Republik Indonesia
Serikat (RIS) adalah suatu distorsi dalam sejarah Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Usia RIS hanya 261 hari (dari tanggal 20 Desember 1949 hingga
tanggal 6 September 1950). Jika ada yang menginginkan Indonesia pada masa kini
berbentuk federal (semacam RIS) maka secara spontan akan dijawab oleh yang lain
dengan ‘NKRI adalah harga mati’. Lantas apa yang membuat Negara Kesatuan begitu
sakral dalam perjalanan sejarah Indonesia? Pertanyaan ini sepintas terkesan
sepele, tetapi yang jelas kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan adalah
suatu koreksi bangsa Indonesia dalam bernegara.

Perjuangan bangsa Indonesia untuk
memperoleh kemerdekaan adalah proses yang berlangsung lama. Perjuangan para
pemimpin Indonesia, sejak era kolonial Belanda hingga kemerdekaan Indonesia
tanggal 17 Agustus 1945,adalah untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Memang harus diakui bahwa Belanda yang mempersatukan Indonesia, tetapi pasca
perang kemerdekaan Indonesia, Belanda mengingkarinya dengan menawarkan dan
memaksakan bentuk Negara Serikat yang kemudian terbentuklah RIS (Republik
Indonesia Serikat). Â Â Â
Serikat adalah suatu pengingkaran terhadap perjuangan para pemimpin Indonesia,
sejak era kolonial Belanda hingga kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus
1945. Kekeliruan itu segera disadari dan segera terkoreksi. Sebab Republik
Indonesia sempat tidak memiliki pemerintahan selama 20 hari hingga terbentuknya
Kabinet RI di Jogjakarta pada tanggal 21 Januari 1950. Kabinet inilah yang
kemudian menjadi penyelamat NKRI, suatu kabinet yang dapat dianggap sebagai penyambung
terputusnya NKRI karena adanya distorsi RIS. Lantas apakah Ir. Soekarno dan
Sultan Jogjakarta juga sempat ragu dengan negara kesatuan? Mari kita lihat
fakta-fakta yang ada.
lengkapnya
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.



