anggotanya telah mengekstrak Dagh Register, suatu kronik yang sangat rinci
antara tahun 1624 hingga 1808 ke dalam berbagai volume. Hasilnya telah
dipublikasikan. Namun volume yang diterbitkan tidak lengkap karena banyak
dokumen dagh register di masa lampau yang rusak atau hilang (sengaja atau tidak
sengaja). Para peneliti sejarah yang tergabung dalam Bataviaasch Genootschap
berterimakasih kepada nenek moyang meeka yang begitu tekun mencatat begitu lama
sehingga Dagh Register terbilang arsip paling lengkap tentang Asia (termasuk di
dalamnya Jepang) sebagaimana dilaporkan Sumatra-courant: nieuws- en
advertentieblad, 16-06-1887. Secara khususnya catatan yentang Hindia Belanda
antara lain Batavia, Jawa, Sumatra’s Westkust, Jamby, Palimbang, Tarnaten,
Amboina, Banda, Makasar, Solor dan Timor, Kalimantan dan Atchin. Sayang pada
tanggal 29 Maret 1808 Daendles menghentikannya.
Pers Hindia Belanda
Berkembang
(Bataviasche koloniale courant masih terbit hingga tahun 1874). Surat kabar
yang lahir sebelum Bataviasche koloniale courant tamat dan setelahnya adalah
surat kabar yang dikelola para investor. Surat kabar tersebut terbit di
berbagai kota, seperti Batavia, Semarang, Soerabaja, Padang, Medan dan Bandoeng.
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, Bataviaasch
handelsblad, Soerabaijasch handelsblad, Sumatra-courant: nieuws- en
advertentieblad (1859), De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad.
Kemudian menyusul Deli Cournat, Sumatra post, Â De Preanger-bode dan lain sebagainya.
berbagai surat kabar di Hindia Belanda ini. Surat kabar berbahasa melayu juga
mulai teridentifikasi, namun umumnya masih terbatas di kalangan orang-orang
Tionghoa.
Buku Pribumi Pertama
Mandailing en Angkola (Residentie Tapanoeli) pada tahun 1857 berangkat studi ke
Belanda. Setelah menyelesaikan studinya dan mendapat akta guru lisensi Eropa
pada tahun 1861 pulang ke kampong halamannnya melalui Batavia. Siswa pribumi
pertama yang studi ke Belanda ini pada tahun 1862 mendirikan sekolah guru
swasta di Tanobato.
Iskander berkonsultasi dengan percetakan/penerbitan untuk menerbitkan bukunya
yang di tulis selama studi di Belanda. Buku-buku inilah yang menjadi bahan
ajarnya di sekolah guru (kweekschool) Tanobato. Buku-buku tersebut ditulis
dalam bahasa Batak dengan huruf latin. Buku Willem Iskander terbitan tahun 1862
diduga buku pertama yang dituis seorang pribumi yang dicetak oleh penerbit di
Batavia. Belasan bukunya yang diterbitkan dan yang terkenal buku berjudul
Siboeloes-boeloes, Siroemboek-roemboek (terbit tahun 1871).
meluluskan banyak guru berkualitas dan menjadi guru-guru di seluruh pelosok afd
Mandailing dan Angkola. Pada tahun ketika setelah sekolah ini didirikan sekolah
guru ini diakuisisi pemerintah dan dijadikan sekolah guru negeri. Dan dalam
beberapa tahun saja sudah menjadi sekolah guru terbaik di Hindia Belanda.
Tanobato ditutup karena Willem Iskander kembali studi ke Belanda tahun 1875
untuk mendapatkan akta kepala sekolah Eropa. Dia akan menjadi kepala sekolah
guru di Padang Sidempuan yang akan dibuka tahun 1879.Â
tempo doeloe.



