Orang Eropa/Belanda
di masa doeloe, memberikan julukan kepada suatu tempat tidak sembarangan. Ada
alasan yang kuat, dan karena itu mereka senang menuliskannya dan
mempopulerkannya. Alamiah memang. Satu tempat di hulu sungai Tjiliwong: Tandjong
West (Tanjung Barat) dijuluki sebagai Frisia Timur (Oostvriesland).
![]() |
| Tandjong West dijuluki Oostvriesland (1760) |
Beberapa tempat di Indonesia di masa doeloe diberi
julukan, seperti: Bandoeng, Parijs van Java; Bombaj van Java, Delhi van Java, Carribean
van Java, Japan van Java, Swiss van Java dan Venice van Java. Tentu saja Kota
Radja (kini Banda Aceh) dijuluki sebagai Serambie Mecca.
Tanjung West (Tanjung Barta) masuk Batavia (DKI Jakarta) tetapi secara defacto
lebih dekat ke Depok; sebaliknya Tjinere (Cinere) secara dejure masuk Depok
(Buitenzorg) tetapi secara defacto lebih dekat ke Batavia. Dua area yang
menjadi landerien (tanah partikelir) ini di masa lampuu seakan menjadi tanah
rebutan.
![]() |
| Peta kuno Tjiliwong, 1695 (Tjililitan dan Sringsing) |
Pada era Cornelis Chastelein (1691-1714), area Batavia
berada di sisi timur sungai Tjiliwong. Di sisi barat sungai Tjiliwong belum
dikenal, karena rawan terhadap musuh. Sisi barat sungai Tjiliwong semakin ke
hulu bagaikan Wild West. Sementara itu, tempat terjauh adanya orang
Eropa/Belanda di sisi timur Tjiliwong adalah Land Tjililitan. Cornelis
Chastelein adalah pionir yang membuka area baru dan memperkenalkan area baru di
sisi barat sungai Tjiliwong. Pada tahun 1691 Cornelis Chastelein membeli lahan
di Sringsing, lalu membeli lahan lagi di Depok tahun 1696. Sringsing dan Depok
adalah area orang Eropa/Belanda terjauh di hulu sungai Tjiliwong.
![]() |
| Peta Land TandjongWest, 1901 |
Situasi di wilayah sisi barat sungai Tjiliwong seakan dua
abad lebih awal untuk menggambarkan julukan Wild West di Amerika Serikat yang
membedakan wilayah lama di timur dengan wilayah baru di barat. Wilayah baru di
sisi barat sungai Tjiliwong yang sebelumnya dikenal sebagai Land Sringsing
(berganti) menjadi lebih populer disebut Land Tandjong West.
di Tandjong West tidak diketahui. Namun yang jelas, Land Sringsing dan Land
Depok sudah ada lebih dulu sebelum adanya Land Tandjong West. Disebutkan Land Tandjong
West berada di sisi barat (pelabuhan) sungai Tjiliwong. Jarak dari Batavia
diperkirakan sejauh 30 kilometer ke selatan Batavia. Untuk perjalanan melalui
sungai dari Batavia ke Tanjong Barat, hulu Sungai Ciliwung selama 48 jam, dan
perjalanan ke hilir ke Batavia hanya dutempuh selama 6 jam.
Land Tandjong West: Memiliki 400 Budak
![]() |
| Lanskap Land Tandjong West, latar G. Salak (lukisan 1760) |
Siapa yang memiliki kali pertama Land Tandjong West tidak
diketahui jelas. Jan Andries Duurkoop membeli dari pemilik sebelumnya. Saat
kepemilikan land ini ada di tangan Jan Andries Duurkoop, Jhos Rach mengabadikan
Land Tandjong West lewat beberapa lukisan (1760-1780). Land Tandjong West bukan
lahan yang subur karena air berada di bawah (sungai Tjiliwong dan Kali Bata). Land
Tandjong West adalah padang alang-alang dan semak belukar yang sangat luas.
![]() |
| Pintu gerbang ranch Land Tandjong West (lukisan 1760) |
Di lahan inilah pemilik
sebelum Jan Andries Duurkoop mendirikan peternakan untuk menghasilkan daging
dan susu. Jan Andries Duurkoop, yang lahir tahun 1722, seorang pensiunan
militer berpangkat Mayor meneruskan usaha peternakan tersebut di Land Tandjong
West.
![]() |
| Pagar ranch Land Tandjong West (lukisan 1760) |
Kapan Land Tandjong West diakuisisi Jan Andries Duurkoop
tidak diketahui. Lukisan yang dibuat Johs Rach antara tahun 1760-1780,
peternakan yang berada di Land Tandjong West sudah established: terlihat ada
bangunan besar, pagar dan pintu gerbang serta menara yang tingginya 25 meter. Dari
gambaran di dalam peternakan berdasarkan pohon yang ditanam mengikuti lanskap
peternakan diduga dibangun jauh sebelum tahun 1760 (oleh pemilik sebelum Jan
Andries Duurkoop). Saat Jan Andries Duurkoop memiliki Land Tandjong West
terdapat sebanyak 5.000 ekor sapi perah untuk memproduksi susu.
![]() |
| Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893 |
Dengan memperhatikan luasnya lahan peternakan (Land Tandjong
West) dan populasi sapi perah yang diusahakan sudah barang tentu membutuhkan
tenaga kerja yang banyak. Jan Andries Duurkoop dilaporkan sejak 1754 memiliki
sebanyak 400 budak sebagai tenaga kerja (lihat Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893).
ini dapat diduga bahwa Jan Andries Duurkoop paling tidak sejak 1754 telah
memiliki Land Tandjong West. Jika Jan Andries Duurkoop lahir tahun 1722, maka
umurnya saat memulai bisnis peternakan di Land Tandjong West adalah 32 tahun.
Peternakan itu sendiri sudah dimulai jauh sebelum tahun 1754. Untuk sekadar
menginformasikan Cornelis Chastelein di Land Depok meninggal tahun 1714 (yang
terkenal dengan testamennya). Jika Cornelis Chastelein adalah pionir di hulu
sungai Tjiliwong, maka Land Tandjong West dimulai setelah meninggalnya Cornelis
Chastelein. Â
Andries Duurkoop (1760-1780), peternakan ini dalam situasi dan kondisi
puncaknya. Sebagaimana digambarkan dalam lukisan itu, peternakan Land Tandjong
West bagaikan Frisia Timur (Oostvriesland) yang mengacu pada wilayah Frisia di
perbatasan wilayah pesisir Belanda dan Jerman.
pantai di sebelah utara Belanda dan Jerman. Friesland adalah suatu wilayah pertanian
yang sejak dari dulu terkenal dengan sapi berwarna hitam dan putih dan kuda
hitam yang juga terkenal. Sebagai wilayah peternakan dan pertanian, wilayah ini
juga sejak dari dulu penghasil susu yang terkenal. Hingga saat ini wilayah ini
tetap terkenal sebagai produsen susu. Salah satu merek susu terkenal yang ada
sekarang adalah susu merek Frisian Flag.
West
![]() |
| Bangunan utama ranch Land Tandjong West (lukisan, 1760) |
Pada tahun 1780 Jan Andries Duurkoop diketahui tidak
mampu lagi membayar kepada tenaga kerjanya (lihat Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893).
Tidak diketahui sebab-sebabnya mengapa demikian. Dengan peternakan sebesar ini
paling tidak telah berlangsung di bawah kepemilikan Jan Andries Duurkoop selama
26 tahun (1754-1780). Ini adalah waktu yang cukup lama bagi umur suatu
perusahaan besar.
![]() |
| Bangunan lain ranch Land Tandjong West (lukisan, 1760) |
Seperti apa performa peternakan Land Tandjong West setelah tahun
1780 tidak diketahui secara jelas. Pada tahun 1791 Jan
Andries Duurkoop diketahui telah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang
istri dan seorang anak yang masih kecil. Tampaknya sang istri yang ditinggal
mewarisi sepenuhnya peninggalan almarhum suaminya. Janda Jan Andries Duurkoop
yakni Johanna Adriana Christina Duurkoop pada tahun yang sama menikah dengan
Conraag Jonas dan pindah ke Jepang mengikuti dinas militer suami yang baru,
suatu profesi yang sama dengan almarhum Jan Andries Duurkoop  (Javasche courant, 13-10-1838).
![]() |
| Landhuis Tandjong West, 1901 (makam JA Duurkoop) |
Jan Andries Duurkoop (1722-1792)
meninggal dan dimakamkan di land miliknya, Land Tandjong West. Makam Jan Andries Duurkoop diketahui dengan nisan ditemukan di halaman
rumput dekat Landhuis Tandjong-Barat (De Indische courant, 22-07-1937). Dalam
Peta 1901 terlihat tanda kuburan (di sebelah kiri) dekat Landhuis Tandjong-Barat
(tanda salib). Peta ini harus dilihat
berbeda antara tahun 1901 ketika dibuat peta dengan situasi dan kondisi Land
Tandjong West pada tahun 1780 (saat peternakan tidak mampu membiayai tenaga
kerjanya) dan 1791 saat Jan Andries Duurkoop meninggal
dunia.
Adriana Christina dan Conraag Jonas kembali ke Land Tandjong West. Conraag
Jonas dikabarkan meninggal dunia tahun 1803 sebagaimana diketahui ketika Johanna
Adriana Christina membuat iklan di surat kabar (lihat Groninger courant, 30-09-1803).
Land Tandjong West kemudian diwariskan kepada anak Johanna Adriana Christina (Javasche
courant, 13-10-1838).
Menjadi Lahan Pertanian
Hindia Belanda menggantikan VOC pada awal tahun 1800an. Pemerintah di bawah
Gubernur Jenderal Daendles mulai mengkonsolidasi lahan-lahan antara Batavia dan
Buitenzorg dengan membuat program pengembangan pertanian dengan cara irigasi baik
di sisi timur maupun sisi barat sungai Tjiliwong. Kanal yang sudah dibuat sejak
era VOC di sisi timur sungai Tjiliwong ditingkatkan agar mampu mengairi
pencetakan sawah baru dan agar lebih terpenuhi kebutuhan air bagi
perkebunan-perkebunan. Sungai Tjikeas disodet lalu kanal ke arah Tjimanggis dan
Oost Tandjoeng (kini Pasar Rebo) agar lebih optimal dengan debit air yang
tinggi. Di sisi barat sungai Tjiliwong pertanian lebih dikembangkan dengan
pengembangan irigasi dengan membuat kanal-kanal (sebelum tahun 1835).
ini masih terpisah-pisah. Di Buitenzorg kanal dibuat dengan mengangkat air
sungai Tjiakantjilan yang jatuh ke sungai Tjisadane. Kanal ini mengairi
perswahan bari di Land Kedong Badak dan Land Tjiliboet. Di Land Depok dengan
membuat kanal yang terlebih dahulu membendung rawa dan terbentuknya Situ
Pitara. Di Land Tandjong West hal serupa dilakukan dengan membendung rawa dan terbentuknya
Situ Babakan (1830). Kanal dibuat dari Situ Babakan melalui Lenteng Agoeng
hingga Tandjong Barat (terus ke Kalibata).
Tandjong West bergeser dari area peternakan menjadi area pertanian (tanaman
pangan) dengan mencetak sawah-sawah baru. Boleh jadi anak Johanna Adriana
Christina kurang tertarik mengusahakan sendiri, karena memiliki jabatan di
pemerintahan, lalu disewakan atau dijual.
![]() |
| Bataviaasch handelsblad, 12-09-1863 |
Pada
tahun 1854 diketahui bahwa Land Tendjoeng West sudah dimiliki oleh seorang
Tionghoa Lie Ing Lie (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 11-10-1854). Ini mengindikasikan land Tandjong West telah
bergeser kepemilikannya dari orang Eropa ke orang Tionghoa. Pada tahun 1858 di
Land Tandjong West seseorang bernama Lie Sien Houw memasang iklan menyediakan
sapi-sapi gemuk (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 15-09-1858). Siapa Lie Sien Houw diduga adalah anak dari Lie
Ing Lie. Pada tahun 1863 Lie Sien Houw memasang iklan land Tandjong West
disewakan (lihat Bataviaasch handelsblad, 12-09-1863).
kondisi Land Tandjong West berubah total dari wilayah yang dulu peternakan
menjadi wilayah pertanian yang luas dan subur. Keluarga Lie Ing Lie dalam hal
ini yang mengembangkan kawasan Land Tandjong West menjadi lahan pertanian untuk
sawah dan kebun hortikultura.
program baru untuk meningkatkan luasan areal pertanian baik di sisi timur
sungai Tjiliwong maupun di sisi barat sungai Tjiliwong dengan meningkatkan
bendungan Katoelampa di sungai Tjiliwong dan membuat bendungan baru di Empang dari
sungai Tjisadane. Bendungan Tjisadane selesai tahun 1872.
di Buitenzorg tidak hanya meningkatkan kapasitas air di Land Kedong Badak dan
Land Tjiliboet tetapi juga memperluas pencetakan sawah baru di Land Bojong Gede
dan Land Depok. Kanal penghubung antara Land Tjiliboet, Land Bojong Gede, Land
Tjitajam dan Land Depok yang kemudian terbentuk Kali Baroe (dari Buitenzorg
hingga Depok).
di Tjitajam dan di Depok dengan sendirinya kapasitas Situ Pitara semakin
meningkat yang limpahan airnya diteruskan ke Tanah Baru melalui pembuatan kanal
(yang pada gilirannnya kanal Tanah Baroe ini diteruskan ke Situ Babakan (yang
pada gilirannya meningkatkan debit air ke Tandjong West, Pasar Minggoe, Kalibata
hingga Pegangsaan lalu masuk ke sungai Tjiliwong). Kanal baru di Depok ini juga
memungkinkan pembuatan kanal baru dari Kali Baroe melalui Land Depok menuju
Land Pondok Tjina (yang sisanya diteruskan ke Situ Babakan).
Api Batavia-Buitenzorg
Batavia dan daerah-daerah lain sudah lama berlalu. Peternakan Land Tandjong
West sudah lama tidak terdengar. Yang terdengar dari Land Tandjong West adalah
produktivitas pertaniannya semakin meningkat. Lahan kering di Tandjong West yang
menjadi pemicu munculnya peternakan telah berubah menjadi lahan basah untuk
menghasilkan tanaman pangan dan hortikultura.
kereta api Batavia-Buitenzorg dibuka. Ini menandai moda transportasi dari
kereta kuda dan pedati menjadi moda transportasi kereta api (massal).
Halte-halte yang dibangun di rute jalur barat Westerweg tepat berada di jantung sentra pertanian, yakni: Halte
Lenteng Agoeng (Land Tandjong West), Halte Pondok Tjina (Land Pondok Tjina),
Halte Depok (Land Depok), Halte Tjitajam (Land Tjitajam), Halte Bojong Gede dan
Halte Tjiliboet. Rute jalur timur Oosterweg antara Batavia-Buitenzorg adalah Meester Cornelis, Bidara Tjina, Tandjong Oost, Tjimanggis, Tjibinong dan Tjiloear.
dari Land Tndjong West, maka Land Tandjong West telah mengalami pergeseran moda
transportasi dari transportasi sungai, menjadi transportasi jalan darat dan
kemudian transportasi kereta api.
produksi peternakan di Land Tandjong West sejak era VOC diangkut melalui
kendaraan air (yang lamanya enam jam dari pelabuhan sungai Tjiliwong di Land Tandjong
West). Lalu kemudian bergeser dengan angkutan kereta kuda melalui jalan Pasar
Minggoe hingga ke Meester Cornelis lalu ke Batavia (Westerweg).
padang penggembalaan peternakan di Land Tandjong West sudah lama berakhir. Para
penumpang kereta api ketika melewati Land Tandjong West tidak melihat lagi
cowboy-cowboy di atas kuda menghalau ternak di era VOC. Tidak lagi terdengar
teriakan ihaaa! Yang terlihat (di era Pemerintah Hindia Belanda) adalah areal
persawahan yang luas di Land Tandjong West. Para cowboy telah lama hilang dan
yang muncul adalah para petani. Setiap kereta lewat di Land Tandjong West, para
petani hanya bisa melambaikan tangan kepada para penumpang kereta api: Howdy!
![]() |
| Peternakan dan pabrik susu di Pasar Minggoe (1934) |
Padang
penggembalaan sapi telah hilang seiring dengan pengembangan irigasi di Land
Tandjong West. Akan tetapi, sebagai wilayah yang sesuai dengan peternakan sejak
tempo doeloe (era VOC), sapi-sapi itu tidak hilang tetapi diusahakan dengan
cara membangun kandang-kandang ternak (stal). Besar dugaan Lie Sien Houw
setelah tahun 1869 telah menjual Land Tandjong West karena pailit (lihat Bataviaasch
handelsblad, 03-03-1869). Land Tandjong West kemudian dibeli kembali oleh orang
Eropa/Belanda. Pada tahun 1897 penyewa Land Tandjong West adalah VH Dalitz
(lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-04-1897). Pada
awal tahun 1900 peternakan di Land Tandjong West masih eksis. Lihat kandang
(stal) peternakan dan pabrik susu yang diduga berada di Land Tandjong West di
Pasar Minggoe 1934. Sebelum berakhirnya era kolonial Belanda, peternakan sapi dan
pabrik susu De Friesche Terp yang diduga di Land Tandjong West, Pasar Minggoe masih
eksisi dan diusahakan oleh B. Vrijburg (seorang dokter hewan).
Situ Pitara
Ditutup:Â Menyelamatkan Sawah di Tandjong West
karena pada musim kemarau mata air di hulu makin mengecil dan air dari Kali
Baroe makin mengecil dampaknya semakin ke hilir, maka sawah-sawah yang berada
di hilir mengalami kekurangan air. Yang paling parah dampak kemarau adalah
pertanian dan persawahan di Land Tandjong West.
mengatasi persoalan air di Land Tandjong West maka Situ Pitara harus ditutup
yang mana air dari Kali Baroe langsung dialirkan ke Tandjong West melalui kanal
Tanah Baroe, Situ Babakan dan kanal di Lenteng Agoeng. Penutupan Situ Pitara ini
direalisasikan dengan memberi konpensasi kepada Gemeente Depok. Â Â Â
luas di Land Tandjong West hanya tinggal kenangan. Semua lahan yang dulu yang
pernah menjadi arena para cowboy dan petani dan tukang kebun sekarang telah
beralih fungsi menjadi peruntukkan jalan arteri dan kemudian jalan yang mana di
sisi selatan jalan terbentuk kavling pemukiman yang nilainya sangat mahal,
seperti Rancho Indah. Apakah rancho berasal dari ranch (peternakan)? Howdy!
![]() |
| Landhuis Tandjong West (1930) |
Untuk sekadar dipahami
bahwa jalan kuno (sejak era Padjadjaran) adalah jalan yang melalui jalan
Lenteng Agoeng (IISIP, Simpang Jalan Joe dan stasion kereta api). Tidak jauh
dari stasion kereta api memotong rel kereta api lalu mengikuti jalur persimpangan
Jalan Tanjung Barat dan Jalan Nangka yang membentuk dua arah. Arah ke utara
adalah Jalan Tanjong Barat lewat belakang POM bensin dan langsung ke jalan di
depan Universitas Tama Jagakarsa
(memotong jalan tol) dan seterusnya melalui Poltangan dan selanjutnya melalui
SMP dan SMA ke stasion Pasar Minggu. Arah ke timur Jalan Nangka hingga ke Warung
Babeh hingga persimbangan sisi selatan tol dan kemudian dengan memotong jalan
tol akan ketemu (sambungan) Jalan Nangka di sisi utara terus melewati
perkantoran LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) dan Universitas PGRI
Indraprasta lalu berakhir pada persimpangan Jalan Poltangan.
Last but not least.
Mungkin anda bertanya-tanya dimana posisi ‘GPS’ letak Landhuis dari Land
Tandjong West pada masa lampau? Landhuis tersebut diduga berada persis di
persimpangan Jalan Nangka dan Jalan Poltangan ke arah selatan melalui Gang
Kampus Unindra (kira-kira diantara Gereja Pasundan dan Universitas
Indraprasta). Silahkan lihat kembali Peta 1901 di atas. Foto Landhuis dari Land Tadnjong West pada tahun 1930 terlihat
megah.
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.




















