Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Bandung (16): Hadji Preanger dan Buku Panduan Haji; ‘Himpoenan Soedara’ dan Supra Organisasi PPPKI

Tempo Doelo by Tempo Doelo
02.02.2017
Reading Time: 17 mins read
0
ADVERTISEMENT



false
EN-US




























































































































































false
EN-US



























































































































































Sarikat
‘Himpoenan Soedara’, Para Haji Sudah Mulai Lengser?

 ‘Himpoenan
Soedara’ telah berkiprah tiga puluh tahun pada tahun 1936. Untuk mengenang tiga
dasawarsa organisasi para haji tersebut, pengurus menerbitkan sebuah buku
peringatan, dicetak di atas kertas halus dan diilustrasikan dengan serikat itu
sendiri, bahan foto berharga, yang member gambaran yang jelas tentang apa yang dilakukan
oleh ‘Himpoenan Soedara’ selama tiga puluh tahun, dan dalam sejarah organisasi yang
harus dianggap cukup lama. Banyak pejabat dari dunia asli (pribumi) dan ETI (Eropa/Belanda)
juga turut menulis sebuah kontribusi pendek atau panjang dalam memoar ini. Buku
ini menjadi tampak cukup tebal (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-10-1936).

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

‘Himpoenan
Soedara’ di Bandoeng, yang didirikan tahun 1906 (dan disahkan legalitasnya
1913) seumuran dengan ‘Sarikat Tapanoeli’ di Medan yang didirikan oleh
orang-orang afdeeling Padang Sidempuan (nama sebelumnya afd. Mandailing dan
Angkola) tahun 1905 dengan ketua Hadji Dja Endar Moeda dan wakil Sjech Ibrahim.
Sebagaimana diketahui, Hadji Dja Endar Moeda adalah penulis buku Panduan Haji
pertama tahun 1900 yang digunakan di seluruh Hindia Belanda. Dalam urusan
organisasi, Dja Endar Moeda adalah pionir. Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda
telah mendirikan sarikat bernama ‘Medan Perdamaian’ di Padang dengan direkturnya
Dja Endar Moeda. ‘Medan Perdamaian’ adalah organisasi kebangsaan bersifat
nasional yang cabangnya terdapat di beberapa tempat di Sumatra dan juga di
Batavia. Pada tahun 1903 ‘Medan Perdamaian’ memberikan bantuan dalam
pembangunan sekolah di Semarang. Berbeda dengan sarikat dagang ‘Himpoenan
Soedara’ di Bandoeng (1906) dan ‘Sarikat Tapenoeli’ di Medan (1905) yang focus
dalam dunia perdaganga, ‘Medan Perdamaian’ mengusung misi kebangsaan (dalam
arti luas), yang juga meliputi organisasi-organisasi bidang, seperti sarikat
dagang, sarikat guru dan sebagainya. Pada tahun 1908 sarikat kebangsaan bernama
‘Boedi Oetomo’ didirikan, namun ruang lingkupnya terbatas dan cenderung
bersifat kedaerahan. Pergeseran haluan di Jawa tersebut direspon mahasiswa di
Belanda untuk tetap mewujudkan kesatuan dan persatuan yang dimotori oleh Soetan
Casajangan dengan nama Indisch Vereeniging (Perhimpunan Mahasiswa Hindia
Belanda). ‘Boedi Oetomo’ yang disokong oleh pemerintah colonial, di satu sisi
memperkuat kehadiran Boedi Oetomo (kedaerahan) dan di sisi lain membuat kiprah
organisasi nasional  ‘Medan Perdamaian’
dan ‘Indisch Vereeniging’ ingin dihilangkan dan paling tidak dikerdilkan. Ini
tentu politik devide et impera. Tampaknya kemudian pemerintah sumringah, karena
popularitas ‘Boedi Oetomo’ yang terus meroket, daerah-daerah lain juga
mengikuti misi kedaerahan baik yang berhaluan mendukung maupun yang berhaluan
menentang. Itulah yang menyebabkan munculnya organisasi daerah seperti
Sumatrabond, Pasoendan, Kaoem Betawi, Minahasa, Jong Ambon dan sebagainya.
Sejak itu, organisasi berjalan sendiri-sendiri dan hanya ‘Indisch Vereeniging’
yang terus mengusung visi nasional (yang pada tahun 1922 diperbarui oleh
Mohamad Hatta dan kawan-kawan). Melihat organisasi kebangsaan yang tercerai berai,
seorang muda revolusioner yang di tahun 1919 mendirikan surat kabar bernama
Sinar Merdeka merupakan tokoh Sumatrabond, bernama Parada Harahap di Batavia,
mulai melakukan terobosan baru dan boleh jadi Parada Harahap mendapat dukungan
dari Soetan Casajangan yang saat itu menjadi Direktur Normaal School di Meester
Cornelis (Jatinegara) dan Husein Djajadinigrat di Rechtschool Batavia. Parada
Harahap lalu menghubungi dua vokalis Pedjambon (kini Senayan) yang menjadi
anggota Volksraad yakni M. Husni Thamrin dan Mangaradja Soangkoepon. Akhirnya
pada bulan Mei 1927, disepakati pembentukan supra organisasi kebangsaan di
rumah Husein Djajadiningrat yang diberi nama Permoefakatan
Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (disingkat PPPKI) dengan ketua
M. Hoesni Thamrin dan sekretaris Parada Harahap dan kantor ditetapkan di Gang
Kenari. Sekadar diketahui, awalnya Boedi Oetomo ogah bergabung, namun Parada
Harahap meminta kawannya Dr. Radjamin Nasoetion mempengaruhi Dr. Soetomo
(keduanya dulu sekelas di STOVIA). Sejak pendirian PPPKI inilah greget
Indonesia mulai terbentang hingga ke masa depan (hingga mencapai kemerdekaan
RI). Catatan: Dja Endar Moeda (alumni Kweekschool Padang Sidempuan), Soetan
Casajangan (alumni Belanda), Parada Harahap (hanya tamat sekolah dasar),
Mangaradja Soangkoepon (alumni Belanda) dan Radjamin Nasoetion (Alumni Stovia)
bukan kebetulan berasal dari kampong yang sama di Padang Sidempuan, melainkan
mereka memiliki visi yang sama dengan yang lainnya seperti Husein
Djajadiningrat, MH. Thamrin dan (kemudian menyusul) Soetomo.
Pada saat Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kota

Keberadaan ‘Himpoenan Soedara’ di
Bandoeng makin hari makin popular dan terhormat. Gedung ‘Himpoenan Soedara’ di
jalan Masjid (Moskeeweg) kerap dijadikan rapat-rapat sarikat baik sarikat
kebangsaan maupun sarikat-sarikat fungsional (guru, pedagang, kaum perempuan).

Beberapa
kongres yang dilakukan di gedung ‘Himpoenan Soedara’ adalah: Kongres PSII (De
Indische courant, 24-03-1937), Parindra cabang (De Sumatra post, 24-09-1937),
pers pribumi (De Sumatra post, 23-04-1938), Muhammadiyah (De Sumatra post, 10-10-1938),
Parindra pusat (De Indische courant, 21-11-1938), PNI (De Indische courant, 27-01-1939),
guru (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-08-1939), PII (Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-08-1939) dan sebagainya. Tentu
saja oleh Perhimpoenan Persaudaraan Istri (Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 30-08-1939).
Dalam perjalanannya ‘Himpoenan Soedara’,
sarikat yang mengusung sarikat dagang telah menjadi pusat kebangkitan kebangsaan
di Bandoeng. Pada awalnya dimotori oleh para haji (para pedagang), namun
tampaknya belakangan telah digantikan oleh generasi yang lebih muda (kalangan
terpelajar). Pada tahun 1933 ‘Himpoenan Soedara’ memformat ulang system
pembiayaan dengan mendirikan Pusat Kredit Bandoeng (lihat Het nieuws van den
dag voor Nederlandsch-Indie, 12-10-1938). Pada kesempatan ulang tahun ke lima
tahun dari Pusat Kredir Bandung tersebut menyelenggarakan perayaan yang
berlangsung di gedubg Himpoenan Soedara di jalan Moskeeweg.
Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-10-1938: ‘…Perayaan peringatan
ini dihadiri oleh sekitar 250 pihak yang berkepentingan, termasuk vie menemukan
diri mereka controller dari Bandung, Administrator dan Wakil Administrator Umum
Bank Kredit Rakyat, pengawas dari Volksiredietwezen dan Kerjasama, yang Volksraadsid,
Mr. Otto Iskandar di Nata, yang wethouder Atma di Nata dan perwakilan daerah
masing-masing. Rapat dibuka oleh Ketua Komite, Bapak Niti Soemantri, setelah
kata disahkan oleh presiden asosiasi, Mr. R. Gandasapoetra yang menceritakan sejarah
pembentukan asosiasi. Setelah istirahat, minuman disajikan, dan kemudian
dilanjutkan ceramah yang diberikan oleh Bapak RS Soeriaatmadja dan Mr. I.
Soeriaatmadja pada sistem sewa beli dan RM Margono Djojohadikoesoemo tentang perjalanannya
di kawasan industri di Eropa selama bekerja di Departemen Kolonien’.
Pusat Kredit Bandoeng ini terus
berkembang. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-08-1939
melaporkan bahwa  dalam laporan setengah
tahun pusat kredit Bandoeng ‘Himpoenan Soedara’ telah menunjukkan bahwa pada
periode setengah tahun yang lalu, sebanyak 182 anggota baru telah bergabung,
sehingga jumlah anggota per 1 Juli 1939 telah meningkat menjadi 1.204 orang.
Sementara dana yang dipinjamkan per 30 Juni sebesar ƒ365,746, sedangkan tabungan sebesar ƒ368,236.

Demikianlah sekadar
info tentang riwayat ‘Himpoenan Soedara’, suatu sarikat yang awalnya dimotori
oleh para haji di Bandoeng yang berprofesi sebagai pedagang. Sarikat ini terus
berkembang dan para pelakukanya tampaknya telah digantikan oleh para generasi
muda yang lebih terpelajar yang lebih sesuai dengan eskalasi kebangkitan
kebangsaan dan perkembangan politik. Seperti disebut di dalam berbagai tulisan,
jejak ‘Himpoenan Soedara’ masih terlihat di masa kini yang muncul sebagai Bank
Saudara.

*Dikompilasi oleh Akhir
Matua Harahap
berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

ADVERTISEMENT
Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post
Ini Rahasia Hafalan Al-Qur’an Santri Krapyak di Luar Kepala

4 Tahap Pergerakan Harga Saham

Gubernur Jenderal Dirk Fock mengunjungi pekan raya di Bandung, 1926

Iklan

Recommended Stories

Destinasi Seru Akhir 2023 dan Awal 2024, Batik Air Perluas Pilihan Penerbangan ke Bangkok

22.12.2023

Fiqih Jinayat (5)

13.11.2018

KETIKA NIKMAT MENGALIR DERAS

03.06.2015

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

23.01.2026
Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

23.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?