Seperti pada artikel sebelumnya, ada
satu bagian sejarah Pakualaman di wilayah Jogjakarta, yakni ketika putra-putra
dari kerajaan tersebut berada di Belanda dalam rangka studi. Mungkin hal itu
tidak dianggap penting-penting amat, tetapi yang menarik adalah mengapa mereka
melanjutkan studi ke Belanda. Di satu sisi bukankah mereka sudah berkecukupan?
Dan di sisi lain lantas apa yang dicari? Putra-putra dari Pakualaman antara
lain adalah adalah Notokoesworo, Gondowinoto dan Notodiningrat.
pertama kali disandang Pangeran Harya Natakusuma, adik tiri Hamengkubuwana II,
ketika dinobatkan sebagai penguasa Pakualaman dengan gelar Paku Alam I oleh
Pemerintah Hindia Inggris pada 29 Juni 1813. Sebelumnya, yaitu pada 17 Maret
1813, kedua pihak sepakat untuk mendirikan suatu pemerintahan baru di
Yogyakarta yang bernama Kadipaten Pakualaman. Pemerintahan ini menduduki
sebagian wilayah Yogyakarta yang diserahkan Hamengkubuwana II kepada
Natakusuma. Hamengkubuwana II sendiri digulingkan oleh Thomas Stamford Raffles
(Gubernur Jenderal Hindia Inggris waktu itu) dalam Geger Sepehi. (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah putra-putra Pakualaman Notokoesworo, Gondowinoto dan Notodiningrat melanjutkan
studi ke Belanda? Seperti disebut di atas, putra-putra Pakulaman adalah
putra-putra di dalam lingkaran dalam
kerajaan Pakualaman. Lalu bagaimana sejarah putra-putra Pakualaman melanjutkan
studi ke Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Putra-Putra Pakualaman: Studi ke Belanda
Dari
waktu ke waktu jumlah siswa pribumi yang diterima di sekolah menengah (HBS) semakin
banyak, apakah di Bataavia, Soerabaja atau di Semarang. Pada tahun 1901 di HBS
Semarang yang mendaftar 1907 lulusan ELS. Dari 103 kandidat yang mengikuti
ujian masuk lulus sebanyak 86 orang lulus dimana 28 orang perempuan, empat
pribumi dan dua Cina (lihat De
locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 27-04-1901).
Belanda. Lulusan ELS ada yang ikut ijian PNS (Ambtenaar) dan bagi pribumi ada
yang masuk sekolah kedokteran di Batavaia Docter Djawa School/STOVIA dan ada
juga yang melanjutkan studi di HBS. Lama studi di HBS selama lima tahun.
Lulusan HBS dapat melanjutkan studi ke fakultas/universitas (di Belanda).
Lulusan HBS Semarang yang telah berangkat studi ke Belanda adalah Raden Kartono
(abang dari RA Kartini). Lima pribumi antara laian nama-nama siswa yang
diterima di HBS Semarang pada tahun 1901 ini adalah Raden Soedjono, Raden Mas
Aboeseno, Raden Mas Noto Soeroto dan Raden Bagoes Achmat. Yang golongan Cina
adalah Jap Soei Tjiang dan Jap Soei Tjong. Siswa-siswa lulusan ELS yang studi
di Docter Djawa School tahun 1902 yang
lulus ujian transisi naik dari kelas tiga ke kelas empat antara lain RM
Notosoerasmo dari Djogja, Tjipto Mangoenkoesoemo dari Poerwodadi serta Abdoel
Karim dan Abdoel Hakim daru Padang Sidempoean (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 27-11-1902).
Pada
tahun 1903 lulus ujian transisi di HBS Semarang naik ke kelas tiga (De
locomotief, 04-05-190). Yang termasuk lulus adalah RM Noto Soeroto, Raden
Soedjono, Raden Aboeseno, dan Raden Achmat. Yang lulus ujian naik ke kelas
empat antara lain Raden Noer Singgih dan Raden Mas Moeliono. Tidak ada nama
pribumi dan Cina yang naik ke kelas lima. Pada kelas yang lebih rendah yang
naik ke kelas dua antara lain Raden Mas Gondowinoto, Raden Slamet dan Raden Mas
Moenarijo. Dari semua kelas hanya ada nama Jap Sioe Tjong (yang naik kelas
tiga). Pada tahun 1905 yang lulus ujian transisi ke kelas lima antara lain RM
Notosoeroto, Jap Soei Tjong dan Mas Soedjono.
Tidak ada nama Raden Achmar, Raden Aboeseno. Raden Achmat tercatat naik
ke kelas empat. Nama yang tercatat naik ke kelas empat adalah RM Gondowinoto
dan RM Moenarijo. Yang lulus naik kelas tiga antara lain Be Tiat Tjong, Raden
Soemitro, RM Notodiningrat, TM Soegijarto, RM Soerjopoetro, Raden Soebijakto
dan Jap Hong Tjoen (lihat Het nieuws van
den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-04-1905).
Pada bulan Juli 1905 Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajangan dari Batavia dengan kapal Pr Juliana dengan tujuan akhir
Nederland. Soetan Casajangan sendiri sudah di Belanda pada sejak 1903 yang
menjadi salah satu editor majalah dwi mingguan Bintang Hindia (pimpinan Dr AA
Fokker dan Clockener Brousson). Pada awal tahun 1905 Soetan Casajangan kembali
ke tanah air untuk mengurus persiapan studinya di Belanda dan kembali ke
Belanda pada bulan Juli. Soetan Casajangan sendiri adalah seorang guru lulusan
sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean. Soetan Casajangan melanjutkan studi
di Belanda untuk mendapatkan akta guru LO dan akta guru MO (sarjana
pendidikan). Saat Soetan Casajangan memulai studi di Belanda, pribumi yang
tengah melakukan studi baru satu orang yakni Raden Kartono (lulusan HBS
Semarang). Pada akhir tahun 1905 Soetan Casajangan menulis artikel di Bintang
Hindia yang berisi tip studi di Belanda termasuk tip persiapan di tanah air,
selama pelayaran dan selama studi serta informasi perguruan tinggi yang dapat
dipilih di Belanda.
Pada
tahun 1906 RM Notosoeroto, Jap Soei Tjong dan Mas Soedjono lulus ujian akhir di
HBS Semarang. RM Noto Soeroto langsung berangkat ke Belanda (lihat De
locomotief, 20-07-1906). Disebutkan kapal ss Ophir berangkat dengan tujuan
akhir Nederland dimana diantara penumpang antara lain RM Noto Soeroto. Diantara
penumpang hanya Noto Soeroto dengan nama non Eropa/Belanda. Kapal Ophir dari
Batavia singgah di Marseille tanggal 18 Agustus (lihat Algemeen Handelsblad, 20-08-1906).
Sudah barang tentu Soetan Casajangan dkk akan menyambut di pelabuhan
siswa-siswa pribumi yang datang dari Hindia. Dimana RM Noto Soeroto studi belum
diketahui. Dalam perkembangannya dari tahun ke tahun jumlah mahasiswa pribumi
semakin bertambah banyak di Belanda.
Pada tahun 1908 mahasiswa senior di Belanda
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan menginisiasi mendirikan sebuah
organisasi mahasiswa. Gagasan pendidirian organisasi mahasiswa ini dapat
diwujudkan dengan berdirinya Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) yang
disahkan pada tanggal 25 Oktober 1908 di Leiden. Soetan Casajangan menjadi
presiden pertama dan Raden Soemitro sebagai sekretaris. Raden Soemitro lulus
ujian masuk di sekolah HBS di KW III School Batavia tahun 1901 (lihat De
Preanger-bode, 02-05-1901). Pada tahun 1903 Raden Soemitro lulus ujian naik ke
kelas tiga (lihat Bataviaasch nieuwsblad. 09-05-1903). Pada tahun 1904 Raden
Soemitro lulus ujian naik ke kelas empat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-05-1904).
Lalu kemudian Raden Soemitro melanjutkan studi ke Belanda. Pada tahun 1907
Raden Soemitro lulus HBS di Belanda. (lihat Het vaderland, 17-07-1907). Lalu
kemudian diberitakan Raden Soemitro lulus ujian masuk Indisch Ambtenaar di
Belanda (lihat De courant, 07-09-1907), Raden Soemitro dibertitakan surat kabar
De nieuwe courant, 11-10-1908 di Universiteitv te Leiden lulus ujian masuk
Nederlandsc Indie Administrative Dienst. Dalam hal ini Soetan Casajangan
meminta bantuan Raden Soemitro untuk mengirimkan undangan ke seluruh mahasiswa
pribumi di Belanda untuk berkumpul di kediamannya di Leiden. Pada pertemuan
yang dihadiri 15 mahasiswa sepakat dibentuk organisasi mahasiswa dan secara aklamasi
mengangkar Soetan Casajangan sebagai ketua dan Raden Soemitro sebagai sekretaris.
Pada
tahun 1909 Soetan Casajangan dan RM Noto Soeroto menjadi anggota tim dari
majalah yang didirikan oleh Clockener Brousson (lihat De Maasbode, 01-04-1909).
Disebutkan bahwa dewan redaksi Organ Politik Melayu-Belanda untuk Pemuda Hindia
dan Cina Muda yang muncul disini di Belanda, sekarang lengkap dan terdiri
sebagai berikut: Pemimpin redaksi adalah Clockener Brousson, pensiunan Letnan Infanterie,
sedangkan R Soetan Casajangan Soripada, guru Batak ternama, RM Noto Soeroto,
jur. stud., putra Pangeran Noto di Redjo dari keluarga Pakoe Alam, dan
Amaroellah Soetan Mangkoeto, seorang Melayu dari Pantai Barat Sumatera, mantan
asisten guru di Idi, Atjeh. Dalam hal ini RM Noto Soeroto diketahui studi di
fakultas hukum. Pada bulan September 1909 Soetan Casajangan lulus akta guru LO.
Soetan Casajangan meneruskan studi untuk mendapat akta guru MO.
Indische Vereeniging. Pengurus baru kemudian dipimpin oleh Husein
Djajadiningrat (lulusan HBS Batavia tahun 1906, saudara dari bupati Banten).
Seperti halnya Soetan Casajangan dan Husein Djajadinigra, Raden Mas Noto
Soeroto juga banyak menulis. Soetan Casajangan kembali fokus studi, dan pada
tahun 1911 Soetan Casajangan lulus ujian dan mendapat akta guru MO (sarjana
pendidikan, setara lulusan IKIP sekarang). Bagaimana progran pendidikan RM Noto
Soeroto di fakultas hukum di Leiden tidak terinformasikan.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Noto Koesworo, Gondowinoto dan
Notodiningrat: Nama Noto Soeroto di Belanda
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



