STI di Djakarta didirikan tahun 1945, tetapi kemudian dipindahkan ke Jogjakarta lalu berkembang menjadi Universitas Islam Indonesia. Perpindahan ini dilakukan sehubungan
dengan pemindahan ibukota RI dari Djakarta ke Jojkakarta. Universitas Islam
Indonesia (UII) di Jogjakarta sendiri dibentuk tahun 1947. UII tidak hanya
fakultas agama Islam juga memiliki fakultas lain seperti fakultas ilmu sosial dan
fakultas ekonomi. Fakultas Ilmu Agama Islam di UII ini kemudian dipisahkan dan
dibentuk Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) menjadi cikal bakal dibentuknya
Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Pada masa ini IAIN dikembangkan kembali
menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
asal-usul pembentukan Sekolah Tinggi Islam di Padang? Pertanyaan ini tentu
masih menarik. Pertanyaan ini akan dikaitkan dengan keberadaan sekolah menengah
Islam di era kolonial Belanda dan perkembangan perguruan tinggi Islam
sesudahnya. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Padang, 1940
pembentukan Perguruan Tinggi Islam (Islamietische Hooge School) sudah muncul pada
sebuah konferensi (kongres) tahun 1940 di Jogjakarta (Het nieuws van den dag
voor Nederlandsch-Indie, 11-05-1938). Perguruan tinggi yang akan dididirikan di
Solo menampung para lulusan AMS. Disebutkan seorang terkemuka di Solo telah
menjanjikan sumbangan setidaknya NLG 10.000 untuk perguruan tinggi yang akan
didirikan di Solo. Gagasan ini mengemuka kembali pada tahun 1940 ketika
diadakan pertemuan publik di Solo (lihat Algemeen Handelsblad, 11-03-1940). Disebutkan
dalam pertemuan publik partai Islam ini, Dr. Satiman menyatakan bahwa menurut
anggota Volksraad Wiwoho, pemerintah bersedia berkontribusi pada biaya
pembelian gedung. Sunan bersedia menyediakan salah satu gedung pemerintah
sambil menunggu tersedianya bangunan yang pasti. Dimana perguruan tinggi ini didirikan
belum bisa diputuskan apakah di Solo atau Salatiga. Juga disebutkan pemerintah
siap untuk mendatangkan profesor yang dikaitkan dengan perguruan tinggi yang
ada Batavia. Dr. Poerbatjaraka dikatakan telah setuju untuk menyerahkan
perpustakaan pribadinya ke perguruan tinggi baru.
Indonesia) perguruan tinggi (Hoogeschool) baru terdapat di beberapa kota
seperti di Batavia (Recht Hoogeschool, Geneeskundige Hoogeschhool), di Bandoeng (Technische Hoogeschool) dan di
Buitenzorg (Nederlandsch Indie Veeartsen School).
gagasan tetaplah gagasan. Keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam (Pesantrèn
Loehoer) di Solo tidak pernah terwujud. Sebaliknya di Padang Persatoean Goeroe-Goeroe
Agama Islam, setelah berhasil mendirikan sekolah menengah Islam (Islamietische
Middlebare Scholen) kembali berinisiatif untuk mendirikan perguruan tinggi
Islam ((Islamietische Hooge School). Inisiatif ini segera terlaksana (lihat De
Sumatra post, 13-12-1940). Inisiatif ini didasarkan fakta bahwa Hindia Belanda
(baca: Indonesia) memiliki populasi Islam sebanyak 50 juta jiwa dan bagi siswa
yang ingin melanjutkan studi Islam harus ke luar negeri. Disebutkan pada tahun
pertama ini jumlah mahasiswa terdaftar sebanyak 15 orang.
Perpatih Baringek (sekretaris Minangkabauraad), Abdoel Moeloek (kepala sekolah
HIS), Mahmoed Joenoes (mantan Normaal Islam School), Aboe Bakaar Djaar
(advocaat), Sjech Ibrahim Moesa (guru agama), Mochtar Jahja (mantan direktur
Islamic College) dan Husein Jahja (direktur Normaal Islam School). Komite ini
diketuai oleh Abdoel Madjid Sidi Soetan. Untuk staf dosen antara lain Mahmoed
Joenoes, Sjech Ibrahim Moesa, Salih Djafaar dan SM Latief.
menyebabkan rencana pendirian perguruan tinggi Islam di Solo tidak terwujud
tidak diketahui secara jelas. Apa yang menyebabkan inisiatif pendirian
perguruan tinggi Islam di Padang segera terwujud? Boleh jadi inisiatif di
Padang muncul karena melihat rencana di Solo tidak jalan. Inisiatif di Padang
ini boleh jadi karena sudah ada sekolah-sekolah Islam di West Sumatra seperti Normaal Islam School (sekolah
guru agama Islam); Islamic College dan sebagainya. Namun tidak itu saja. Sekolah-sekolah
agama di Sumatra, khususnya di West Sumatra diketahui sudah sejak lama
terhubung dengan alumni-alumni Al-Azhar di Cairo, Mesir.
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 21-12-1925 |
Abdul Azis Nasution gelar Soetan
Kenaikan mendirikan sekolah pertanian swasta di Loeboeksikaping, Pasaman. Sekolah
pertanian ini kurikulumnya mengintegrasikan pendidikan pertanian, pendidikan
agama dan praktek dengan sistem asrama. Orang Belanda menyebutnya sebagai
Mohammedaansch Lyceum. Guru-guru pertanian direkrut dari Sekolah Pertanian
Bogor sedangkan guru-guru agama dari
Universitas Al Azhar di Kairo (lihat Bataviaasch nieuwsblad,
21-12-1925). Disebutkan jumlah keseluruhan siswa ada sebanyak 55 siswa, yang
berasal dari Bengkulu, Palembang, Aceh, Lampoengsche serta dari
afdeeling-afdeeling Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Weskust) dan Pantai Timur
Sumatra (Sumatra’s Ooskut). Disebutkan kurikulum tidak berbeda dengan kurukulum
Normaalschool. Beberapa pelajaran seperti botani, zoologi, fisika, geografi,
aritmatika, bahasa Melayu, sejarah umum Hindia, geometri dan menggambar, diluar
kimia, pengetahuan tentang penyakit tanaman, pengetahuan tentang penyakit
peternakan dan ternak, geologi, ekonomi, survei, pertolongan kesehatan,
pertanian teoritis dan praktis, dengan budidaya tertentu seperti kopi, karet, kelapa,
kakao, padi, kentang, vanili, jagong,
dll. Untuk kelas pertama diajarkan bahasa Arab dan sebagai dasar untuk
pengetahuan Islam. Dalam pendidikan agama kelas dua pendidikan agama sudah
advance. Juga kurikulum mencakup bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Catatan: Abdul
Azis Nasution gelar Soetan Kenaikan adalah alumni Lanbouw Middlebare School di
Buitenzorg tahun 1914. Pernah menjadi kepala sekolah pertanian, setelah pensiun
mendirikan sekolah pertanian Mohammedaansch Lyceum di Lubuk Sikaping, Pasaman.
pendudukan Jepang tidak terdeteksi adanya perguruan tinggi Islam. Boleh jadi
Perguruan Tinggi Islam di Padang telah ditutup. Demikian juga pasca proklamsi
Kemerdekaan Indonesia tidak terdeteksi perguruan tinggi Islam. Baru pada tahun
1948 diberitakan bahwa Universitas Islam Indonesia telah dibuka (lihat De
Heerenveensche koerier: onafhankelijk dagblad voor Midden-Zuid-Oost-Friesland en
Noord-Overijssel, 19-05-1948). Disebutkan bahwa hari Senin sore (17 Mei 1948)
Universitas Islam Indonesia secara resmi dibuka di Djokjakarta (pembukaan versi
website UII sendiri tanggal 5 Juni 1948).
adalah kelanjutan dari bekas Perguruan Tinggi Islam (Islamitische hoogeschool)
di Batavia yang didirikan oleh beberapa pemimpin Islam, termasuk Mohamad Hatta.
Saat ini UII hanya empat fakultas, yaitu teologi (agama), hukum, ekonomi dan
pedagogi dengan 170 mahsiswa dan 30 orang dosen yang dipimpin oleh H
Abdoelkahar Muzakkir.
universitas Islam di Jogjakarta sudah berdiri perguruan tinggi Islam di
Djakarta. Sebagaimana diketahui selain pemerintah RI juga para pemimpin Islam
di Djakarta turut pindah ke Jogjakarta sehubungan dengan tidak kondusifnya
Djakarta sebagai ibukota RI. Ini terjadi pada awal tahun 1946. Di Djakarta
pasukan militer Belanda/NICA semakin menguat dan perlawanan tentara rakyat
semakin gencar.
melalui Menteri Pendidikan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia
menginstruksikan pembentukan sebuah universitas di Jogjakarta. Universitas yang
dibentuk baru ini disebut Universitas Gadjah Mada dan diresmikan pada
tanggal 3 Maret 1946. Beberapa waktu kemudian dari partai Islam menyusul
melakukan pembentukan universitas Islam yang disebut Universitas Islam Indonesia
sebagaimana disebut di atas yang dibuka pada bulan Mei 1948.
Jogjakarta melakukan merger dengan Perguruan Tinggi Islam Indonesia di Solo
pada bulan Maret 1951 (lihat De nieuwsgier, 06-03-1951). Disebut bahwa kemarin
(Senin 5 Mei) di Solo dilakukan merger secara resmi yang dihadiri Menteri
Pendidikan Bahder Djohan, Menteri Agama Wahid Hasjim dan Menteri Kehakiman
Wongsonegoro. Juga disebutkan pada waktu yang sama fakultas hukum dibuka.
Mada di Jogjakarta dan Universitas Indonesia di Djakarta. Universitas Indonesia
memiliki sejumlah fakultas yang berada di berbagai kota, selain di Djakarta
juga terdapat di Bandoeng, Bogor, Soerabaja dan Makassar. Universitas Gadjah
Mada juga memiliki cabang fakultas hukum di Soerabaja. Sedangkan Universitas
Islam Indonesia baru memiliki cabang di Solo.
Demikianlah sejarah awal perguruan tinggi Islam di
Indonesia dan sejarah awal Universitas Islam Indonesia. Wassalam
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.





