*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Danau
Tiga Warna di Gunung Kalimutu di Pulau Mangarai. Gunung Kalimutu di pulau
Mangarai sudah dikenal sejak zaman kuno pada era Hindoe. Nama Kalimutu dan
Mangarai merujuk pada nama India, Pada era Portugis nama pulau Mangarai (Manggarai)
diganti menjadi Pulau Flores, Tiga danau tersebut yang berbeda warna itu diduga
kawah dari letusan gunung Kalimutu. Lalu kapan terjadi letusan dan kapan
terbentuk danau dan kapan danau diteukan. Namun yang jelas beberapa gunung di
Nusa Tenggara Timur yang dicatat kapan meletusnya.

sejumlah gunung penting adalah gunung Batutara di pulau Komba, gunung Egon (P
Flores, Sikka), gunung Iliwerung (P Lembata), gunung Ine Lika (P Flores, Ngada),
gunung Lakaan (P Timor, Belu), gunung Lewotolo (P Lembata), gunung Mutis (P
Timor, TTS dan TTU), gunung Rokatenda (P Palu’e), gunung Sirung (P Pantar), gunung
Wanggameti (P Sumba) dan gunung Kelimutu (P Flores, Ende), Sementara danau-danau
di Nusa Tenggara Timur antara lain selain danau Kalimutu (tiga warna) adalah
danau Weekuri dan danau Ranamese (Sumba Barat Daya) dan danau Sanoggoan (Manggarai Barat) serta telaga
Nirwana (P Rote).
Diantara
danau-danau yang terdapat di Nusa Tenggara Timur, danau pegunungan di gunung
Kalimutu yang banyak perhatian sejak tempo doeloe. Lantas bagaimana sejarah
danau tiga warna Gunung Kalimutu? Yang jelas danau tersebut sudah terbentuk sejak
lama. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Danau Tiga Warna di Gunung
Kalimutu
Pada
era pendudukan Inggris, terjadi perlawanan di beberapa tempat di Groep Timor
terutama di wilayah Adonaro, Lembata dan Flores. Residen Timor yang
berkedudukan di Koepang satu per satu mulai mengendalikannya. Untuk mengatasi
persoalan, Gezaghebber B van Suchtelen dengan satu brigade dikirim ke Flores
(lihat De Sumatra post, 28-11-1914). Setelah situasi reda inilah kemudian B van
Suchtelen dan Ch. CFM le Roux mendapat kesempatan melihat danau kawah di gunung
Kelimoetoe.

yang mengakibatkan seluruh pulau-pulau di kepulauan Soenda Eilanden terkena
dampak yang berat. Kehidupan di pulau Soembawa dan Lombok lumpuh. Namun dampak
di pulau Flores juga sangat dirasakan akibat debu vulkanik. Untuk melihat
dampak letusan gunung Tambora tersebut B van Suchtelen dan Ch. CFM le Roux
nelakukan ekspedisi di Pulau Flores. Pada saat ekspedisi inilah keduanya
meneukan danau kawah di gunung Kali Moetoe. Bataviaasch nieuwsblad, 24-12-1915
berdasarkan informasi dari Residen Timor onderhoorigbeden tanggal 22 disebutkan
bahwa Sultan Bima pada tanggal 16 meninggal dunia. Tidak disebutkan apa
penyebabnya. Wilayah Bima sendiri terjadi dampak yang berat dan terjadi tsunami
di teluk Bima dan kraton Bima rusak berat.
Dalam
perkembangannya, pada era Hindia Belanda (setelah pendudukan Inggris 1811-1816)
tim ekspedisi geologi yang bertugas di Timor melakukan pengamatan di berbagai
tempat termasuk di gunung Kalimutu (lihat De Preanger-bode, 04-01-1923). Nama
danau kawah Kalimutu mulai kerap disebut. Seorang bangsawn Adolf van Mecklenburg yang didampingi Residen Timor dan
Gezaghebber Endeh mengunjungi danau tiga kawah (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-08-1923).
Tentu saja yang mulia tidak ketinggalam. Dalam kunjungan kerja Gubernur
Jenderal De Graef tahun 1927 ke Residentie Timor berkesempatan melihat danau
kawah Kalimutu (lihat De locomotief, 08-10-1927).

mengunjungi puncak Kelimoetoe yang terletak 64 Km (dari Ende) di pedalaman 1.550
meter dpl, dimana asisten residen Rookmaker membangun sebuah monomen yang ditandatangani
oleh Gubernur. Dinyatakan bahwa pada tanggal 7 Oktober 1927 puncak itu untuk
pertama kalinya oleh seorang ‘turis kelas atas’, yaitu. Exc. De Graeff
dikunjungi. Pemandangan tiga danau kawah yang airnya erwarna biru, hijau dan
coklat. Pemandangannya luar biasa’. Pada bagian berita lain disebutkan GG
melakukan pertemuan umum yang dipusatkan di Soe (pulau Timor). Dalam hal ini
pertemuan lainnya dipusatkan di Ende.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Sejarah Gunung Meletus di Nusa
Tenggara Timur
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






