*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini
Banyak
sungai terkenal di pulau Kalimantan. Tiga yang paling terkenal sejak masa
lampau adalah Barito, Kapuas dan Mahakam. Sungai-sungai ini di wilayah muara
bercabang, cabang paling banyak adalah muara sungai Mahakam. Kota Samarinda
berada di daerah aliran sungai Mahakam. Tepatnya berada di belakang cabang-cabang
sungai tersebut. Apa yang menarik dengan itu? Bagaimana dengan kota Balikpapan
dan kota Tanjungselor?

Kota Samarinda: Penataan Ruang dan Simbol
Perkotaan. Ilham. Penelitian Kolaboratif antara Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)
Kaltim dan Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Hasanuddin Tahun 2022. Transformasi
perkotaan dalam penataan ruang mengalami fase menentukan seiring dengan
pemberlakuan Undang-undang Desentralisasi awal abad ke-20. Jalan perkotaan
dibangun seiring dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dan administrasi
kolonial dari Palaran ke pusat kota baru. Tatanan kota baru dipusatkan di
antara Sungai Karang Mumus dan Sungai Karang Asam Besar. Pusat pemukiman lama
di Samarinda Seberang juga tidak diperhatikan lagi dan sebuah kota baru yang identic
dengan kekuasaan kolonial Belanda dibangun dan dikembangkan. Kota baru tersebut
ingin menegaskan hanya ada satu pusat administrasi pemerintahan di Samarinda
dan tidak ada riwayat kekuasaan sebelumnya yang mendasarinya. Berdasar peta
wilayah Vierkante-Paal Samarinda tahun 1896, dasar kota baru dirancang di
antara kedua sungai tersebut dengan berpatokan pada alur sungai hingga ke
wilayah daratan. Tampak dalam peta ini satu jalur jalan tepat beberapa meter
dari pinggir sungai yang di sisi jalan tersebut terdapat pelabuhan, markas
tentara hingga kediaman Asisten Residen. (https://sejarah.unhas.ac.id/)
Lantas bagaimana sejarah tata kota ta di
Samarinda, Balikpapan dan Tanjungselor? Seperti disebut di atas, kota Samarinda
ibu kota provinsi Kalimantan Timur terbentuk di daerah aliran sungai Mahakam.
Suatu sungai dengan cabang banyak di muara. Sementara Tanjung Selor kini ibu
kota provinsi Kalimantan Utara. Sedangkan Balikpapan, kota besar yang terbilang
kota tua. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Samarinda, Balikpapan dan
Tanjungselor? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Tata Kota di Samarinda, Balikpapan dan Tanjungselor;
Daerah Aliran Sungai Mahakam di Kalimantan
Tunggu deskripsi lengkapnya
Daerah Aliran Sungai Mahakam di Kalimantan: Samarinda
Masa ke Masa
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






