Kekhawatiran Soeltan
Hamengkoeboewono sangat beralasan jika salah satu diantara kedua petinggi TNI
itu tidak ada. Sebab di dalam kota Jogjakarta bisa chaos atau paling tidak
muncul kriminalitas karena militer Belanda akan segera evakuasi dari
Jogjakarta. Setelah beberapa lama Soeltan
Hamengkoeboewono berhasil menemukan kontak dengan TB Simatupang di sekitar
wilayah Banaran, Jawa Tengah. Pihak militer Belanda juga sangat khawatir jika
tidak ada yang mampu mengendalikan situasi saat mereka evakuasi ada kemungkinan
mereka diserang dari belakang.
Simatupang tiba di Jogjakarta. Soeltan Hamengkoeboewono lega. Kolonel TB
Simatupang adalah Republiken pertama yang kembali ke Jogjakarta. Beberapa hari
kemudian militer Belanda melakukan evakuasi dari Jogjakarta.
senjata dan jaminan kepada Kolonel TB Simatupang saat mereka evakuasi. Namun
militer Belanda tak menyangka mendapatkan jawaban yang mengejutkan. Simatupang menjawab
diplomatis: ‘Akan sulit untuk mengakhiri gerilya dan meminta jaminan’ (lihat
Algemeen Handelsblad, 04-07-1949). Boleh jadi Soeltan Hamengkoeboewono yang
mendengar permintaan itu tersenyum. Tentu saja Soeltan lega setelah militer
Belanda evakuasi dari Jogjakarta. Sejak serangan ke Jogjakarta 19 Desember 1948
Soeltan Hamengkoeboewono yang diawasi sebagai tahanan rumah kini 100 persen
bebas. Sementara Simatupang memberi jawaban seperti boleh jadi diartikan ‘pergi
kalian ke Belanda dan jangan kembali kesini’.
tersebut terjadi dua tembakan ringan. Tembakan itu datang dari arah belakang pasukan
terakhir yang evakuasi. Boleh jadi tembakan TNI itu menunjukkan pelampiasan
kekesalan terhadap militer Belanda atau boleh jadi tembakan itu menggambarkan
kegembiraan di antara anggota TNI yang sepenuhnya telah menguasai (kembali) Jogjakarta.
Hanya itulah yang dilaporkan insiden satu-satunya di Jogjakarta saat
berlangsungnya evakuasi militer Belanda.
masih berada di Jogjakarta setelah evakuasi militer. Mereka ini menjadi semacam
penghubung. Sebab saat yang bersamaan di Batavia/Djakarta juga terdapat
perwakilan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Mr. Arifin Harahap. Perwakilan
Republik Indonesia (semacam atase atau kedubes) sudah ada sejak rombongan
terakhir hijrah dari Djakarta ke Jogjakarta pada bulan Maret 1946. Kepala perwakilan RI di Djakarta/Batavia
tersebut tetap dijabat Mr. Arifin Harahap. Para offcier Belanda dan UNCL di Jogjakarta
ini bersama dengan Soeltan Hamengkoeboewono dan Kolonel TB Simatupang yang
mempersiapkan kedatangan para pemimpin RI baik yang di pengasingan seperti
Soekarno dan Mohamad Hatta maupun di pengungsian seperti Sjafroeddin Prawiranegara
di hutan-hutan Bukittinggi. Tentu saja untuk menemukan kontak dan mempersiapkan
kedatangan Letnan Jenderal Soedirman yang belum diketahui dimana posisi
gerilyanya.
dan tokoh lainnya dijadwalkan akan kembali ke Jogjakarta pada tanggal 6 Juli
1949. Namun persoalan lain muncul karena Mr. Sjafroeddin Prawiranegara pimpinan
Pemerintah Darurat RI (PDRI) di Bukittinggi belum ada kontak. Untuk itu dikirim
delegasi RI ke Bukittinggi yang terdiri dari Leimena, Natsir dan Halim pada
tanggal 4 Juli 1949 dengan menggunakan pesawat KLM.ke Padang yang selanjutnya
melakukan perjalanan ke Bukittinggi dimana delegasi ini akan menunggu kontak
dengan Sjafroeddin Prawiranegara dan tokoh lainnya. Upaya ini dilakukan karena
sebelumnya Mohamad Hatta sudah dua kali gagal kontak dengan Sjafroeddin
Prawiranegara dan tokoh lainnya yang bergerilya di sekitar Bukittinggi.
28-06-1949: ‘Belanda dan Mohamad Hatta telah melakukan segala upaya untuk
membangun kontak sesegera mungkin dengan TNI. Kolonel Simatupang dari TNI yang
pertama dipanggil, tetapi Simatupang menolak. Jenderal Sudirman kemudian
berulang kali diundang, tetapi ia [Soedirman] juga menolak. Pemimpin tertinggi
adalah Sjafroeddin dan dia [Soedirman] hanya mengharapkan perintah atau
keputusan lebih lanjut darinya [Sjafroeddin Prawiranegara]. Oleh karena itu
Mohamad Hatta melakukan perjalanan ke Sumatra, tetapi misi ini, seperti yang
diketahui, tidak memberikan hasil yang diharapkan. Menurut surat kabar Republiken
[di Medan] Waspada, Sjafroeddin akan menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan
mandat pemerintahan daruratnya kepada Mohamad Hatta, tetapi ia [untuk sementara]
tidak dapat menghubungi anggota kabinet lainnya. Informasi lain menunjukkan
bahwa sisa Kabinet Darurat tidak tertarik padanya [Mohamad Hatta]. Akhirnya, Mohamad
Hatta kembali melakukan upaya kedua untuk bertemu dengan Pemerintah Darurat,
dirinya mengakui sulit karena mereka bergerilya, dan upaya ini juga gagal.
Itulah yang terjadi saat ini. Jika Djokjakarta sekarang memang memberikan ‘perintah
gencatan senjata’ yang jelas dan definitif, kami [Belanda] akan segera
mengetahui sejauh mana Pemerintah Darurat menjadi pemerintah kontra, dan sejauh
mana Djokja masih memiliki wewenang’.
ketertiban di dalam kota Jogjakarta telah ditempatkan di tangan TNI di bawah
komando Letnan Kolonel Soeharto dengan bantuan polisi di bawah Soemarto.
Diharapkan dalam waktu dua minggu TNI dapat digantikan sepenuhnya di tangan
otoritas sipil. Soemarto menyatakan bahwa Brigade Mobil siap untuk memulai
pekerjaannya. Brigade Mobil akan menerima peralatan baru yang dibeli Republik
melalui UNCL. Kekuatan Brigade Mobil saat ini sekitar 1.000 orang. Sebelumnya berada
di bawah komando Zen Mohamad (lihat Nieuwe courant, 06-07-1949). Seperti yang
dijadwalkan (Presiden) Soekarno tiba ranggal 6 Juli 1949 di Jogjakarta. Soekarno
dan Mohamad Hatta serta tokoh lainnya disambut oleh Kolonel TB Simatupang serta
sejumlah tokoh Indonesia di bandara dan kemudian rombongan menuju Jogjakarta.
‘Presiden Soekarno tiba di bandara Djocjakarta pada hari Rabu (6/7) pukul 1
siang, dimana ia diterima oleh Soeltan Djogjakarta dan Pakoe Alam. Setelah
upacara penyambutan, bendera Republik dikibarkan di Istana Presiden (istana
yang ditempati Soekarno sebelum diasingkan ke Brastagi dan Parapat).
RI ke Jogjakarta adalah suatu pengembalian pemerintah yang unik di dunia internasional.
Ini untuk kali pertama pengembalian pemerintah tanpa kehadiran pasukan
bersenjata hanya difasilitasi oleh pejabat-pejabat sipil UNCL.
orang yang berafiliasi dengan kraton ditambah 1 600 prajurit TNI dan polisi
lainnya untuk pemeliharaan hukum dan ketertiban. Unit-unit ini berada di bawah
kepemimpinan Letnan Kolonel Soeharto. Sehubungan dengan kembalinya Pemerintah
RI ke Jogjakarta untuk sementara pers Belanda tidak diizinkan ke Jogjakarta.
Prawiranegara pemimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra tiba di
Jogjakarta. Sjafroeddin Prawiranegara tiba dari Padang di Djakarta hari Sabtu
dan esoknya Minggi tanggal 10 Juli 1949 ke Jogajkarta. Pemimpin Pemerintahan Darurat
Republik Indonesia tiba pukul sebelas kurang seperempat di bandara Magoewo, dimana
ia disambut oleh Mohamd Hatta, Soeltan Djokjakarta, Mohamad Roem dan tokoh
lainnya. Sjafroeddin Prawiranegara diterima oleh Presiden Soekarno di Istana
Presiden di Jogjakarta.
Prawiranegara pemimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra, tiba
di Batavia pada Sabtu sore didampingi Lukman Hakim dan melakukan perjalanan ke
Djokja pada Minggu pagi, dimana–menurut kedatangannya di Kemajoran–ia
menyatakan kepada pers hadir untuk Presiden Soekarno akan mengembalikan
mandatnya sebagai pemerintah darurat. Sjafruddin, terbang dengan pesawat KLM
yang disediakan UNCL yang didampingi oleh Mr Leimena, Mr Natsir dan Halim.,,delegasi
bertemu Sjafroeddin di Suliki sekitar 20 km terletak di utara Bukittinggi..Sejumlah
anggota KNIP Minggu pagi juga berangkat dengan rombongan Sfafroeddin Prawiranegara
ke Djokjakarta…Sjafroeddin diterima oleh Presiden Soekarno pada hari Minggu. Pemimpin
Pemerintahan Darurat Republik [Indonesia] tiba pukul sebelas kurang seperempat waktu
setempat di bandara Magoewo, dimana ia diterima oleh Mohamd Hatta, Soeltan
Djokjakarta, Mohamad Roem, Assaat, Tadjoeddin Noor, Ki Hadjar Dewantoro dan
otoritas lainnya’.
juga Letnan Jenderal Soedirman tiba di Jogjakarta. Soedirman dijemput Kolonel
TB Simatupang di perbatasan Jogjakarta dan kemudian diterima oleh Sjafroeddin
Prawiranegara.
‘Letnan Jenderal Soedirman pada hari Minggu sore tiba di Djokjakarta. Soedirman
disambut Soehardja, Kolonel Simatoepang dengan beberapa staf TNI lainnya di
perbatasan Djokjakarta. Lalu kemudian
dibawa ke Djokjakarta dengan upacara yang dihadiri Sjafroeddin Prawiranegoro, Mohamad
Roem, Mr. Dr. Koesoemoatmadja presiden pengadilan militer, Mr. Assaat Ketua KNIP,
Pakoe Alam, Ki Hadjardewantoro, Wakil Konsul Jenderal China Shun Tjun dan
otoritas militer dan sipil lainnya’
sedikit bingung mengapa hanya Kolonel TB Simatupang dan Sjafroeddin
Prawiranegara yang menyambut Letnan Jenderal Soedirman. Ada apa dengang
Soekarno dan Mohamad Hatta? Ini dapat dijelaskan karena pimpinan Letnan
Jenderal Soedirman adalah Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia di
Bukittinggi. Ini bermula ketika Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Mohamad Hatta
ditangkap, diinternir dan diasingkan, di Bukittinggi Sjafroeddin Prawiranegara
muncul memimpin pemerintahan darurat. Pada waktu yang relatif bersamaan saat
mana Jenderal Soedirman bergerilya menjauh dari Jogjakarta juga ditangkap di
Poerworedjo dalam keadaan sakit. Kemudian sebagai Komandan TNI di Sumatra Kolonel
Hidayat sebagai panglima .
Soedirman menghilang dan kembali ke pasukannya untuk bergerilya di wilayah selatan
Jogjakarta. Setelah Jenderal Sodirman kembali ke pasukan dan memimpin lalu
mengambil sikap berada di belakang Pemerintah Darurat Republik Indonesia yang
dipimpin Sjafroeddin Prawiranegara di Bukittinggi. Sementara itu Komandan TNI
berada di bawah Kolonel Hidayat. Oleh karena itulah pers Belanda menulis
pangkat Soedirman sebagai Letnan Jenderal (yang dalam hal ini Kolonel Hidayat
diposisikan sebagai Jenderal). Ketika pengembalian Republik ke Jogjakarta, saat
kedatangan Letnan Jenderal Soedirman di Jogjakarta (tentu saja) disambut oleh Sjafroeddin
Prawiranegara. Saat penyambutan ini posisi Sjafroeddin Prawiranegara masih
pimpinan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (belum dilakukan penyerahan
kepada Presiden Soekarno).
sedikit membingungkan bagi pembaca mengapa Soeltan Hemengkoeboewono tidak turut
menyambut kedatangan Letnan Jenderal Soedirman? Apakah cukup diwakili oleh
Pakoe Alam? Untuk ini sangat sulit mencari jawabannya. Apakah ada pembaca yang
dapat menjelaskan? Lantas mengapa Soeltan Hemengkoeboewono menyambut kedatangan
Kolonel TB Simatupang? Hal ini dapat dijelaskan karena Kolonel TB Simatupang
yang pertama Republiken yang kembali ke Jogjakarta.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan
artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja.







