Yang
kelima itu yang terakhir
haji ke tanah suci
Islam sudah dijalani
tanda Islam sejati.
Kota
Surabaya ternyata juga memiliki riwayat musik yang cukup long long ago, bahkan
sejak era kolonial Belanda. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Satu hal bahwa pertumbuhan
dan perkembangan musik di Kota Surabaya hingga saat ini adalah garis continuum
dari masa lampau. Lantas, sejak kapan (demam) musik bermula di Surabaya dan
lalu bagaimana proses perkembangan selanjutnya hingga kita rasakan saat ini. Mari kita telusuri.
di masa doeloe, ada tiga kota di Nederlandsch Indie (baca: Indonesia) yang mana
komunitas musiknya (Muziek Verbond) kerap menggelar konser dengan mendatangkan
grup musik dari mancanegara. Tiga kota tersebut adalah Batavia, Soerabaja dan
Medan. Di tiga kota ini juga merupakan populasi orang-orang Eropa/Belanda cukup
banyak. Bandoeng dan Semarang juga aktif menggelar konser tetapi tidak seintens
tiga kota ini. Komunitas musik Bandoeng tidak sulit untuk menghadiri konser di
Batavia karena transportasi kereta api yang lancar. Hal ini juga dengan
Semarang yang tidak sulit ke Soerabaja.
Verbond (Asosiasi Musik)
setiap kota-kota utama (hoofdplaat) di Nederlandsche Indie umumnya sudah
terbentuk klub sosial (societeit). Di Batavia ada dua klub sosial terkenal:
Societeteit Harmonie dan Socienteit Concordia. Di Soerabaja juga ada dua klub
sosial: Harmonie dan Concordia. Di Bandoeng hanya ada satu klub sosial yakni
Societeit Concordia di Bragaweg. Sedangkan di Medan ada dua klub sosial, yang
terkenal hanya Societeit De Witte. Klub-klub sosial ini umumnya memiliki klub
olahraga (sport) seperti voetbal, pacuan kuda, catur. Namun hanya klub-klub di
kota besar seperti Batavia, Soerabaja, Medan, Bandoeng dan Semarang yang
terinformasikan memiliki klub musik (Muziek Verbond).
pertama yang didirikan adalah Societeit Harminie (1817) di Batavia. Lalu
kemudian muncul klub militer bernama Societeit Concordia. Setelah itu menyusul
di Padang (1837). Di kota-kota lainnya, seperti Soerabaja, Bandoeng, Semarang
dan Makassar muncul sekitar tahun 1860an. Klub sosial di Kota Medan baru muncul
pada awal tahun 1880an. Klub sosial ini adalah badan hukum yang memiliki
AD/ART. Program pertama klub-klub sosial ini adalah untuk memiliki gedung
sendiri. Gedung milik societeit itulah kemudian berkembang dari awalnya pusat
pertemuan dikembangkan untuk bisa menyelanggarakan konser. Di Bandoeng sudah memiliki
gedung concert sendiri namanya Braga yang kebetulan berada tidak jauh dari
societeit (dari sinilah munculnya nama jalan Braga, gedung konsernya lebih
terkenal dari societeitnya sendiri).
awalnya, setiap ada acara khusus (keramaian) yang diselenggarakan di lingkungan
klub sosial, klub-klub sosial hanya bisa mengundang grup musik militer untuk
berpartisipasi. Memang di cafe(-cafe) tertentu memang ada menyediakan live
music, namun untuk kapasitas tampil di panggung atau di keramaian kurang memadai.
Agak sedikit beruntung klub sosial di Medan yang bisa sewaktu-waktu dapat mengundang
grup musik, Manila Band yang berbasis di Semenanjung, wilayah Inggris (Penang,
Malaka dan Singapoera). Grup musik Manila Band hanya berskala regional, dan
tentu saja kurang laku di kota-kota di Jawa.
![]() |
| Grup musik instrumen alat tiup di Sipirok, 1890 |
Di kalangan penduduk lokal (pribumi) grup
musik modern justru kali pertama ditemukan di Sipirok, Tapanuli. Pada tahun
1880 sudah ditemukan grup musik yang menggunakan alat-alat musik modern seperti
tamborin, seksofon, trompet. Yang mengintroduksi (peralatan) musik modern ini
diduga adalah para misionaris Jerman yang tengah melakukan misi di wilayah
Silindoeng dan Toba. Memang pembentukan grup musik ini bukan untuk tujuan
keperluan (di dalam) gereja tetapi suatu introduksi musik baru di tengah
masyarakat umum, yang diduga cara tepat untuk mengeliminasi musik (orkestra)
gondang yang dianggap para misionaris (yang bernuansa dan memiliki rtimik) peninggalan
pemujaan terhadap kepercayaan kuno. Sipirok adalah kota kecil mayoritas Islam di
utara Afdeeling Mandailing dan Angkola (baca: Tapanuli Selatan) yang menjadi
basis permulaan kristenisasi di wilayah Silindung dan Toba (baca: Tapanuli
Utara). Kota kecil ini adalah tempat kelahiran Nahum Situmorang tempat yang
diduga sebelum merantau ke Jawa sudah mengenal musik di Sipirok. Kota Sipirok
juga adalah kampung ayah dari Ismail Harahap (Kakek dari Andalas Datu Oloan Harahap alias Ucok AKA Harahap)..
musik yang dimainkan oleh Militaire Muziek masih dominan di acara-acara besar,
pada awal tahun 1870 sudah mulai ada konser musik dengan kedatangan
pemusik-pemusik dari Eropa (umumnya Eropa Timur dan Italia) yang datang ke
Jawa. Di Semarang kedatangan concert van Mm. Mendelssohn en Signor Orlandini
(lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-04-1878). Di
Soerabaja kedatangan pemusik dan artis dari Italia (De locomotief: Samarangsch
handels- en advertentie-blad, 21-09-1878). Besar kemungkinan tiga kota besar di
pantai utara Jawa (Batavia, Semarang dan Soerabaja) kedua grup musik
mancanegara ini mengunjunginya. Grup musik militer juga masih mendapat tempat yang
digelar di Concordia dengan berbagai variasi musik yang dimainkan termasuk
musik klasik (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 04-01-1879).
![]() |
| De locomotief, 13-11-1879 |
Surat kabar di
Nederlandsc Indie juga terus melansir berbagai analisis-analisis musik di
Belanda. Sebagai contoh Bataviaasch handelsblad, 24-01-1879 mengulas
konser-konser di Belanda seperti pemain biola JJ Koert yang melakukan konser
musik klasik dibandingkan dengan pemusik klasik ternama dari Italia dan Jerman.
Ini mengindikasikan bahwa surat kabar juga terus menambah pengetahuan musik
para penikmat musik di klub-klub musik di Jawa. Untuk sekadar diketahui,
penikmat-penikmat musik di Jawa cukup banyak dari kalangan orang kaya, para
pengusaha dan pejabat-pejabat. Pengusaha-pengusaha di Jawa yang bermukim di
Batavia, Semarang dan Soerabaya tidak kalah dengan kekayaan pengusaha-pengusaha
di Eropa. Oleh karenanya pengusaha-pengusaha ini lewat klub musik di Sociteit
tidak akan kesulitan mendatangkan pemusik dari Eropa. Dan tentu saja para
pemusik-pemusik Eropa ini sangat antusias datang karena musik adalah musik,
selagi peminatnya masih ada sekalipun jauh ke nagara-negara di timur. Ada
tantangan bagi mereka yang datang jauh naik kapal layar ke negeri jauh.
Kombinasi inilah, pemusik yang tertantang dan audiens yang kaya raya bertemu di
gedung konser. Pertemuan ini semakin memperkaya apresiasi musik di kalangan
peminat dan penikmat musik baik di Batavia, Semarang maupun Soerabaja.
Konser-konser pemusik lokal di Batavia juga megutip tiket f2.4 entree per
persoon (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-11-1879).
Ini mengindikasikan bahwa pasar (industri) musik juga telah merambah kota-kota
di Jawa.
![]() |
| De locomotief, 20-02-1882 |
Musik
adalah mudah ditularkan. Hal ini karena mudah dinikmati dan dicerna telinga.
Penilaian (apresiasi) musik makin lama makin tinggi. Itu berarti masyarakat
musik juga berkembang seperti halnya di kota-kota di Jawa. Pada tahun 1881 di
Soerabaja, seorang guru musik dengan anak didik sebanyak 60 orang telah memulai
babak baru dengan memberanikan menggelar konser di Societeit (De locomotief:
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-02-1881). Ini mengindikasikan
bahwa stakeholder makin bertambah, tidak hanya penonton yang semakin antusias
dengan pemusik dari militer maupun pemusik yang didatangkan dari Eropa, tetapi
juga sudah muncul dari kalangan sekolah-sekolah musik (guru dan
murid-muridnya). Tentu saja itu tidak hanya di kalangan orang-orang Eropa,
tetapi juga termasuk di kalangan penduduk lokal yang mana orang-orang Jerman
telah mengintroduksi (alat-alat) musik modern di kalangan pemuda di Sipirok
(1880). Pada tahun 1882 di Batavia terdapat maklumat di surat kabar bahwa musik
sudah waktunya diintroduksi sebagai bagian dari kurikulum sekolah (De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 20-02-1882).
Gubernur Jenderal berkunjung ke Soerabaja. Untuk menyambut Gubernur Jenderal dan
memberikan kesempatan kepada warga untuk bertemu gubernur jenderal sekaligus
untuk datang menikmati musik, grup musik (konser) dari Batavia, Cecilia
didatangkan (lihat Soerabaijasch handelsblad, 20-07-1882). Apakah ini indikasi grup
musik militer sudah mendapat saingan dan kembali ke markas? Apakah grup musik
militer kembali ke habitatnya yang hanya terbatas di antara kebutuhan militer
seperti parade dan penyambutan tamu besar? Meski demikian, grup musik militer
di kota-kota lain terutama kota kecil grup musik militer masih dominan. Hal ini terlihat di Solo tahun 1884 dimana
diadakan konser musik di Societeit dalam satu pesta sehubungan dengan dibukanya
jalur kereta api Solo-Soerabaja (De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 27-05-1884).
tampak banyak cara untuk menghadirkan musik di dalam kota. Peran para anggota
komunitas musik (Muziek Verbond) tampak strategis. Musik hadir tidak hanya untuk
kebutuhan internal komunitas, tetapi juga berkolaborasi dengan pemerintah untuk
menghadirkan musik untuk memenuhi kebutuhan hiburan bagi warga. Hal yang
bersifat sinergis terjadi: komunitas musik sebagai penyelenggaran dapat meraih
keuntungan hasil penjualan karcis (setelah membayar kontrak para pemusik),
pemerintah setempat mendapat nilai pajak hiburan.
Surabaya, muncul satu grup pemusik dengan nama Trio Harlof, Maij en Naessens.
Mereka ini adalah orang-orang Belanda yang besar kemungkinan orang tua mereka
telah lama di Nederlandsch Indie. Mereka telah disebut sebagai musisi terkenal
Surabaya. Grup ini tidak hanya manggung di Surabaya, tetapi juga seperti di
Probolinggo (Soerabaijasch handelsblad, 18-03-1887); di Kediri (De locomotief:
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 24-05-1887); Bangkalan (Soerabaijasch
handelsblad, 08-03-1888); dan kota-kota lain.
![]() |
| De locomotief, 24-05-1887 |
Grup musik trio ini juga adakalanya disebut sebagai orkes
pimpinan Tuan Naessens. Setiap pagelaran yang mereka adakan dikutip bayaran
dengan tiga harga: f3 di depan, f2 di tengah dan f1 di belakang (festival) Â (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 18-08-1887).
yang mengiklan namanya sebagai W. Naessens sebagai seorang guru piano (Soerabaijasch
handelsblad, 09-01-1888). Tidak diketahui apa hubungan W. Naessens dengan
pimpinan orkes terkenal di Surabaya. Nama keluarga Naessens di Surabaya sudah
sejak lama menghilang dan baru muncul pada tahun 1891 dalam bentuk iklan (De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-12-1891). Disebutkan
dalam iklan tersebut W. Naessens & Co, sebuah perusahaan perdagangan yang
menjual piano dan alat-alat musik. Juga menerima reparasi piano dan alat-alat
musik dari merek terkenal. Diduga guru piano W. Naessens telah memperluas
profesinya di bidang perdagangan alat-alat musik.
![]() |
| De locomotief, 08-12-1891 |
Pada surat kabar yang sama juga ditemukan iklan Joh. Corsmit
& Co di Soerabaja, suatu pabrik piano dan organ. Piano terbuat dari kayu
jati dan jaminan selama lima tahun. Pabrik ini juga memproduksi harmonika, juga
sello dan guitar serta lainnya (De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 08-12-1891).
beroperasi, pada tahun 1893, W. Naessens & Co yang merupakan agen penjualan
piano pabrik Feurich di Leipzig mendapat lisensi untuk memproduksi piano dengan
bahan jati (De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 27-05-1893).
Disebutkan bahwa bahan jati ini lebih bagus dengan bahan kayu Eropa yang
diproduksi di Jerman. Pabrik piano W. Naessens & Co tampaknya akan bersaing
dengan pabrik piano Joh. Corsmit & Co di Soerabaja.
sesungguhnya telah menjadi kota industri musik (yang pertama di Nederlandsch
Indie). Kota Surabaya masih tetap mengundang musisi-musisi manca negara. Tentu
saja ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan musik warga dari grup musik
berkualitad dari Eropa. Di Kota Surabaya konsumen musik juga sudah berdampingan
dengan para produsen musik. Para penikmat musik di Kota Surabaya sudah memiliki
musisi-musisi sendiri (orkes/band). Selain itu, di Kota Surabaya bahkan tidak
hanya mudah menemukan instrumen musik di perdagangkan di toko-toko, juga telah
terdapat pabrik alat-alat musik (berkualitas Eropa/Jerman). Boleh jadi dari
kota Surabaya alat-alat musik (yang relatif lebih murah) di ekspor ke kota-kota
lain, termasuk ke kota kecil di Sipirok.
dari Mandailing dan Angkola sudah banyak yang merantau hingga ke Padang dan
Medan. Pada saat Medan masih kampung (1875), para pemuda  yang baru lulus sekolah dasar dari Mandailing,
Angkola dan Sipirok sudah banyak yang merantau dan bekerja di Medan sebagai
krani di perkebunan-perkebunan Eropa. Saat itu di Sumatra bagian Utara, sekolah
baru ada di Mandailing, Angkola dan Sipirok (sekolah dasar dimulai tahun 1850).
Pada tahun 1862 di Mandailing dan Angkola dibuka sekolah guru yang ketiga (yang
pertama di Soerakarta tahun 1851 dan yang kedua di Fort de Kock 1856). Beberapa
yang terkenal kemudian para pemuda ini adalah Ibrahim yang merantau ke Medan
tahun 1875 dan kemudian pada tahun 1900 diangkat sebagai kepala kampung pertama
di Medan. Pada tahun 1885 Soetan Goenoeng Toea seorang jaksa di Padang
Sidempoean diangkat sebagai jaksa pertama di Medan. Soetan Goenoeng Toea kelak
dikenal sebagai kakek dari Amir Sjarifoeddin Harahap (Perdana Menteri RI yang
kedua). Oleh karena sudah begitu banyak perantau-perantau Mandailing, Angkola
dan Sipirok di Medan, lalu tahun 1907 dibentuk Sjarikat Tapanoeli yang dipimpin
oleh Dja Endar Moeda (seorang mantan guru) dan wakilnya Sjech Ibrahim (kepala
kampung pertama di Medan). Sjarikat ini dibentuk untuk mengimbangi dominasi
pedagang-pedagang Tionghoa di Medan. Sjarikat Tapanoeli yang didirikan sebelum
Boedi Oetomo, menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Medan dengan nama
Pewarta Deli. Anak-anak Mandailing, Angkola dan Sipirok yang meneruskan
pendidikan, langsung BTL merantau ke Batavia dan Buitenzorg. Delapan mahasiswa
Docter Djawa School (cikal bakal STOVIA) yang lulus tahun 1905, salah satu
adalah Dr. Tjipto dan dua dari Padang Sidempoean. Mahasiswa-mahasiswa STOVIA
tahun 1908 mendirikan Boedi Oetomo yang dimotori oleg Soetomo. Salah satu teman
sekelas Soetomo adalah Radjamin Nasution (kelak menjadi Wali Kota Pertama
Soerabaya). Pada tahun 1909 seorang siswa asal Padang Sidempoean diterima
sebagai mahasiswa angkatan pertama di sekolah kedokteran hewan (Artsenschool)
di Buitenzorg bernama Sorip Tagor dan lulus tahun 1914 dan tahun 1916 melanjutkan
studi ke Belanda  (Sorip Tagor kelak
dikenal sebagai kakek dari Inez/Risty Tagor). Lalu pada saat pribumi pertama
kali diberi kesempatan untuk menjadi dewan kota (1918) di Medan, yang terpilih
pertama adalah Radja Goenoeng, seorang penilik sekolah di Medan, mantan guru dari
Padang Sidempoean. Di era inilah kakek Andalas Datu Oloan Harahap alias Ucok
AKA Harahap juga turut merantau ke Medan. Ayah Ucok AKA bernama Ismail Harahap
lahir di Medan tahun 1918. Pada tahun 1918, Parada Harahap, seorang mantan krani
di perkebunan membongkar kasus poenali sanctie (penyiksaan koeli kontrak di
perkebunan-perkebunan Belanda) dan menulis laporannya dan mengirim ke surat
kabar Benih Merdeka di Medan. Laporan ini menjadi heboh di Jawa karena berita
ini dilansir oleh surat kabar di Jawa Tengah, Soeara Dajawa. Parada Harahap
lalu dipecat dan diusir dari Medan (dan pulang kampung ke Padang Sidempoean).
Di Padang Sidempoean malah tidak jera dengan polisi Belanda, justru mendirikan
surat kabar Sinar Merdeka tahun 1919 di Padang Sidempoean. Oleh karena beberapa
kali dipenjara di Padang Sidempoean, pada tahun 1923 Parada Harahap merantau ke
Batavia dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia.
Sementara pemusik-pemusik Eropa/Belanda tumbuh dan
berkembang di Soerabaja, Semarang dan Batavia, pemuda-pemuda pribumi juga
banyak yang mulai menggemari musik. Selain musik sudah menjadi bagian dari
hiburan di kota-kota di Jawa, utamanya di Surabaya, alat-alat musik juga
semakin mudah ditemukan dan harganya juga semakin terjangkau. Salah satu pemuda
yang piawai dalam memainkan musik ini adalah Wage Rudolf Supratman yang memulai
pengalaman musik di Semarang dan kemudian merantau ke Bandoeng.
Tunggu deskripsi lengkapnya
oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.










