Pada fase berikutnya, para pedagang
Eropa/Belanda mulai merangsek dari Soeracarta ke Djocjocarta. Pada era VOC
pedagang juga merangkap sebagai (pejabat) pemerintah VOC. Para pedagang/pejabat
VOC ini tidak seperti pola pemukiman Arab dan Tionghoa, tetapi membangun logement
(loji), suatu bangunan luas yang dikelilingi tembok tinggi (bukan pagar seperti
kraton) yang di dalamnya terdapat sejumlah bangunan yang diperuntukkan untuk
kepala, gedung administrasi, gudang senjata, barak tentara, gudang perdagangan
(komoditi ekspor dan barang impor) dan barak tenaga kerja (pribumi dari tempat
lain), kandang kuda. Loji ini pada prinsipnya adalah benteng yang ada kalanya
di setiap sudut dibuat bastion. Di tengah-tengah benteng ini diperuntukan
sebagai lapangan yang digunakan untuk pelatihan militer atau titik kumpul evakuasi
manakala terjadi gempa.
dibangun. Yang jelas dibangun setelah pembangunan Kraton Jogjakarta dan setelah
terdapatnya pemukiman Tionghoa dan pemukiman Arab. Sebab pada dasarnya
pedagang-pedagang Arab dan Tionghoa adalah juga agen (pedagang) bagi pedagang
VOC/Belanda di loji (benteng). Lokasi dimana loji ini dibangun tepat berada di
sisi timur jalan ke utara dari pintu gerbang kraton. Logi ini kelak di era
Pemerintahan Hindia Belanda (pasca perang Pengeran Diponegoro) direnovasi
sehingga bentuknya menjadi seperti yang tampak sekarang.
![]() |
| Peta Aloon-aloon kraton dan masjid (1833) |
Pada tahun 1779 Sultan
membangun masjid di dalam area kraton. Oleh karena pedagang-pedagang Arab juga
adalah penyiar agama Islam, maka untuk mempertemukan kebutuhan penghuni di
dalam lingkungan kraton dengan pemukim di perkampoengan Kaoeman maka batas
pagar kraton diduga telah disesuaikan. Pagar kraton dimundurkan ke belakang
pohon beringin kembar, sementara area yang ditinggalkan pagar menjadi
aloon-aloon termasuk dua pohon beringin kembar. Posisi masjid ini terlihat
dengan posisi masih berada di area aloon-aloon yang bersinggungan dengan area
perkampoengan Kaoeman. Lingkungan masjid ini dipagar yang mana terdapat akses
(pintu) baik yang datangnya dari arah dalam kraton maupun dari arah
perkampoengan Kaoeman. Pembangunan masjid ini dimulai pada tanggal 29 Mei 1779. Pembangunan masjid ini diduga untuk
menggantikan langgar (musholah) baik yang terdapat di dalam kraton maupun di
perkampongan Kaoeman. Oleh karena itu kelak masjid ini disebut Masjid Gedhe
Kaoeman (masjid besar yang berada di dekat perkampongan Kaoeman).
terbentuk aloon-aloon, perkampongan Tionghoa tampak berada terpencil di sudut
aloon-aloon arah timur utara. Batas antara perkampongan Tionghoa dan loji yang
dibangun oleh VOC/Belanda terbentuk jalan (sebagai pemisah). Jalan ini kemudian
menjadi jalan besar yang memotong jalan utama dari arah kraton ke Toegoe.
Persimpangan jalan ini menjadi interchange baru. Lokasi logi menjadi berada di
hook persimpangan jalan yang terbentuk tersebut.
Belanda (setelah VOC dibubarkan) pada tahun 1800an awal, arus pendatang
pedagang-pedagang Tionghoa semakin tinggi. Pada era pendudukan Inggris
(1812-1816) perkampongan Tionghoa muncul di utara loji di dua sisi jalan
Kraton-Toegoe. Lalu pada era Pemerintahan Hindia Belanda (kembali setelah tahun
1816) Residen Docjocarta yang sebelumnya berada di Boeloe (dekat Toegoe ke arah
Magelang) dipindahkan ke depan loji/benteng. Pembangunan kantor Residen dimulai
dan renovasi besar-besaran terhadap loji dilakukan. Pada saat ini sudah mulai
mengkristal pedagang di dalam satu lokasi yang berdekatan dengan loji. Lokasi
pusat transaksi di luar loji ini secara perlahan terbentuk pasar (pasar yang
kelak dikenal sebagai Pasar Beringharjo). Semakin populernya pasar baru ini, Pasar
Gede (kini Kota Gede) semakin meredup.
(1825-1830) para pedagang Arab dan para pedagang Tionghoa mengungsi ke Soeracarta
dan Semarang. Setelah usai perang, dan situasi dan kondisi kondusif, para
pedagang Arab dan Tionghoa kembali lagi bermukim di perkampongan masing-masing.
Jumlah pendatang pedagangan Arab dan Tionghoa ini semakin banyak. Demikian juga
para investor Eropa/Belanda juga mulai berdatangan. Perkampongan Tionghoa yang
berada di sudut aloon-aloon kemudian direlokasi ke perkampongan Tionghoa di
dekat pasar. Eks perkampoengan Tionghoa yang dekat dengan aloon-aloon menjadi
pemukiman baru untuk orang Eropa/Belanda. Pemukiman orang-orang Eropa/Belanda
juga meluas ke belakang benteng (Fort Vredeburg) yang berdampingan dengan
barak-barak militer. Fort Vredeburg lambat laun hanya difungsikan sebagai
pertahanan (titik kumpul jika terjadi perang). Perkantoran pemeritah berkembang
di depan benteng atau sekitar Kantor Residen yang berpusat pada simpang empat.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.






