Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Kota Padang (44): Radja Boerhanoedin dan Surat dari Padang; Komandan Tanah Abang, Pahlawan di Deli dan Atjeh

Tempo Doelo by Tempo Doelo
15.10.2017
Reading Time: 39 mins read
0
ADVERTISEMENT



false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Kilas Balik: Peran Tokoh Padang
Sidempoean di Deli dan Atjeh

Dua diantara tokoh
penting dalam permulaan pembentukan otoritas Belanda di Riaow (Riau dan Siak),
Pantai Timur Sumatra (Sumatra Timur) dan Atjeh (Aceh) adalah Elisa Netscher dan
Radja Boerhanoedin. Kedua tokoh ini sentral sebagai kombinasi Belanda dan
pribumi. Perluasan otoritas Belanda tersebut, karena sebelumnya sudah terbentuk
otoritas Belanda di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) yang terdiri dari
tiga residentie: Padangsch Benelanden (ibukota di Padang), Padangsch
Bovenlanden (ibukota di Fort de Kock) dan Tapanoeli (ibukota di Padang
Sidempoean). Peran Pantai Barat Sumatra sangat dominan dalam perkembangan lebih
lanjut otoritas Belanda di Riau, Sumatra Timur dan Aceh.
Bagaimana proses berlangsung
tidaklah bersifat acak tetapi terstruktur (by design). Pemerintah Hindia
Belanda adalah pemerintahan yang sangat besar, berpengalaman dan para
pejabatnya hampir semua berpendidikan tinggi alumni Eropa (Belanda). Sementara
kaoem pribumi banyak yang tidak tahu apa yang dipikirkan Belanda, apa yang
telah dan akan dilakukan Belanda, dan tidak tahu bagaimana semua itu
terintegrasi satu sama lain. Pada saat inilah beberapa pribumi yang cerdas dan
terpelajar dilibatkan. Meski mereka dilibatkan tetapi tidak sepenuhnya mereka
pahami gambar besarnya. Mereka ini cenderung sebagai pemain di lapangan (bukan
inisiator, bukan pemikir dan juga bukan pemilik otoritas atau pemilik kekuasaan).
Singkat kata: mereka yang jumlahnya segelintir ini hanya sebagai alat
pemerintah Belanda untuk mencapai tujuannya (kolonial).
Radja Boerhanoedin hanya
satu diantara sedikit tokoh pribumi terpelajar saat itu. Radja Boerhanoedin dan
Willem Iskander hidup sejaman. Mereka berdua terbilang adalah sejumlah penduduk
Sumatra terawal yang diintroduksi dengan pendidikan modern yang menggunakan
aksara latin.
Secara teknis pendidikan modern baru
diperkenalkan pada tahun 1846 di Afdeeling Agam oleh Asisten Residen Steinmenzt.
Introduksi pendidikan juga dilakukan di Afdeeling Mandailing dan Angkola oleh
Asisten Residen AP Godon tahun 1851, Pada tahun 1854 dua siswa Mandailing dan
Angkola dikirim untuk studi kedokteran di Batavia bernama Si Asta dan Si Angan.
Sekolah kedokteran yang dibuka sejak 1851 ini kemudian disebut Docter Djawa
School. Dua siswa asal Mandailing dan Angkola ini merupakan siswa pertama yang
diterima di Docter Djawa School yang berasal dari luar Jawa.    
Radja Boerhanoedin salah
satu diantara sejumlah penduduk yang mendapatkan pendidikan modern aksara latin
yang memasuki pendidikan yang lebih tinggi (selain yang telah disebutkan Si
Asta dan Si Angan).  Radja Boerhanoedin melanjutkan
pendidikan ke sekolah guru (kweekschool) yang baru dibuka di Fort de Kock pada
tahun 1855.
Saat itu, introduksi pendidikan
modern baru ada di Jawa, Padangsch, Mandailing dan Angkola (Tapanoeli) dan
Minahasa. Sementara sekolah tinggi baru dua bidang, yakni: pendidikan guru dan
pendidikan kedokteran (di Batavia). Pendidikan guru baru dua buah yakni di
Soerakarta yang dibuka tahun 1851 dan sekolah guru di Fort de Kock sebagai
sekolah guru kedua yang dibuka tahun 1856. Yang mendirikan sekolah guru di Fort
de Kock adalah JAW van Ophuijsen, Asisten Residen Agam.
Pada tahun 1857 Si Sati,
siswa sekolah di Mandailing dan Angkola melanjutkan pendidikan ke pendidikan
yang lebih tinggi. Tidak ke sekolah guru di Fort de Kock dan juga tidak ke
Soerakarta serta tidak juga mengikuti kakak kelasnya Si Asta dan Si Angan di
sekolah kedokteran (di Batavia) tetapi langsung studi ke Belanda. Si Sati di
Belanda mengikuti sekolah pendidikan guru di Haarlem dan lulus tahun 1861
dengan akta guru. Pada tahun 1862 Si Sati yang mengubah namanya menjadi Willem
Iskander pulang ke tanah air dan mendirikan sekolah guru (kweekschool) di
kampong halamannnya di Tanobato. Dengan demikian, tahun 1863 Kweekschool
Tanobato merupakan sekolah guru ketiga di Nederlandsch Indie.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa
Radja Boerhanoedin pada tahun 1863 ikut berpartisipasi dengan Elisa Netscher
melakukan ekspedisi ke Deli (invasi dan pendirian otoritas Belanda). Radja
Boerhanoedin yang telah mengikuti sekolah guru Kweekschool di Fort de Kock
tidak diketahui jelas apakah berhasil menyelesaikan studinya. Namun hanya
dilaporkan memulai kerja sebagai pegawai (klerk) pakhuismeester di Padang. Lalu
kemudian Radja Boerhanoedin dipindahkan sebagai pegawai di Kantor Residen di
Batavia, lalu magang di Kantor Residen Bantam di Serang, kembali lagi ke kantor
Batavia sebelum dipindahkan ke Kantor Residen Riaouw dan kemudian dipindahkan
ke Kantor Asisten Residen Siak. Sejak 1862 Radja Boerhanoedin diangkat sebagai
zandeling (misionaris) Residen Riaou (Netscher, saudara mantan Residen
Tapanoeli) ke wilayah-wilayah utama di Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s
Oostkust). Radja Boehanoedin kemudian dimutasi dari Tandjong Pinang ke Siak
Indrapoera tahun 1866.
Setelah Elisa Netscher
dipromosikan dari Residen Riaouw menjadi Gubernur Sumatra Westkust tahun 1870, Radja
Boehanoedin juga dipromosikan pada bulan Desember 1871 menjadi Komandan (setingkat
camat) di Distrik 3 di Batavia. Meski dua tokoh ini berjauhan namun keduanya
tetap berinteraksi. Pejabat eksekutif Menteri Koloni Jellinghaus di Batavia dan
Gubernur Elisa Netscher memulai rencana untuk langsung aneksasi ke Kesultanan
Atjeh (setelah adanya ekskalasi politik di Eropa antara Inggris dan Belanda
tentang wilayah-wilayah jajahan). Sehubungan dengan itu, bentuk-bentuk
perlawanan Si Singamangaradja di Toba (seputar danau Toba) meski tidak
diabaikan, tetapi dengan langsung membentuk otoritas Belanda di Atjeh akan
dengan sendirinya Sisingamangaradja akan terjepit diantara otoritas Belanda
oleh pemerintah Sumatra Timur di timur, pemerintah Atjeh di utara dan pemerintah
Tapanoeli di barat (Sibolga dan Singkel) dan di selatan (Mandailing dan Angkola).
Jellinghaus dan Elisa Netscher menjadi tokoh utama dalam  persiapan aneksasi ke Atjeh dan peran mereka diduga
sangat berperan penting. Perang dimulai April 1873. Namun serangan dan pendudukan
Atjeh ini terbilang tidak sukses. Perencanaan Jellinghaus dan Elisa Netscher
tidak tepat.
Radja Boerhanoedin,
bekas anak buah Elisa Netscher yang kini berada di Batavia sebagai Komandan di
Distrik 3 mulai dipertimbangkan. Lalu  Jellinghaus
mendiskusikannya dengan Radja Boerhanoedin untuk mempelajari lebih lanjut
tentang Atjeh. Radja Boerhanoedin kemudian dikirim ke Atjeh pada bulan Mei 1873.
Radja Boerhanoedin tampaknya
menggantikan peran ahli-ahli lain tentang Atjeh. Tentu saja Radja
Boerhanoedin dikirim ke Atjeh tidak dalam konteks sebagai ilmuwan sebagaimana Elisa
Netscher ke Riaouw (1850an) dan FW Junghuhn dan FJ Willer ke Tapanoeli (1840an).
Sepulang dari Atjeh, Radja Boerhanoedin berdasarkan Keputusan Kerajaan Belanda
tanggal 17 November 1873 menerima bintang de Militaire Willemsorde 4a klasse. Catatan:
Snouck
Hurgronje  pada fase berikutnya dikirim ke Atjeh.
Perang Atjeh pertama  yang gagal (1873) dilanjutkan pada awal tahun
1874. Rencana perang frontal mulai dipersiapkan. Perang ini tergolong perang
yang memerlukan dana dan daya yang sangat besar. Secara mominal nanti terhitung
menghabiskan biaya sebesar f40.000. Perang ini menjadi perang Belanda terbesar
di Hindia Belanda. Sebagai perang frontal menjadi muncul pro kontra tidak hanya
diantara Belanda dengan pribumi, tetapi juga di antara orang-orang Belanda dan
diantara orang-orang pribumi sendiri.
Peta Kraton dan Masjid Atjeh, 1873

Willem Iskander protes terhadap
penghancuran kraton dan masjid Atjeh. Protes ini dimuat dan viral di surat
kabar. Protes Willem Iskander tampaknya tidak ada kaitannya dengan kedekatan
Atjeh dengan Sisingamangaradja, tetapi soal kemanusian yang diapungkan oleh
Willem Iskander (satu-satunya guru pribumi di Hindia Belanda yang memiliki
pendidikan Eropa, penganut pemikiran Alexander Herzien, humanis, demokratis dan
anti perbudakan). Willem Iskander menyampaikan protes ini di tengah perjalanan
menuju ke Belanda. Willem Iskander, guru di Kweekschool Tanobato sedang
membimbing tiga guru muda (dari Soerakarta, Madjalengka dan Tapanoeli) untuk
studi ke Belanda. Berita ini menjadi viral ketika empat guru tersebut tengah dalam
perjalanan melalui pelayaran samudra.

Perang kedua Atjeh ini
membuat pusat Kesultanan Atjeh luluh lantak. Kraton dan masjid hancur lebur.
Dalam konteks inilah Willem Iskander melakukan protes. Boleh jadi Willem
Iskander berpikir sama dengan orang-orang yang kontra dengan perang frontal
bahwa kraton dan masjid adalah lambang masyarakt Atjeh. Belanda dalam hal ini
tidak hanya mengalahkan pasukan dan kekuatan Atjeh tetapi juga sekaligus
(prsikologis) rakyat Atjeh.
Denah lingkungan Kraton Atjeh, 1873 (no.5 masjid)

Dengan hancurnya kraton dan masjid
Atjeh, rakyat Atjeh masih tetap bergelora melalui para pemimpinnya dengan cara
bergerilya. Ini seakan pengulangan dimana ibukota kerajaan Sisingamangaradja
dihancurkan dan lalu mengungsi dengan berperang dengan cara bergerilya. Pemimpin
Atjeh dan Sisingamangaradja sudah lama saling mendukung. Sebelum terjadi
penyerangan Atjeh banyak hulubalang dari Tapanoeli yang ikut membantu. Bahkan
beberapa kelompok pasukan hulubalang dari Mandailing dan Angkola terutama dari
Afdeeling Padang Lawas terdeteksi di Sibolga dan Singkel dalam perjalanan
menuju Atjeh (sebagaimana diberitakan di surat kabar).

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

Perang Atjeh telah
membuka jalan untuk pembentukan otoritas pemerintah Belanda di Kotaradja (kini
Banda Aceh). Namun perang itu sendiri meninggalkan kesan yang belum selesai
dianggap telah berlebihan. Para humanis Belanda terus protes. Anehnya penduduk pribumi di
Hindia Belanda hanya berdiam diri kecuali di beberapa wilayah dan beberapa
orang termasuk Willem Iskander.
Masjid Atjeh sebelum dihancurkan (1874)

Untuk memulihkan kondisi
(psikologis) penduduk Hindia Belanda khususnya di Atjeh, muncul gagasan (entah
siapa yang memulai) coba merangkul rakyat Atjeh dengan inisiatif membangun
kembali masjid Atjeh. Iklan pengumpulan dana di surat kabar. Dalam tempo
singkat terkumpul dana yang cukup besar untuk membangun masjid Atjeh yang
sangat modern. Ternyata dana pembangunan ini tidak terpakai habis, sisanya
kemudian dialokasikan untuk merenovasi masjid Bandoeng (1876). Mengapa
Bandoeng? Sulit diketahui. Namun secara historis sejak koffiestelsel 1830
penduduk Preanger sangat menderita dan muncul kegelisahan. Boleh jadi ini
alasannya, idem dito, dengan pembangunan (kembali) masjid Atjeh.

Sementara Perang Atjeh
(Teuku Umar dan Tjut Nyak Dhien) dan Perang Batak (Sisingamangaradja) berlangsung
(bergerilya) sejumlah persoalan belum selesai di Laboehan Batoe, Asahan, Batoebara,
Deli dan Tamiang. Dalam hubungan ini peran Radja Boerhanoedin, Komandan di
Batavia dikirim (lagi) ke Pantai Timur Sumatra sebagai pejabat pemerintah pusat
dengan titel  Komisaris Jenderal Deli dan
Atjeh. Tampaknya tugas Radja Boerhanoedin ini dimaksudkan untuk memperkuat
teritori dengan pembentukan sturuktur pemerintahan sipil yang berada di sisi
luar daerah operasi militer (DOM). Daerah operasi militer Belanda saat itu yang
masih tersisa di Hindia Belanda adalah di Atjeh pedalaman dan di utara danau
Toba.
Radja Boerhanoedin memainkan peran
penting di Batoebara karena kekosongan kepemimpinan sambil membentuk
pemerintahan. Radja Boerhanoedin sedikit kesulitan di wilayah Asahan dan
Laboehan Batoe. Namun pada akhirnya dapat diselesaikan. Asahan berhasil
dibentuk pemerintahan, lalu Laboehan Batoe. Dalam hubungan ini Kota Pinang
dipisahkan dari Afdeeling Padang Lawas (Tapanoeli) dan dimasukkan ke Laboehan
Bator. Dua lanskap diantara Asahan dan Laboehan Batoe (yang dulu ditemukan
keturunan emigran Soetan Mangedar Alam) yang tidak masuk Asahan dan juga tidak
masuk Laboehan Batoe, meski mereka ingin membentuk pemerintahan sendiri,
akhirnya dimasukkan ke Laboehan Batoe. Tokoh yang terkenal dalam menyelesaikan
wilayah sisi terjauh Tapanoeli dan sisi terjauh Sumatra Timur adalah Dr. Angan
yang sejak lama bertugas di wilayah tersebut sebagai pensiunan dokter
pemerintah. Jasanya diperlukan dalam kasus perkuatan struktur pemerintah di
wilayah tersebut yang boleh jadi bekerjasama dengan Radja Boerhanoedin. Dr.
Angan adalah adik kelas Willem Iskander, alumni Docter Djawa School). Dr. Angan
adalah teman Dr. Asta (siswa kedokteran pertama dari luar Jawa). Persoalan di
Deli adalah penyelesaian kisruh lahan dimana Sultan Deli mengokupasi lahan penduduk
dengan memberi konsesi kepada para planter dimana muncul perlawanan dari
penduduk Batak di hulu sungai Deli yang dipimpin oleh Datuk Sunggal (terkenal
dengan Perang Sunggal). Sedangkan di Tamiang tidak dalam hal konsesi lahan
perkebunan tetapi perihal yang terkait dengan ditemukannya pertambangan minyak.
Perlawanan penduduk yang dipimpin oleh para pemimpin Tamiang dilakukan dengan
pengerahan militer seperti di Sunggal. Perang di Tamiang (yang dikenal sebaga
Perang Tamiang) ini membawa korban banyak di kedua belah pihak. Dalam perang
Tamiang ini (1893), Radja Sabaroedin sudah tua dan tinggal di Batavia sebagai
Komandan Distrik. Yang menggantikan peran Radja Boerhanoedin di Tamiang adalah
anaknya Radja Sabaroedin (yang juga kemudian mendapat bintang).
Setelah perlawanan yang
berlarut-larut di Toba dan Atjeh akhirnya Belanda berkuasa penuh di seluruh
wilayah. Di Atjeh Teuku Umar melanjutkan perang dengan cara bergerilya.
Beberapa kali Teuku Umar menyerah dengan bekerjasama dengan Belanda. Dalam
perlawanan yang terakhir, Teuku Umar tewas tertembak di Meulaboeh dan meninggal
11 Februari tahun 1899. Perlawanan Teuku Umar dilanjutkan istrinya Tjut Nyak
Dhien, Namun pada akhirnya Tjut Nyak Dhien berhasil ditangkap (1905) lalu
diasingkan ke Jawa (1906) dan pada tahun 1908 meninggal dunia.
Perang Atjeh dan Perang Batak
relatif bersamaan. Sisingamangaradja 
terus melakukan perlawanan tanpa henti dan konsisten. Tidak sekalipun
mau bekerjasama dengan Belanda. Sisingamangaradja tidak hanya berperang dengan
Belanda (yang dibantu pasukan pribumi), tetapi Sisingamangaradja juga harus
mempertahankan eksistensinya dari penduduk Batak karena dianggap beberda agama/kepercayaan.
Pengaruh Nommensen, misionaris Kristen di Bataklanden (Silindoeng dan Toba)
sangat kuat dan bahu membahu dengan Belanda untuk menghancurkan Sisingamangaradja.
Akhirnya Sisingamangaradja XII tewas tertembak militer Belanda dan meninggal pada
tanggal 17 Juni 1907 di Dairi (utara danau Toba). Habis sudah perlawanan heroik
dari Sisingamangaradja XII (tampaknya tidak ada yang menangisinya kecuali para
pengikut setianya yang memiliki kepercayaan yang sama). Meski demikian, Sisingamangaradja
harum namanya, sebab perlawanan heroiknya hingga tetes darah penghabisan dan
tidak pernah sekalipun menyerah. Sisingamangaradja benar-benar pahalawan sejati
Indonesia, pahlawan Indonesia yang terakhir (The Last of the Mohicans
Indonesia).
Berakhirnya Perang Atjeh
dan Perang Batak maka berakhir pula perang Belanda di Indonesia. Mengapa
disebut Indonesia, sebab pada tahun tewasnya Sisingamangaradja XII sudah muncul
di berbagai tempat terutama di kota-kota besar kebangkitan bangsa Indonesia.
Seperti di Padang muncul tahun 1900 organisasi kebangsaan yang disebut Medan
Perdamaian yang digagas oleh Dja Endar Moeda. Lalu setahun setelah wafatnya Sisingamangaradja
XII muncul organisasi mahasiswa kebangsaan di Belanda tahun 1908 yang digagas
oleh Soetan Casajangan.
Berakhirnya Perang Atjeh dan Perang
Batak dan tewasnya tidak The Last of the Mohicans Indonesia, Sisingamangaradja
XII, maka babak baru perjuangan bangsa Indonesia dimulai. Tidak lagi dengan
senjata tetapi dengan otak.
Para pemimpin Indonesia
yang mulai banyak terdidik dengan pendidikan modern, strategi perjuangan berubah
total: dari senjata bergeser dengan pemikiran yang jernih baik melalui pena
yang tajam maupun organisasi yang revolusioner diantaranya: di Padang, Dja
Endar Moeda mulai menyuarakan ketidakadilan (1898-1910), di Medan, Mangaradja
Salamboewe idem dito menyuarakan ketidakadilan (1902-1908) dan di Belanda,
Soetan Casajangan idem dito menyuarakan ketidakadilan (1907-1913). Ketiga tokoh
ini murid Charles Adriaan van Ophuijsen, yang sama-sama alumni Kweekschool
Padang Sidempoean.  
Hasan Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe
mengawali karir sebagai penulis di Kantor Residen di Sibolga dan lalu menjadi
Djaksa di Natal. Akan tetapi baru satu tahun jabatan ini ditinggalkannnya dan
dipecat. Hasan Nasoetion lalu hijrah ke Medan dan menjadi editor Pertja Timor tahun
1902 (wartawan pemberani). Mangaradja Salamboewe adalah anak dari Dr. Asta
(dokter pribumi pertama dari luar Jawa). Radjioen Harahap gelar Soetan
Casajangan adalah pendiri organisasi kebangsaan Indonesia pertama, Indisch Vereeniging
di Belanda, Soetan Casajangan adalah anak dari Maharadja Soetan, kepala koeria
Batoenadoea Padang Sidempoean yang pernah menjadi asisten Demang di Weltevreden
(semasa Radja Boerhanoedin sebagai Komandan di Distrik Batavia). Maharadja
Soetan sendiri adalah murid pertama Willem Iskander di Kweekschool Tanobato.

Berakhirnya Perang Atjeh
dan Perang Batak meninggal penderitan yang mendalam di Atjeh dan Toba. Penduduk
hidup susah dan kemiskinan di mana-mana, anak usia sekolah tidak bersekolah dan
dunia luar tidak terinformasikan sama sekali. Pembentukan pemerintah secara
perlahan dibenahi agar roda pemerintahan berjalan sebagaimana di daerah-daerah
lain. Rekonstruksi terutama di Atjeh segera dilakukan untuk mengejar
ketertinggalan dengan daerah sekitar. Untuk itu, pejabat, guru dan dokter adalah
Mandailing dan Angkola dilibatkan. Mengapa harus dari Angkola dan Mandailing?
Guru-guru Tapanoeli yang dikirim ke
Atjeh antara lain Mohammad Taib ke Kroeng Raba. Mohammad Taib kelak dikenal sebagai ayah dari SM
Amin Nasution, kelahiran Atjeh yang menjadi Gubernur Sumatra Utara pertama; Aden
Lubis, kelak dikenal sebagai ayah dari Kolonel Zulkifli Lubis (Kepala Intelijen
RI pertama); Madong Lubis, kelak dikenal sebagai ahli Bahasa Melayu yang
menjadi Bahasa Indonesia. Di bidang pers, untuk mencerdaskan bangsa, Dja Endar
Moeda, setelah diusir Belanda dari Padang karena delik pers lalu hijrah dan mendirikan
surat kabar Pembrita Atjeh di Kotaradja (Banda Aceh) pada tahun 1909. Dja Endar Moeda sendiri
pernah menjadi guru di Singkel
(sebelum hijrah ke Kota Padang). Pejabat-pejabat
Tapanoeli tidak hanya dikirim ke Riaouw, Sumatra Timur dan Djambie, tetapi juga
sangat banyak dikirim ke Atjeh, diantaranya: Djamin Soripada dikirim ke Sabang,
kelak dikenal sebagai ayah dari Amir Sjarifoedin kelahiran Medan 1907 (Perdana
Menteri RI); Mangaradja Gading dikirim ke Djambie, ayah dari Abdul Hakim
Harahap kelahiran Saroelangoen 1907 (Wakil Perdana Menteri dan Gubernur Sumatra
Utara keempat); Radja Panoesoenan, kelak dikenal sebagai ayah Mochtar Lubis,
kelahiran Soengai Penoeh, 1922. Radja Panoesoenan sebelum ke Djambie adalah pegawai
di Bengkalis dan di Medan. Tentu saja guru-guru lainnya dikirim ke Silindoeng
dan Toba antara lain: Soetan Martoewa Radja (ayah MO Parlindoengan) ke
Taroetoeng; Soetan Casajangan ke Dolok Sanggoel (HIS); GB Joshua Batoebara ke
Balige (HIS).
Sudah barang tentu guru, dokter dan pejabat serta jurnalis yang ditempatkan atau merantau ke Deli dan sekitarnya (Sumatra Timur). Jumlah mereka yang berasal dari Mandailing dan Angkola sangat banyak
jumlahnya dan menjadi dominan di Medan dibanding dari daerah lain. Ini terutama setelah Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust. Yang pertama terindentifikasi Sjech Hadjie Ibrahim yang bahkan sudah berada di Deli sejak tahun 1875 (saat Medan menjadi ibukota kecamatan).
Sjech Hadjie Ibrahim diangkat sebagai kepala kampong Kesawan (kepala kampong pertama di Medan). Pejabat terawal yang ada di Medan yang berasal dari Mandailing dan Angkola adalah Soetan Goenoeng Toea (kakek Amir Sjarifoeddin) tahun 1885. .
Last but not least: Sebagaimana,
guru, dokter dan pejabat serta jurnalis pers, di bidang politik juga tidak
terkecuali. Kajamoedin Harahap gelar Radja Goenoeng, penilik sekolah di Medan menjadi anggota dewan kota pertama Kota Medan dari kalangan pribumi yang dipilih (pilkada) tahun 1918. Sementara di Atjeh sendiri hal ini dimulai ketika Residentie Atjeh dibentuk, Yang mana residentie yang masih
tergolong baru ini diubah struktur wilayahnya dimana Afdeeling Singkel yang
sebelumnya masuk Residentie Tapanoeli dimasukkan ke Residentie Atjeh, demikian
juga dengan Afdeeling Tamiang dimasukkan ke Residenti Atjeh. Lalu pada pemilu kedua (1924)
untuk menentukan wakil ke dewan pusat (Volksraad) di Batavia. Sumatra dibagi
menjadi empat dapil: Oost Sumatra, West Sumatra, Zuid Sumatra dan Noord Sumatra
(masing-masing dapil memilih satu orang untuk ke Volksraad).  Dapil Noord Sumatra merupakan gabungan Residentie
Tapanoeli dan Residentie Atjeh (penggabungan ini karena kedekatan emosional secara
historis). Komposisi dapil ini berlangsung hingga era kolonial di Indonesia
berakhir.
Pada pemilu 1924, semua suara Atjeh
diberikan kepada Dr. Alimoesa. Demikian juga pada pemilu-pemilu selanjutnya suara
dari Atjeh diberikan kepada Dr, Abdoel Rasjid (yang terpilih tiga periode).  Alimoesa Harahap dan Abdoel Rasjid adalah
kelahiran Padang Sidempoean. Untuk dapil Oost Sumatra (Sumatra Timur)
dimenangkan oleh Mr. Mangaradja Soeangkoepon (empat priode terpilih mewakili
dapil Sumatra Timur). Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon, alumni
Belanda adalah abang dari Dr, Abdoel Rasjid. Mengapa Atjeh memberikan suara sepenuhnya
kepada kandidat asal Mandailing dan Angkola? Apakah karena banyaknya guru, dokter,
jurnalis dan pejabat asal Mandailing dan Angkola yang membantu rakyat Atjeh
pasca perang? Ataukah karena Willem Iskander pernah membela Atjeh dan memprotes
Belanda karena melancarkan serangan frontal terhadap Atjeh?

 

*Dikompilasi
oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.
ADVERTISEMENT
Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Lala Tulpan Masjid Bunga Tulip di Ufa

Pesawat latih dua-awak peninggalan Jepang di Teluk Betung, 1949

Iklan

Recommended Stories

Resep Cannoli Original Sisilia Menggunakan Bahan Lokal

21.06.2024

Mr. Assaat gelar Datuk Mudo ketika menjadi pimpinan sidang BP-KNIP di Malang, 1947

17.04.2017

Waleed Shaath, Bayi yang Genapi Jumlah Penduduk Gaza Menjadi Dua Juta Jiwa

13.10.2016

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?