Nama-nama
kampong lainnya tempo doeloe di kota Sukabumi seperti kampong Benteng, kampong
Njomplong dan kampong Dajeuhloehoer kini menjadi nama-nama kelurahan di
kecamatan Warudoyong; kampong Karamat (kecamatan Gunung Puyuh), kampong Tipas
(kecamatan Citamiang), kampong Tjisaroea dan kampong Sela Batoe (kecamatan
Cikole). Nama-nama kampong tempo doeloe yang kini tetap sebagai nama kampong
seperti kampong Kopeng dan Tjipoho. Dalam
perkembangannya sesuai Perda Nomor 15 Tahun 2000, Kecamatan Baros dimekarkan dengan
membentuk Kecamatan Lembursitu dan Kecamatan Cibeureum. Nama kampong tua di
Kecamatan Cibeureum adalah kampong Babakan dan kampong Limoesnoenggal. Nama
Baros adalah nama kampong yang sangat terkenal tempo doeloe, suatu kompong yang
berada di sisi utara sungai besar Tjimandiri yang menjadi batas District Goenoeng
Parang di sebelah selatan (di sebelah utara District Goenoeng Parang berbatasan
langsung dengan gunung Gede). Sebagaimana seorang pengusaha pertanian memiliki
mansion di Selabatoe (E Lenne), di Baros juga terdapat mansion (rumah mewah)
dari RA Eekhout , seorang pengusaha pertanian yang mengusahakan tanaman
buah-buahan dan sayuran khas Eropa (untuk dijual ke Batavia). Â
salah satu district di Regentschap (kabupaten) Tjiandjoer. Bupati (regent)
berada di (kampong/kota) Tjiandjoer. Dalam perkembangannya, pada era Pemerintah
Hindia Belanda (1829), District Goenoeng Parang bersama enam distrik yang
lainnya (Tjimahi, Tjiheulang, Tjitjoeroek, Palaboehan Ratoe, Djampang Koelon
dan Djampang Wetan) disatukan menjadi Onderafdeeling Soekaboemi dimana
Controelur berkedudukan di Soekaboemi (wilayah kampong Tjikole). Onderafdeeling
ini kemudian ditingkatkan menjadi Afdeeling pada tahun 1871 dengan meningkatkan
status Controelur menjadi Asisten Residen plus menempatkan dua Controleur di
Tjitjoeroek (District Tjitjoeroek) dan Njalindoeng (District Djampang Wetan,
kemudian namanya menjadi Djampang Tengah).
![]() |
| Soekaboemi (1899), Sukabumi (NOW) |
Pada
tahun 1914 sebagian wilayah District Goenoeng Parang dibentuk menjadi Gemeente
(Kota) yang dipimpin rangkap oleh Asisten Residen. Baru pada tahun 1926 Kota
(Gemeente) Soekaboemi memiliki Wali Kota (Burgemeester). Wilayah Gemeente
inilah yang kemudian di era Republik Indonesia menjadi empat kecamatan di Kota
Sukabumi, yakni Kecamatan Sukabumi Utara, Kecamatan Sukabumi Timur, Kecamatan
Sukabumi Selatan dan Kecamatan Sukabumi Barat.
yang sudah mulai menua di era milenial yang sekarang, muncul penemuan suatu
terowongan bawah tanah yang diduga semacam bunker pada masa lampau. Bunker ini
ditemukan di kampong Kopeng, kelurahan Karamat, kecamatan Gunung Puyuh. Lantas
bagaimana itu bunker ada? Untuk menjawab ini kita tentu harus kembali ke masa
lampau, bahkan ketika nama Sukabumi belum ada (masih berada di Batavia).
![]() |
| Jalan Kopeng/Jalan Karamat (NOW) |
Nama-nama
kampong Kopeng, kampong Karamat dan kampong Gunung Puyuh adalah nama-nama
kampong yang sudah terbilang kono di Kota Sukabumi yang seakarang. Di dekat
kampong Pasir (Goenoeng) Poejoeh di era VOC/Belanda didirikan benteng (fort).
Tidak jauh dari benteng ini kemudian muncul nama-nama kampong seperti kampong
Karamat dan kampong Kopeng. Tiga nama kampong ini kini menjadi satu garis lurus
penemuan sebuah bunker: Kampong Kopeng, Kelurahan Karamat dan Kecamatan Gunung
Puyuh. Nama-nama kampong yang sejaman dengan tiga nama kompong tempo doeloe
tersebut adalah kampong Benteng dan kampong Waroedojong. Nama kompong Benteng
mengacu pada keberadaan benteng. Dengan demikian, keberadaan bunker ini dapat
dihubungkan dengan nama-nama yang muncul pada masa lampau: Benteng, Goenoeng
Poejoeh, Karamat, Kopeng dan Waroedojong. Â
Kota Sukabumi? Jangan lupa nama-nama kampoeng tempo doeloe: Benteng, Waroedojong,
Goenoeng Poejoeh, Karamat dan Kopeng. Selamat meneliti.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com








