*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Sejarah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda
kembali terevaluasi. Belanda kembali, melalui Perdana Menteri Belanda Mark Rutte
menyampaikan permintaan maaf penuh kepada Indonesia, setelah tinjauan sejarah
menemukan bahwa Belanda menggunakan “kekerasan berlebihan” dalam
upaya sia-sia untuk mendapatkan kembali kendali atas bekas wilayah penjajahan
mereka setelah Perang Dunia II. Pada Maret 2020, saat berkunjung ke Indonesia,
Raja Willem-Alexander membuat permintaan maaf atas kekerasan yang dilakukan
Belanda. Pada tahun 1969 pemerintah Belanda menyimpulkan bahwa pasukannya
secara keseluruhan telah berperilaku benar selama konflik, tetapi mengakui pada
tahun 2005 bahwa mereka “berada di sisi sejarah yang salah”. Apakah
permintaan maaf PM Rutte ini menjadi final dari evaluasi sejarah
Indonesia-Belanda?
PM Mark Rutte menanggapi temuan studi tersebut, yang
mengatakan militer Belanda telah terlibat dalam kekerasan sistematis,
berlebihan dan tidak etis selama perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun
1945-1949. Kajian tersebut juga menemukan bahwa kekerasan tersebut dimaafkan
oleh pemerintah dan masyarakat Belanda pada saat itu. “Kami harus menerima
fakta yang memalukan,” kata Rutte pada konferensi pers setelah temuan itu
dipublikasikan pada hari Kamis. “Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya
kepada rakyat Indonesia hari ini atas nama pemerintah Belanda.” Temuan
tinjauan, yang didanai oleh pemerintah Belanda pada tahun 2017 dan dilakukan
oleh akademisi dan pakar dari kedua negara, dipresentasikan pada hari Kamis 17
Februari di Amsterdam. Kekerasan oleh militer Belanda, termasuk tindakan
seperti penyiksaan yang sekarang akan dianggap sebagai kejahatan perang,
“sering dan meluas”, kata sejarawan dan peserta studi Ben Schoenmaker
dari Institut Sejarah Militer Belanda. “Politikus yang bertanggung jawab
menutup mata terhadap kekerasan ini, seperti halnya otoritas militer, sipil dan
hukum: mereka membantunya, mereka menyembunyikannya, dan mereka menghukumnya
hampir atau tidak sama sekali,” katanya. Sekitar 100.000 orang Indonesia
tewas sebagai akibat langsung dari perang, dan meskipun persepsi konflik telah
berubah di Belanda, pemerintah Belanda tidak pernah sepenuhnya memeriksa atau
mengakui ruang lingkup tanggung jawabnya [Yahoo.com-Liputan6.com. Jumat, 18 Februari 2022].ADVERTISEMENT
Lantas
bagaimana sejarah hubungan antara Indonesia dan Belanda? Ini sehubungan dengan
PM Belanda Mark Rutte harus kembali meminta maaf setelah sebelumnya Raja Willem-Alexander menyatakan permintaan
maaf? Lalu
bagaimana sejarah hubungan antara Indonesia dan Belanda? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Pahlawan
Belanda: Apakah Belanda Perlu Minta Maaf?
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Habungan Indonesia-Belanda
Masa Kini: Apakah Indonesia Harus Memaafkan?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





