*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pers dalam blog ini Klik Disini
‘Berdirinya organisasi PWI menjadi awal
perjuangan Indonesia dalam menentang kolonialisme di Indonesia’. Pernyataan ini
tidak tepat. Awal perjuangan (orang) Indonesia dalam menentang kolonialisme di
Indonesia sudah dimulai sejak lama sejak era Pemerintah Hindia Belanda dengan
mengusung nama Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 adalah
puncak perjuangan (bangsa) Indonesia. Berdirinya organisasi PWI bukan awal
perjuangan Indonesia dalam menentang kolonialisme di Indonesia, tetapi lebih
tepat dikatakan sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan kemerdekaan
Indonesia.
Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) organisasi wartawan pertama di Indonesia, berdiri 9
Februari 1946 di Surakarta (tanggal tersebut ditetapkan sejak 1985, sebagai
Hari Pers Nasional). Berdirinya organisasi PWI menjadi awal perjuangan
Indonesia dalam menentang kolonialisme di Indonesia. Sebelum didirikan, panitia
persiapan dibentuk 9-10 Februari 1946 di balai pertemuan Sono Suko, Surakarta,
saat pertemuan antar wartawan Indonesia. Pertemuan tersebut menghasilkan dua
keputusan, diantaranya adalah: Disetujui membentuk organisasi wartawan
Indonesia dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang diketuai oleh
Mr. Sumanang Surjowinoto dengan sekretaris Sudarjo Tjokrosisworo. Disetujui
membentuk sebuah komisi beranggotakan: Sjamsuddin Sutan Makmur (Harian Rakyat
Jakarta), BM Diah (Merdeka, Jakarta). Abdul Rachmat Nasution (kantor berita
Antara, Jakarta). Ronggodanukusumo (Suara Rakyat, Mojokerto). Mohammad Kurdie
(Suara Merdeka, Tasikmalaya). Bambang Suprapto (Penghela Rakyat, Magelang).
Sudjono (Surat Kabar Berjuang, Malang), Suprijo Djojosupadmo (Kedaulatan Rakyat
Yogyakarta). Delapan orang komisi yang telah dibentuk tersebut selanjutnya
dibantu oleh Mr. Sumanang dan Sudarjo Tjokrosisworo, merumuskan hal-ihwal
persuratkabaran nasional waktu itu dan usaha mengkoordinasinya ke dalam satu
barisan pers nasional
(Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah pers Indonesia semasa
perang kemerdekaan? Seperti disebut di atas, pers semasa perang kemerdekaan
Indonesia adalah pers Indonesia yang mengambil bagian dalam usaha
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Apakah dalam hal ini ada pers Indonesia yang
mengambil sikap sebaliknya? Ada, pers Indonesia yang mendukung kerjasama dengan
(kerajaan) Belanda. Pers Indonesia ini terdapat di berbagai tempat seperti di
Djakarta, Medan, Jogjakarta, Soerakarta, Sibolga dan Bukittinggi. Lalu bagaimana
sejarah pers Indonesia semasa perang kemerdekaan? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Pers Indonesia Semasa Perang Kemerdekaan; Jogjakarta,
Soerakarta, Padang Sidempoean, Bukittinggi
Sejak pendudukan Jepang di Indonesia, pers
(berbahasa) Belanda tamat. Tidak ada satu pun yang tersisa dari puluhan yang
ada tersebar di berbagai kota. Per berbahasa Melayu/Indonesia sejak era
Pemerintah Hindia Belanda, segera pula diarahkan pemerintahan militer Jepang.
Satu yang terpenting dari pers Indonesia ini sepenuhnya diberi kebebasan,
kebebasan yang sesuai dengan kepentingan (negara) Jepang sendiri. Namun dalam
perkembangannya, pers Indonesia semakin meredup. Mengapa?
Sejak pendudukan Jepang, sudah lama tidak ada surat kabar dari pers
(berbahasa) Belanda di Indonesia. Tidak hanya itu, akses jurnalis asing, dalam
hal ini jurnalis Eropa/Belanda tidak ada yang memiliki akses ke Indonesia.
Surat kabar Belanda di Eropa, hanya mendasarkan sumber tentang Indonesia dari
mulut ke mulut (melalui pertukaran sura tantara orang-orang Indonesia di
Belanda dan di Indonesia. Pada akhir pendudukan Jepang, menjelang kemerdekaan
Indonesia, mulai muncul surat kabar berbahasa Belanda di Belanda yang mengkhususkan
soal di Indonesia. Kemunculan surat kabar ini boleh jadi karena alasan kerinduan
ke Indonesia. Sebagaimana diketahui di Indonesia selama pendudukan Jepang cukup
banyak orang Eropa/Belanda yang berada di kamp interniran di berbagai kota. Para
mahasiswa Indonesia di Belanda, juga menerbitkan majalah Indonesia di bawah
pengelolaan organisasi mahasiswa Perhimpoenan Indonesia di Belanda.
Dalam situasi dan kondisi pers di Indonesia melesu,
boleh jadi daya beli masuarakat melemah karena situasi ekonomi yang parah, pers
Indonesia di bawah kendali militer Jepang masih tumbuh pesat melalui radio.
Radio-radio dimana para redaktur dan penyiarnya orang Indonesia. Radio menjadi
katup pengaman dari pers Indonesia ketika industry pers cetakan melemah.
Situasi internasional yang terus memburuk, karena Perang Dunia, yang juga
sangat parah di Asia, akhirnya kabar takluknya Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945.
Pada saat pidato penyataan takluk Jepang kepada Sekutu yang dipimpin
Amerika Serikat yang disampaikan oleh Kaisar Hirohito melalui radio dapat dipantau
di Indonesia. Tidak melalui radio penduduk. Sebab jam-jam seputar pidato Kaisar
listrik yang berada di bawah kendali militer dimatikan dalam beberapa jam.
Namun kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Tandjoeng Priok masih dapat
memantai situasi dan kondisi internasional. Kabar yang diperoleh dari
radio-radio kapal tersebut yang kemudian beredar cepat ke darat hingga berbagai
tempat di Djakarta. Para pemuda revolusioner antara lain Adam Malik, Chairoel
Saleh dkk segera mengambil langkah strategis untuk merumuskan tindakan yang
dapat dilakukan segera. Akhirnya para pemuda berhasil meyakinkan para pemimpin
Indonesia sehingga proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pada tanggal 17
Agustus 1945, pukul 10 pagi di Pegangsaan Timur (area pemukiman para republiken
seperti Soekarno, Amir Sjarifoeddin Harahap dan Ali Sastroamidjojo. Radio Djakarta
yang pengamanannya sangat ketat, teks proklmasi untuk disiarkan menemukan jalan
melalui radio Malabar Bandoeng dimana salah satu penyiarnya adalah Sakti
Alamsjah Siregar. Adam Malik meminta Mochtar Lubis membawa sendiri Salinan teks
itu kepada Sakti Alamsjah, yang kemudian disiarkan pada pukul 19 malam yang
dibacakan sendiri Sakti Alamsjah Sieragr. Kabar kemerdekaan Indonesia ini
kemudian dapat ditangkap di radio Jogjakarta dan radio di Australia. Catatan:
Belanda sendiri di Eropa baru bulan Mei 1945 terbebas dari pendudukan Jerman.
Catatan: Pada tanggal 23 Agustus setelah PPKI selesai bersidang untuk
menentukan Presiden dan Wakil, Dasar Negara dan UUD.
Bagaimana dengan pers Indonesia setelah proklamasi
kemerdekaan Indonesia? Yang jelas tidak ada pers Eropa/Belanda di Indonesia.
Pers Jepang juga tidak ada, pers Jepang hanya melalui pers Indonesia, terutama
dalam siaran-siaran radio. Mesin-mesin cetak yang telah lama tidak digunakan
sudah berkarat dan kurang berfungsi lagi. Lagi pula pasokan kertas (koran)
berada di bawah kendali militer Jepang. Yang paling buruk masyarakat tidak
memiliki daya beli yang cukup untuk membeli koran. Semua serba gamang saat kemerdekaan
Indonesia sudah diproklamasikan tanggal 17 Agustue 1945.
Sementara pasukan Sekutu/Inggris terus bernegosiasi dengan pemimpin republic
dan para pemimpin Indonesia terus mengkonsolidasikan dan mengorganisasikan pembentukan
pemerintah pada berbagai level, para revolusioner mulai menemukan jalan untuk
menerbitkan surat kabar. Misi Sekutu/Inggris sendiri untuk memasuki wilayah
daratan Indonesia, terutama unruk pelucutan senjata dan evakuasi militer Jepang
dan pembebasan para interniran Eropa/Belanda. Para pemuda dan lascar-laskar yang
terbentuk mulai coba mendapatkan senjata dari militer Jepang, tetap sulit
dilakukan karena komanda tertinggi militer Jepang di Asia Tenggara meminta para
militernya di berbagai tempat untuk wait en see hingga pasukan Sekutu/Inggris
melucutinya. Akibatnya di sejumlah tempat tertentu terjadi pertengkaran dan
keributan antara para pemuda/lascar dengan militer Jepang dan ada pertempuran
yang tidak terhindarkan. Dalam perkembangannya di belakang Sekutu/Inggris
bergerak maju orang-orang Belanda yang tergabung dalam NICA. Mereka ini
menempati area yang sudah dibebaskan dan disteril pasukan Sekutu/Inggris.
Jurnalis asing juga mulai mengalir terutama ke Batavia seperti dari UP dan ANP
di Amerika Serikatc dan Aneta di Belanda/Australia.
Akhirnya surat kabar Indonesia mulai terdeteksi.
Keberadaan surat kabar Merdeka di Djakarta paling tidak sudah diberitakan pada awal
Oktober 1945 (lihat Amsterdamsch dagblad, 04-10-1945). Disebutkan menurut kantor
berita UP, surat kabar Indonesia “Merdeka”, dengan kewaspadaan
pasukan Inggris dan barisan pengawal/polisi Indonesia yang setia kepada
“republik” baru, telah menangkap seorang pemuda Belanda di Batavia.
Pada tanggal 15 Oktober koresponden ANP Robert Kiek melaporkan kejadian di
Depok yang mengikuti satu detasemen Inggris dari Batavia ke Buitenzorg via
Depok (lihat Telex, 16-10-1945). Beberapa hari sebelumnya terjadi tragedi berdarah
di Depok.
Tidak diketahui secara pasti kapan surat kabar Merdeka edisi pertama
terbit. Namun yang jelas para jurnalis asing sudah berdatangan di Batavia,
tetapi masih terbatas di area dimana pasukan Sekutu/Inggrsi dapat mengontrolnya.
Ada juga jurnalis yang berada diantara pasukan mengikuti pergerakan pasukan.
Satu-satunya radio yang aktif menyiarkan berita-berita adalah radio Bandoeng,
suatu radio yang kini sepenuhnya dikendalikan orang Indonesia dari para pendukung
Soekarno. Radio Bandoeng ini juga menjadi sumber sekunder nbagi jurnalis asing
yang berada di Batavia.
Surat kabar Indonesia “Merdeka” seperti
kita lihat nanti didirikan oleh BM Diah. Surat kabar Merdeka dapat dikatakan
surat kabar yang muncul pertama. Namanya Merdeka sesuai dengan situasi dan
kondisi yang dihadapi bangsa Indonesia (Indonesia telah merdeka sejak 17
Agustus 1945). Radio Bandoeng dan surat kabar Merdeka di Djakarta menjadi
penting bagi jurnalis asing, meski bersifat sekunder, tetapi sangat penting
mendapatkan berita dari sisi Republik (cover both side).
Sementara surat kabar Merdeka menjadi salah satu sumber rujukan jurnalis
asing (khususnya para reporter kantor berita), seiring dengan semakin menguatnya
Belanda/NICA di Batavia/Djakarta, dan semakin banyak para interniran yang terbebaskan
plus orang-orang Belanda yang berdatangan dari Australia, dalam perkembangannya
kemudian muncul surat kabar berbahasa Belanda, Het Daghblad yang diterbitkan di
Batavia. Surat kabar berbahasa Belanda, ini terbit di Batavia sejak tanggal
23-10-1945. Seperti halnya surat kabar Merdeka, surat kabar Het Daghblad ini juga
sangat intens memberitakan berbagai kejadian. Surat kabar Het Daghblad ini
kantor aministrasi di Jalan Koningsplein West 9 (kini area RRI) dan kantor
redaksi di jalan Patjenongan 72.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Jogjakarta, Soerakarta, Padang Sidempoean, Bukittinggi:
Pers yang Benar-Benar Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







