Residen Soerabaja pada tahun 1827 mulai mengintroduksi
layanan pos sipil (Bataviasche courant, 22-12-1827). Disebutkan ada empat
tempat yang dijadikan sebagai stasion (pos), yakni: Soerabaja (utama), Kedoong,
Sidakare dan Branjangan. Sehubungan dengan layanan pos pemerintah ini, Residen
melakukan tender pengadaan (dengan ketentuan subkontrak selama waktu tertentu).
Untuk hoofdstasion Soerabaja dibutuhkan satu set kereta kuda, dua set pedati
dan dua kuda beban yang dilengkapi.
![]() |
| Konvoi Pedati di Padalarang, Preanger, 1875 |
Pengaturan penggunaan kendaraan gerobak
pedati di jalan raya (pos) diatur dalam Art. 2 der resolutie van 16 April 1831
(Staatsblad No. 27), Hoofdstasion Soerabaja ini berada di dekat rumah/kantor
Residen Soerabaja. Hoofdstasion ini berada persis di sisi timur jalan pos
Trans-Java ruas jalan Gresik, Soerabaja dan Pasoeroean. Seperti halnya di
tempat lain, hoofdstasion tidak jauh dari pusat (pemimpin tertinggi)
pemerintahan. Di Batavia dekat dengan Istana Gubernur Jenderal, di Buitenzorg
lokasi hoofdstasion tidak jauh dari rumah Residen, tepatnya di Hotel Buitenzorg
(kini Hotel Salak). Sementara di Bandoeng tidak jauh dari rumah Controleur. Hoofdstasion
di Bandoeng dan Soerabaja kelak menjadi Kantor Pos Besar.
Belanda. Ukuran jarak yang digunakan adalah mil (mijlpaal). Namun demikian,
identifikasi Kilometer Nol sudah dilakukan. Hal ini karena diperlukan pedoman
untuk menarik jarak ke suatu tempat baik di dalam kota maupun jalur
transportasi ke luar kota. Namun kilometer nol ini tidak berada di hoofdstasion
melainkan di suatu tempat tertentu (yang cenderung berada di persimpangan jalan
strategis). Pertanyaannya: Dimana lokasi gps Kilometer Nol di Kota Soerabaja. Angkutan
orang (sedang) 1880
![]() |
| Peta Soerabaja 1818 |
Kilometer Nol diduga kuat berada di suatu lokasi di jalan
Pos (Postweg) Trans-Java yang menjadi kantor pos. Kantor pos ini kini dikenal
sebagai Kantor Pos Besar Surabaya. Jalan pos dibangun pada era Daendels (1810).
Pada Peta 1818, jalan pos Trans-Java melalui Rumah Bupati (regent). Di sekitar rumah Bupati ini bertemu
jalan yang dari arah area orang Eropa/BelandaÂ
dan perkampungan Tionghoa.
Peta 1867 jalan pos telah bergeser menjadi jalan Jembatan Merah. Pergeseran
jalan pos ini sehubungan dengan pembangunan jembatan merah di atas Kali Mas.
Jalan baru ini kemudian disebut Greesik weg ke arah utara (kini Jalan
Rajawali). Sedangkan yang ke selatan disebut weg naar Banjowangi. Berdasarkan Peta 1880
kantor pos ini berada di dekat jembatan (sebelah timur Jembatan Bibies), tidak
jauh dari stasion kereta api. Sedangkan berdasarkan foto 1886 lokasi kantor Pos
dan Telegraf berada di dekat jembatan tetapi di sisi yang berseberangan dengan
Jembatan Bibis (kira-kira lokasi Kantor Pos yang sekarang).
![]() |
| Kantor Pos Surabaya, 1885 |
pos sebelumnya pernah terjadi di kota lain. Di Buitenzorg, jalan pos awalnya
melalui kebon raya (disamping istana Gubernur Jenderal), namun karena ada
perluasan kebon raya (1860an), jalan pos bergeser ke arah selatan (seperti yang
terlihat pada masa ini). Dengan kata lain, jalan pos awalnya garis lurus antara
Jalan Sudirman dan Jalan Suryakencana bergeser menjadi Jalan Sudirman berbelok
ke Jalan Juanda dan kembali ke Jalan Suryakencana yang sekarang. Hal yang sama
juga terjadi pada tahun 1829 ketika jalan pos di ruas Preanger yang sebelumnya
di ketinggian berbelok-belok (sekitar Lembang) bergeser ke area yang lebih
rendah di kantor controleur yang baru melintasi sungai Tjikapoendong yang
terkesan lebih lurus dari arah Tjimahi hingga ke arah Oedjoeng Brung (kini
jalan lurus itu menjadi pusat kota Jalan Asia-Afrika). Tentu saja jalan pos di
Batavia dan Semarag juga bergeser seiring dengan perkembangan kota.
![]() |
| Kantor Pos Surabaya, 1930 |
pos telah mengalami perubahan di berbagai kota. Pergeseran-pergeseran jalan pos
tersebut disebabkan alasan-alasan yang berbeda. Namun demikian, jalan pos
tetaplah jalan pos. Hal ini karena jalan pos adalah penanda navigasi utama
selama era transportasi kereta kuda dan pedati kerbau. Jalan pos ini mulai
redup ketika di beberapa wilayah muncul moda transportasi yang baru: kereta
api. Kantor Pos Surabaya juga telah mengalami relokasi dari tempat yang lama
dekat stasion ke lokasi yang baru di dekat (seberang) rumah Bupati. Ini
menandai bahwa pusat pemerintahan telah bergeser dari Jembatan Merah (kota
lama) ke Jembatan Bibis (kota baru). Dengan kata lain dari area benteng (di
masa lampau) ke area regent van Soerabaja (aloon-aloon). Area rumah
bupati/regent van Soerabaja ini kini menjadi lokasi Bank Indonesia.
pos Surabaya telah mengalami relokasi dari seberang Kali Mas di Jembatatn Bibis
ke lokasi yang baru di aloon-aloon (seberang rumah bupati) pada akhir 1880an.
Pada tahun 1920an wajah kantor pos diubah dengan bentuknya yang sekarang
(mengikuti wajah kantor pos di Batavia dan Bandoeng).
pos Bandoeng tidak pernah mengalami relokasi sejak awal (1829). Yang mengalami
relokasi adalah rumah Bupati/Regent Bandoeng dari Dajeuh Kolot ke jalan pos
yang baru pada tahun 1829 bersamaan dengan pembangunan kantor pos Bandoeng.
Kantor Pos Bandoeng dan rumah Bupati berseberangan (sebagaimana kemudian kantor
pos Soerabaja mengambil lokasi di seberang rumah Bupati Soerabaja).
(pecinan), sementara di Soerabaja kantor pos menjauh dari perkampoengan
Tionghoa (pecinan). Sedangkan di Buitenzorg kantor pos tetap berada di area
orang-orang Eropa, Rumah Bupati berada di perkampoengan penduduk asli di Empang
dan pecinan berada area terpisah di luar area Eropa/Belanda dan di luar
perkampuengan asli.
Dengan demikian, lokasi Kilometer Nol dapat berubah
sejak era Daendels. Namun posisi gps-nya bergeser sesuai dengan perubahan
perkembangan kota. Posisi kilometer nol Surabaya juga telah mengalami
pergeseran dari rumah Bupati ke Jembatan Merah dan kemudian bergeser lagi ke aloon-aloon
(area bupati) yang kini posisi gps-nya di Kantor Gubernur. Hal ini tidak terjadi
di Batavia tetap berada di Kota (Stadhuis). Pada era Daendels, jalan pos dari
Bantam melalui Tangerang lalu menuju Angke dan terus ke Kota, lalu dari Kota
menuju Weltevreden (Gambir) lalu Bidara Tjina hingga ke Buitenzorg. Namun
belakangan kilometer nol tersebut telah dipindah ke (lapangan) Monumen Nasional.
Yang tetap konsisten kilometer nol adalah Kota Bandoeng (sejak 1829 ketika
jalan posnya sendiri bergeser dari Lembang ke Bandoeng).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang
digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan
peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena
saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber
primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi
karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang
disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan
kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.









