*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Tempo
doeloe tidak ada yang mengangap penting (pulau) Spratly, apakah Inggris
(Brunai), Spanyol (Filipina) atau Belanda (Indonesia). Hanya Prancis (Vietnam)
yang mengklaim sendiri pada tahun 1930 (lihat Algemeen Handelsblad, 01-06-1930).
Meski pada saat itu, China sudah memiliki kekuatan sendiri, tetapi tidak pernah
mengklaimnya. Situasi dan kondisi masa kini berbeda dengan masa lampau.

atau kepulauan) Spratly diketahui dengan nama yang berbeda-beda: Nansha Qundao
(China); Kepulauan Spratly (Malysia-Brunai); Islang Kalayaan (Filipina) dan
Quan Dao Truong Sa (Vietnam). Kepulauan ini bukanlah daratan yang sempurna,
tetapi hanya berbentuk reefs, shoals, atolls, and small islets yang berada di
kawasan South China Sea (bagian dari Pacific Ocean). Ribut-ribut tentang klaim
Spratly, Indonesia juga memiliki kepentingan sendiri di sekitar kawasan
(sebagai bagian Zona Ekonomi Eksklusif 200 mil). Situasi dan kondisi saat ini
bahwa China mengeklaim seluruh wilayah Spratly dan menguasai 7 pulau; Taiwan
klaim seluruh wilayah dan menguasai 1 pulau; Vietnam klaim seluruh wilayah dan
menguasai 9 pulau; Malaysia klaim 12 pulau dan menguasai 5 pulau; Filipina klaim
27 pulau dan menguasai 8 pulau; Brunei Darussalam klaim 3 pulau yang paling
selatan namun tidak menguasai pulau tertentu.
Lantas
bagaimana sejarah asal usul Pulau Spratly di dekat pulau Palawan? Seperti disebut di atas kini telah terjadi klaim
beberapa negara atas pulau tersebut. Tentu saja kepulauan itu berada di bawah
sengketa. Lalu mengapa kini China, Vietnam dan Taiwan terkesan sangat ngotot
untuk meraihnya semua pulau-pulau itu? Sudah barang tentu China, Taiwan, Vietnam, Malaysia,
Brunai dan Filipina memiliki kepentingan tertentu. Lalu pertanyaannya pantaskah
China mengklaim seluruh pulau di Spratly? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Pulau Spratly
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Munculnya Sengketa: China vs
Negara Lainnya
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






