kota-kota di Indonesia, nama Francois Valentjn tidak bisa diabaikan.
Tulisan-tulisannya sangat kaya dengan deskripsi tentang situasi dan kondisi
kota sejak awal, termasuk Kota Makassar. Keutamaan tulisan-tulisan Francois
Valentjn karena memberi gambaran yang rinci dan lengkap. Hal ini karena
Francois Valentjn memiliki akses terhadap dokumen-dokumen VOC, juga
memanfaatkan Daghregister, jurnal harian Casteel Batavia. Aroe Palakka yang
berkuasa setelah perjanjian Bongaja (1667) juga diduga menjadi narasumber Francois
Valentjn.
![]() |
| Buku Francois Valentijn, 1726 |
Buku Francois Valentjn yang terkenal adalah Oud en nieuw Oost-Indiën.
Buku ini terdiri dari lima volume. Buku Oud en nieuw Oost-Indiën mendeskripsikan
berbagai tempat di masa lampau. Volume 1-2 diterbitkan tahun 1724 dan volume
3-5 diterbitkan tahun 1726. Volume 1 (part 1 Nederlands mogentheid, part 2 Moluccos).
Volume 2 (Amboina); Volume 3 (Part 1 Amboina: Boomen, planten, dieren, etc. van
Amboina; part 2 Banda, Solor en Timor. Macassaar, Borneo, Bali, Tonkin, Cambodia
dan Siam). Volume 4, part 1. Java. Bantam. Batavia; part 2. Javaansche, Suratte,
Groote Mogols, Tsjina, Tayouan of Formosa); Volume 5 (part 1. Pegu, Arrakan,
Bengale, Mocha, Malakka, Sumatra, Ceylon; part 2 Malabar Handel in Japan, goede
Hoope dan Eiland Mauritius).
Makassar oleh Francois Valentjn dimulai sejak era Portugis, lalu dilanjutkan
awal kedatangan orang-orang Belanda dan era VOC. Francois Valentjn juga
mendeskripsikan dengan baik tentang kota Samboepo [Sombaopoe]. Francois Valentjn telah mengantarkan memori kita untuk memutar jarum jam
kembali ke masa lampau, sejak awal mulai Kota Makassar dikenal dan eksis hingga
ini hari.
Valentjn ini sudah diumumkan pada tahun 1723. Pemberitahuan ini diumumkan
sebagai iklan pada surat kabar Oprechte Haerlemsche courant, 25-02-1723.
Disebutkan di Dordrecht oleh Johannes van Braam dan di Amsterdam oleh Gerard Onderdelindes
telah mendistribusikan cetakan dalam ukuran folio yang dapat digunakan sebagai
referensi tentang Oost Indie yang terdiri dari Amboina, Banda dan lainnya.,
Francois Valentjn, Pionir Penulisan Sejarah Makassar
![]() |
| Buku Francois Valentijn, 1726 (Bab Makassar) |
Meski bukan satu-satu, Francois
Valentjn, yang menulis tentang Makassar, tetapi Francois Valentjn
mendeskripsikan Makassar secara lengkap dan detail. Disinilah keutamaan Francois
Valentjn dalam memberi kontribusi tentang sejarah Makassar. Dalam deskripsi tentang
Makassar ini, Francois Valentjn menyalin secara utuh isi perjanjian Bongaja.
Isi perjanjian Bongaja yang selama ini beredar hanyalah ringkasan dari 30 butir
perjanjian tersebut. Memang ringkasan tersebut telah cukup untuk memahami hal
apa yang penting tentang yang diperjanjikan, namun tidak cukup untuk
menjelaskan situasi dan kondisi keseluruhan yang diperjanjikan. Isi lengkap
perjanjian Bongaja menjadi penting untuk bahan tentang penulisan Kota Makassar.
![]() |
| Salinan Perjanjian Bongaja secara lengkap |
Francois Valentjn lahir di Dordrecht, tanggal 17 April 1666. Pada umur 19
memulai kerja dengan VOC di Oost Indie. Francois Valentjn kembali ke Belanda
selama 10 tahun sebelum kembali lagi ke Oost Indie pada tahun 1705. Francois
Valentjn juga termasuk ikut ekspedisi ke Oost Java. Francois Valentjn kembali
ke kampung halamannya Dordrecht dan mulai menulis dan menerbitkan serial Oud en
nieuw Oost-Indiën (1724-1726). Pada tahun 1727 Francois Valentjn meninggal di
Den Haag.
![]() |
| Somboepo [Sombaopoe], 1636 |
sejumlah lukisan, lukisan yang bersifat naturalis. Lukisan-lukisan yang
disajikan dalam dekskripsi tentang Makassar tampaknya mencerminkan keadaan yang
sebenarnya jika dibandingkan dengan lukisan-lukisan di buku lainnya. Lukisan
lanskap Makassar seperi Somboepo [Sombaopoe] terlihat alamiah (mempertimbangkan
ukuran dan kontur dalam lukisan). Salah satu lukisan masih terlihat bertarikh
1636. Boleh jadi ini adalah lukisan tertua tentang salah satu titik di pantai
Makassar.
berada di Maluku tahun 1685, tahun yang begitu dekat penandatanganan perjanjian
Bongaja (perang sebelum dan sesudah 1667). Apa yang menjadi memori kolektif
saat itu masih mudah digali oleh Francois Valentyn. Oleh karenanya dalam
volumenya tentang Makassar, Francois Valentyn mendeskripsikan dengan detail
tentang tahapan-tahapan perang sebelum Bongaja Contract maupun sesudahnya. Hal
yang penting Francois Valentyn diduga masih bertemu dengan Aroe Palakka
(sebagai nara sumber?). Sebagai pejabat VOC, Francois Valentyn tidak hanya
memiliki akses ke dokumen-dokumen lama dan baru VOC tetapi juga telah
memanfaatkan Daghregiste (catatan hari Casteel Batavia).
telah membaca sejumlah warisan kerajaan/kesultanan Gowa melalui dokumen
(aksara) lontara. Oleh karenanya, Francois Valentyn juga tidak mengabaikan
bagaimana proses awal masuknya Islam di Macassar yang didahului oleh
orang-orang Moor (yang basisnya cukup menyebar mulai dari Sumatra dan Jawa).
Lalu kemudian pada tahun 1605 muncul Datuk Bendang seorang Melayu Cotatengah
dari Sumatra (Westkust) yang melanjutkan syiar Islam.
orang-orang dari Laut Tengah yang beragama Islam yang banyak ditemukan di
pesisir utara Afrika dan selatan Eropa. Orang-orang Moor adalah pelaut-pelaut
ulung dan pedagang-pedagangan yang menyatu dengan penduduk lokal di berbagai
tempat. Konon, orang-orang Moor (Bani Umaijjah) yang menyebarkan agama Islam ke
Eropa (Spanyol) di jaman lampau. Orang-orang Moor sangat intens memperkuat
kerajaan-kerajaan lokal di nusantara (terutama di Sumatra) termasuk munculnya
kesultanan-kesultanan di Atjeh. Kerjaan-kerajaan di sepanjang pantai barat
Celebes menurut Francois Valentyn adalah subyek orang-orang Moor (Sunnijh).
penulis-penulis sedudahnya dan diterbitkan oleh sejumlah penerbitan di Eropa.
Penulis-penulis sejarah Oost Indie di abad ke-18 dan ke-19 secara masif telah
mengutip dekripsi Francois Valentyn, namun penulis-penulis di abad ke-20 seakan
merujuk pada penulis-penulis abad sebelumnya, sehingga penulis-penulis sejarah
Oost Indie termasuk sejarah Celebes dan khususnya Macassar secara perlahan terkubur.
Padahal sejatinya, Francois Valentyn yang memulai itu semua. Itulah nama
Francois Valentyn, seorang pionir penulis sejarah Makassar yang namanya
terlupakan.
Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang
digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan
peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena
saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber
primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi
karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang
disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan
kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.









