*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Australia dalam blog ini Klik Disin
Ada
satu fase dalam sejarah hubungan Indonesia dan Ausralia tentang tanahan politik
Indonesia yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Boven Digoel, Papoea,
tetapi kemudian direlokasi ke Australia. Fase ini hanya disinggung sepintas
dalam sejarah Indonesia dan tidak ditemukan dalam sejarah Australia. Hal ini
boleh jadi karena fase ini di Australia hanya dipandang sebagai sejarah
hubungan Indonesia dan Belanda. Namun dalam memahami Sejarah Menjadi Indonesia,
pemahaman fase sejarah ini sudah tentu ada gunanya.

kriminal. Tahanan politik (tapol) adalah seseorang yang ditahan baik di rumah,
di penjara atau tempat pembuangan (kamp konsentrasi) karena memiliki ide-ide
atau pandangan yang dianggap menentang pemerintah atau membahayakan kekuasaan negara.
Tahanan politik Indonesia oleh Belanda sudah berlangsung sejak era VOC (awalnya
dibuang ke Afrika Selatan) dan berlangsung hingga selama Pemerintah Hindia
Belanda seperti Pangeran Diponegoro dibuang ke Makassar, Pangeran dari
Palembang dan pejuang Aceh ke Ternate, Tuanku Imam Bonjol ke Tondano, Tahanan
politik yang dibuang ke Digoel dimulai tahun 1920an. Soekarno dibuang ke Flores
dan Mohamad Hatta sempat dibuang ke Digoel sebelum direlokasi ke Banda.
Lantas
bagaimana sejarah tahanan politik Indonesia di Bovel Digoel direlokasi ke
Australia? Satu hal mengapa dipilih Digoel dan hal lainnya mengapa
tahanan politik di Digoel direlokasi ke Australia? Semua itu terhubung dengan sejarah Belanda (Hindia
Belanda) dan Australia di satu sisi dan sejarah Pemerintah Hindia Belanda dan
para revolusiner Indonesia. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Tanah Merah, Boven Digoel,
Papua
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Tahanan Politik Indonesia di
Digul Direlokasi ke Australia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




