*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini
Tiba-tiba
Baha’i menjadi heboh. Ini sehubungan dengan sikap Menteri Agama yang memberi
ucapan selamat hari raya (agama) Baha’i. Lalu apa dan mengapa agama Baha’i?
Banyak orrang mulai mencari di internet. Memang ada dan sudah sejak lama ada
tulisan-tulisan tentang Baha’i.
Sebagaimana diketahui bahwa agama yang diakui di Indonesia adalah Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Agana ini pernah dilarang pada era
Presiden Soekarno, tetapi larangan itu dicabut pada era Presiden Gusdur.

menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama Bahá’í
lahir di Persia (sekarang Iran) pada tahun 1863. Pendirinya bernama Mírzá
Ḥusayn-`Alí Núrí yang bergelar Bahá’u’lláh (kemuliaan Tuhan, kemuliaan Alláh).
Bahá’í awalnya berkembang secara terbatas di Persia dan beberapa daerah lain di
Timur Tengah yang pada saat itu merupakan wilayah kekuasaan Turki Usmani. Sejak
awal kemunculannya, komunitas Bahá’í Timur Tengah khususnya di Persia
menghadapi persekusi dan diskriminasi yang berkelanjutan. Pada awal abad kedua
puluh satu, penganutnya mencapai lima hingga delapan juta jiwa yang berdiam di
lebih dari dua ratus negara dan teritori di seluruh dunia (Wikipedia). Dari
sumber lain diketahui bahwa agama itu masuk ke Indonesia pada 1878. Kemenag
menyebut penganut Baha’i di Indonesia mencapai sekitar 5.000 orang.
Lantas
bagaimana sejarah (agama) Baha’i? Yang jelas pada dasarnya sudah diketahui
sejak lama namun kurang terinformasikan. Seperti disebut diatas gara-gara
ucapan Menteri Agama itu banyak orang yang ingin tahu apa dan mengapa. Dalam
hubungan itu, kita juga ingin mengetahui. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Baha’i Sejak Era Hindia Belanda?
Baha’i
masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878 dan juga ada yang menyebutnya sekitar
1884-1885, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal
Effendi dan Mustafa Rumi. Majalah yang diterbitkan di Semarang, Indisch maçonniek
tijdschrift, jrg 37, 1931-1932 menurunkan tulisan tentang Baha’i. Dalam tulisan
ini tidak ada indikasi bahwa Baha’i sudah ada di Hindia Belanda. Boleh jadi
Baha’i belum dikenal luas. Pemberitaan Baha’i sendiri di Eropa baru muncul
tahun 1927. Bahwa sudah ada indikasi Baha’i di Indonesia diketahui tahun 1951
(lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 24-07-1951).
Ini bermula ketika wartawan Algemeen Indisch
dagblad yang terbit di Bandoeng ingin mewawancara para delegasi yang berwisata
di Bandoeng dalam rangka akan menhadiri konferensi internasional di Bali. Para
delegasi yang menginap di Hotel Homann menemukan dalam daftar tamu seorang dari
Persia hanya semata-mata ingin mendapat informasi tentang situasi dan kondisi
terkini di Persia. Ny. Shirin Fozdar yang diwawancara menyatakan dirinya tidak
banyak tahun di Persia karena ssudah lama meninggalkannya, Ia hanya menyebut
dirinya du India sebagai Presidente Religious and Moral Education and Internationalism
and Peace Section of. the All India Ecucationa1 Conference. Sang wartawan
mendapat keterangan bahwa Shirin Fozdar sebagai penyebar agama Baha’i dan
tinggal di India. Shirin Fozdar kemudian membawa sang wartawan ke sebuah
ruangan dimana dia memperkenalkan teman-teman satu delegasinya yang lain dari
gerakan agama ini: Tuan Borzoo Sohaili, juga seorang Persia dan tinggal di
Pakistan dan Mr. Stanley Bolton Jr., perwakilan gerakan Baha’i dari Tasmania. Shirin
Fozdar juga memperkenalkan H. Buys, seorang Belanda, ketua gerakan Baha’i di
Bandoeng. Sang wartawan menyatakan di hadapan delegasi bahwa terus terang kami
tidak tahu bahwa ada gerakan seperti itu di lingkungan kami disini. Namun
menurut Shirin Fozdar ini sudah ada selama lebih dari setahun. Sang wartawan
mengakui bahwa jujur saja, kami disini bahkan tidak tahu ada gerakan Baha’i di
dunia. Shirin Fozdar melanjutkan bahwa gerakan ini berasal dari Persia. telah
ada selama lebih dari seratus tahun dan memiliki 2.500 pusat di hampir seratus
negara di seluruh dunia. Pusat terbesar ada di Persia, selanjutnya di Amerika
dan kemudian disusu di India. Shirin Fozdar menyatakan perwakilan untuk
Indonesia adalah KH Payman, berdomisili di Jakarta.
Dari
keterangan yang dihimpun wartawan di Bandoeng dalam wawancaranya dengan Shirin
Fozdar, wanita asal Persia yang tinggal di India diketahui bahwa gerakan Baha’i
di Indonesia sudah ada setahun lebih yang mana pengurus pusatnya ada di
Djakarta KH Payman dan di Bandoeng sendiri H Buys. Siapa Payman dan Buys kurang
terinformasikan. Sementarra Shirin Fozdar kemudian diketahui menjadi sekretaris
Singapore Women’s Council (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 15-12-1953).
Posisi ini masih dijabatnya hingga 1961 (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 04-02-1961).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Baha’i Era Masa Kini
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




