melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik DisiniĀ
Nama Matraman cukup terkenal. Pada masa ini nama
Matraman ditabalkan sebagai nama kecamatan di Jakarta Timur. Tempo doeloe di
Kampong Matraman terdapat landhuis Matraman (lihat Peta 1825). Letak landhuis ini
berada di sisi barat sungai Tjiliwong. Dari landhuis ini dihubungkan sebuah
jalan dan jembatan di atas sungai Tjiliwong menuju jalan pos (Postweg) di
pertemuan jalan Salemba dan jalan Matraman yang sekarang.
![]() |
| Landhuis Matraman (Peta 1904) |
Di Jakarta tempo doeloe
banyak ditemukan tanah-tanah partikelir (landerein). Keberadan tanah-tanah
partikelir ini secara langsung di sekitar landhis telah memicu dan memacu
pertumbuhan dan perkembangan dalam bidang: pertanian, infrastruktur,
transportasi,Ā ekonomi, sosial dan budaya
serta lainnya. Itulah mengapa keberadaan tanah-tanah partikelir di Jakarta pada
masa lampau penting dalam sejarah Kota Jakarta.
Landhuis laan setelah era NKRI diubah menjadi jalan Tambak (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-10-1950). Jalan
Tambak ini mulai dari stasion Manggarai hingga persimpangan jalam Proklamasi.
digunakan dalam artikel ini adalah āsumber primerā seperti surat kabar sejaman,
foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding),
karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari
sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan
lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru
yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain
disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja* Benteng
(fort) Noordwijk, 1725
Tepat berada dilokasi dimana pernah berdiri landhuis ini didirikan sejumlah
rumah. Salah satu rumah tersebut pernah menjadi tempat tinggal keluarga Barack
Obama (yang pernah menjadi Presiden Amerika Serikat). Hal lain yang perlu
diperhatikan bahwa sejauh ini sejarah landhuis Matraman dan sekitar berlum
terdokumentasikan dengan baik. Untuk itu mendokumentasikan sejarah Matraman
secara baik dan benar perlu ditelusui kembali sumber-sumber tempo doeloe. Mari
kita mula dari landhuis Matraman.
Matraman
dipetakan pada tahun 1825 (lihat Peta 1825). Pada peta tersebut landhuis
Matraman telah terhubung ke landhuis Srtuiswijk di jalan pos (Postweg) Salemba
melalui jalan dan jembatan di atas sungai Tjiliwong. Jembatan ini diduga masih
sangat sederhana yang terbuat dari bambu. Landhuis ini juga terhubung dengan simpang
di Kampung Pengangsaan, yang mana ke arah barat menuju jalan kuno (sejak era
Padjadjaran) dan ke arah utara menuju Tjikini. Persimpangan ini kira-kira di
Metropole yang sekarang.
![]() |
| Landhuis Matraman (Peta 1825) |
Jalan kuno dalam hal ini
adalah jalan sudah terbentuk sejak era Kerajaan Padjadjaran (dari Pakuan di
hulu sungai Tjiliwong ke pelabuhan Soenda Kalapa di muara sungai Tjiliwong).
Jalan kuno ini dari ibukota Pakuan melalui Kedong Badak, Tjilieboet, Bodjong
Gede, Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Sringsing, Tandjong West, Pantjoran,
Menteng, Tjikini, Noordwijk (stasion Juanda sekarang) terus ke pelabuhan Soenda
Kelapa. Jalan kuno ini berada di sisi barat dan tidak pernah memotong sungai
Tjiliwong. Jembatan Matraman dan jembatan Kwitang adalah dua jembatan terawal
yang dibangun di atas sungai Tjiliwong. Ā Ā Ā
secara pasti. Selain landhuis Struiswijk (kini menjadi Kampus UI Salemba),
tetangga terdekat Landhuis Matraman (berdasarkan Peta 1825) adalah Landhuis Menteng.
Landhuis-landhuis lainnya yang cukup jauh dari landhuis Matraman berada di Kampong
Malajoe, Tjipinang, Grogol, Palmerah, Kebon Djeroek, Tjiassem (Pesanggrahan), Soekaboemi
dan Pesing serta landhuis Japan (Pedjompongan), Landhuis Daalxigt (Tanah Abang),
Landhuis Laanhof (Petamboeran) dan lainnya.
1800) landhuis terkenal adalah landhuis yang berada di Land Paviljoen. Cornelis
Chastelein membeli land ini dengan membangun kembali dengan mendirikan landhuis
dan dua pabrik gula di sisi timur sungai Tjiliwong dekat fort Noordwijk.
Landhuis ini kira-kira berada di jalan Pejambon yang sekarang. Pada tahun 1895
Cornelis Chastelein membeli lahan baru di Sringsing (kini Serengseng Sawah, Lenteng
Agung) dan kemudian pada tahun 1704 Cornelis Chastelein membeli lahan baru di
Depok. Pada tahu 1730 keluarga (anak dari) Cornelis Chastelein menjualnya. Land
Pavilhoen ini dibeli oleh Justinus Vinck yang kemudian membangun landhuis di
arah timur landhuis yang lama (kira-kira RSPAD yang sekarang). Dalam
perkembangannya Justinus Vinck membangun pasar di dekatnya yang disebut Pasar
Senen (juga disebenut Pasar Vincke). Land milik Justinus Vinck ini kemudian
dibeli Gubernur Jenderal Jocob Mossel (1750-1761) dengan membangun estate yang
mewah yang kemudian land ini dikenal sebagai Weltevreden. Estate di Weltevreden
ini kemudian dibeli oleh Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775).
Selanjutnya van der Parra juga diketahui telah membangun land di Tjimanggis.
lama terbentuk atau dibentuk baru jalan penghubung yang menjadi cikal bakal
jalan-jalan yang ada sekarang di Jakarta. Dalam hal ini, pemilik land yang berpusat
di landhuis tidak hanya mengembangkan land yang dimilikinya tetapi telah
memperkaya dan meningkatkan jaringan jalan dan membuka isolasi kampong-kampong
lama. Kehadiran para pemilik land dan terbentuknya jalan-jalan baru juga memicu
munculnya kampong-kampong baru di sekitar land.
disebut di atas tetangga terdekat landhuis Matraman adalah landhuis Menteng.
Kedua landhuis ini dihubungkan oleh jalan yang bertemu di persimpangan jalan di
Kampong Pegangsaan. Dari persimpangan ini ke barat menuju jalan kuno di sekitar
Kampong Meteng Poelo yang sekarang; ke utara menuju Tjikini dan persimpangan
antara Tjikini, Gondangdia dan Kwitang/Senen (kelak simpang ini disebut
Prapatan). Dari simpang Menteng Poelo ke arah barat terdapat jalan menuju
Landhuis Menteng (landhuis ini kira-kira dekat Pasar Rumput yang sekarang).
baru pulang dari Eropa membangun sebuah villa di Tjikini. Villa ini berada di
jalan Tjikiniweg, jalan yang terhubung ke selatan ke Pengangsaan hingga ke land
Matraman. Sejak berdirinya villa Raden Saleh in kampong Tjikini cepat
berkembang. Di beberapa area lambat laun bermunculan bangunan orang-orang
Eropa/Belanda. Jalan Tjikini yang menuju land Matraman juga semakin ramai.
dari Tjikiniweg melalui sebuah jalan ke dekat sungai Tjiliwong. Villa ini cukup
mewah dengan lahan pekarangan yang luas. Villa ini kini kira-kira di area rumah
sakit Cikini yang yang sekarang. Jalan yang dulu menuju villa ini kini disebut
jalan Raden Saleh. Sisi sebelah barat dari pekarangan villa Raden Saleh ini kemudian
menjadi taman botani yang juga kemudian dijadikan sebagai kebun binatang. Beberapa
dasawarsa yang lalu kebun bintang Tjikini ini direlokasi ke Ragunan. Lahan eks
kebon binatang ini menjadi taman, Taman Ismail Marzuki (TIM). Ā Ā
dari stad (kota) Batavia hingga ke Meester Cornelis (Boekit Doeri). Pada jalur
kereta api ini pada tahun 1873 dibangun halte/stasion kere apai di Pegangsaan
(kira-kira di di seberang jalan Metropole yang sekarang). Stasion Pegangsaan
ini dibangun karena lokasinya yang sangat strategis karena merupakan
persimpangan jalan. Stasion Pegangsaan ini berada dekat dengan Land Matraman,
Land Menteng dan Land Striswijk.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com










