*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini
Wilayah hulu dan wilayah hilir, ibarat garis
yang satu berada di ujung satu dan yang lain di ujung yang lain. Antara dua
wilayah terjauh itu di dalam satu garis dapat dihubungkan oleh berbagai moda:
jalan darat, pelayaran sungai maupun laut. Namun ada juga harus dihubungkan
dengan moda transportasi udara. Dalam hal ini Muara Sabak berada di hilir
sungai Batanghari di provinsi Jambi. Satu yang penting pada masa ini, Muara
Sabak adalah pelabuhan utama di provinsi Jambi.

Muara
Sabak adalah ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Timur, provinsi Jambi,
Indonesia. Awalnya Muara Sabak adalah sebuah kecamatan, sekarang Muara Sabak
terbagi dalam dua kecamatan, yakni: Muara Sabak Barat, dan Muara Sabak Timur. Kabupaten
Tanjung Jabung Timur adalah salah satu kabupaten yang berada dibagian paling
timur provinsi Jambi, Indonesia. Kabupaten ini hasil dari pemekaran Kabupaten
Tanjung Jabung. Kabupaten Tanjung Jabung Timur berada di tepi pantai, dan
berbatasan dengan provinsi Kepulauan Riau, tepatnya di kabupaten Lingga, dan
juga provinsi Sumatra Selatan, tepatnya di kabupaten Banyuasin. Kabupaten ini
terbagi menjadi 11 kecamatan yang terbagi lagi menjadi 73 desa, dan 20
kelurahan. Kabupaten Tanjung Jabung Timur terbentuk berdasarkan undang-undang
No. 54 Tahun 1999 dan undang-undang No. 14 Tahun 2000. Sejalan dengan
berlakunya undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil, luas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur termasuk
perairan dan 29 pulau kecil (11 di antaranya belum bernama). Disamping itu
memiliki panjang pantai sekitar 191 km atau 90,5 % dari panjang pantai provinsi
Jambi. Wilayah perairan laut kabupaten ini merupakan bagian dari alur pelayaran
kapal nasional dan internasional (ALKI I) dari utara keselatan atau sebaliknya,
sehingga dari sisi geografis daerah ini sangat potensial untuk berkembang. Batas
wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah sebagai berikut: di Utara Selat Berhala; di Timur Laut Cina Selatan; di Selatan Kabupaten
Muaro Jambi dan Kabupaten Banyuasin; di Barat Kabupaten
Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Muaro Jambi. (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah nama Sabak di hilir
Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti yang disebut di atas, Muara Sabak kini menjadi pelabuhan utama di
Jambi. Lalu sejarah
nama Sabak di Hilir Daerah Aliran Sungai Batanghari? Seperti disebut di atas, dari sejarah candi inilah sejarah Jambi mulai
dinarasikan. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Nama Sabak di Hilir Daerah Aliran Sungai Batanghari;
Kini Muara Sabak Menjadi Pelabuhan Jambi
Nama yang mirip nama Sabak da beberapa seperti sabak
(wadah menulis), saba nama ayat dalam kitab suci Al’Quran dan nama zaba serta
mitos Ratu Saba (Ratu Balqis di negeri Saba era Nabi Sulaiman). Tentu saja nama
Sabah, negeri di pantai utara Borneo. Di Tanah Batak di wilayah Tapanuli
Selatan saba diartikan sebagai sawah. Lantas bagaimana dengan nama Sabak di
daerah aliran sungai Batanghari di hilir kota Jambi yang sekarang.
Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi dan segala puji di akhirat bagi Allah. Dan Dialah Yang
Mahabijaksana, Mahateliti (QS Saba 34). Pada era Hindia Belanda nama Sabak
lebih umum dikenal nama yang dihubungkan nama-nama orang Arab sebaga bin Sabak
(lihat misalnya Javasche courant, 06-08-1845).
Pada era Hindia Belanda, nama Sabak sebagai Moeara
Sabak muncul kali pertama pada tahun 1908 dalam hubungannnya tempat petugas distribusio
opium di Jambi dan di Moara Sabak (lihat (Sumatra-bode, 30-11-1908). Nama Moara
Sabak menjadi penting karena di daerah aliran sungai Batanghari, menurut sutvei
dinas pertanian sangat sesuai untuk perkebunan karet dari Moera Sabak hingga ke
Koeboe Kandang (lihatDe Preanger-bode, 27-12-1910). Ini mengindikasikan bahwa
wilayah Moeara Sabak tidak hanya memiliki pelabuhan juga wilayahnya mulai
diarahkan pada perkebunan karet.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Muara Sabak Menjadi Pelabuhan Jambi: Dari Jambi ke
Muara Sabak
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






