Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Jakarta (52): Sejarah Cikeas dan Presiden SBY; Kanal Irigasi Oosterslokkan, Kampong Tjikeas-Nagrak di Sungai Tjikeas

Tempo Doelo by Tempo Doelo
02.06.2019
Reading Time: 45 mins read
0
ADVERTISEMENT



false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Land Tjilengsi luasanya 25,627 bau. Landhuis Tjilengsi
letaknya 21,5 pal dari Buitenzorg. Land ini diusahakan produksi beras yang dimiliki
oleh maskapai Michiels-Arnold di Den Haag yang telah disewakan kepada Thio
Tiauw Siat dengan administratur Liem Siong Hoa. Nilai verponding sebesar f800.000.
Populasi pendudukan berjumlah 36.011 jiwa pada 1 Januari. 1902. Selain produksi
beras juga kopi (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 25-01-1904).

Okelah, tetapi untuk meringankan beban pemerintah
apakah tidak mungkin land Tapos dan land Tjilengsi ikut berpartisipasi?  Nah, apakah hambatan ini ada karena antara
land Tapos dan land Tjilengsi tidak akur? Semua itu tetap menjadi pertanyaan. Dalam
kenyataannya semua gagasan itu tetap tidak terwujud. Dalam hubungan ini,
kampong Tjikeas-Nagrak tetap terisolasi dan tetap rawan dalam hal keamanan.
Tentu saja juga
ditemukan persoalan tanah.

Het nieuws van den dag
voor Nederlandsch-Indie, 02-12-1932: ‘Pada malam 25 November di warung Lioe A
Touw, seorang Cina di Tjikeas (Tjiteureup) sekitar jam 7 (malam), sementara
warong belum ditutup, beberapa orang secara berurutan datang dan bertemu
pemilik warung untuk membeli bensin dan korek api. Setelah dibayar dan barang
diterima orang-orang tersebut menggunakan bensin untuk menyirami pakaian yang
dikenakan oleh pemilik warong. Di bawah ancaman bahwa pakaian yang dibasahi
dengan bensin akan dibakar, pemilik warong dan istrinya terpaksa memberikan uang
mereka. Ancaman ini diperburuk oleh salah seorang menodong revolver kepada
wanita itu. Orang-orang yang terancam memilih diam karena takut sehingga para
perampok itu menghilang dengan uang jarahan dan barang-barang lain dengan nilai
gabungan sebesar f125. Pasangan itu juga sempat dipukuli dan dianiaya oleh perampok.
Pada malam itu juga anggota detasemen polisi yang ditempatkan di Tjilengsi
mendengar kabar itu dan lalu bersama mantri polisi meluncur segera ke TKP. Setelah
itu dilakukan penyelidikan dan pada tanggal 27 polisi tersebut dengan
bekerjasama dengan polisi Tjililitan Besar berhasil menangkap dua orang anggota
perampok tersebut.
Keduanya
berasal dari Bodjong Rawa-Lele di Bekasi. Dalam penangkapan itu disita lima
benda tajam dan satu buah revolver, yang kemudian ternyata sama dengan yang
digunakan oleh perampok. Awalnya kedua perampok membantah tetapi kemudian
membuat pengakuan penuh setelah dikonfrontasi dengan pemilik warong dan
istrinya yang mengenali keduanya yang ditangkap.
Bataviaasch nieuwsblad, 16-03-1938

Bataviaasch nieuwsblad, 16-03-1938:
‘Teror di Tjibaroesa, Geng Pembunuh di Landraad Buitenzorg.  Pada hari Senin tanggal 14 ini Landraad di
Buitenzorg yang dipimpin ketua Alers memulai persidangan pembunuhan ganda, yang
terjadi pada hari Rabu, 13 Januari 1937 di kampong Tjikeas Nagrok, Distrik
Tjibinong. Jumlah terdakwa dalam kasus ini adalah 10 orang, yaitu Lias alias Ilias
bin Loleng, dan saksi sebanyak 40orang. Sesi pertama dikhususkan untuk sidang
terdakwa, sementara para saksi didengar pada tiga hari berikutnya. Kasus ini
menyangkut masalah balas dendam dan merupakan konsekuensi dari pembunuhan oleh
geng Komin yang dikabarkan oleh mandor  polisi dari Land Tjimangis, Kodel yang juga
sangat terkenal. Kasus pembunuhan ini terakhir nanti akan diadili oleh
Landraad. Awalnya geng di bawah kepemimpinan tiga orang Komin, Lias dan Kodel.
Kemudian timbul perselisihan antara Komin dan Lias, dan geng itu kemudian
terbagi menjadi dua. Kodel memilih merapat ke Lias. Geng di bawah Komin
beroperasi di Tjibaroesa, sementara yang lain dipimpin oleh Lias dikenal
sebagai geng Tjimanggis. Menurut laporan polisi, pembunuhan para korban Raiman
dan Remin terjadi di siang hari bolong di kampung Tjikeas Nagrok. Dia dianiya oleh
geng beranggotakan 40 orang yang dipimpin oleh Komin. Salah satu korban
ditinggalkan di sawah, sementara yang lain, setelah diikat dan dibacok dengan
golok, lalu dilemparkan ke sungai Tjikeas, dimana ia tenggelam ke kedalaman.
Semua terdakwa membantah telah melakukan kejahatan, meskipun mereka telah
membuat pengakuan penuh di bivak Tjimangis dengan mantri polisi dan adjuct djaksa
Abdulrachman. Dalam kasus ini juga, adj-djaksa juga sebagai pegawai inlandsche
djaksa di pengadilan’. Bataviaasch nieuwsblad, 29-03-1938: ‘Senin pagi yang
lalu setelah delapan hari sesi (sidang) Landraad van Buitenzorg, diketuai oleh
Mr Alers menutup persidangan terhadap sepuluh orang yang dicurigai pada hari
Rabu, 13 Januari 1937 di kampung Tjikeas-Nagrak, district Tjibinong, dua orang anggota
geng yang dipimpin Komin bin Boegel alias Akang. Selama tiga hari pertama,
semua tersangka membantah tuduhan terhadap mereka. Lias bin Loleng terkenal kejam.
Yang lain tetap dengan penolakan mereka. Pada sesi terakhir, Komin bin Boegel
juga didengar sebagai saksi. Enam saksi akan dituntut karena sumpah palsu. Akhirnya
vonis dijatuhkan sebagai berikut: Lias bin Loleng 16 tahun penjara; Naim bin
Lioen 15 tahun; Aspi bin Sinan dan Dogol bin Siman masing-masing 14 tahun; Rais
alias Raih dan Naraat bin Boeroet masing-masing 12 tahun; Garoen dan Gouw Eng
San masing-masing 11 tahun; Nasan bin Komin dan Djoeman bin Singo masing-masing
10 tahun. Naim bin Lioen, Garoen, Dogol bin Siman dan Gouw Eng San mengajukan
banding, sementara yang lain meminta izin untuk berunding’.

Pabrik teh di Pasir Nangka, District Tjibinong, 1936

De Sumatra post, 01-04-1939: ‘Pemimpin Geng
di Pengadilan. Baru-baru ini, Tengel anggota geng rampok yang masih berjalan
bebas di daerah Regenschap Buitenzorg. Tengel dikenal sebagai pemimpin rampok
yang cerdas dan brutal, yang selama bertahun-tahun berhasil lolos dari
pengejaran polisi. Dia beberapa waktu yang lalu, setelah dia merampok seorang
pedagang Cina di jalan terbuka di siang hari bolong ditangkap tetapi tak lama
kemudian dia berhasil keluar. Selain membunuh, Tengel juga sangat menyukai
Javaanschen dansen dan dia adalah pengagum berat para penari ronggeng. Tak
perlu dikatakan bahwa, mengetahui hal ini, polisi menyelidiki Tengel dengan
seksama kepada semua pihak yang mengetahuinya. Dan akhirnya antusiasmenya
(terhadap ronggeng) menjadi fatal baginya. Pada sebuah acara ronggeng di desa
Tjikeas yang dikenalnya sejak lama, Tengel jatuh ke dalam perangkap dan
digelandang oleh polisi’.

Bataviaasch nieuwsblad, 18-11-1940: ‘Doodslag. Perkelahian maut. Di kampong Tjiangsana,
desaTjikeas Ngarak (Tjitrap) dua orang penduduk desa bertengkar tentang masalah
tanah, yang berubah menjadi perkelahian, dimana salah satu dari mereka
terbunuh. Penyerang yang mengalami cedera dilarikan ke rumah sakit Roodc Kruis
(Palang Merah) di Buitenzorg’.

Kampong Tjikeas tetaplah
berada di wilayah Tjikeas. Wilayah Tjikeas yang terpencil tidak hanya sering
menjadi sasaran rampok, wilayah Tjikeas juga menjadi tempat yang aman bagi
pelarian. Pimpinan perampok kelas kakap Tengel merasa aman di wilayah Tjikeas
dan boleh jadi satu-satunya kampong yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan
hiburan. Tengel berpikir tidak akan ada polisi yang lewat di sekitar. Tjikeas
jauh dari dunia luar.

Diantara ketakutan
penduduk di wilayah Tjikeas, ternyata ada seseorang yang merasa aman di situ.
Itulah Tengel. Namun pada akhirnya polisi mengetahuinya dan berhasil menangkapnya.
Desa Tjikeas telah membantu  polisi untuk
melumpuhkan pimpinan perampok yang sulit dicari. Tengel hanya bisa ditangkap
saat terhibur, Tjikeas adalah panggungnya.
Wilayah Tjikeas yang
sepi dan sulit dijangkau, pada era perang kemerdekaan Indonesia, menjadi pusat
gerilya yang strategis. Dekat menuju sasaran gerilya di jalan poros
Djakarta-Bogor, tetapi di lain sisi terpencil di balik sungai Soenter di
seberang sungai Tjikeas. Di dalam wilayah lemah dari sistem keamanan terdapat
kekuatan gerilya yang hebat. Itulah wilayah Tjikeas. Namun setelah terjadi
gencatan senjata antara TNI dan pasukan Belanda/NICA, wilayah Tjikeas kembali
ditinggal. Akan tetapi sebaliknya dimanfaatkan oleh para geng revolusi. Itulah
nasib wilayah Tjikeas. Hanya dimanfaatkan dan tidak pernah mendapat manfaat.
Java-bode : nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-12-1949: ‘Seorang Jepang memimpin geng. Mengikuti penyerangan
yang telah dilakukan di daerah Tjiloear (sebelah utara Buitenzorg) dalam
beberapa minggu terakhir, polisi di Buitenzorg telah memulai aksi terhadap geng
yang ada di wilayah ini. Kamis pagi aksi melawan geng di desa Babakan Tjikeas
dimulai, dimana menurut laporan geng tinggal. Namun, polisi tidak melakukan tindakan
apapun, karena menunggu kedatangan pasukan bersenjata, dan mengambil langkah tepat
waktu. Sebagian besar barang yang dirampok selama beberapa minggu terakhir
disimpan di wilayah itu, termasuk sejumlah tekstil, berhasil dilacak. Ternyata
geng itu terdiri dari 25 pria bersenjata yang dipimpin oleh dua orang Jepang’.
  
Seperti roda pedati,
adakalanya di bawah dan ada saatnya di atas. Wilayah Tjikeas yang tempo doeloe
sangat terpencil dan sepi (remote area) serta rawan sosial, tidak lagi demikian
di era modern yang sekarang. Wilayah Tjikeas telah mendapat berkah dari
perkembangan wilayah di dekatnya Cibubur sebagai kawasan perumahan. Kini,
wilayah Tjikeas juga telah menjadi kawasan perumahan yang aman, asri dan mudah
diakses. Aksesnya tidak lagi dari Goenoeng Poetri, Bogor tetapi dari Cibubur,
Jakarta. Itulah nasib baik wilayah Tjikeas di hari tua, lebih-lebih di wilayah
nan asri itu juga mantan Presiden SBY tinggal. Kawasan perumahan Cibubur dan
mantan Presiden SBY secara langsung telah mengangkat harkat penduduk kampong
Tjikeas-Nagrak yang tempo doeloe tidak terpikirkan.

Cikeas-Cibubur
di Alam Demokrasi: Puri Cikeas di Desa Nagrak
Pada masa ini, secara
dejure, desa Nagrak termasuk dalam wilayah Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten
Bogor, tetapi secara sosio-politik lebih dekat dengan Jakarta. Ini semua karena
faktor nama kawasan perumahan Cibubur. Nama Cibubur melejit memayungi nama-nama
desa di kawasan segi tiga emas: Jakarta, Bogor dan Bekasi.
Pada masa ini
Cibubur bukanlah wilayah Kota Depok (pemekaran dari Kabupaten Bogor), melainkan
sebuah desa/kelurahan di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Tetapi faktanya pada
masa ini ada suatu kawasan yang diidentifikasi sebagai Cibubur Depok. Sekalipun
ini agak membingungkan, namun masih bisa ditelusuri mengapa muncul istilah
Cibubur Depok pada masa ini. Penelusuran ini dimaksukan untuk memberi
penjelasan kepada berbagai kalangan yang kerap salah dalam mengidentifikasi
apakah Cibubur masa kini adalah sebuah nama desa/kelurahan atau sebuah nama
kawasan. Nama Cibubur yang awalnya nama desa telah bertransformasi menjadi nama
generik (nama bisnis).
Sebelum
ada Desa Cibubur (Jakarta), ada sebuah desa lama yang disebut sebagai Desa
Cisalak yang menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Cimanggis Kabupaten Bogor
(kini menjadi bagian wilayah Kota Depok). Di sudut Desa Cisalak ini ada sebuah
setu (danau kecil) yang disebut Setu Jemblang (kini disebut Setu Baru). Pada
tahun 1969 di selatan setu ini (kini Kelurahan Harjamukti) dipilih sebagai
tempat Pertemuan Pramuka Penegak Pandega Puteri Putera (PERPPANITERA). Lokasi
ini dipilih karena hawanya sejuk, lingkungan yang hijau, setu yang jernih dan
adanya hutan di utara setu membuat area ini sesuai untuk sebuah ‘perkampungan’
pramuka bagi penegak/pandega (setingkat SMA/perguruan tinggi). Disamping itu,
lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta, membuat area ini menjadi pilihan yang
tepat untuk sebuah bumi perkemahan bagi PERPPANITERA (yang kini disebut
Raimuna) secara nasional. Kawasan kegiatan kepramukaan (yang kemudian disebut
BUPERTA) yang luasnya 210 Ha sebelumnya merupakan areal perkebunan karet.
Pada waktu diselenggarakannya
Raimuna pertama (1969), desa terdekat dari Cisalak adalah Desa Cibubur. Sebuah
kampung di utara Setu Baru disebut kampung Pondok Rangon yang mana kampung ini
masuk bagian wilayah Desa Cibubur. Pada tahun 1973 Kwartir Nasional (Kwarnas)
menyelenggarakan pertemuan besar pramuka untuk penggalang (setingkat SMP) yang
pertama secara nasional (disebut Jambore). Lokasi untuk jambore yang
direkomendasikan adalah Desa Cibubur (di utara Setu Baru) karena lokasi itu
masih cukup luas dan datar. Sementara di selatan Setu Baru (Desa Cisalak) yang
menjadi area Raimuna sebelumnya tidak dipilih karena selain lahannya sempit
juga di area itu sudah mulai banyak penduduk apalagi area itu menjadi jalan
utama dari Cisalak ke Cileungsi. Dengan adanya penyelenggaraan jambore ini nama
Cibubur mulai dikenal secara luas. Ketika Raimuna 1969 diselenggarakan jalan
menuju lokasi (Setu Baru) dilakukan melalui Jalan Radar Auri. Akan tetapi,
ketika Jambore 1973 jalan yang dilalui tidak melalui Jalan Radar Auri (yang
masuk Kabupaten Bogor) melainkan dibuat jalan baru melalui Desa Cibubur (DKI
Jakarta) yang kini dikenal sebagai Jalan Jambore (terusan Jalan Raya
Cibubur/Jalan Lapangan Tembak). Nama Cibubur terus meroket seiring dengan
kebijakan Kwarnas yang menetapkan area Cibubur menjadi lokasi pertemuan pramuka
jangka panjang baik untuk pramuka penggalang maupun pramuka penegak/pandega.
Sejak tahun 1981 bumi perkemahan Cibubur sering dipilih menjadi tempat Jambore
Nasional  maupun Raimuna Nasional tetapi
tidak lagi setelah tahun 2008.
Selama
adanya kegiatan kepramukaan di bumi perkemahan itu, nama Cibubur terus melejit
sementara nama Cisalak, Cimanggis lambat laun mulai meredup. Dalam
perkembangannya Buperta ini semakin mudah diakses seiring dengan pembangunan
jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor) yang dimulai tahun 1973 (selesai tahun
1978). Tragisnya, jalan tol ini membelah Desa Cibubur. Area Buperta yang berada
di Kampung Pondok Rangon terpisah dari desa induknya, dan selanjutnya Kampung
Pondok Rangon dinaikkan statusnya dari kampung menjadi desa—Desa Pondok Rangon
(masuk Kecamatan Cipayung). Akan tetapi nama Cibubur tetap melekat pada area
Buperta sekalipun nama kelurahannya telah berubah menjadi Desa Pondok Rangon.
Interchange Cibubur (googlemap)

Sementara  dalam perkembangannya Desa Cisalak dimekarkan
dan area Raimuna dulu (selatan Situ Baru) menjadi Desa Harjamukti. Desa baru
ini tidak seperti Desa Pondok Rangon yang berpisah dengan Desa Cibubur, tetapi
Desa Harjamukti ini sebagian di sisi barat jalan tol dan sebagian di sisi timur
jalan tol yang dihubungkan oleh flyover (jembatan layang) di atas jalan tol
Jagorawi. Jembatan layang ini dibangun ketika menjelang Jambore Nasional yang
ketiga yang diselenggarakan di Buperta (Desa Pondok Rangon) pada tahun 1981.
Saya sendiri ikut Raimuna Nasional tahun 1982.

Adanya
jalan tol dan jembatan layang ini, area yang sebelumnya hanya dikenal sebagai
bumi perkemahan lambat laun mulai dilirik pengembang. Uniknya para pengembang
menjadikan nama Cibubur sebagai ikon—mengacu pada nama yang populer menunjukkan
area bumi perkemahan, padahal lokasinya bukan berada di Desa Cibubur. Ini
dengan sendirinya nama Cibubur menjadi nama generik (bukan lagi sekadar
menunjukkan nama desa). Dengan begitu, era nama Kawasan Cibubur dimulai. Pada
tahun 1997 sejumlah pengembang mulai membangun perumahan baru di kawasan ini.
Diawali oleh Konsorsium Duta Pertiwi yang membangun Kota Wisata yang terkenal
dengan konsep lima benuanya. Nama Cibubur muncul ke permukaan, sedangkan
nama-nama Cisalak/Harjamukti (Kecamatan Cimanggis) dan Pondok Rangon (Kecamatan
Cipayung) tetap tenggelam di Situ Baru—danau kecil yang menjadi tempat kegiatan
pramuka yang memisahkan Desa Pondok Rangon dengan Desa Harjamukti.
Kelurahan Harjamukti, Cimanggis, Kota Depok

Selanjutnya
Kawasan Cibubur berkembang ke arah timur 
Buperta (wilayah Bekasi) sepanjang Jalan Trans Yogie. Awalnya Jalan
Trans Yogie ini adalah sebuah pembangunan jalan alternatif yang menghubungkan
Jakarta dengan kota mandiri Jonggol sekitar tahun 1990. Namun proyek Jonggol
ini tidak terlaksana. Sisi-sisi jalan alternatif inilah yang kemudian
dimanfaatkan oleh para pengembang hingga akhirnya menjadi kawasan perumahan
‘segi tiga emas’.

Kawasan Cibubur (Peta 1985)

Pada tahun 1999
Kota Depok dibentuk. Depok dinaikkan statusnya yang telah menjadi kota
administratif (kotif) sejak tahun 1981. Dengan terbentuknya Kota Depok ini,
sejumlah kecamatan di Kabupaten Bogor bergabung, salah satunya adalah Kecamatan
Cimanggis. Desa Harjamukti yang telah menjadi bagian Kawasan Cibubur yang
menjadi bagian dari Kecamatan Cimanggis, maka dengan sendirinya Desa Harjamukti
masuk ke wilayah Kota Depok. Sejak 1999 mulai muncul istilah Cibubur Depok.
Kawasan Cibubur ini semakin berkembang apalagi pada tahun 2002 terjadi banjir
besar di Jakarta yang menyebabkan pengembang semakin jorjoran mempromosikan
Kawasan Cibubur ini sebagai lokasi hunian baru yang bebas banjir. Dan terbukti
sejak banjir itu, muncul sejumlah pengembang baru di Kawasan Cibubur ini yang
melahirkan perumahan-perumahan seperti Raffles Hill, Taman Laguna, Citra Gran,
The Address Cibubur dan sebagainya.

Nama Cibubur Depok (Kecamatan
Cimanggis) sendiri merujuk pada Kawasan Cibubur yang berada di sisi-sisi jalan
poros Trans Yogie di wilayah Kota Depok di sebelah barat Kali Sunter. Sedangkan
sebelah timur Kali Sunter adalah bagian wilayah Kabupaten Bekasi (Kecamatan Jati
Sampurna), setelah itu jalan poros ini masuk Kabupaten Bogor (Kecamatan Gunung
Putri). Ini berarti Perumahan Raffles Hils yang berada di Kelurahan Harjamukti
termasuk wilayah Kota Depok yang menjadi kawasan Cibubur Depok. Kawasan Cibubur
Depok ini dengan demikian hanya wilayah yang berada di sebelah selatan Situ
Baru (sisi jalan tol sebelah timur), di sebelah barat Kali Sunter dan di
sebelah selatan Jalan Jambore (berbatasan dengan Kelurahan Cibubur). Sedangkan
rumah SBY Puri Cikeas berada di Kelurahan Nagrak, Kecamatan Gunung Putri,
Kabupaten Bogor.
Kawasan Sehi Tiga Emas Baru (Depok, Bekasi, Bogor)

Ini berarti
Cibubur Junction masuk wilayah Kelurahan Cibubur. Sementara Taman Laguna dan
Citra Grand masuk kawasan Cibubur yang berada di wilayah Kabupaten Bekasi.
Batas Kabupaten Bekasi dengan Kabupaten Bogor adalah sungai Cikeas. Ini berarti
Taman Wisata masuk Kabupaten Bogor sebagaimana halnya dengan Taman Cikeas
(perumahan tempat tinggal Presiden SBY).

Pada tahun 1996 Soesilo Bambang Yudhoyono
membangun rumah di desa Nagrak, Kawasan Perumahan Cibubur. Rumah tersebut
kemudian dikenal dengan nama puri (rumah) Cikeas. Konon, di Rumah Cikeas inilah
pada tahun 2001 sebuah partai baru didirikan yakni Partai Demokrat, suatu
partai yang membawa Soesilo Bambang Yudhoyono dengan sebutan SBY menuju Istana
Merdeka sebagai Presiden RI (2004-2014).

Pada periode yang sama dua abad yang lalu Gubernur
Jenderal Daendels mengidentifikasi nama sungai Tjikeas untuk diinregrasikan
dengan program pengembangan kanal irigasi sisi timur sungai Tjiliwong
(Ooosterslokkan). Sumber air dari hulu sungai Tjikeas ini akan mendukung kanal
yang dikembangkan agar alirannnya cukup memadai hingga Batavia (kini Jakarta).

RELATED POSTS

Dari album foto Bali-Jawa sekitar tahun 1920 (31): Kawasan pegunungan Jawa Timur

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (5)

Sejarah Menjadi Indonesia (325): Pahlawan Indonesia Tadjuddin Noor, Borneo; Indische Vereeniging di Leiden, Volksraad di Batavia

Nama desa Nagrak
sesungguhnya juga adalah desa Cikeas. Seperti disebutkan di atas nama desa
Tjikeas Nagrak dibentuk pada tahun 1930 ketika diadakan sensus penduduk. Oleh
karena kampong Tjikeas Nagrak lebih padat penduduk, ibukota desa, tempat dimana
kantor desa dibangun berada di kampong Tjikeas Nagrak. Namun kelak pada era kedaulatan
RI populasi desa Tjikeas-Nagrak yang semakin banyak dimungkinkan dilakukan
pemekaran, yakni dengan membentuk desa Tjikeas Oedik dan desa Tjiangsana. Nama
Tjikeas Oedik mengikuti nama kampong asli tempo doeloe. Desa Tjiangsana adalah
gabungan dari kampong Tjiangsana dan kampong Tjikeas Ilir. Nama kampong Tjikeas
Tengah lambat laun menghilang. Lima kampong yang membentuk tiga desa pada msa
lampau masuk onderdistrict Tjitrap tetapi kini bergeser yang mana desa Ngarag
desa Cikeas Oedik dan desa Ciansana masuk dimasukkan ke kecamatan Gunung Putri.
Sungai Cikeas dan Puri Cikeas

Hal yang mirip dengan nama desa Tjikeas ini juga terdapat
di sisi barat sungai Tjiliwong yakni desa Tjitajam. Pada tempo doeloe beberapa
kampong, termasuk kampong Tjitajam disatukan menjadi desa Tjitajam. Namun dalam
era kedaulatan Indonesia desa Tjitajam dimekarkan menjadi desa Tjitajam dan dan
desa Raga Jaya. Tragisnya, nam kampong Tjitajam yang ditabalkan menjadi nama
desa Tjitajam tempo doeloe, justru di era pemekaran kampong Tjitajam sendiri berada
di desa Raga Jaya.

Desa Tjikeas Nagrak  tidak meniru desa Tjitajam. Namun dalam
perkembangannya, nama Tjikeas Nagrak hanya disebut dengan nama Nagrak saja, namun
sebagian warga di sekitar Puri Cikeas SBY masih menyebut kampong Tjikeas meski
secara administratif sudah lama nama desa Tjikeas Nagrak mereduksi menjadi dengan
nama desa Nagrak saja. Tidak salah memang karena secara historis Puri Cikeas berada
di wilayah kampong Tjikeas Nagrak. Jalan yang berada di depan Puri Cikeas
sejatinya adalah jalan kuno yang sudah ada sejak tempo doeloe, satu-satunya
jalan di kawasan Perumahan Cibubur yang sekarang pada tempo doeloe. Itulah
sejarah panjang Cikeas secara singkat, tempat mantan Presiden SBY bertempat
tinggal. Anda mau tinggal di Cikeas? Pahami dulu sejarahnya.

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang
warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor
(1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai
dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya
memiliki hobi berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar
dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau
waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

ADVERTISEMENT
Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari album foto Bali-Jawa sekitar tahun 1920 (31): Kawasan pegunungan Jawa Timur

31.12.2021
Sejarah

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (5)

30.12.2021
Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (325): Pahlawan Indonesia Tadjuddin Noor, Borneo; Indische Vereeniging di Leiden, Volksraad di Batavia

30.12.2021
Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (324): Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris Asal Kutai; Pantai Timur Borneo pada Era VOC

30.12.2021
Sejarah

Dari album foto Bali-Jawa sekitar tahun 1920 (30): Enam foto dari Jawa Timur

29.12.2021
Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (323): Pahlawan Nasional Pengeran Mohamad Noor, Banjar; THS te Bandoeng, Volksraad dan BPUPKI

29.12.2021
Next Post
Alokasi Frekuensi RAPI Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah 2019

Alokasi Frekuensi RAPI Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah 2019

Korban Oman Air Transit 19 Jam Yang Berakhir Bahagia

Iklan

Recommended Stories

Mengembalikan Kejayaan Sorake, Surganya Peselancar Dunia

21.11.2014

Singgalang Memikat Pendaki dengan Hutan Lumut dan Telaga Dewi

18.06.2012

ARMADA DHEEVA WISATA

18.01.2011

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

21.01.2026
Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

21.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?