*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Sejarah Pahang dan Kelantan hingga kini masih kerap menjadi perdebatan.
Orang Malaysia masa kini menganggap peradaban awal di Kelantan, Trengganu (dan
Pahang) juga penting (selain Malaka, Kedah dan Johor di pantai barat). Namun
nama Pahang sendiri pada era Hindia Belanda para peneliti berbeda pendapat. Ada
yang menyebut Pahang adalah Pekan. Namun kerajaan tua di Kawasan timur adalah
Trengganu dan Kelantan. Prasasti di Trengganu mengindikasikan peradaban Islam yang
terbilang tua di pantai timur Semenanjung Malaya.
Wilayah pantai timur Semenanjung Malaya memiliki sejarah
yang panjang. Pada era Hindia Belanda terjadi pemberontakan di Pahang yang
dilancarkan oleh Mat Kilau dkk. Pada masa lampau sebelum Pahang dikenal sudah
dikenal wilayah Trengganu dimana ditemukan prasasti yang berasal dari 1326 M.
Prasasti itu berbahasa Melayu dengan aksara Jawi (Arab gundul). Namun sebelum
dikenal wilayah pantai timur Semenanjung Malaya sudah dikenal wilayah di bagian
utara sebagaimana ditemukan prasasti Ligor (sekarang Nakhon Si Thammarat,
selatan Thailand), prasasti berupa pahatan yang ditulis pada dua sisi batu
prasasti, di mana bagian pertama (sisi depan) disebut prasasti Ligor A atau
dikenal juga dengan nama manuskrip Viang Sa; sedangkan bagian lainnya (sisi
belakang) disebut prasasti Ligor B, yang beraksara Kawi dan berangka tahun 775
M.
.Lantas bagaimana sejarah geomorfologi pantai timur Semenanjung Malaya? Seperti
disebut di atas kerajaan tua di pantai timur Semenanjung adalah Trengganu dan
Kelantan sedangkan Pahang adalah kerajaan baru. Nama Pahang diduga awalnya
adalah Pekan. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi
pantai timur Semenanjung Malaya? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. Peta 1707
Geomorfologi Pantai
Timur Semenanjung Malaya; Kerajaan Tua Trengganu dan Kerajaan Kelantan
Sejarah zaman kuno pantai timur Semenanjung Malaya
tidak sepenting pantai barat. Sejarah
zaman kuno yang penting justru berada di sebelah utara di teluk Siam dan di
semenanjung Kamboja. Satu yang terpenting sejarah zaman kuno di pantai timur
Semenanjung Malaya berada di wilayah Trengganu. Seperti kita lihat nanti, kota/kampong
Pahang berada di arah tenggara Trengganu.

Batu Prasasti Terengganu adalah sebuah prasasti granit yang memuat
prasasti Melayu Klasik dalam aksara Jawi yang ditemukan di Terengganu, Malaysia.
Prasasti, bertarih 1386 merupakan bukti awal dari Jawi menulis di dunia Melayu
dari Asia Tenggara. Ini berisi proklamasi yang dikeluarkan oleh penguasa
Terengganu yang dikenal sebagai Seri Paduka Tuan, yang mendesak rakyatnya untuk
memperluas dan menegakkan Islam dan memberikan 10 hukum Syariah dasar sebagai
pedoman mereka. Batu itu ditemukan setengah tenggelam di tepi sungai Tersat di
Kuala Berang, Hulu Terengganu, pada tahun 1887 M setelah banjir surut. Dapat ditambahkan
Prasasti Ligor merupakan prasasti yang terdapat di Ligor (sekarang Nakhon Si
Thammarat, selatan Thailand, Semenanjung Malaya), tersimpan di Kuil Wat Sema
Mueang. Prasasti ini berupa pahatan yang ditulis pada dua sisi batu prasasti,
di mana bagian pertama (sisi depan) disebut prasasti Ligor A atau dikenal juga
dengan nama manuskrip Viang Sa; sedangkan bagian lainnya (sisi belakang)
disebut prasasti Ligor B, yang beraksara Kawi dan berangka tahun 775 M (Wikipedia). Ada perbedaan waktu
yang lama antara dua prasasti ini (600
tahun).
Secara geomorfologis, tempat ditemukan prasasti
Trengganu kini seakan jauh di pedalaman. Namun tentu saja berbeda pada zaman
dulu pada abad ke-14 (sekitar 600 tahun lalu). Besar kemungkinan pada waktu itu
nama Pahang belum ada. Dengan kata lain peradaban awal di pantai timur
Semenanjung Malaya berada di daerah aliran sungai Tersat.
Pada era dimana ditemukan prasasti Trengganu (1386), secara geomorfologis
posisi geografis berada di muara sungai Tersat (di tepi pantai). Sungai Tersat
ini sungai yang pendek karena pegunungan tidak terlalu jauh di pedalaman. Hulu
sungai ini disebut sungai Kenyir (pada masa kini telah dibendung dengan
membangun bendungan besar). Kea rah hilir sungai pada masa ini disebut sungai Tersat
yang bermuara di kota Trengganu yang sekarang.
.Nama Trengganu belum lama diketahui. Pada Peta 1707 masih berupa nama
kampong. Dalam peta ini yang diidentifikasi sebagai kerajaan adalah Pahang.
Meski demikian, nama Trengganu adalah nama kuno. Dalam teks Negarakertagama
1365 nama Trengganu sudah disebut. Nama lain yang disebut dalam teks itu antara
lain Tumasik. Ujung Medini di ujung selatan Semenanjung, Pekan Muar di pantai
barat dan Kelantan di pantai timur. Dalam hal ini dapat dikatakan Trengganu di
masa lampau adalah kerajaan yang penting, namun kemudian meredup, lalu muncul
ke permukaan kerajaan Pahang.

Peta 1598 belum diidentifikasi nama Trengganu maupun Pahang. Selain nama
Malaka, juga sudah diidentifikasi nama Singhapoera (belum terbentuk Djohor). Posisi
dimana nama Singhapura tepat berada dimana kemudian terbentuk kerajaan Djohor.
Pada Peta 1619 nama Pahang sudah diidentifikasi
yang ditulis Pam. Dalam peta aini di sebelah utara diidentifikasi nama Kelantan
(Calantan).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kerajaan Baru Pahang=Pekan: Analisis
Geomorfologis Pantai Timut Semenanjung Malaya dan Pantai Timur Indochina
Ada dua sungai utama di wilayah Pahang, yakni sungai
Pahang dan sungai Kuantan. Dua sungai ini secara geomorfologis tidak sepanjang
yang sekarang pada masa lampau. Besar dugaan dua sungai ini bermuara pada suatu
teluk kuno. Oleh karena terjadi proses sedimentasi jangka Panjang maka teluk
itu menjadi daratan, sementara dua sungai sama-sama mencari jalannya menuju
laut. Di dua muara sungai inilah kini terletak kota Pahang Tua dan kota
Kuantan.

Kerajaan Pahang awalnya beribukota di Pekan (muara sungai Pahang). Nama
Pahang diduga merujuk pada nama Pekan (dalam dialek bahasa Siam). Pada era
Inggris dipindahkan ke tempat lain di pedalaman (Kuala Lipis). Menjelang
kemerdekaaan Federasi Malaya, pada tahun 1955 ibu kota dipindahkan ke Kuantan
(di muara sungai Kuantan). Ibu kota Pahang, dari pantai ke pantai (memang kerajaan
Pahang bermula di pantai). Lantas mengapa dipindahkan dari Pahang ke Lipis?
Besar dugaan karena pemberontakan terhadap Inggris/kesultanan (Mat Kilau?).
Kampong Pahang yang menjadi cikal bakal
(kerajaan/kesultanan Pahang) adalah kampong baru. Seperti disebut di atas,
kampong tua yang menjadi kerajaan adalah Trengganu dan Kelantan. Posisi
geografis kota Pahang Tua pada masa ini dengan
awal terbentuknya kampong Pahang relative tidak berubah (tetap berada dekat
dengan pantai di muara sungai Pahang). Dalam hal ini yang menjadi pertanyaan
adalah mana yang lebih tua Pahang Tua atau Kuantan? Ketinggian kota Pahan Tua
adalah 10 m dpl dan Kuantan 7 m dpl.

Secara geomorfologis, ke dalam teluk kuno bermuara sungai besar sungai Pahang,
sungai yang lebih kecil yakni sungai Kuantan dan sungai Belat. Di sebelah utara
teluk terdapat pegunungan dan juga di sebelah selatan teluk. Kampong Kuantan
kuno berada di sisi utara muara sungai Kuantan dan kampong Pekan (Pahang) berada
di sisi selatan muara sungai Pahang. Proses sedimentasi jangka Panjang akibat
pengaruh besar sungai Pahang (plus dua sungai lainnya), area tangkapan air berada di sebelah utara teluk. Proses sedimentasi
yang pertama terjadi di muara sungai Belat. Oleh karena itu sungai Belat
menemukan jalan menuju sungai Kuantan di utara dan sungai Pahang di selatan.
Daratan yang terbentuk terus meluas kea rah pantai sehingga membentuk garis
pantai yang sekarang. Peta 1898
Sungai Pahang di muara terjadi proses sedimentasi
lanjutan yang menyebabkan terbentuk sisa teluk (teluk kecil). Di teluk kecil
inilah terbentuk dua kampong yakni kampong Pahang di sebelah utara dan kampong
Pekan di sebelah selatan. Lalu dalam perkembangannya di dalam teluk kecil
terjadi proses sedimentasi jangka Panjang lanjutan yang membentuk pulau yang
memisahkan antara kampong Pahang dan kampong Pekan. Lambat laut terbentuk dua cabang
sungai di muara. Sungai yang pertama melalui kampong Pahang dan sungai yang kedua
melalui kampong Pekan. Kampong Pekan inilah yang kemudian menjadi ibu kota baru
kerajaan, sedangkan ibu kota lama menjadi kampong Pahang Lama.

Pada saat Pekan sebagai kota yang menjadi ibu kota kerajaan Pahang,
kampong Kuantan di muara sungai Kuantan adalah kampong kecil. Seperti disebut
di atas, Pada Peta 1598 sudah diidentifikasi nama kampong Pahang. Pada peta-peta
selanjutnya adakalanya diidentifikasi dengan nama Pam. Besar dugaan Pam adalah
pelafalan orang Siam terhadap nama Pahang. Pekan dalam hal ini adalah kampong
awal yang menjadi pos perdagangan awal yang merupakan penyebutan orang Melayu.
Namun yang pasti bahwa dua kampong awal ini Pahang dan Pekan adalah kampong
yang terbentuk baru, tidak setua kampong Trengganu dan kampong Kelantan.
Orang Eropa pertama yang mengunjungi wilayah Pahang adalah
seorang Portugis Mendes Pinto. Dalam laporan Mendes Pinto 1537 Pahang yang
dicatatnya sebagai Phan adalah sebuah kampong (pasar) yang ramai milik kerajaan
Pahang. Mendes Pinto mengunjungi Pahang dari Malaka dalam navigasi pelayaran ke
pantai timur Tiongkok di Makao (muara sungai Kanton).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






