleh Abraham van Riebeeck. Dalam
laporan ekspedisi ini diketahui tim berangkat dari Meester Cornelis terus ke
hulu di sisi barat sungai Tjiliwong dengan melewati Tjililitan, Tandjong,
Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjong Gede, Tjileboet dan Parung Angsana.
Tim ini juga melaporkan hasil ekspedisi ke Priangan di Tjiandjoe (melewati
Gadok dan Tjisaroea). Lalu dalam perkembangannya, setelah pulang dari Malabar
(India) Abraham van Riebeeck diangkat sebagai Gubernur Jenderal VOC (1709-1713).
Tanaman kopi (yang diimpor) dari Malabat diintroduksi Abraham van Riebeeck di
daerah aliran sungai Tjiliwong dan Priangan. Percobaan pertama dilakukan di
Kedaoeng tahun 1711. Selain di hulu sungai Tjiliwong dan sisi barat Priangan
juga kopi diintroduksi di Semarang, Pada tahun 1724 sudah ditemukan kebun kapi
di sisi barat sungai Semarang.        
Gula dan kopi adalah komoditi modern yang tengah
diusahakan oleh Pemerintah VOC untuk melengkapi komoditi kuno lainnya untuk
ekspor. Komoditi kuno yang masih ada umumnya golongan rempah-tempah seperti
cengkeh, pala, lada, kulit manis, getah poeli dan bahkan masih ada dalam porsi
kecil komoditi purba seperti kemenyan, kamper, benzoin dan damar. Komoditi gula
dan kopi dihasilkan dengan membangun pertanian tebu dan membuat kontrak dengan
pemimpin lokal (pribumi). Untuk pengembangan pabrik gula, para pengusaha
VOC/Belanda mengandalkan imigran yang didatangkan dari Tiongkok. Pada era gula
inilah Jeremias van Riemsdijk membuka lahan di daerah alisan sungai Bekasi
untuk pembangunan pertanian tebu dan pabrik gula.
Jeremis
van Riemsdijk membuka lahan di tiga lokasi di daerah alisaran sungai Bekasi
yakni di Karang Tjongok, Telok Angsana dan land Doea Ratoes. Kampong (kota) Bekasi
berada di land Doea Ratoes. Masing-masing di tiga lokasi ini dibangun dua
pabrik gula. Lokasi mana diantara tiga tempat yang pertama dibangun pertanian dan
sejak kapan tidak diketahui secara jelas. Namun dalam plakat 1776 diketahui di
daerah aliran sungai Bekasi sudah terdapat enam pabrik gulu tersebut. Gubernur
Jenderal VOC pada tahun 1776 adalah Jeremias van Riemsdijk (1775-1777). Jeremias
van Riemsdijk sebelumnya telah memiliki land Antjol (juga perkebunan tebu dan
pabrik gula).
Sudah barang tentu dalam pembangunan pertanian
tebu di daerah aliran sungai Bekasi diperlukan kanal-kanal baru untuk mendukung
sistem irigasi (pengaturan air). Namun dalam perkembangannya, pabrik gula tidak
kondusif lagi di daerah aliran sungai Bekasi karena sulitnya mendapatkan kayu
bakar. Mendatangkan kayu bakar dari jauh seperti dari land Tjilengsi dan land Klapanoenggal
tidak efisien lagi.
Kaaal Bekasi (Peta 1900)

Pabrik
gula lambat laun tutup semua dan dengan sendirinya pertanian tebu juga berakhir
(lahan-lahan pertanian tebu dan pabrik gula mulai bergeser ke Jawa).
Lahan-lahan terakhir di daerah aliran sungai Bekasi dijual keluarga Riemsdijk
pada tahun 1818. Pengusaha gula, keluarga pionir Riemsdijk di Bekasi tamat. Keluarga
Riemsdijk memulai peruntungan baru dengan membangunan pertanian tanaman kopi di
Tjiampea.

Setelah berakhirnya era komoditi gula di daerah
aliran sungai Bekasi, pertanian tanaman pangan (beras) dimulai oleh
pengusaha-pengusaha baru yang juga diperluas dengan mencetak sawah-sawah baru.
Pembangunan kanal irigasi (modern) dimulai. Keberadaan sistem irigasi di daerah
aliran sungai Bekasi dekat kota Bekasi dapat dilihat pada peta mikroskopik
tahun 1900.
Kanal di landhuis Pondoek Poetjong dan Karang Tjongok

Kanal
Bekasi dibangun sedikit di arah hulu kota Bekasi pada sisi timur sungai Bekasi.
Kanal ini menyodet sungai Bekasi dengan membangun kanal sepanjang sisi timur
sungai. Kanal mengairi persawahan di sisi timur sungai hingga ke arah hilir
(lihat Peta 1900). Jika diperhatikan situasi dan kondisi masa kini, posisi sodetan
sungai Bekasi untuk membuat kanal tersebut menjadi bendungan Bekasi yang
sekarang. Bendungan Bekasi ini diintegrasikan dengan pembangunan kanal
Kalimalang. Kanal Bekasi ini diduga kanal pertama di Bekasi sejak era Jeremias
van Riemsdijk.

Masih
di sekitar kota Bekasi (Peta Bekasi 1900) terlihat ada kanal yang lebih besar
dibangun di sisi barat sungai yakni dengan membendung rawa Tembaga dan
mengalirkannya ke arah hilir. Bendungan dan pangkal kanal tersebut tidak jauh di
sisi barat stasion Bekasi. Sistem Irigasi bendungan Rawa Tembaga di sekitar
kota Bekasi ini diduga dirawat oleh pemilik land Telok Poetjong, Bekasi West en
Rawa Pasoeng. Pemilik land ini juga membangunn kanal di sisi barat rawa yang
dialirkan ke hilir melalui Krandji dan Odjoeng Menteng (lihat Peta Tjibening
1901). Pemilik land ini juga membangun kanal dengan menyodet sungai Bekasi dan
kanal ini menuju landhuis Pondok Poetjong. Pemilik land Karang Tjongok juga
membangun kanal dengan menyodet sungai Bekasi dan mengalirkannya ke sisi timur
sungai Bekasi.
Kanal di lanhuis Babelan

Pada Peta
Tjibening 1901 juga terlihat Rawa Pengangonan di land Pondok Kelapa dibendung
dengan membuat kanal ke hilir. Rawa Pengangonan ini juga didukung kanal yang
berasal dari Pondo Gede (land perkebunan tebu dan pabrik gula). Irigasi besar
juga ditemukan di land Babelan. Irigasi ini berada di sisi timur maupun sisi
barat sungai Bekasi. Irigasi Babelan ini airnya disodet dari sungai Bekasi
dengan membangun kanal di dua sisi sungai (lihat Peta Bebalan, 1903).

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

Land Bekasi West, land Bekasi Oost, land Pondok Poetjoeng,
land Karang Tjongok, land Gaboes, land Babakan (Pondok Soga), land Tandjong dan
land Babelan (Rawa Bogor) adalah land-land yang memanfaatkan sungai Bekasi
untuk keperluan irigasi sawah dengan membangun kanal-kanal. Land-land ini di
masa lampau adalah area perkebunan tebu dan pabrik gula semasa (keluarga)
Riemsdijk.
Sungai Tjikeas, sungai Tjilengsi dan sungai Bekasi, kali Baroe

Kanal-kanal
irigasi penting lainnya terdapat di land Tjikarang, land Tamboen dan land Lemah
Abang. Kanal-kanal di land Tjikarang en Gedong Gede menyodet sungau Tjikarang. Land
Tjikarang Noord (Pebajoeran) menyodet sungai Tjitaroem untuk membangunan kanal
irigasi yang mengairi sawah seperti di Penajoeran dan Telok Haoer. Sungai
Tjitaroem juga dimanfaatkan untuk membuat kanal di land Tjibaroesa. Land
Tjibaroesa masuk Afdeeling Buitenzorg, tetapi pada masa kini masuk wilayah
Bekasi. Sungai Lemah Abang juga dimanfaatkan untuk pembangunan kanal di Lemah
Abang. Demikian juga sungai Tmaboen di Tamboen. Sungai Tjibeet juga
dimanfaatkan untuk pembangunan kanal demikian juga sungai Tjipamingkis. Wilayah
di hilir dekat pantai hampir tidak ditemukan kanal seperti di land Soengai
Boeaja, land Pondok Doea, land Soengai Bintaro dan land Karatan.

Last but not least: land-land yang berada di hulu
sungai Bekasi juga terdapat kanal-kanal besar. Kanal terbesar adalah kanal dari
sungai Tjilengsi di Bantar Gebang (sekitar pertemuan sungai Tjilengsi dan
sungai Tjikeas). Kanal ini disebut Kali Baroe dialirkan ke arah timur ke land
Bekasi Oost (lihat Peta Bantar Gebang 1904). Masih di seputar wilayah pertemuan
sungai Tjilengsi dan sungai Tjikeas ini, sungai Tjikeas dibendung dengan
membangun kanal besar ke arah hilir melalui land Pondok Gede dan Tjikoenir.
Kanal ini pada gilirannya diteruskan untuk mendukung Rawa Pengangonan.
Kanal Kalimalang
Secara teknis, kanal-kanal di Bekasi sudah
terbentuk sejak masa lampau di era kolonial Belanda. Di era Republik Indonesia
tentu saja pengembangan kanal terus dilakukan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

ADVERTISEMENT
Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Mahasiswa Culinary Class Tristar Kaliwaron Diajarkan Cara Buat Kreasi Beverage Product

PENASEHAT YANG MENCELAKAKAN ITU BERNAMA SYAITHAN

Iklan

Recommended Stories

[Penginapan] Caravan Park Adelaide – Melbourne

03.12.2012
Hukum Mengingkari Adanya Jin dan Fenomena Kesurupan

Resep Ikan Wader Tepung Goreng 2 Kali Lebih Renyah dan Lebih Awet

22.07.2016

Mendengar Adzan Tidak Shalat Jumat

16.11.2020

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?