Dominique Willem Berretty dan Parada
Harahap di awal tahun 1930 adalah dua radja media di Batavia. Parada Harahap,
surat kabarnya yang terkenal Bintang Timoer (surat kabar pribumi bertiras
paling tinggi) dan enam media lainnya termasuk satu majalah berbahasa Belanda.
Parada Harahap di kampong halamannya di Padang Sidempuan tahun 1919 mendirikan
surat kabar yang diberi nama yang sangat revolusioner: Sirnar Merdeka. Selama
di kota itu, Parada Harahap belasan kali terkena delik pers dan beberapa kali
dibui di penjara Padang Sidempuan (tempat dimana Adam Malik setelahnya di usia
17 tahun pernah dipenjara). Parada Harahap hijrah ke Batavia tahun 1922.
Seperti halnya Dominique
Willem Berretty, Parada Harahap tidak punya ‘hutang’ terhadap Belanda. Pada
tahun 1927 Parada Harahap menyatukan semua organisasi kebangsaan Indonesia
(seperti Bataksch Bond, Pasoendan, Kaoem Betawi. Boedia Oetomo dan lainnya) dengan nama Permoefakatan
Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dengan meminta M. Hosni
Thamrin sebagai ketua dan dirinya sebagai sekretaris yang berkantor di Gang
Kenari. Pada akhir tahun 1933, saat Dominique Willem Berretty merayakan
villanya di Bandoeng, Parada Harahap berangkat ke Jepang dengan memimpin tujuh
orang Indonesia pertama ke Jepang. Tiga diantaranya adalah Abdoellah Lubis
(direktur Pewarta Deli di Medan), seorang guru revolusiner dari Bandoeng (Dr. Samsi) dan M,
Hatta yang baru lulus sarjana di Belanda. M. Hatta menggantikan posisi Soekarno
yang tengah dirumorkan akan diasingkan oleh Belanda. Soekarno kerap menulis di surat kabar
Bintang Timoer dan setiap bulan dari Bandoeng berkunjung ke Gang Kenari. Di
Jepang, rombongan disambut sebagai mewakili pemerintah Indonesia (tentu saja Negara
Indonesia belum ada) dan Parada Harahap digelari oleh pers Jepang sebagai The
King of Java Press. Berita itu telah menggoncangkan Hindia Belanda dan juga di
Belanda serta membuat pemerintah (colonial) tersinggung. Selama sebulan di
Jepang (termasuk perjalanan pp), rombongan Parada Harahap dengan kapal Panama
Maru tidak menuju Batavia (takut ditangkap pemerintah Hindia Belanda), tetapi
turun di Soerabaja pada tanggal 13 Januari 1934 yang disambut oleh tiga orang rebolusioner: Dr. Radjamin Nasoetion
(anggota dewan senior Kota Soerabaja), Dr. Soetomo, direktur rumah sakit dan
Amir Sjarifoeddin yang datang dari Batavia. Pada
hari mendarat tujuh revolusioner di Soerabaja, pada hari itu juga Ir.
Soekarno diberangkatkan dari Batavia ke Flores. Mungkin dalam pikiran
intel/polisi Belanda, amankan dulu satu ke Flores, akan lebih mudah
mengamankan tujuh orang lainnya. Radjamin Nasoetion dan Soetomo satu
kelas di STOVIA dulu. Dr. Radjamin Nasoetion, lulus STOVIA 1912, kelak menjadi
wali kota pribumi pertama di Kota Soerabaja. Pada tahun 1931, adik Parada Harahap bernama
Panangian Harahap adalah penilik sekolah pribumi di Bandoeng.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe.



