De Wolff van Westerrode
menikah dengan Thérèse Adolphine Henriëtte du Perron di Tjilatjap pada 19 Maret
1882. De Wolff van Westerrode memiliki dua anak satu laki-laki dan satu
perempuan. Anak yang laki-laki adalah Samuel Arnold Reinier de Wolff van
Westerrode, Nama anak perempuan adalah MH de Wolff van Westerrode. Willem
Pilgrom Dirk de De Wolff van Westerrode memiliki nama yang sama dengan
kakeknya. Ayahnya adalah Dr. Reinier Christoffel Willem de Wolff dari
Westerrode, seorang dokter di Koudum. Bataviaasch nieuwsblad, 27-12-1904
Sumatra dan Bataksche Bank di Pematang Siantar
meninggalnya De Wolff van
Westerrode, jabatan Inspektur diangkat adalah H Carpentier Alting (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 21-10-1905). Disebutkan pada tahun anggaran (APBN) 1906 yang
dialokasikan seluruhnya sebesar f474.200 yang mana bagian terbesar untuk (modal)
bank sebesar f170.000, diikuti lumbung sebesar f149.260, bank ternak sebesar
f97,200, Untuk manajemn pusat dialokasikan sebesar f27.240.
tahun 1906 di 27 lokasi. Jumlah ini telah meningkat dari tahun 1904. Ke-27
lokasi itu adalah sebagai berikut: Banjoewangi, Probolinggo, Djombang, Blitar,
Toeloeng Agoeng, Trenggalek, Temanggoeng, Madioen, Banjoemas, Bandjarnegara, Pocrwokerto,
Poerbolinggo, Karanganjar, Garut, Tasikmalaja, Soemedang, Bandoeug, Tjiandjoer,
Soekaboeuii, Koedoes, Batang, P’ekalongan, Tueban, Magelang, Keboemen, Lamongan
dan Poerworedjo.
tahun anggaran (APBN) pemerintah tetap memperhatikan kredit pertanian (lihat Het
nieuws van den dag : kleine courant, 02-11-1906). Disebutkan jumlah bank kredit
telah meningkatkan pada tahun 1907. Bank yang dimaksud dalam hal ini di Hindia
disebut lebih tepat sebagai bank pinjaman petani (sistem menurut Eaiffeisen).
37 bank kredit yang mana 10 buah telah beroperasi sebelum tahun 1906. Dalam
anggaran tahun 1907 ini juga ingin membantu nelayan pribumi. Untuk tujuan ini
ada sembilan daerah di pantai utara Jawa dan juga di Madura dam sepuluh bank
budidaya ikan akan didirikan dengan tujuan memberikan krediet untuk bidang perikanan.
di Sumatra konsep kredit pertanian (De Wolff van Westerrode) yang sudah
establish di Jawa tidak secara otomatis dapat diterapkan. Lembaga keuangan yang
diintroduksi di Sumatra adalah Volksbank (semacam koperasi). Sudah dimulai di Djambi,
Lampong dan Atjeh. Djambische Volksbank didirikan di Djtmbi pada tahun 1909 telah
menerima uang muka untuk menambah modal operasinya sebsar f55.000, subsidi
bulanan f300 dan jumlah yang sama untuk mengendalikan biaya pemasangan (lihat De
Sumatra post, 29-05-1911).
Tionghoa sudah tentu memiliki pola yang berbeda. Tidak relevan menerapkan bank
kredit pertanian maupun Voklsvank seperti di Sumatra. Intoduksi lembaga
keuangan untuk kalangan Tionghoa awalnya muncul dari investor dari luar
(Tingkok). Ini sehubungan dengan pembukaan perdagangan antara Tiongkok dan
Jawa. Introduksi pertama lembaga keuangan Tionghoa mulai dilakukan di Batavia
oleh investor dari Tiongkok (lihat De
Sumatra post, 02-08-1912).
Sumatra Barat hal lembaga keuangan ini juga memiliki ciri sendiri. Oleh karena
lembaga yang telah hidup di masyarakat yang bersifat (kelompok) komunal maka
pola yang diterapkan adalah dengan membangunan konsep bank nagari. Beberapa
bank nagari dapat digabungkan untuk membentuk bank nagari yang lebih besar
(lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 17-02-1914).
perkembangannya di Palembang muncul Volksbank (Algemeen Handelsblad, 24-01-1919).
Disebutkan pemerintah menjamin pembayaran di Volksbank di Palembang,
Tapanoeli lembaga keuangan tidak memiliki pola yang spesifik. Untuk kebutuhan
dana yang terbatas hanya mengandalkan keluarga atau hubungan kekerabatan. Namun
untuk kebutuhan dana yang besar langsung ke bank-bank yang didirikan oleh
swasta atau oleh pemerintah. Bank orang Tapanoeli justru muncul di Sumatra
Timur, suatu bank yang didirikan untuk mengatasi sulitnya akses para pengusaha
pribumi le Bank Java (Eropa/Belanda) dan Bank Kesawan (Tionghoa)
![]() |
| De Telegraaf, 28-12-1920 |
Dalam situasi
tersebut orang-orang pribumi berinisiatif mendirikan bank sendiri. Di kalangan
orang Erropa/Belanda dilayani oleh Bank Java, Escompto Bank dan lainnya, Untuk
kalangan Tionghoa di Medan sudah didirikan Bank Kesawann. Tidak adanya bank
bagi pribumi memunculkan gagasan pendirian bank di Pematang Siantara pada tahun
1920, Bank tersebut didirikan oleh sejumlah tokoh asal Padang Sidempoean yang
merantau ke Pematang Siantara. Bank yang didirikan itu diberinama Bataksche
Bank. Bank swasta pribumi profesioal pertama ini cukup lama eksis hingga
berakhirnya era kolonial Belanda.
![]() |
| Salah satu cabang Bataksche Bank di Sumatra Timuur |
Para pendiri
bank ini adalah Dr. Alimoesa Harahap, Dr. Muhamad Hamzah Harahap, Soetan Pane
Paroehoem dan Soetan Hasoendoetan (lihat De Telegraaf, 28-12-1920). Untuk
menjaga kesinambungan bank swasra
pribumi ini Hasan Harahap gelar Soetan Pane Paroehoem berinisiatif untuk
mengikuti kursus dan ujian notaris di Batavia. Soetan Pane Paroehoem lulus
ujian notaris kelas satu pada tahun 1927 (Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 22-08-1927). Soetan Pane Paroehoem adalah notaris pertama
pribumi di Sumatra/
perkembangannya Volksbank baru muncul pada tahun 1925 di Sibolga. Pendirian
bank rakyat ini dihubungkan dengan perkembangan perkebunan di Tapanoeli (lihat De
Sumatra post, 17-07-1925). Perkebunan-perkebunan karet sangat berkembang di
sepanjang jalan poros Sibolga-Padang Sidempoean terutama di wilayah
Batangtoroe.
Landbouwcrediet- Bank telah berkembang secara masif di Jawa. Konsep ini
dikembangkan oleh van Westerrode di Jawa mengikuti model (keperasi) Raiffeisen
di Jerman yang disarankan oleh seorang ekonom Belanda Mr. A. W. Slotenmaker.
Konsep yang didukung habis pemerintah ini cukup berhasil.
Sumatra karena adanya perbedaan karakteristik di Jawa dan di Sumatra. Sementara
di Sumatra antar wilayah juga memiliki karakteristik yang berbeda.
Wolff van Westerrode untuk diterapkan di Sumatra. Model ini disebut Volksbank
(masih merujuk pada prinsip koperasi). Volksbank diintroduksi pertama di
Sumatra di Djambi, kemudian di Bengkoelen, Lampoeng, Atjeh dan Palembang.
Volksbank juga kemudian diintroduksi di Tapanoeli. Konsep Volksbank yang
dijamin pemerintah ini mencakup seluruh populasi dengan bunga rendah. Seiring
dengan perkembangan Volksbank ini di Sumatra Barat sebelumnya sudah mulai
tumbuh konsep bank komunal yang dikenal sebagai Bank Nagari.
adalah modek bank umum yang sudah eksis di Eropa. Bank umum yang cukup berhasil
di Hindia adalah Bank Java. Bank ini dikelola murni oleh swasta. Dalam
perkembangannya untuk melayani perusahaan-perusahaan pemerintah, Pemerintah
mendirikan bank pemerintah (semacam BUMN) yakni Escompto Bank.
orang-orang Tionghoa. Bank umum orang Tionghoa di Medan adalah Kesawan Bank
(masih eksis hingga sekarang). Lalu dalam perkembangannya model bank umum ini
didirikan oleh pribumi diantara kalangan perantau-perantau asal Tapanoeli dari
Padang Sidempoean.
berkembang, di Jawa juga terutama di kota-kota besar berkembang bank yang
dikelola oleh swasta pribumi. Salah satu contohnya adalah di Bandoeng. Namun
perhatian pemerintah hanya tertuju pada upaya menjaga kesinambungan konsep
model konsep bank ala De Wolff van Westerrode.
Sumatra, konsep model bank ala De Wolff van Westerrode di Jawa sebagian besar
telah ditingkatkan dengan nama baru sebagai Afdeeling Bank. Pada tahun 1914
Afdeeling Bank sudah terdapat di sejumlah kota-kota utama di Jawa (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 07-11-1914). Sementara di Sumatra terdapat di beberapa tempat
seperti di Telok Betong (Lampoengsche Bank); di Palembang (Palembangsche
Volksbank) dan di Bengkoeloe (Volksbank Bengkoelen) serta Volksbank di Djambi. Dalam
barisan ini termasuk Volksbank Minangkabau di Sumatra Barat.
![]() |
| Djambische Volksbank, 1920 |
Afdeeling Bank itu antara lain adalah sebagai berikut:
Batangsche Afdeelingbank di Batang (Residentie Pekalongan); Pandeglangsche
Afdeelingbank di Pandeglang (Residentie Bantam); Japarasche Afdeelingbank di
Japara; Bodjonegorosche Afdeelingbank di Bodjonegoro; Bangilsche Afdeelingbank
di Bangil; Bangkalansche Afdeelingbank di Bangkalan; Madjalengkasche
Afdeelingbank di Madjalengka. Selain itu yang setara dengan wilayah afdeeling
juga disebut namanya sebagai Regenschappenbank seperti di Karanganjar dan
Keboemen.
pemerintah tersebut baik yang di Jawa dan Sumatra seakan menggambarkan Bank
Pembangunan Daerah (BPD) pada masa ini. Penanggjawab bank pemerintah ini di
daerah adalah Residen (setara gubernur pada masa ini).
pemerintah oleh rakyat untuk rakyat (kecil), mamun dalam prakteknya bank-bank
rakyat tersebut belum terbebas dari persoalan. Kenyataan bahwa bank-bank rakyat
ini yang awalnya dana diinjeksi oleh pemerintah tetapi dana yang dikelola
justru lebih banyak dari pihak ketiga (para deposan) yang menympan dananya di
bank rakyat (lihat De Preanger-bode, 13-07-1915). Kontribusi tabungan rakyat
sangat minim jika dibandingkan dana deposan dari pihak ketiga (selain dana
pemerintah dan rakyat). Akibatnya sistem keuangan setempat dikhawatirkan dapat
kolaps jiga dalam situasi krisis para deposan ini menarik dananya. Persoalan
keseimbangan pendanaan ini di bank rakyat masalah yanh harus diatasi misalnya
dengan memicu masyarkat untuk menabung. Oleh karenanya bank rakyat (Afdeeling
bank dan Volksbank) penyaluran kredit adalah satu hal, sementara penggalangan
tabungan masyarakat adalah hal lain lagi. Fungsi Inspektur Pengawasan Kredit
Rakyat (yang dulu pertama dijabat oleh De Wolff van Westerrode dan kini masih
tetap dijabat oleh Alting) masih harus bekerja keras. Persoalan bank rakyat di
Sumatra lebih pada persoalan pengadaan pegawai dan biaya-biaya operasional yang
tinggi karena luasnya wilayah pemasaran.
di Belanda. Salah satu bank rakyat terkenal di Belanda adalah De Amsterdamsche
Volksbank, NV De Centrale Volksbank berada di ‘sGravenhage. Penggunaan nama
Volksbank mulai muncul di Jawa di Madoera (Volksbank Madoera). Nama Pemalangsche
Volksbank muncul tahun 1919 (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 12-03-1919).
Afdeelingbank kini telah berubah nama menjadi Batangsche Volksbank (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-06-1920). Satu bank rakyat
muncul di (pulau) Bali yakni Balische Volksbank di Singaradja (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 21-07-1920). Bank rakyat muncul di Medan yakni Medansche Volksbank
(lihat De Preanger-bode, 20-01-1923).
pribumi paling tidak sudah eksis sejak 1920 di Pematang Siantar yaitu Bataksche
Bank. Volksbank (juga Afdeelingbank) yang digagas oleg De Wolff van Wesrerrode
di Poerwokerto tahun 1897 pada prinsipnya adalah bank pemerintah yang terdapat
di berbagai Afdeeling atau Residentie. Bataksche Bank dapat dikatakan sebagai
bank swasta pribumi pertama. Pada tahun 1929 muncul bank swasta yang diberi
nama Bank Nasional Indonesia (lihat De Sumatra post, 08-05-1929).
![]() |
| De Sumatra post, 08-05-1929 |
Nama Indonesia untuk
nama sebuah bank besar dugaan adalah bank swasta pribumi. Pendirian bank ini
disetujui pemerintah di Buitenzorg pada tanggal 8 Mei 1929 dengan nama NV Bank
Nasional Indonesia. Administratur Bank Nasional Indonesia diketahui bernama Soendjoto
(lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-05-1929).
Soerabaja. Terdapat 27 orang pendiri (lihat De Sumatra post, 24-06-1929).
Dantaranya terdapat terkenal yakni Dr. Soetomo, seorang dokter di Soerabaja dan
Raden Ngabei Soebroto, anggota dewan kota (Gementeraad) Soerabaja, Nama Soendjoto
juga termasuk sebagi pendiri, seorang arsitek yang tinggal di Soerabaja. Selain
itu juga terdapat nama Johau Frits Tuwanakotta, Hadji Zakaria dan Hadji Iljas. Pengurus
bank ini terdiri dari direktur )Hario Soejono), wakil direktur dan beberapa
orang sebagao komisaris termasuk Dr/ Soetomo. Dari nama-nama pendiri bank ini
didirikan sehubungan dengan didirikannya PPPKI di Batavia pada tahun 1927.
Boleh jadi bank ini adalah organ dari PPPKI.
Bond dan pemilik surat kabar Bintang Timoer di Batavia menggagas pendirian persatuan
untuk semua organisasi kebangsaan yang diberinama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan
Kebangsaan Indonesia, diangkat PPPKI. Hasil keputusan dalam rapat yang diadakan
pada bulan September 1927 di rumah Prof. Husein Djajadiningrat ditunjuk MH
Thamrin sebagai ketua dan Parada Harahap sebagai sekretaris. Menjelang kongres
PPPKI pada bulan September 1928 ditunjuk Dr. Soetomo sebagai ketua panitia
Hasil kongres PPPKI tersebut estafet (satu tahunan) ketua PPPKI terpilih adalah
Dr. Soetomo. Sebelum kongres PPPKI tahun 1929 di Solo Bank Nasional Indonesia
sudah didirikan. Oleh karena itu pendirian Bank Nasional Indonesia terkait
dengan keberadaan PPPKI.
meminjamkan uang dan untuk memberikan kredit. Untuk menyimpan uang atau surat
berharga berupa giro atau deposito atau sebaliknya, untuk menyediakan modal
kerja bagi perusahaan pertanian, industri atau perdagangan, untuk membeli dan
menjual. real estat, mengelola real estat, uang atau dana lain, dan melakukan
hal-hal perbankan seperti yang paling luas dapat dianggap milik bisnis
perbankan. NV memiliki modal awal sebesar f500.000 yang dibagi ke dalam tiga
jenis saham (seri A, B dan C) terdistribusi diantara 27 pendiri. Dua pemilik
saham terbesar adalah Soejono dan Dr. Soetmo masing-masing f25.000 dan f23.000.
tahun tahun pendiriannya tahun 1920 memiliki modal awal sebesar f100.000 yang dibagi
ke dalam saham enam orang. Pada tahun 1929 Bataksche Bank sudah berkembang
dengan beberapa cabang di kota lain. NV Bank Nasional Indonesia pada
pendiriannya tahun 1929 memiliki modal awal sebesar f500.000 yang terbagi ke
dalam saham 27 orang pendiri.
waktu semakin bertambah. Sebelum berakhirnya kolonial Belanda muncul nama beberapa
bank nasional antara lain Bank Moeslimin Indonesia (lihat De Sumatra post, 14-06-1941)
dan Bank Dgang dan Tani Indonesia (lihat De Indische courant, 25-08-1941). Boleh
jadi dua bank nasional ini yang terakhir didirikan selama era kolonial Belanda.
Agustus 1945 banyak hal yang terjadi. Ketika pemerintah Republik Indonesia
masih melakukan konsolidasi dari tangan pemerintahan militer (pendudukan (Jepang)
sudah mulai terasa ada ancaman dari pihak sekutu/Ingrris dan NICA/Belanda. Pada
situasi itu, di bidang perbankan pemerintah pada bulan November 1945 membentuk
Poesat Bank Indonesia (PBI) sebagai bank sentral. Namun pada awal tahun 1946
pemerintahan RI dipindahkan dari Djakarta ke Jogjakarta. Salah satu langkah
yang dilakukan adalah melakukan rekonstruksi Volksbank (bank rakyat) di era
kolonial Belanda yang pada era penduduk Jepang disebut Syomin Ginko pada bulan
Februari 1946 berganti nama menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI).
beberapa waktu lalu, Bank Rakjat Indonesia (Volksbank Indonesia) dibuka. Saat
ini memiliki tidak kurang dari 70 agen di Jawa dan Madoera dan mendukung Republik
dalam perjuangan, konstruksi (pembangunan) dan ekonomi’. [Sementara itu] ‘bank-bank
besar Belanda di Batavia dibuka kembali pada 14 Maret’.
permasalahan moneter di Jawa dan Mandoera. Di sisi lain juga mulai beroperasi
kembali bank Belanda di Batavia. Terputusnya hubungan antar Jawa dengan
pulau-pulau lain terutama Sumatra masalah moneter menjadi lebih rumit. Meski
demikian, pemerintah juga berupaya untuk mendirikan satu bank lagi yakni Bank
Negara yang juga akan berfungs sebagai bank sentral. Sementara RUU
perbankan lagi diproses, pemerintah telah membuat utang sebesar 1 Juta rupiah yang
mana sebanyak 200 Juta rupiah dialokasikan untuk modal Bank Negara.
![]() |
| Algemeen Handelsblad, 31-05-1946 |
Algemeen Handelsblad, 31-05-1946: ‘Majalah Republik ‘Rajat’
menyebutkan Poesat Bank Indonesia yang didirikan pada bulan November [1945],
sementara RUU bank negara akan segera diajukan sebagai rujukan. PBI menangani
masalah dengan pinjaman dua kali 500 juta rupiah. Bagian pertama yang mana 100 juta
dari 500 juta digunakan untuk menutupi defisit anggaran, 200 juta sebagai modal
untuk Bank Negara [Indonesia] yang akan didirikan dan 200 juta untuk pekerjaan
umum. Sedangkan bagian kedua akan ditempatkan di Sumatra’.
Indonesia (BNI). Salah satu langkah yang dilakukan segera oleh BNI adalah penentuan
kurs (valuta) dengan mata uang asing (lihat Nieuwe courant, 02-12-1946).
Disebutkan nilai tukar sebagai berikut: Engelsche pond 7 republ. guldens;
Australische pond 6 republ. guldens; Straits dollar 0.80 republ. guldens;
Indische rupee 0.50 republ. guldens; Amerikaansche dollar 1.50 republ. guldens.
Juga disebutkan bahwa bursa efek Indonesia akan segera dibuka di Djokjakarta.
Uang Republik sendiri belum ada. Penerbitan Uang Republik baru akan dilakukan
(lihat Algemeen Indisch dagblad, 04-02-1947).
kebijakan umum di bidang moneter, BRI sudah menunjukkan kinerja yang baik.
Pemerintah meminta perusahaan-perusahaan negara untuk membuka rekening di
daerah dimana terdapat BRI. Pembukaan rekening terutama untuk penyetoran
pendapatan perusahaan.
laporan resmi oleh komisi kredit Indonesia, lebih dari 16 juta rupiah
dipinjamkan kepada pemerintah dan perusahaan swasta di Jawa hingga akhir
Januari tahun ini, dalam bentuk pinjaman yang diberikan oleh berbagai lembaga
perbankan Indonesia. Jumlah terbesar diberikan oleh BRI (Volksbank) sebesar 9,9
Juta rupiah yang mana sebesar 8 Juta rupiah diberikan kepada lima perusahaan yang
digerakkan oleh negara (BUMN) dan sisanya untuk tiga perusahaan swasta. Sementara Bank Negara Indonesia (BNI)
meminjamkan sebesar 4 juta rupiah kepada tujuh perusahaan negara’.
Republik Indonesia (ORI), Bank Rakjat Indonesia (Volksbank) telah menawarkan
kepada penduduk baik di wilayah Republik maupun di wilayah pendudukan Belanda
untuk menukarkan uangnya dengan ORI. Langkah ini dilakukan untuk menghindari
kemungkinan beredarnya uang palsu (lihat Algemeen Indisch dagblad, 18-06-1947).
Dalam berbagai surat kabar Belanda Bank Rakjat Indonesia masih ditulis sebagai
Volksbank [Indonesia]. Dalam hubungan ini pemerintah [di Jogjakarta] telah mengangkat
Dr. Halim sebagai komisaris pemerintah republik di Batavia yang bertugas untuk
memantau dan meningkatkan nilai tukar uang republik.
mengumumkan bahwa pemerintah terpaksa menunggu karena kesulitan transportasi
dan untuk meningkatkan disana, bagaimanapun, pemerintah Republik telah
memasukkan ke dalam hukum di Sumatra untuk menerbitkan uang sendiri yang
disebut ORIPS (Oeang Republik Indonesia Propinsi Sumatra). Metode pembayaran
ini akan segera ditarik jika ORI asli telah ditransfer dari Jawa (lihat
Algemeen Indisch dagblad, 18-06-1947). Sehubungan dengan perihal perbankan di
Indonesia Dr. Soemitro [Djojohadikoesomo] telah menerbitkan buku berjudul Soal
Bank di Indonesia yang dapat dibeli di toko-toko buku seperti Toko Buku Pustaka
Rakjat di Batavia (Nieuwe courant, 13-12-1947).
Indonesia dibentuk yakni dengan mengoperasikan paling tidak 70 cabang yang
berada di wilayah Republik. Cabang-cabang ini merupakan Volksbank (atau Volkscrediet
Bank) pada era kolonial Belanda yang ditransformasi menjadi Syomin Ginko pada
era pendudukan (militer) Jepamg. Kantor pusat Volksbank (atau Volkscrediet
Bank) di era kolonial Belanda disebut Algemeene Volkscrediet Bank (AVB).
perundingan di Den Haag yang disebut Konferensi Meja Bundar (KMB). Salah satu
keputusan konferensi itu adalah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dengan
membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang akan dimulai pada
tanggal 27 Desember 1949.
Belanda terhadap kedaulatan Indonesia (baca: RIS) banyak hal yang harus
dikonsolidasikan, salah satunya adalah bidang perbankan. Pemerintah RIS dengan
Perdana Menteri Mohamad Hatta dengan kabinetnya mulai bekerja. Sehubungan
dengan keberadaan Bank Rakjat Indonesia (BRI) selama perang di Jogjakarta,
Pemerintah RIS di Djakarta membentuk Bank Rakjat Republiek Indonesia Serikat atau
disingkat BARRIS (lihat Nieuwe courant, 31-01-1950). Bank BARRIS ini disebut mengacu
kepada Algemeene Volkscrediet Bank (AVB) yang sudah eksis di era kolonoal
Belanda. Bank BARRIS ini mulai beroperasi pada tanggal 21 Januari 1950 (lihat De
locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-02-1950).
kepada mereka jang pernah bekerdja pada bank-bank rakjat (volkscredietwezen)
baik pegawai, pimpinan maupun pegawai lain-lainnja untuk dipekerdjakan pada bank
BARRIS di seluruh Indonesia. Jang bersangkutan dan djuga para non-coöperator
diminta selekas mungkin mengajukan lamaran (dengan surat atau datang sendiri)
dengan Kantor Besar Bank Rakjat Indonesia Serikat di Djalan Rijswijk No. 8
Djakarta atau tjabang-tjabangnja. Tertanda. Direksi Bank Rakjat Indonesia
Serikat.
Jogjakarta Bank Rakjat Indonesia (BRI) tetap eksis (bank yang telah dibentuk
pada tahun 1946). BRI membuka cabang baru di Poerwokerto pada tanggal 1
Februari dan akan membuka cabang di Probolinggo dan Tjilatjap.
14-02-1950: ‘BRI dibuka. Bank Rakjat Indonesia secara resmi dibuka di Poerwokerto
pada 1 Februari dibawah kepemimpinan Tjiptoadinegoro. Juga di Poerbolinggo dan
Tjilatjap, BRI akan dibuka dalam waktu dekat ini’. Tiga cabang BRI ini berada
di wilayah Republik Indonesia. Sebagaimana diketahui RIS adalah gabungan Republik
Indonesia dan negara-negara federal (negara boneka bentukan Belanda).
yang diadakan di Soerabaja yang dihadiri oleh perwakilan staf Volkscrediet Bank
di Jawa Timur dan Madoera. Hasil pertemuan memutuskan sebuah resolusi yang
mensyaratkan agar kepemimpinan Volkscrediet Bank (Bank BARRIS) ditetapkan berada dibawah manajemen
Bank Rakjat Indonesia. di Djokjakarta. Disebutkan resolusi akan diberitahukan
kepada Menteri Kesejahteraan.(lihat De vrije pers : ochtendbulletin, 01-02-1950).
Volkscredletbank akan dimasukkan ke dalam manajemen Bank Rakjat Indonesia (RI)
mulai tanggal 1 April 1950. Keputusan diumumkan hari ini. Presiden Bank Rakjat Indonesia
(RI), Mr. M. Harso Adi juga menjadi Presiden Algemene Volkscredletbank (lihat Nieuwe
courant, 30-03-1950).
Setelah RIS dibubarkan pada bulan Agustus 1950 dan
kembali ke negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) nama bank BARRIS atau Algemene
Volkscredletbank menjadi lebur sepenuhnya menjadi bank BRI (Bank Rakjat
Indonesia) sesuai dengan nama yang digunakan ketika pemerintahan Republik
Indonesia berada di Jogjakarta. Nama Bank Rakjat Indonesia (BRI) tetap eksis
dan tidak pernah berubah lagi hingga ini hari.
sejarah pembentukan Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Indonesia (BI). Khusus
untuk Bank BNI pembentukannya baru dimulai pada tahun 1946 (sesuai rencana
pemerintah RI di Jogjakarta). Tepatnya Bank BNI didirikan sejak tanggal 5 Juli
1946. Sedangkan BI merupakan kelanjutan bank Javasche Bank (Java Bank). Bank
Java sendiri didirikan pada tahun 1928. Namun tahun kelahiran BI disebutkan
pada tanggal 1 Juli 1953 (setelah akuisisi Bank Java dan ditransfomasi menjadi
Bank Indonesia. Lantas mengapa Bank Indonesia tidak mengacu pendiriannya pada
tahun 1928? Itu satu hal, hal lain adalah tentang tahun pendirian Bank BRI.
awal tentang sejarah BRI yang sebenarnya. Kapan lahirnya BRI dan siapa
pendirinya. Setelah menelusuri semua dokumen dan data sejarah yang dideskripsikan
di atas, kita akan dengan mudah menentukan sejak kapan BRI lahir dan siapa
pendirinya. Dengan asumsi bahwa bank BRI yang sekarang adalah bank BARRIS, maka
bank BRI adalah kelanjutan dari bank Algemeene Volkscrediet Bank (AVB) di era
kolonial Belanda. Dari bank AVB ini ditarik garis lurus ke masa lampau maka
nama De Wolff van Westerrode akan menjadi tokoh tak terpisahkan dari kelahiran
Bank BRI.
Volkscrediet Bank (AVB). Bank AVB dalam hal ini jelas bukan Poerwokertosche
Hulp-,Spaar-en Landbouwcrediet- Bank yang dibentuk van Westerrode sendiri. Dan
juga bukan oleh E. Sieburgh dengan inisiatifnya membentuk Poerwokertosche
Hulp-en Spaarbank. Tentu saja bukan dengan nama yang sering dikaitkan pendiri
Bank BRI Raden Bei Aria Wirjaatmadja (baca: Wirja Atmadja).
secara sadar mempelajari dan mempraktekkan bank kredit pertanian yang juga
disebut bank untuk pribumi (bank rakyat alias Volksbank). Kebetulan introduksi
bank ala van Westerrode tepat berada di Poerwokerto. Model bank ala van
Westerrode inilah kemudian yang diadopsi Pemerintah Hindia Belanda dengan
melakukan percobaan di berbagai tempat di Jawa yang kemudian menjadi pemicu
pembentukan bank kredit untuk penduduk pribumi secara nasional. Sejumlah bank
percobaan di Jawa dan Madoera termasuk yang di Poerwokerto semakin diperkuat
pemerintah yang kemudian menjadi cabang bank pemerintah yang mana di Jawa dan
Madoera disebut Afdeelingbank dan di Sumatra disebut Volksbank. Manajemen
Afdeelingbank dan Volksbank berada di dalam satu pengawasan di pusat yang
disebut Algemeene Volkscrediet Bank (AVB).

Oleh karena Bank BRI merupakan gabungan Bank
BRI dan Bank BARRIS (Algemeene Volkscrediet Bank), maka Bank BRI tidak otomatis
dihubungkan dengan Poerwokertosche Hulp-Spaar-en Landbouwcrediet- Bank (De
Wolff van Westerrode) apalagi Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank (E. Sieburgh dan
Wirja Atmadja). Jika Bank Indonesia mengacu pada pembentukan Bank Indonesia
tahun 1953, maka dasar yang digunakan Bank BRI yang mengacu pada tahun 1893
jelas bertentangan dengan cara berpikir Bank Indonesia. Jika mengacu pada
pendirian Bank Indonesia, yang paling masuk akan tahun kelahiran Bank BRI
adalah pada tahun 1946 saat pendirian Bank BRI atau pada tahun 1950 pada saat
pendirian Bank BARRIS. Dengan demikian penentuan sejarah berdirinya Bank BRI
tidak dengan caranya sendiri apalagi dengan fakta sejarah yang tidak berdasar. Bank
Indonesia sendiri dalam hal ini tidak mengacu pada pendirian Bank Java pada
tahun 1928. Lantas mengapa Banl BRI harus merujuk pada nama Poerwokertosche
Hulp-en Spaarbank dan nama Wirja Atmadja? Disinilah duduk permasalahan tahun
kelahiran Bank BRI.
Demikianlah sejarah Bank Rakyat Indonesia sebenarnya.
Demikianlah cara menulis sejarah Indonesia berdasarkan fakta sejarah.









