Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Mahasiswa (3): Guru-Guru Muda Studi ke Belanda,Peningkatan Kualitas Guru dan Sekolah; Tan Tjoen Liang – Oei Jan Lee

Tempo Doelo by Tempo Doelo
06.08.2023
Reading Time: 28 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Mahasiswa dalam blog ini Klik Disini

Siapa
Tan Tjoen Liang dan Oei Jan Lee? Mereka berdua berangkat studi ke Belanda
semasa Pemerintah Hindia Belanda tengah memprioritas peningkatan kulaitas guru
dan sekolah pribumi dengan mengirim guru-guru pribumi ke Belanda untuk
mendapatkan akta guru. Itu dimulai dengan tiga guru muda pertama: Barnas Lubis,
Raden Seorono dan Raden Adi Sasmita. Sementara itu Tan Tjoen Liang dan Oei Jan
Lee studi ke Belanda atas inisiatif sendiri, seperti halnya yang dilakukan
sebelumnya oleh Willem Iskander dan Ismangoen Danoe Winoto.

 

Sebagai
kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan
sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah
dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertama di Nusantara pada
1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851.
Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru
yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru
Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari
kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan Melayu.
Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang. Setelah pendirian
sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di
Bukittinggi (Fort de Kock) 1856, Tanah Batu, Tapanuli 1864, yang kemudian
ditutup 1874, Tondano 1873, Ambon 1874, Probolinggo 1875, Banjarmasin 1875,
Makassar 1876, dan Padang Sidempuan 1879. Adanya perubahan kebijaksanaan
pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan
alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup di Magelang dan
Tondano 1875, Padang Sidempuan 1891, Banjarmasin 1893, dan Makassar 1895.
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah guru-guru muda studi ke
Belanda, upaya peningkatan kualitas guru dan sekolah? Seperti disebut di atas
tiga guru muda pertama
Barnas Lubis, Raden Seorono dan Raden Adi
Sasmita. Guru-guru muda juga diberikatan beasiswa oleh pemerintah. Sementara
itu, Tan Tjoen Liang dan Oei Jan
Lee atas inisiatif sendiri. Lalu bagaimana sejarah guru-guru muda studi ke
Belanda, upaya peningkatan kualitas guru dan sekolah? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja.

Guru-Guru Muda ke Belanda, Upaya Peningkatan Kualitas Guru
dan Sekolah; Tan Tjoen Liang dan Oei Jan Lee

Pemerintah Hindia Belanda kembali mengirim guru-guru
muda ke Belanda untuk studi keguruan. Ada tiga guru muda, yakni Raden Kamil,
Raden Soejoed dan Hamsah. Satu dari tiga guru muda sebelumnya yang dikirim, Raden
Ardi Sasmita masih di Belanda (dua yang lain telah meninggal dunia). Raden
Kamil, Raden Soejoed dan Hamasah di Belanda akan dididik di bawah pengawasan D
Hekker.


Raden Kamis, Raden Soejoed dan Hamsah berangkat ke Belanda dengan
menumpang kapal ss Koning der Nederlanden pada bulan Juni 1877 (lihat Algemeen
Handelsblad, 30-06-1877). Disebutkan kapal ss Koning der Nederlanden berangkat
dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland dimana terdapat nama penumpang Raden
Kamil, Raden Soejoed dan Hamsah. Dari puluhan penumpang hanya mereka bertiga
yang bernama non Eropa/Belanda.

Pada tahun 1878 Pemerintah
Hindia Belanda kembali mengirim dua guru muda untuk studi ke Belanda. Dua guru
muda tersebut adalah Jozias Ratulangi dan Elias Kandou. Mereka berdua berangkat
dengan kapal ss Prins van Oranje dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland
(lihat Bataviaasch handelsblad, 27-04-1878). Dari puluhan penumpang hanya
mereka bedua yang bernama non Eropa/Belanda.


Dalam dua tahun terakhir Pemerintah Hindia Belanda telah mengirim lima
guru muda untuk studi ke Belanda yakni Raden Kamil. Raden Soejoed, Hamsah,
Jozias Ratulangi dan Elias Kandou.
Dengan demikian di Belanda ada enam guru muda termasuk Raden Ardi Sasmita.

Pada tahun 1879 guru muda
Hamsah setelah beberapa lama di Belanda, dan belum menyelesaikan studi, kembali
ke tanah air (lihat Het vaderland, 14-04-1879). Disebutkan kapal st Amalia dari
Nieuwediep dengan tujuan akhir Batavia dimana di dalamnya terdapat penumpang
bernama S Hamsah. Dalam manifes kapal juga terdapat nama Mas Ardi Sasmita. Dari
puluhan penumpang hanya mereka berdua bernama non Eropa/Belanda.


Lantas mengapa Hamsah kembali ke tanah air. Tidak
terinformasikan. Raden
Ardi Sasnita berangkat ke Belanda tahun
1874
dan Hamsah berangkat tahun
1877
. Lalu
apakah
Raden Sasmita telah menyelsaikan
studinya?
Juga tidak terinformasikan.

Dengan kepulangan Hamsah dan
Mas Ardi Sasmita, guru muda yang meneruskan studi di Belanda
tinggal sebanyak empat orang, yakni
Raden Kamil, Soejoed, Jozias Ratulangi dan Elias Kandou. Pada tahun 1880 tiga
dari empat guru muda telah menyelesaikan studi (lihat Dagblad van Zuidholland
en ‘s Gravenhage, 10-11-1880). Disebutkan tiga dari empat pemuda pribumi yang
dilatih di Amsterdam baru saja lulus ujian untuk asisten guru dan akan segera
kembali ke Hindia Belanda. Guru muda yang keempat masih belum siap untuk
melakukan ujian.


Raden Kamil, Jozias Ratulangi dan Elias Kandou kembali ke tanah air pada
bulan Desember 1880 (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 06-12-1880). Disebutkan
dari Amsterdam tanggal 4 Desember berangkat dengan tujuan akhir Batavia kapal
ss Prins van Oranje dimana diantara penumpang terdapat nama Raden Kamil, Jozias
Ratulangi dan Elias Kandou. Dari puluhan penumpang hanya mereka bertiga nama
non Eropa/Belanda.
Tampaknya guru muda yang belum
menyelesaikan studi di Belanda adalah Raden Soejoed yang berasal dari Magelang.
Apa yang menyebabkan Raden Soejoed mengalami kesulitan dalam studi di Belanda.
Dua guru yang berasal dari Minahasa yang datang belakangan telah lulus di
Belanda. Apakah ada faktor non akademik yang mempengaruhinya?

Sementara itu Pemerintah Hindia
Belanda kembali mengirim tiga guru muda satu dari Residentie Padangsche
Benelanden dan dua dari Residentie Ambon. Namun yang terinformasikan dua guru
muda dari Ambon berangkat ke Belanda. Kedua guru dari Ambon tersebut adalah ME
Anakotta dan JH Wattimena berangkat tahun 1881 (lihat Het nieuws van den dag:
kleine courant, 16-09-1881). Disebutkan kapal ss Conrad dari Batavia menuju
Amsterdam pada tanggal 13 Agustus 1881 dimana terdapat dua penumpang bernama ME
Anakotta dan JH Wattimena. Dalam manifest kapal ini hanya mereka berdua dengan
nama non Eropa/Belanda.


Pada tahun 1881 sekolah guru yang ada di Hindia Belanda berada di
Magelang (suksesi Soeracarta), Fort de Kock. Tondano (didirkan 1873), Ambon
(didirikan 1874), Probolinggo (didirikan 1875), Banjarmasin (1875), Makassar
(1876) dan Padang Sidempuan (1879).
Hingga tahun 1881 tidak ada lagi guru muda yang dikirim ke Belanda. 

Pada tahun 1881 Oei Jan Lee melanjutkan studi ke
Belanda.
Oei Jan
Lee
 disebut terakhir sekolah HBS di Batavia (lulus
kelas tiga). Disebutkan
beberapa bulan yang lalu Oei Jan Lee dengan HBS
tiga tahun berangkat ke Leiden pada usia 19 untuk
studi (lihat Algemeen Handelsblad, 13-12-1881). Disebutkan surat pertama Oei Jan Lee dari
Belanda untuk orang tuanya di Bandaneira
telah diterima. Oei Jan Lee adalah orang Cina
yang pertama di Belanda
.


Pada tahun 1882 akhirnya Raden Soejoed berasal dari Magelang lulus
mendapat akta guru di Belanda (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 28-04-1882).
Disebutkan di Amsterdam 27 April lulus ujian guru diantaranya Raden Soejoed.

Pada tahun 1883 Tan Tjoen Liang lulus ujian akhir HBS
di KW III Batavia (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 19-07-1883). Tan Tjoen Liang adalah anak kapten Cina di
Buitenzorg (lihat De nieuwe vorstenlanden, 03-08-1883). Disebutkan anak kapiten
Cina di Buitenzorg. Tan Tjoen Liang akan berangkat ke Belanda dengan cita-cita
menjadi seorang insinyur. Pada bulan Agustus ini kapal ss Egeron berangkat
dengan sejumlah penumpang diantaranya Tan Tjoen Loang (lihat Bataviaasch
handelsblad, 13-08-1883).


Sementara Oei Jan Lee diketahui tengah mengikuti atau meneruskan sekolah
HBS di Belanda, juga diketahui teman Oei Jan Lee di HBS Batavia, Tan Tjioen
Liang sudah berada di Belanda (lihat Delftsche courant, 11-12-1883).

Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar Tjoen
Liang Tan, seorang Cina, putra kapten Cina di Buitenzorg.
Oei Jan Lee lulus ujian akhir
di Leiden (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 09-07-1884).
Disebutkan di Leiden ujian (ujian masuk perguruan tinggi) di Gymnasium
diantaranya Oei Jan Lee afdeeling a (bidang hukum).

 

Pada tahun 1884, JH Wattimena dikabarkan lulus sekolah guru di Amsterdam
dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad,  07-04-1884).
ME Anakotta tidak berumur
panjang, ME Anakotta meninggal selama pendidikan karena penyakit paru-paru di
Amsterdam.
Setelah semua urusan beres di Belanda, JH
Wattimena kembali ke tanah air. Dalam manifes kapal yang diberitakan Algemeen
Handelsblad,  06-09-1884 terdapat nama JH
Wattimena. Kapal Prins van Oranje yang ditumpangi JH Wattimena berangkat dari
Amsterdam menuju Batavia pada tanggal 6 September 1884. Sekali lagi, dalam
daftar penumpang ini tidak ada nama pribumi selain JH Wattimena.
 

Pada tahun 1885 Oei Jan Lee
lulus ujian kandidat di bidang hukum di Rjiksuniversiteit te Leiden (lihat Het
vaderland, 19-10-1885).
Oei Jan I.ee, putra Oei Soei
Tjoan, letnan Cina di Banda (Kepulauan Maluku)
. Oei Jan Lee diberitakan di Belanda telah
mengajukan diri untuk dinaturalisasi (lihat Bataviaasch nieuwsblad,
09-11-1886). Oei Jan Lee juga tinggal selangkah lagi untuk mendapat gelar
sarjana hukum (Mr).
Pada tahun 1887 Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi (overgangs-examen)
di Polytechnische School di Delft (lihat Delftsche courant, 15-06-1887).


Disebutkan sore ini di Polytechnische School di Delft diketahui hasil
ujian transisi berdasarkan art 61, art 62, art 63, art 64 dan art 65. Nama-nama
yang lulus ujian sarjana kedua (tweede gedeelte) art 64 (werktuigkundig
ingenieur) antara lain Tan Tjoen Liang. Sekitar 100 mahasiswa yang lulus ujian
transisi pada art yang berbeda-beda hanya Tan Tjoen Liang yang bernama non
Eropa/Belanda. Tan Tjoen Liang men
gambil jurusan insinyur mesin.

Oei Jan Lee akhir lulus ujian
dan mendapat gelar sarjana hukum (lihat Dagblad van Zuidholland en ‘s
Gravenhage, 15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas, lalu melanjutkan
studi ke tingkat doktoral. Pada bulan Januari 1889 Mr Oei Jan Lee meraih gelar
doktor bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche courant, 16-01-1889)
. Bagaimana dengan Tan Tjoen Liang?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tan Tjoen Liang dan Oei Jan Lee: Pendidikan Program
Sarjana dan Program Doktor

Oei Jan Lee di Belanda mendapat gelar sarjana hukum (1888) dan meraih gelar doktor bidang
hukum
(1889). Apa artinya? Di Belanda sudah ada orang non
Eropa/Belanda yang mampu meraih gelar sarjana dan bahkan doctor. Non
Eropa/Belanda yang dimaksudkan dalam hal ini berasal dari Hindia (baca: Indonesia).
Selama ini, di Hindia Belanda yang menyandang gelar sarjana dan doctor adalah
orang Eropa/Belanda. Sarjana-sarjana pertama Belanda yang bertugas di Hindia
adalah dokter (umumnya ditempatkan di garisun-garnisun militer).


Para sarjana di Hindia Belanda sejak awal yang terkenal diantaranya FW
Jungh Huhn, seorang sarjana geologi asal Jerman yang pada tahun 1840 ditugaskan
Gubernur Jenderal P Merkus melakukan ekspedisi ilmiah di Tanah Batak (Jung Huhn
kemudian ditugaskan di Jawa untuk ekspedisi gunung-gunung berapi). Dr PL Onnen,
seorang dokter di lingkungan militer (angkatan laut) yang memulaik kegiatan
pengukuran klimatologi dan geofisika. Pada tahu 1850 seorang sarjana yang baru
berhasil meraih gelar doktor di Belanda dikirim ke Hindia untuk melakukan studi
bahasa di Tanah Batak. Namanya NH van der Toek, PhD yang telah berhasil menyusun
kamus dan tata bahasa Batak (tata bahasa pertama di Hindia Belanda). Van der
Toek kemudian studi bahasa di Lampong dan terakhir di Bali. Pada tahun 1850 ini
juga di Batavia dibentuk himpunan para peminat ilmu pengetahuan alam di Batavia
dan menerbnitkan majalah/jurnal ilmu pengetahuan alam (lihat Algemeen
Handelsblad, 27-01-1851). Adapun pengurus perhimpunan ilmu alam di Hindia
Belanda ini antara lain berikut ini, yang sebagian besar sudah terkenal di
bidang ilmu pengetahuan, Dr P Bleeker; Dr JH Croockewit, Hz.; Corn. de Groot,
insinyur untuk industri pertambangan; PJ Maier, apoteker kelas satu di lab
kimia. di Batavia; Dr CM Schwaner (presiden perhimpunan) dan Dr C Swaving (seretaris
perhimpunan). Sebagai anggota kehormatan Teysman dari kebun raya Buitenzorg.
Yang akan menjadi kepala editor jurnal adalah Dr P Bleeker. Majalah/jurnal
pertama di Hindia Belanda adalah Tijdschrift voor Neèrlands Indie (terbit sejak
1838) dan pada tahun 1844 telah menambah suplemen yang khusus tentang Natuur-
en Geneeskundig Archief voor Nederlandsch Indie. Namun suplemen ini dihentikan
hingga kemudian muncul jurnal/majalah baru yang diterbitkan oleh perhimpunan. Pada
bulan April 1852 sekolah guru pribumi dibuka di Soerakata yang dipimpin oleh Dr.
Palmer van den Broek. Untuk asistennya direkrut JL Winter yang sudah lama di
Soerakarta sebagai pengajar bahasa Jawa di Java Instituut. Palmer van den Broek
sendiri baru tahun 1851 menyelesaikan studi doktornya di bidang teologi di
Groninger Hoogeschool (dan kemudian berangkat ke Hindia).

Meski sudah mulai banyak sarjana Belanda yang
bekerja di Hindia Belanda, tetapi jumlahnya masih terbilang sedikit dari yang
dibutuhkan. Tidak mudah mengirim sarjana dari Belanda ke Hindia, karena di
Belanda sendiri kebutuhan sarjana apalagi doctor masih kurang. Itu semua karena
perguruan tinggi di Belanda juga belum banyak, bahkan belum ada universitas,
yang ada adalah sejumlah sekolah tinggi (hoogeschool), akademi dan politeknik.
Untuk menjadi dosen di perguruan tinggi dengan pangkat professor (guru besar)
hanya didasarkan pada pengalaman (tidak harus memiliki gelar doctor). Para professor
membimbing kandidat doctor.


Untuk siswa-siswa Belanda di Hindia umumnya masih di sekolah dasar Eropa/Belanda
(ELS). Sekolah-sekolah ELS tersebut umumnya dikelola oleh pemerintah dan belum
ada sekolah menengah. Beberapa sekolah menengah yang ada dikelola oleh perorangan
atau swasta. Sekolah kedokteran pribumi yang dibuka 1851 (di Batavia di rumah
sakit militer) dan sekolah guru yang dibuka di Soerakarta secara teoritis dapat
dikatakan sekolah menengah. Sekolah menengah pemerintah baru dibuka pada tahun
1860 di Batavia (Koningin Willem III School). KWS ini awalnya hanya tiga tahun
(setara sekolah menengah pertama) dan kemudian ditingkatkan menjadi lima tahun
(HBS, yang dapat meneruskan studi ke perguruan tinggi di Belanda).

Sejak dibukanya HBS di Batavia, mulai terbuka
siswa-siswa Belanda di Hindia Belanda untuk melanjutkan studi ke perguruan
tinggi di Belanda. Babak baru dalam Pendidikan di Hindia Belanda. Pada tahun 1875
di Soerabaja dibuka sekolah HBS yang baru; yang kemudian disusul dengan pembukaan
sekolah HBS di Semarang pada tahun 1877. Siswa-siswa yang diterima di tiga HBS
yang ada adalah lulusan sekolah ELS. Dalam konteks inilah muncul nama Tan Tjoen
Liang dan Oei Jan Lee sebagaimana disebut di atas. Oei Jan Lee di Belanda mendapat
gelar sarjana hukum tahun 1888 dan gelar doctor tahun 1889.


De avondpost, 30-12-1896: ‘Menyusul keputusan
Gubernur Jenderal, menyamakan Tan Tjoen Liang, seorang Cina setara dengan orang
Eropa, majalah Insulinde baru-baru ini menyatakan: ‘’Pasti ada cukup alasan
untuk membuat orang Cina ini menjadi orang Eropa, seperti yang terjadi pada Oei
Jan Lee, pengacara yang memperoleh gelar doktor di Belanda.’ Memang, ada alasan
yang sangat memadai disini. Yakni, Insulinde menulis sebagai berikut: “Tan
belajar di Delft dengan dua langkah. Ia adalah putra mendiang kapten Cina di Buitenzorg,
Tan Goan Piauw. Setelah lulus ujian kandidat untuk insinyur mesin di Delft, dia
harus berhenti sekolah dan kembali ke Buitenzorg, dimana dia harus berperilaku
lagi sesuai dengan kebiasaan orang Cina. Setelah harta warisan pamannya Tan
Pauw dipisahkan, ia memiliki kekuatan untuk kembali ke Delft dan melanjutkan
studinya yang terhenti. “Dalam daftar terbaru dari nama-nama yang tergabung
‘Asosiasi Insinyur Sipil’ di Delft, yang berisi insinyur, lulusan Sekolah
Politeknik’, ditemukan (pada baris No. 911) bahwa pada tahun 1894 diploma
Insinyur Mesin diperoleh oleh Tan Tjoen Liang “.

Ismangoen Danoe Winoto, cucu Sultan Jogja yang berhasil
mendapat gelar diploma di akademi pemerintahan di Belanda pada tahun 1876, pendidikan
sekolah HBSnya yang menjadi syarat, diselesaikan di Belanda. Seperti disebutkan
di atas, Oei Jan Lee mengikuti Pendidikan HBS tiga tahun di KWS Batavia yang
kemudian melanjutkan HBS di Belanda dan Tan Tjoen Liang sendiri menyelesaikan
HBS lima tahun di KWS Batavia sebelum berangkat studi ke Belanda pada tahun 1883.


Tan Tjoen Liang sudah diketahui diterima di Polytechnische School di Delft tahun 1883. Pada tahun 1887 Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi (overgangs-examen) di
Polytechnische School di Delft (lihat Delftsche courant, 15-06-1887).
Namun setelah ini nama Tan Tjoen Liang menghilang, yang diduga kerena
ayahnya meninggal dan haru kembali ke Hindia di Buitenzorg. Setelah beberapa
tahun
Tan
Tjoen Liang
kembali ke Belanda untuk
menyelesaikan pendidikan di Delft dan berhasil menjadi insinyur mesin pada
tahun 1894.

Tan Tjoen Liang dan Oei Jan Lee  diterima di HBS (Batavia) seiring dengan
kebijakan Pemerintah Hindia Belanda dimungkinkan siswa non Eropa/Belanda
diterima di HBS (dengan kuota terbatas). Di HBS Semarang, Raden Mas Oetojo lulus
ujian akhir (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad,
08-06-1891). Disebutkan berita yang diterima dari surat kabar di Batavia, ujian
akhir HBS sebanyak empat siswa lulus dimana Raden Oetojo dengan nilai 119
sebagai rangking kedua.


Jika menghitung mundur lima tahun, jika dan hanya jika R Oetojo lancar studi,
besar kemungkinan Oetojo diterima di HBS Semarang tahun 1886. Bandingkan dengan
Oei Jan Lee lulus HBS di KWS Batavia tahun 1883. Sejauh yang dapat ditelusuri,
orang pribumi pertama yang sekolah di HBS adalah R Oetojo.

Pada saat Raden Oetojo lulus tahun 1891 di HBS
Semarang, pada tahun ini Raden Kartono diterima. Raden Kartono menyelesaikan
studi di HBS Semarang pada tahun 1896 dan kemudian langsung berangkat ke Belanda
dan diterima di
Polytechnische
School
di Delft.


Lembaga pendidikan di Belanda dan di Hindia Belanda berkembang dengan caranya
sendiri-sendiri, mulai dari sekolah menengah hingga bertransformasi menjadi
perguruan tinggi. Setelah berkembang Technische School dibentuk
Polytechnische School (di Delft) dimana nama-nama
Tan
Tjoen Liang
dan Raden Kartono).
Demikian juga dengan sekolah guru kweekschool di Belanda kemudian dibentuk
Rijskweekschool di Leiden (dimana nama Radjieoen Harahap gelar Soetan Casajangan).
Sekolah perdagangan (Handelschool) dengan dibentuknya Handelshoogeschool)
dimana nama Sjamsi Widagda. Di Delft
Polytechnische School ditingkatkan statusnya menjadi Technischehoogeschool te Delft. Di Wageningen
Landbouwschoool kemudian dibentuk Landbouwhoogeschhol; di Utreht sekolah
kedokteran hewan (Veeartsenchool) menjadi Veearsenhoogeschool (dimana nama Sorip
Tagor). Demikian seterusnya seperti Geneeskundigehoogeschool dan
Rechthoogeschool. Dalam konteks inilah kemudian di Belanda sejulah perguruan
tinggi (hoogeschool) disatukan membentuk universitas seperti Universiteit te
Amsterdam, Universiteit te Leiden, Universiteit te Delft. Idem dito di Hindia Belanda
sekolah guru (kweekschool) menjadi Hogere Kweekschool; sekolah kedokteran Docter
Djawa School di Batavia ke STOVIA (1902) dan NIAS (1915) dan
Geneeskundigeschool (GHS) tahun 1927, Rechtschool di Batavia sejak 1907 menjadi
Rechthoogeschool (RHS) tahun 1924; dan Techische School menjadi Technische Hoogeschool
di Bandoeng tahun 1920; serta Veeartsenschool di Buirtenzorg tahun 1907 menjadi
Ned. Indie, Veeartsen School tahun 1928. Sejumlah hoogeschool/faculteit yang
ada di Hindia Belanda pada tahun 1940 dibentuk Universiteit van Ned. Indie.   

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post
Sejarah Mahasiswa (4):Raden Kartono 1896 Lulus di HBS Semarang Studi ke Delft; RA Kartini dan “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Sejarah Mahasiswa (4):Raden Kartono 1896 Lulus di HBS Semarang Studi ke Delft; RA Kartini dan "Habis Gelap Terbitlah Terang"

Persiapan Belanda di Australia untuk merebut kembali Indonesia: Van Mook di Kamp Columbia (2)

Iklan

Recommended Stories

Resep Kakap Asam Manis Mudah Ala Resto

15.07.2015
Kenapa Harus Berteman dengan Orang Baik ?

Kejutan Cebu

30.07.2012

Kue Kering Untuk Lebaran & Natal

06.08.2008

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?