Sumber
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
peradaban. Namun persoalan penyakit (epidemik) ternak di Indonesia (baca:
Hindia Belanda) dan catatan tertua baru ditemukan pada tahun 1865. Dilaporkan penyakit
ternak besar pecah di Tjabangboengin dan Telok Djambe (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-07-1865). Ahli bedah hewan pemerintah
segera dikirim ke TKP untuk menyelidikinya. Hasilnya, ditemukan penyakit
antraks.
terhadap kesehatan ternak sudah disadari pemerintah lebih awal. Pemerintah
mendatangkan dokter-dokter hewan dari Belanda. Pada tahun 1861 di Soerabaja mulai
dirintis sekolah kedokteran hewan untuk melatih sejumlah pemuda pribumi. Ahli
bedah hewan yang ada di Soerabaja inilah yang diduga didatangkan ke Bekasi.
Identifikasi penyakit ternak di District Bekasi tepat berada di tangan ahlinya.
ini mengindikasikan bahwa penyakit ternak kerbau yang diselidiki identik dengan
antraks (penyakit tertua ternak besar). Para ahli ini tidak berdaya menyelamatkan
hewan yang sekarang dan banyak yang telah mati, gejala penyakitnya sudah lama
berlangsung dan sulit ditangani. Namun begitu, para ahli ini menemukan
sebab-sebab munculnya epidemik tersebut.
pertama karena kurangnya perawatan yang dilakukan oleh penduduk terhadap
ternaknya. Ternak mengikuti alamnya, selepas makan berendam di kubangan lumpur
semalaman. Perilaku hewan ini juga ditemukan pada perilaku pemiliknya yang
kurang memperhatikan kandang ternak yang kotor dan basah. Hal inilah yang diduga
menyebabkan kuman yang menyebabkan antraks berkembang biak dengan cepat.
Peristiwa epidemik ini telah menemukan jalan ke upaya pencegahan. Sekolah
kedokteran hewan bagi pribumi menjadi perlu.
West (kini Tanjung Barat) terdapat peternakan besar yang dikelola oleh orang
Eropa/Belanda, Andries Duurkoop. Peternakan Tandjoeng West ini mengusahakan
sebanyak 5.000 ekor sapi dengan mempekerjaan sebanyak 400 budak. Usaha
peternakan (ranch) Tandjoeng West memasok kebutuhan susu segar ke Batavia. Jhos
Rach sempat mengabadikan land Tandjong West lewat beberapa lukisan pada tahun 1760.
Untuk menunjukkan kekagumannya, Jhos Rach menyebut ranch Tandjoeng West ini
bagaikan Frisia di timur (Oostvriesland).
![]() |
| Land Tandjong West, latar G. Salak (lukisan 1760) |
Frisia adalah suatu wilayah pantai di sebelah
utara Belanda dan Jerman. Friesland adalah suatu wilayah pertanian yang sejak
dari dulu terkenal dengan sapi berwarna hitam dan putih dan kuda hitam yang
juga terkenal. Sebagai wilayah peternakan dan pertanian, wilayah ini juga sejak
dari dulu penghasil susu yang terkenal. Hingga saat ini wilayah ini tetap
terkenal sebagai produsen susu. Salah satu merek susu terkenal yang ada
sekarang adalah susu merek Frisian Flag. Lanskap Land Tandjong West, latar G.
Salak (lukisan 1760)
tidak mampu lagi membayar kepada tenaga kerjanya (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 17-08-1893). Namun tidak dijelaskan sebab-sebabnya mengapa
demikian. Apakah ada kaitannya dengan penyakit ternak? Pada tahun 1791 Jan Andries Duurkoop
diketahui telah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan seorang
anak yang masih kecil. Tampaknya sang istri yang ditinggal tidak meneuskan
ranch ini. Ranch Tandjoeng West tamat.
ranch Tandjoeng West ini telah berakhir, tetapi peternakan-peternakan kecil
yang dikelola penduduk bermunculan di berbagai tempat seperti di Lenteng
Agoeng, Djagakarsa dan Pondok Ranggon. Penduduk yang mengusahakan peternakan
sapi skala kecil ini besar dugaan adalah para mantan cowboy-cowboy dari ranch
Tandjoeng West. Usaha-usaha peternakan skala kecil pada gilirannya, diduga
telah berkembang di daerah aliran sungai Bekasi.
penduduk penghela pedati (kerbau) dan kereta (kuda) menjadi satu paket
perhatian pemerintah. Sapi, kerbau dan kuda harus dijaga kelangsungannya
mungkin demikian cara berpikir pemerintah sehingga harus mendatangkan dokter
hewan dari Belanda. Itulah awal kehadiran dokter-dokter hewan Belanda dan
menjadi awal mula rintisan sekolah kedokteran hewan di Soerabaja yang kemudian
mereka dapat bertemu dengan penduduk di Bekasi yang resah dengan ternak-ternak
mereka yang sekarat dan sudah banyak yang mati.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com








