melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini
Rencana pertama tidak selalu disegerakan, juga
yang pertama tidak salalu duluan sampai ke tujuan, tetapi yang pertama justru
ditempatkan terakhir. Itulah kisah awal pembangunan jalur kereta api di Bekasi.
Penduduk Bekasi harus menunggu 23 tahun impian itu baru terwujud. Realisasi
pembangunan jalur kereta api yang pertama  adalah ruas Semarang-Ambarawa.
![]() |
| Jalur rel kereta api Bekasi (Peta 1898); jembatan Tjikarang, 1900 |
Kota
Bekasi pernah mengalami suatu masa dimana transportasi air sebagai moda
transportasi utama. Itu sangat intens pada akhir era VOC, tetapi mulai
berkurang di awal Pemerintah Hindia Belanda. Gubenur Jenderal Daendels
(1808-1811) sangat serius soal pembangunan. Dua hal pertama programnmya yang terpenting
adalah membangun jalan dan mendirikan kota-kota milik pemerintah. Pembangunan
jalan yang utama adalah membanguna jalan trans-Java antara Batavia dan Anjer
dan antara Batavia-Panaroekan via Buitenzorg. Dua kota utama yang harus
dibangun adalah kota Batavia dan kota Buitenzorg. Untuk itu pemerintah membeli
lahan-lahan partikelir (land) di Batavia dan di Buitenzorg. Urutan di bawahnya
adalah membangun jalan arteri, salah satu diantaranya ruas jalan Meester Cornelis
via Tjakoeng ke Bekasi terus ke Krawang. Tidak hanya itu, pemerintah membeli
lahan partikelir (land) di Bekasi untuk membangun kota. Namun dalam
perkembangannya ruas jalan Meester Cornelis ke Bekasi tidak terawat dengan
baik. Pemilik land ogah merawat agar pejabat pemerintah menjadi sulit ke
Bekasi. Mafia opium mengambil keuntungan lewat jalan sungai.
Bekasi jika harus ke Meester Cornelis. Ketika muncul rencana konsesi
eksploitasi kereta api tahun 1864 penduduk Bekasi sumringah. Namun
rencana-tetap rencana, impian penduduk Bekasi terbebas dari masalah
transportasi tidak pernah terwujud. Berbeda dengan di jalur sungai Tjiliwong, penduduk
Bekasi terus terisolasi dan kota Bekasi tenggelam. Lalu kapan impian kereta api
penduduk Bekasi terwujud? Itu yang mau kita cari. Mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Jembatan kereta api di Tjikarang (1900) |
Sumber
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung
(pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis)
dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
di (pulau) Jawa dimulai di Batavia menuju Butenzorg melalui Bekasi. Rencana ini
muncul di ’sGravenhage (kini Den Haag) pada tahun 1864. Yang mendapat hak
konsesi ini adalah JE Banck Cs. Rencana ini sudah dituangkan dalam proposal dan
sudah dipetakan. Jalur kereta api yang dilalui adalah Batawia, Buitenzorg, Bekasi,
Tjibidong, Tjilengsi dan Tjitrap (Citeureup).Â
![]() |
| Rencana konsesi pembangunan kereta api Bekasi 1864 dan 1865 |
Konsesi
eksploitasi kereta api di Jawa ternyata menarik perhatian pengusaha lainnya. Stieltjies
Cs menyusul memasukkan proposal untuk membuka jalur lain. Pada ruas
Batawia-Buitenzorg, Stieltjies Cs akan membuka jalur Batavia-Buitenzorg melalui
Tjilengsi (tidak melalui Bekasi seperti Banck Cs). Dengan masuknya proposal Stieltjies
Cs maka rencana final tahun 1865 untuk pembangunan ruas Batavia-Buitenzorg akan
dioperasikan oleh dua operator: Banck Cs dan Stieltjies Cs. Banck Cs tetap merencanakan
jalur semula (tanpa perubahan). Stieltjies Cs akan membuat jalur baru antara
Batavia-Buitenzorg langsung ke Tjilengsi.
kereta api ruas Batavia-Buitenzorg tidak segera dimulai. Sementara jalur kereta
api di wilayah Semarang berlangsung sesuai rencana dan sudah mulai beroperasi
pada tahun 1867. Apa yang menyebabkan kelambatan untuk pengoperasian kereta api
jalur Batavia-Buitenzorg diduga karena alasan-alasan teknis (berdasarkan studi
kelayakan lebih lanjut).
![]() |
| Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873 |
Tampaknya
jalur kereta api ruas Batavia-Buitenzorg tidak efisien melalui Bekasi dan juga
tidak efisien melalui sisi timur sungai Tjiliwong. Pembangunan yang efisien
adalah melalui sisi barat sungai Tjiliwong (sebagaimana yang kita lihat
sekarang): Batavia- Depok-Buitenzorg. Pembangunan kereta api ruas
Batavia-Buitenzorg direalisasikan pada tahun 1869. Pembangunan jalur kereta api
Batavia-Buitenzorg ini ditandai dengan pencangkulan pertama yang dilakukan oleh
Gubernur Jenderal pada tanggal 25 October 1869. Tahap pertama selesai tahun
1870 antara Batavia-Meester Cornelis (kini Bukit Duri). Setelah itu, segera
dikerjakan tahap kedua antara Meester Cornelis-Buitenzorg via Depok. Secara
keseluruhan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg mulai beroperasi pada tanggal
31 Januari 1873 (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873).
jalur kereta api ke Bekasi. Ini terkait dengan terbitnya beslit tanggal 9 Januari
1882 nomor 4 yang menyatakan konsesi pengoperasian kereta api di Batavia (lihat
Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-01-1882).
Disebutkan konsesi tersebut diberikan kepada HJ Meertens dan Firma Tiedeman en van
Kerchen untuk pembangunan dan pengoperasian kereta api mulai pusat kota Batavia
melalui Gedoeng Roeboeh, Soenter Poeloe dan Poeloe Gadoeng ke Bekasi dan dari
Poeloe Gadoeng ke Klender di Meester Cornelis dan dari Gedoeng Roeboe ke Passar
Senin (Weltevreden).
tetap tidak segera terealisasi. Pasang surut kembali terjadi. HJ Meertens dan Firma
Tiedeman en van Kerchen boleh jadi akhirnya menolak karena berbagai
pertimbangan. Boleh jadi karena jalur yang diproyeksikan pemerintah adalah
wilayah yang kurang mendukung ke tujuan bisnis pengoperasian seperti biaya
pembangunan yang lebih besar dan potensi angkutan barang dan penumpang kecil.
Atau boleh jadi karena pemilik land tidak bersedia dalam pembebasan lahan.
Februari 1884 yang merupakan modifikasi konsesi yang diberikan berdasarkan
beslit 9 Januari 1882 nomor 4 (De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 25-02-1884). Disebutkan konsesi diberikan kepada Factorij der
Nederlandsche Handelmaatschappij di Batavia oleh Pemerintah untuk pembangunan
dan pengoperasian kereta api dari Batavia, Pasar Senen dan Meester Cornelis hingga
ke Bekasi.
![]() |
| Java-bode. 09-05-1885 |
Jalur
yang ditetapkan pemerintah Batavia, Pasar Senen, Meester Cornelis hingga ke
Bekasi lebih masuk akal. Biaya pembangunannya lebih murah dan potensi pasarnya
lebih besar. Namun masih ada keraguan pembebasan lahan dari Batavia, Senen,
Meester Cornelis hingga Bekasi (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 11-03-1885). Kepastian realisasi mulai terlihat ketika
Gubernur Jenderal menerbitkan berslit pembebasan lahan (lihat Java-bode :
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-05-1885).
Disebutkan Gubernur Jenderal telah memerintahkan pengambilalihan lahan partikelir
untuk kepentingan Perusahaan Kereta Api Timur Bataviasche, milik pribadi, yang
diperlukan untuk pembangunan kereta api mulai dari pusat kota Batavia, Pasar
Senen dan Meester Cornelis hingga ke Bekasi. Boleh jadi selama ini realisasi
tidak pernah terwujud karena hambatan soal pembebasan lahan. Apakah pembebasan
lahan di sisi barat sungai Tjiliwong lebih mudah? Dalam satu dasawarsa terakhir
ada rumor bahwa hambatan itu muncul dari pemilik lahan. Dalam hal ini tidak
hanya untuk mendukung pembangunan kereta api, untuk melakukan perawatan jalan
oleh pemilik sangat minim. Itu diduga karena unsur kesengajaan agar pejabat pemerintah
enggan ke arah timur Batavia termasuk Bekasi. Sebab selama ini ada rumor bahwa
mafia opium sangat merajalela melalui jalan-jalan tikus melalui sungai.
Batavia-Bekasi selesai dan mulai dioperasikan untuk publik. Keputusan pembukaan
pengoperasian ini tertuang dalam keputusan tanggal 11 September 1887 (lihat Bataviaasch
handelsblad, 14-09-1887). Ini dengan sendirinya sejak September 1887 babak baru
moda transportasi di Bekasi dimulai. Jika dibandingkan dengan rencana awal
sebelumnya tahun 1864, itu berarti penduduk Bekasi harus bersabar selama 23
tahun untuk menikmati moda transportasi modern.
![]() |
| De locomotief, 11-02-1890 |
Realisasi
pembangunan kereta api di Bekasi tidak hanya tertinggal jauh dengan jalur
kereta api sisi barat sungai Tjiliwong (Batavia-Buitenzorg) yang mulai
dioperasikan pada tahun 1873. Jalur Bekasi juga telat jika dibandingkan ruas
baru antara Buitenzorg ke Bandoeng via Soekaboemi yang mulai dioperasikan pada
tahun 1883. Tapi tentu saja bagi penduduk Bekasi tidak ingin hanya terbatas
ruas Batavia-Meester Cornelis, juga menginginkan terhubung antara Bekasi dengan
Krawang.
ruas Batavia-Bekasi mulai dilaporkan pada awal tahun 1890 (lihat De locomotief
: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 11-02-1890). Disebutkan hasil dari
pengangkutan di jalur kereta api Batavia-Bekasi untuk bulan November 1889
berjumlah f9.633,38 atau f11,89 per hari kilometer dan untuk bulan Desember sebesar
f8.827,49 atau f10,54 per hari kilometer. Angka ini tampaknya relatif kecil
jika dibandingkan dengan jalur Batavia-Buitenzorg pada awal pengoperasiannya. Lantas
apakah potensi pendapatan ini yang menjadi faktor utama mengapa terhambat
pembangunan jalur kereta api ke Bekasi? Lalu ke depan, apakah perluasan jalur
kereta api hingga Tjikarang atau Krawang akan lebih memberikan keuntugan yang
lebih besar? Kita lihat nanti.
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 05-07-1890 |
Satu
hal yang perlui dicatat jalur kereta api modern ini telah menenggelamkan jalur
kereta kuda dan kerbau (pedati). Jalur kereta api ini garis lurus dari Meester
Cornelis-Bekasi. Jalur kereta api tidak hanya lebih cepat juga jaraknya lebih
pendek. Sementara jalur moda transportasi darat (kereta kuda dan kerbau) dari Meester
Cornelis ke Bekasi tetap melalui Poelo Gadoeng dan Oedjoeng Menteng lalu ke Krandji
dan Bekasi. Apakah masih ada hambatan lainnya dari pemilik land untuk membangun
jalan darat melalui land? Mungkin tidak. Membangun jalan baru juga membutuhkan
biaya besar, toh juga masih ada akses melalui Poelo Gadoeng dan sudah ada jalur
kereta api, Okelah. Sejauh ini penduduk Bekasi tetap bersyukur.
Batavia-Mester Cornelis ke Bekasi, tidak lama kemudian jalur kereta mulai
diperluas hingga ke Tjikarang dan Krawang. Pembangunan jalur kereta api
dilaporkan sudah berjalan dan tengah berlangsung di Tamboen dan Tjikarang
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-03-1890). Pada bulan Juli jalur kereta api
sudah selesai hingga Tjikarang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-07-1890).
Disebutkan jalur kereta api Batavia-Krawang selesai sampai Tjikarang dan dibuka
untuk umum. Pos terdekat adalah Tandjong Poora; Krawang akan segera mengikuti.
Karena itu penyelesaian keseluruhan dapat diharapkan segera tercapai.
![]() |
| Jalur kereta api Batavia-Krawang (Peta 1898) |
Seperti
yang diduga dengan selesainya jalur kereta api ke Tjikarang pendapatan akan
meningkat. Surat kabar De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad,
21-11-1890 melaporkan hasil dari transportasi kereta api Batavia-Tjikarang
selama bulan September 1890 adalah f 15.618,86 yang mana per hari-kilometer sebesar
f11 83. Hasil pada bulan yang sama tahun sebelumnya sebesar f9.066,58 per
hari-kilometer f11,19. Total hasil yang diperoleh sejak 1 Januari f93.410, 71
atau per hari-kilometer f11.40. Angka rata-rata mengindikasikan adanya
kenaikan.
ke arah timur terus dilakukan. Dalam laporan rpat pemegang sahan tercatat bahwa
ruas Tjikarang-Kedong Gede tengah dikerjakan (lihat De Tijd : godsdienstig-staatkundig
dagblad, 13-03-1891). Disebutkan bahwa pengerjaan bagian pertama 17 Km sudah
dikerjakan sejak bulan Agustus (1890) dan bagian sisa sepanjang 13 Km sudah
dikerjakan sejak Januari 1891. Pembangunan bagian terakhir ini sedikit tertunda
karena hujan lebat pada bulan November dan Desember yang telah merusak tanggul
kereta api. Pendapatan usaha sangat memuaskan setelah perluasan ke Tjikarang.
Setelah Kedong Gede akan dilanjutkan ke Krawang.
beberapa tahun, Residen Batavia mengeluarkan peraturan pembatasan kecepatan
kereta api (ligat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 11-12-1895). Disebutkan untuk mengemudikan kereta api dari
gigi tiga pada jalan pos besar dari Batavia ke Buitenzorg dan jalan ke Bekasi
dengan kecepatan 25 kilometer per jam harus dianggap berbahaya untuk lalu
lintas umum. Batasan ini sesuai Staatsblad 1895 No 190. Jalan pos besar dari
Batavia ke Buitenzorg dan jalan ke Bekasi ke titik akhir di Kampung Melaijoe
tidak dapat dikendarai dengan kecepatan lebih cepat daripada 15 kilometer per
jam. Boleh jadi itu karena banyak ternak berkeliaran.
terhubungnya jalur kereta api Batavia-Tjikampek (Krawang) dengan Chirebon dan
dengan Bandoeng, pada tahun 1918 rel antara Batavia hingga Tjikampek dengan
panjang 72 Km digandakan (lihat De Preanger-bode, 04-06-1918). Dalam hubungan
pembangunan rel ganda ini pekerjaan besar dilakukan di beberapa titik, yakni:
kali Malaka, kali Tjakoeng, kali Bekasi, kali Djambe, kali Srengseng, kali
Djeroek, kali Tjikarang dan kali Tjitaroem serta jurang di Gedong Gedeh.
Demikian juga terjadi pekerjaan besar di area rawa Doekoeh dekat Bekasi, rawa
Tjibitoeng dekat Tamboen dan rawa Plawas dekat Gedong Gedeh.
hal yang perlu dicatat bahwa rencana awal pembangunan kereta api antara Bekasi
dan Buitenzorg tahun 1864 pada kenyataan telah dibangkitkan kembali. Konsesi
diberikan kepada van der Parra Breton Vincent (lihat  Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1910). Disebutkan
izin konsesi telah diperpanjang satu tahun dan akan berakhir hari iini, Tuan
van der Parra sebagai pemegang izin konsesi telah mengajukan permintaan untuk
mentransfer ke orang lain. Namun menurut opini dari editor bahwa siapa yang
mengajukan diri sulit muncul karena pertimbangan pendapatan melalui jalur itu
tidak menguntungkan. Jalur Buitenzorg-Bekasi ini melewati Tjiteureup dan
Tjileungsi dengan dengan perpnajangan jalur melintasi Tjibaroesa ke Lemahabang.
Demikianlah sejarah singkat
perihal kereta api di Bekasi. Perencanaan jalur kereta api dari Bekasi ke
Buitenzorg meski yang pertama tetapi kenyataannya tidak pernah terwujud hingga
ini hari.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com













