Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Cirebon (33): Majalengka, Cheribon Berbagi Gunung Ciremai di Kuningan, Maja Lengka, Majalengka;Antara Tomo-Jatiwangi

Tempo Doelo by Tempo Doelo
10.05.2023
Reading Time: 13 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Cirebon dalam blog ini Klik Disini

Bagaimana sejarah
Majalengka? Maksudnya sejarah Majalengka semasih bagian Residentie Chirebon.
Lebih tepatnya wilayah Majalengka tepat berada di belakang pantai wilayah
Cheribon di pedalaman di lereng sebelah barat gunung Ciremai. Apakah nama
Majalengka merujuk pada wilayahnya yang dihubungkan dengan Maja dan Lengka?
Dalam sejarah Majalengka nama Carang Sambong (kini lebih dikenal Tomo) menjadi
penting. Pada masa ini Tomo (kecamatan masuk kabupaten Sumedang) dan Jatiwangi
(kecamatan masuk kabupaten Majalengka). O, iya, sebelum memahami lebih lanjut
sejarah Majalengka, saya teringat dengan kawan sekampong Bata Oloan di Jatiwangi.

Majalengka sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat.ibu kota kabupaten berjarak
95 Km sebelah timur laut Kota Bandung dan 56 Km Kota Cirebon. Tahun 1819
dibentuk Karesidenan Cirebon terdiri Keregenaan (Kabupaten) Cirebon, Kuningan,
Bengawan Wetan, Galuh (Ciamis Sekarang) dan Maja. Kabupaten Maja cikal bakal kabupaten
Majalengka. Pembentukan Kabupaten Maja berdasarkan besluit Komisaris Gubernur
Jendral Hindia Belanda No.23 tanggal 5 Januari 1819. Kabupaten Maja gabungan tiga
distrik: Sindangkasih, Talaga, Rajagaluh. Kabupaten Maja ibu kota di kota kecamatan
Maja sekarang. Bupati pertama Kabupaten Maja adalah RT Dendranegara. Kabupaten
Maja mencakup wilayah Talaga, Maja, Sindangkasih, Rajagaluh, Palimanan dan
Kedondong. Tanggal 11 Februari 1840, Staatsblad No.7 dan besluit Gubernur
Jendral No.2 perpindahan ibu kota kabupaten ke wilayah Sindangkasih kemudian
diberi nama ‘Majalengka’, kemudian nama kabupaten disesuaikan dengan nama ibu
kota kabupaten yang baru, dari kabupaten Maja menjadi kabupaten Majalengka.
Pemberian nama Majalengka atau dari mana asal usul Majalengka masih menjadi
misteri. Dalam Buku Sejarah Majalengka (N Kartika) nama Majalengka diartikan
dalam bahasa Jawa Kuno yaitu kata ‘Maja’ nama buah dan kata ‘Lengka’ yang
berati pahit, jadi kata ‘Majalengka’ adalah nama lain dari kata Majapahit.
Majalengka sebagai ibu kota kabupaten (Staatsblad, 1887 No. 159).
(Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Majalengka di wilayah
Residentie Cheribon berbagi gunung Ciremai di Kuningan? Seperti disebut di atas
wilayah Majelengka berada di lereng gunung Ciremai dan wilayah Kuning di lereng
timur. Apakah nama Maja dan Lengka yang menjadi nama Majalengka? Lalu bagaimana
sejarah Majalengka di wilayah Residentie Cheribon berbagi gunung Ciremai di
Kuningan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Majalengka di
Cheribon Berbagi Gunung Ciremai di Kuningan, Maja dan Lengka, Majalengka;
Antara Tomo-Jatiwangi

Majalengka bermula dari situasi dan
kondisi awal di sisi barat lereng gunung Ciremai (di sisi timur berada
Kuningan). Pada Peta 1724 di sisi barat gunung Surmey (Ceremai/Ciremai) tidak
ada nama tempat yang diidentifikasi, kecuali jauh di sebelah timur laur kampong
Carang Sambong. Sementara itu di sisi timur gunung diidentifikasi nama tempat
Coningan (Kuningan). Ini mengindikasikan nama Carang Sambong dapat dikatakan
nama kampong tertua di kawasan barat gunung Ciremai.


Satu abad kemudian pada Peta 1817, di barat gunung Ciremai diidentifikasi
nama tempat Carang Sambong, Sindang Kasi dan Telaga. Wilayah antara Carang
Sambong dan Telaga inilah kemudian terbentuk nama baru Majalengka (nama yang
terus hingga masa ini). Dalam peta ini juga diidentifikasi nama Radja Galoeh
dan Kedondong. Tidak ada nama Madja dan Palimanan.

Nama yang terbilang awal di wilayah Majalengka
adalah (kampong) Telaga dan Sindang (Kasih) tetap eksis.
 Dua nama kampong ini yang keduanya juga
menjadi nama wilayah masih eksis pada Peta 1840. Dua nama diidentifikasi pada
Peta 1817. Wilayah ini menjadi batas wilayah (kesultanan) Cheribon, yang mana
sebelah baratnya (sisi barat sungai Tjamanoek) district Parakan Moentjang
(wilayah di bawah otoritas Pemerintah Hindia Belanda).


Nama Carang Sambong sebagai penanda navigasi sejak pembangunan jalan pos
Daendels 1810, tetap menjadi penting sebagai pos dimana benteng dibangun di
sisi timur sungai (Tjimanoek). Sementara benteng lama tetap eksis di hilir di
Indramajoe. Jalan pos (trans Java) ini antara Bandoeng dan Cheribon. Peta `1817

Wilayah dimana nama tempat Telaga dan Sindang
(Kasih) diidentifikasi dalam peta, merujukan pada dua tempat dimana masing-masing
berada bupati di wilatah (residentie) Cheribon. Pengangkatan dua bupati ini terjadi
pada tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 21-12-1810). Namun dalam
perkembangannya bupati di Sindang Kassi dilikuidasi dan hanya menyisakan satu
bupati dengan nama district (regentschap) Telaga. Seperti kita lihat nanti
bupati di Telaga, relokasi ke Madja dan kemudian direlokasi ke area yang lebih
rendah di (desa) Sindang Kasih. Lalu pada tahun 1840 nama kabupaten (district/regentschap)
diubah menjadi Madja Lengka berdasarkan beslit tanggal 11 Februari 1840 No 2
(lihat Javasche courant, 15-02-1840). Lalu diundangkan/diarsipkan sebagai Stbls
No 7 (lihat Staatsblad van Nederlandsch-Indie voor jaar 1840).


Mengapa nama Madja Lengka yang diberikan? Boleh jadi salah satu kampong
utama di lereng gunu Ciremai adalah Madja. Nama kampong lainnya di wilayah yang
lebih tinggi adalah Telaga. Wilayah atas ini juga disebut dengan nama Lengka.
Dari dua nama lama inilah digabung menjadi nama baru menggantikan nama Madja,
pasca perpindahan ibu kota district (regentschap) dari kampong Madja ke kampong
baro Sindang Kasi(h).

Setelah likuidasi bupati di Sindang Kassi, nama
kabupaten awal kabupaten Madjalengka sendiri dalam hal ini adalah district
Talaga dengan ibu kota, dimana bupati berada di kampong Talaga (lihat Bataviasche
courant, 15-03-1817). Pada tahun 1924 diberitakan seorang pedagang Arab
meninggal di Talaga district Madja (lihat Bataviasche courant, 20-03-1824). Ini
mengindikasikan pada tahun 1824 nama district Talaga menjadi district Madja.


Kampong Talaga diduga adalah kampong utama pertama di wilayah Majalengka
(jauh lebih tua dari kampong Sindang Kassi). Meski pada tahun 1824 nama district
diubah menjadi Madja (tempat bupati yang baru), kampong Telaga tetap menjadi
kampong/kota utama. Besar dugaan Talaga sejak masa lampau sebagai pusat perdagangan
utama. Pejabat Belanda berada di Talaga (lihat Bataviasche courant, 26-10-1825).
Sementara bupati berada di ibukota baru di Madja, bupati Raden Toemenggoeng Dinda
Nagara (lihat Bataviasche courant, 10-01-1827). Peta kecamatan Telaga, kabupaten
Majalengka

Mengapa nama Talaga menjadi begitu penting sejak
awal di wilayah Majalengka yang sekarang? Berdasarkan Peta 1817 kampong Talaga
adalah kampong yang strategis, berada di persimpangan jalan ke timoer ke
kampong Koeningan dan ke selatan ke kampong Pandjaloe serta ke barat (laut) ke
Carang Sambong. Satu keutamaan kampong/kota Talaga adalah terdapat danau
pegunungan yang menjadi asal usul nama kampong Talaga. Nama kampong Koeningan
diduga lebih tua dari kampong Talaga (pada Peta 1724 nama Koeningan sudah
diidentifikasi).


Pada masa ini (kecamatan) Talaga seakan pintu belakang di wilayah
Majalengka. Fakta di masa awal sejarah Majalengka, Telaga adalah pintu depan.
Pembangunan jalan pos trans-Java telah mengubah orientasi pertumbuhan dan
perkembangan wilayah di lereng sebelah barat gunung Ciremai. Perlu ditambahkan
disini setelah adanya jalan pos trans Java melalui (kampong) Carang Sambong,
dibangun benteng baru di dekat Carang Sambong (ke arah hulu sungai). Area
benteng ini kemudian dikenal sebagai (kampong) Tomo. Celakanya, area Tomo
dimana benteng justru tumbuh berkembang lebih pesat dari kampong lama Carang
Sambong. Ibarat Tomo menggantikan popularitas nama Carang Sambong, demikian
yang terjadi dengan Majalengka dengan nama Talaga.

Namun yang tetap menjadi pertanyaan adalah mengapa
Telaga penting di masa lampau. Para sejarawan di Majalengka tampaknya harus
bekerja keras untuk menemukan jawaban. Apakah wilayah Telaga tempo doeloe
berorientasi ke pantai selatan Jawa? Sekali lagi, pembangunan jalan pos trans Java
telah membawa Telaga menuju ke pantai utara di Cheribon.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Antara Tomo-Jatiwangi:
Pos Trans Java di Carang Sambong hingga Djatiwangi Produksi Genteng Terkenal

Talaga adalah nama tempat, sedangkan Lengka adalah
nama wilayah. Sebelum Talaga sebagai kampong utama, besar dugaan nama Lengka
adalah nama kampong awal (yang kemudian menjadi nama wilayah). Lalu bagaimana
dengan nama Maja? Nama tempat Madja tidak pernah dijadikan sebagai nama
wilayah. Sebaliknya yang dijadikan nama wilayah adalah Sindang. Dalam hal ini
besar dugaan nama Sindang lebih awal eksis dari nama Madja.


Secara toponimi, kampong Sindang terbentuk sebagai nama tempat perantara
antara kampong/wilayah Lengka di pegunungan dengan Carang Sambong di daerah
aliran sungai Tjimanoek (yang menjadi lalu lintas perdagangan di zaman kuno di
pantai utara Jawa). Sebagaimana pada artikel sebelumnya, muara sungai Tjimanoek
di masa lampau tidak jauh dari Carang Sambong (sekarang muara sudah berada di
Indramajoe). Sindang adalah perjalanan satu hari dari Carang Sambong ke Sindang
dan dari Sindang ke Lengka/Talaga ditempu dalam satu hari perjalanan.

Nama Sindang dan nama Lengka diduga adalah nama kuno
yang berasal dari Hindoe Boedha. Lalu diantara dua nama tampak kuno ini terbentuk
kampong baru (Talaga dan Madja). Nama kuno lainnya sebagai penanda navigasi di wilayah
Majalengka yang sekarang adalah gunung Ciremai yang pada era Portugis
diidentifikasi sebagai Cheremai (yang diduga terkait dengan nama Cheribon
(bukan seperti masa kini menjadi Tji/Chi). Tentu saja Tjimanoek juga adalah
nama kuno.


Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1838: ‘Di wilayah Cheribon,
disana bernama Carang Sambong, kami berkesempatan melakukan perjalanan menembus
pedalaman dan pegunungan. Dalam perjalanan ini, tempat tinggal pertama kami menginap
adalah di Sindang Kassie, seorang kepala Negerie di distrik yang bernama itu di
regentschap Madja. Bupati mengundang kami ke rumahnya. Selanjutnya kami
berangkat keesokan paginya ke Radja Galoe, kepala negeri di distrik yang
menyandang nama yang sama. Tepat di luar negeri terdapat hutan keramat yang
disebut Kabaijan atau tempat yang diberkati oleh orang Jawa (Soenda?). Memasukinya,
rasa ngeri menyelimuti kami karena kesejukan dan kesuraman yang menyelimuti disini
di bawah pepohonan lebat, dan kami memikirkan hutan keramat pada zaman dahulu
di Eropa. Di lubang kecil di tengah hutan ini terdapat beberapa batu, yang
mungkin pernah menjadi tempat pengorbanan di masa lalu. Banyak monyet tinggal
disini, yang, dengan suara yang akrab, turun dari pepohonan dan berkumpul di
dataran. Kami melanjutkan perjalanan ke Talaga, negerie yang sangat besar, dimana
pusaka distrik diperlihatkan kepada kami; terdiri dari keris, dan perkakas besi
lainnya, yang disimpan dengan sangat hati-hati di sebuah rumah kayu. Tidak ada
yang aneh dengan benda-benda ini, kecuali tanda-tanda kuno; orang Jawa (Soenda),
bagaimanapun, sangat menghargai peninggalan leluhur mereka ini, dan
menceritakan banyak kisah luar biasa tentang mereka’.

Seperti disebut di atas, meski nama wilayah telah
ditetapkan dengan nama (regentschap) Madja Lengka, Talaga tetap mnejadi tempat
utama. Bupati pernah relokasi dari Talaga ke Madja dan kemudian ke Sindang
Sari, tetapi dalam perkembangannya bupati kembali ke Talaga untuk mendampingi/berdekatan
dengan Asisten Residen di Talaga (lihat Java, zijne gedaante, zijn plantentooi
en inwendige bouw, 1853-1854). Penempatan Asisten Residen di Regentschap mulai
tahun 1852 berdasarkan beslid GG tanggal 10 Juni 1852 No 5 (lihat Javasche
courant, 12-06-1852). Asisten Residenya adalah JWF Hardij (lihat Opregte
Haarlemsche Courant, 18-10-1852).


Residentie Cheribon terdiri dari regentschap Cheribon, regentschap Madjalengka,
regentschap Koeningan, regentschap Indramajoe dan regentschap Galoeh. Regentschap
Madjalengka terdiri dari district Madjalengka, Madja, Telaga, Radja Galoeh, Palimanan
dan Kedondong. Regentschap Galoeh terdiri dari district Tjiamis, Pandjaloe,
Kwali dan Rantja. Residen di Cheribon serta Asisten Residen di Indramajoe dan Talaga.
Controleur di Tjiamis dan di Koeningan

Lantas kapan ibu kota regentschap (affeeling) Madjalengkap
relokasi dari Talaga ke tempat lain? Tentu saja yang dimakasud tempat lain itu
di kota Majalengka yang sekarang.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Sejarah Cirebon (34):Ciamis Distrik Semasa di Residentie Tjeribon; Distrik Soekapoera Masuk Residentie Preanger Regentschappen

Suasana di kamp tahanan Siringo-ringo, Labuhanbatu, setelah Jepang kalah perang, 1945 (3)

Iklan

Recommended Stories

Minhajul ‘Arifin (منهاج العارفين)

Tiket Masuk TERBARU & Wahana di Hawai Waterpark Malang

28.06.2019

Resep Cara Membuat Gulai Sapi Empuk Spesial Praktis

03.08.2014

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album II: Pasar dan pedagang

27.12.2020

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?