melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini
Cornelis Vincent van Mook sudah sejak 1678 berada
di Tangerang untuk membangun pertanian. Pada tahun 1680 di Kesultanan Banten
terjadi perseteruan antara ayah dan anak. Sultan Agoeng Tirtajasa digulingkan oleh
anaknya sendiri, Sultan Hadji. Situasi di Banten membuat  Cornelis van Mook di Tangerang terganggu.
![]() |
| Dari Banten ke Batavia via Tangerang |
Wilayah
Tangerang di tengahnya mengalir sungai Tjisadane. Wilayah barat bagian dari
Banten dan wilayah timur sungai Tjisadane bagian dari Batavia (VOC/Belanda). Cornelis
van Mook mulai memikirkan untuk membangun kanal dengan menyodet sungai
Tjisadane ke arah timur menuju Batavia. Untuk
membangun kanal ini, membuat  Cornelis
van Mook membutuhkan banyak tenaga kerja. Daghregister mencatat bahwa tanggal
10 April 1680 Sera Mangale ‘mengambil’ (roven) orang Indermayoe sebanyak 7.000
orang dan membawanya ke Tangerang. Sera Mangale adalah salah satu pimpinan benteng
Tangerang di Kampong Baroe. Menurut catatan Daghregister tanggal 1 Juni 1680
Sultan Banten (Agoeng Tirtajasa) yang tersingkir dari kraon telah menetapkan tanah
Tanara, Pontang dan Tangerang di bawah pemerintahannya. Pada tanggal 21
September 1680 tiba di Tangerang 1.000 orang untuk menjaga properti bangunan Cornelis
van Mook. Pada tanggal 5 November 1680 para pekerja Cornelis van Mook mengungsi
dari benteng karena orang-orang Banten sudah berada di sisi barat sungai. Pada
tanggal 6 Juni 1681 dicatat di dalam Daghregister suatu release dari landdrost Cornelis
Vincent van Mook terhadap pembantaian orang Jawa oleh orang Banten di
Tangerang.
Tirtajasa meminta bantuan kepada pihak Inggris dan Denmark untuk melawan Sultan
Hadji yang berada di benteng yang kuat. Sultan Hadji dapat dikalahkan dan
Sultan Agoeng Tirtajasa berkuasa kembali. Sultan Hadji kemudian mengutus
Hendrik Lucasz Cardeel ke Batavia untuk meminta bantuan. Gubernur Jenderal
mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Kapitein Jonker, namun gagal. Pasukan
Jonker sebagian tewas, sebagian ditawan dan sebagian yang lain berhasil
melarikan diri. Untuk membebaskan tawanan, Gubernur Jenderal Speelman mengirim
ekspedisi yang dipimpin oleh Sersan Saint Martin untuk bernegosiasi dengan
Sultan Agoeng. Cornelis Vincent van Mook kembali bekerja dengan tenang di
Tangerang.
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
di landhuisnya, warga Tangerang yang umumnya adalah pekerja Cornelis Vincent
van Mook dan para pasukan yang menjaga wilayah heboh dengan kedatangan pemuda
dan seorang gadis di atas satu kuda mendekati sungai Tjisadane. Gadis itu tetap
berada di atas pelana sementara pemuda itu turun membimbing kuda untuk
menyeberangi sungai Tjisadane. Para warga mengerumuni dua orang muda Eropa lalu
membawanya ke rumah Cornelis Vincent van Mook.
dan gadis tiba di rumah Cornelis Vincent van Mook dalam kondisi kelelahan
setelah satu hari satu malam di atas kuda tanpa pernah berhenti dan dalam
pakain yang compang-camping berdebu dan berlumpur. Tampak tidak karuan. Pemuda
Eropa itu kemudian diketahui adalah Letnan Moody, salah satu tawanan yang dibebaskan
oleh Saint Martin sedangkan gadis itu adalah putri dari Hendrik Lucasz Cardeel.
Cornelis Vincent van Mook cepat paham. Lalu Cornelis Vincent van Mook
menyiapkan pelayanan yang baik bagi dua orang muda itu dan juga menyediakan
satu kamar untuk berdua untuk tempat istrahat.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




