Kota Padang terkenal dengan banyak monument.
Di Kota Medan hanya terdapat satu monument yakni Monumen Tamiang. Di Batavia
terdapat dua monumen terkenal: Monumen Atjeh dan Monumen Michiels.
Monumen-monumen tersebut sebagai peringatan di era kolonial Belanda telah
dihancurkan pada era pendudukan Jepang dan era pasca kedaulatan RI oleh
Belanda.
![]() |
| Monumen Greve di Kota Padang |
Monumen ini dibangun di Esplanade (kini Lapangan Merdeka) tahun 1894. Monumen
ini dibangun untuk mengenang Perang Tamiang yang telah membawa korban banyak
diantara tentara Belanda dan para hulubalangan Kesultanan Deli.
Tamiang melalui jalur sungai Tamiang. Ekspedisi ini datang dengan kapal besar
yang di dalamnya juga terdapat para hulubalang Kesultanan Deli.
kekurangan balabantuan dari Jawa dan Ambon yang masih terkonsentrasi di Daerah
Operasi Militer (DOM) di Aceh dan Bataklanden. Jika di wilayah DOM lainnya
jarang terjadi tetapi di pantai timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) benar-benar
terjadi. Boleh jadi Sultan Deli dan parahulubalang Kesultanan Deli memiliki
dendam terhadap para hulubalang dari Atjeh.
terbebaskan dari para hulubalang Atjeh ketika Resident Netscher 1863 datang ke
Laboehan (Deli). Sejak 1863 Deli berada dibawah penaklukan Belanda.
![]() |
| Monumen Tamiang di Kota Medan |
RI yang kelima (1950) di Esplanade monumen ini masih ada. Ketua Panitia
Perayaan adalah GB Josua (Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-08-1950). GB Josua
adalah salah satu dari empat orang republik yang menjadi pimpinan komite
penyerahan kedaulatan dari Negara Sumatera Timur (NST) ke Republik Indonesia
(Het nieuwsblad voor Sumatra, 23-11-1949). Pada peringatan Hari Proklamasi
Kemerdekaan RI yang keenam (1951) yang diketuai oleh Gubernur Sumatra Utara
sempat muncul keinginan untuk membongkar Monumen Tamiang ketika Esplanade
diubah namanya menjadi Lapangan Merdeka. Gubernur Sumatra Utara yang pertama
setelah pengakuan kedaulatan RI adalah Abdul Hakim Harahap (1951-1953). Monumen
Tamiang ini baru dibongkar pada tahun 1958 pada era Gubernur Gubernur Sumut
Sutan Komala Pontas. Monumen Tamiang di Esplanade Medan, 1910
![]() |
| Peta 1910 (Monumen) |
Monumen yang dibangun adalah Monumen Atjeh. Monumen Atjeh di Batavia secara
fisik lebih besar dari Monumen Tamiang di Medan. Hal ini karena Perang Atjeh
lebih besar dari Perang Tamiang. Dalam hal ini Perang Tamiang adalah bagian
dari Perang Atjeh. Dalam Perang Atjeh yang berujung pada penghancuran Kraton
Atjeh dan Masjid Raya Atjeh tahun 1874 menelan banyak korban bagi Belanda
(termasuk tentara asal Jawa dan asal Ambon). Untuk menghormati para pahlawan
Perang Atjeh di Batavia dibangun Monumen Atjeh. Peta Batavia 1910
bersamaan dengan Monumen Willian. Segera setelah penaklukan Atjeh, Radja
Belanda, William III berkunjung untuk kali pertama de Hindia Belanda.
Kedatangan Radaja Belanda sebagai wujud rasa sukacita karena semua wilayah di
Indonesia telah ditaklukkan oleh Belanda. Pembangunan Monumen Atjeh sebagai
peringatan untuk penaklukan Atjeh sedangkan pembangunan Monumen William untuk
menandai berakhirnya seluruh perang di Hindia Belanda. Monumen Atjeh dihiasi
oleh patung perunggu yang menggambarkan ratu Belanda di Wilhelmina Park (kini
Masjid Istiqlal), sedangkan Monumen William yang berada di William Park itu
dihiasi patung perunggu Radja William III.
![]() |
| Monumen William III di Kota Batavia |
sekarang juga terdapat Monumen Michiels dan Monumen Waterloopen. Pembangunan
Monumen Waterloopen yang dihiasi patung singa adalah peringatan perang Waterloo
di Eropa yang mana Daendels adalah prajurit Radja Napoleon dari Prancis yang
mana pada tahun 1808 Daendel sebagai Gubernur Jenderal pertama semasa
Pemerintah Hindia Belanda.
Sebagaimana diketahui JP. Coen adalah pendiri kota Batavia.
Michiels, mantan gubernur pertama Sumatra’s Westkut yang merupakan pahlawan
Belanda dalam Perang Bondjol. AV Michiels menjabat sebagai gubernur Sumatra’s
Westkust dari tahun 1934-1849. AV Michiels dianggap sebagai pahlawan yang
berjasa untuk membebaskan Sumatra’s Westkust dari kaoem Padri dan juga telah
berjasa memulai pembangunan di Sumatra’s Westkust.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.







