*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Di sejumlah kota di masa lampau ada kota Cina
(China Town) seperti di Soerabaja dan Ampenan (Lombok). Apakah dalam hal ini di
pulau Madura juga ada China Town? Tampaknya tidak terinformasikan. Namun apakah
benar-benar ada China Town di pulau Madura? Sebab kehadiran orang Cina di pulau
Madura sudah ada ejak era VOC/Belanda hingga era Pemerintah Hindia Belanda.

Tionghoa
Madura adalah orang-orang dengan etnis Tionghoa yang bertempat tinggal di Pulau
Madura. Kedatangan Tionghoa ke pulau Madura dikaitkan dengan armada Tartar yang
dikalahkan oleh Raden Wijaya dan juga pelarian dari Geger Pecinan (di Batavia) tahun
1740. Terdapat kemungkinan bahwa mereka juga adalah pedagang perantara yang
sudah bermukim sejak zaman sebelum dinasti Ming. Di Pasongsongan, Sumenep,
terdapat sebuah perkampungan yang didiami orang-orang Tionghoa Muslim yang
diklaim sebagai keturunan Tionghoa yang masih termasuk santri Sunan Ampel di
Ampel Surabaya
(Wikipedia). Semenrtara dalam http://www.sumenepkab.go.id/ disebutkan
di sebuah perkampungan yang dikenal dengan pemukiman Radin di desa Tamedung, kecamatan
Batang-Batang, ada sebuah makam kuna. Berdasar inkripsi batu nisan, makam itu
diidentifikasi sebagai makam Kiai Bein. “Menurut keterangan para sesepuh, Kiai
Bein Seing ini adalah anak Kapitan Keng, dari Kerajaan Sriwijaya,” kata Abdul
Warits, salah satu peminat sejarah yang berasal dari Tamedung. Dari batu nisan
Kiai Bein Seing, tertulis masa hidup beliau hingga akhir hayatnya. Keterangan Warits,
beliau lahir di tahun 1602, dan wafat di tanggal 20 Shafar 1793. Kisah hidup
Kiai Bein Seing tidak ada tertulis. Disebut wilayah itu lokasi terdamparnya 6
tentara Tartar atau Mongol, salah satunya kakek Lau Piango, arsitek Masjid
Jami’ dan Kraton di masa Panembahan Sumolo (1762-1811). Namun apakah itu benar,
tidak bisa dipastikan, tambah Warits. Salah satu keturunan Kiai Bein Seing ada
yang diperisteri satu ulama, diyakini sebagai waliyullah di Sumenep, yaitu Ju’
Nipa. “Keturunan beliau rata-rata dahulu dipanggil Radin atau Raden, karena
konon Ju’ Nipa masih ada hubungan darah dengan keluarga kraton,” imbuh Warits..
Lantas bagaimana sejarah China Town di Pulau
Madura? Seperti disebutkan di atas, di pulau Madura juga terdapat orang-orang
Cina pada era VOC hingga era Pemerintah Hindia Belanda. Apakah dalam hal ini ada
kota Cina (China Town) di pulau Madura dan bagaimana riwayat kehadiran pedagang
Cina di Madura sejak Era VOC/Belanda di pulau Madura. Lalu bagaimana sejarah China
Town di Pulau Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
China Town di Pulau Madura, Apakah Benar Ada? Riwayat Kehadiran Pedagang Cina di Madura
Sejak Era VOC/Belanda
Keberadaan orang Cina di pulau Madura dapat
dikaitkan dengan terbentuknya cabang pemerintahan Pemerintah Hindia Belanda di
Madura. Pada permulaan di (Residentie) Madoera en Soemanap ditempatkan seorang
Residen yang dibantuk seorang sekretaris dan seorang kommies. Namun dalam
perkembangannya status Madura en Sumanep diturunkan hanya dipimpin oleh seorang
Asisten Residen (lihat Almanak 1831). Dalam struktur baru ini diangkat kapiten
Cina di (afdeeling) Sumanap dan seorang luitenan Cina, sementara di (afdeeling)
Madura juga diangkat seorang kapiten Cina. Ibu kota afd Madura berada di
Bangkalan. Ini mengindikasikan komunitas Cina cukup banyak di Soemanap dan
sekitar dan di Bangkalan dan sekitar.

Hubungan antara orang Madura dan orang Cina sudah berlangsung lama. Pada
tahun 1745 disebutkan Pangeran
Madura mendukung orang Cina yang memberontak di Batavia. Pada saat itu Gubernur NО kust van Java E. Sterrenberg ditaklukkan dan diusir. Sehubungan dengan itu kemudian seorang bupati baru, dibawah
kekuasaan Belanda diangkat di Madura (lihat Almank 1855).
Pengangkatan kapiten dan letnan Cina mengindikasikan
populasi orang Cina cukup banyak. Posisi kapten Cina di Madura dan di Sumanap
masih eksis hingga dua puluh tahun kemudian (lihat Almanak 1852). Letnan Cina
disebutkan di Pamekasan. Ada satu posisi yang disebut letnan Cina peranakan di
Soemanap (Mohamad Saleh bin Kiai Saboon). Apakah adanya pemimpin Cina peranakan
di Soemanap mengindikasikan sudah sejak lama orang Cina beradaptasi di Soemanap
yang di masa lampau pangeran Madura turut mendukung pemberontakan Cina di
Batavia?

Mochamad Tsaleh bin Kiai Saboon, luitenant paranakan
chinezen di Soemanap mengindikasikan
peranakan Cina di kota Soemanap dapat dikatakan cukup banyak. Suatu komunitas Cina
yang dari Namanya beragma Islam, suatu komunitas yang dibedakan dengan komunitas
Cina totok. Salah satu peranakan Cina di Soemanap adalah Pa Hatidja (lihat Javasche
courant, 25-01-1860).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Riwayat Kehadiran Pedagang Cina di Madura Sejak Era
VOC/Belanda: Bagaimana Keberadaan Orang Cina Era Pemerintah Hindia Belanda?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



