Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Tata Kota Indonesia (20): Tata Kota Medan Tanah Deli di Tengah Perkebunan; Labuhan Kota Lama dan Medan Kota Baru

Tempo Doelo by Tempo Doelo
10.07.2023
Reading Time: 19 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Kota
Medan terbilang kota baru. Nama Medan adalah suatu kampong di hulu daerah
aliran sungai Deli dengan nama Medan Poetri. Di hilir sungai di muara eksis
kampong Labuhan. Saat mana Atjeh mengambil alih perdagangan di panati timur
Sumatra dari Siak Indrapura, radja Ismail bekerja sama dengan Belanda untuk
mengusir Atjeh dari Deli tahun 1863. Pada tahun 1865 planter Nienhuys membuka
perkebuna di Labuhan hingga akhirnya mencapai Medan Poetri. Pada tahun 1875
cabang pemerintahan di Deli dibentuk dengan menempatkan Controleur di Medan.


Secara keseluruhan tanah Deli terdiri tanah
liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Menurut
Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan di sana sini terutama
dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk. Pada tahun 1863
orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli. Sejak itu
perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi pusat pemerintahan. Pada
awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama “Medan
Putri”. Perkembangan Kampung “Medan Putri” tidak terlepas dari
posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai
Babura. Sultan Ismail di Riau s diserang oleh gerombolan Inggris dipimpin Adam
Wilson. Sultan Ismail meminta perlindungan pada Belanda. Sejak saat itu Belanda
menguasai Kesultanan Siak Sri Indrapura yang rajanya adalah Sultan Ismail. Pada
tanggal 1 Februari 1858 Sultan Ismail menandatangani perjanjian agar daerah
taklukan kerajaan Siak Sri Indrapura termasuk Deli, Langkat dan Serdang masuk
kekuasaan Belanda. Lalu tahun 1858 Elisa Netscher diangkat menjadi Residen. Netscher
dan Sultan Ismail secara politis menguasai daerah taklukan Kesultanan Siak
yakni Deli
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah tata kota Medan di
Deli di tengah perkebunan? Seperti disebut di atas, itu bermula pada tahun 1863
ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan di Labuhan dan
kemudian diperluas di Medan tahun 1875. Labuhan kota lama dan Medan kota baru. Lalu
bagaimana sejarah tata kota Medan di Deli di tengah perkebunan? Seperti kata
ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Tata Kota Medan di Deli di Tengah Perkebunan; Labuhan Kota
Lama dan Medan Kota Baru

Sejarah kota Medan dimulai di Labuhan. Ini bermula
ketika keluar Beslit No. 8 tanggal 21 Februari 1965, yang isinya: (a) disetujui
penempatan controleur di Siak, Laboean Batoe, Panei, Batoe Bara dan Deli untuk
melayani para kas houder (posthouder) di lanskap dimaksud yang akan berada
dibawah kas houder Afdeeling Siak (b) manajemen dan administrasi akan dilakukan
sesuai dengan Resolusi No 27 tanggal 29 Mei 1852. Dalam perkembangannya,
beberapa lanskap baru dibentuk dengan menempatkan controleur.


Pemerintah Hindia Belanda datang ke Sultan Siak dan membuat kesepakatan
pembentukan otoritas Belanda, pada 1 Februari 1858. Sejak itu wilayah Siak
(Riaouw) semakin meluas ke utara hingga ke Deli. Pada tahun 1864 di Rioauw
kepala pemerintahan dijalankan oleh seorang Residen, dan dibantu seorang
Asisten Residen di Siak Indrapoera. Sementara itu, di Deli pada tahun 1865
seorang swasta bernama Nienhuys memulai usaha sendiri di bidang perkebunan
tembakau. Ini berarti kehadiran Nienhuys bersamaan dengan kehadiran
pemerintahan kolonial Belanda (controleur) pertamakali di Deli. Hasilnya
memuaskan maka Neinhuys mendatangkan kuli Cina dari Penang yang awalnya
bejumlah 190 orang (lalu pada nantinya tahun 1869 telah berjumlah 900 orang).
Keberhasilan Neinhuys telah menarik minat investor lain dan melakukan bisnis
perkebunan yang sama di Deli. Controleur dan Sultan membuka pintu bagi investor
baru dari Eropa (tentu saja termasuk Belanda). Hasilnya langsung terasa:
investor di satu sisi membawa uang dan bersirkulasi dan keberhasilan
perusahaan-perusahaan yang invest telah mendongkrak ekonomi penduduk. Sultan
mendorong penduduknya menanam kelapa, buah-buahan dan sayur-sayuran. Selama
bertahun-tahun penduduk sangat tergantung pasokan dari luar untuk pakaian,
barang rumahtangga, makanan, beras dengan harga sangat mahal, kini harganya
menjadi lebih murah. Perputaran uang telah memicu berdatangannya
pedagang-pedagang Tionghoa dari pantai dan orang-orang Batak dari dataran
tinggi (bovenlanden) untuk menjual produk-produk surplus mereka. Lambat laun
kebutuhan sehari-hari penduduk makin tersedia dan untuk mengamankan kelebihan
pasokan dikirim ke Penang dan munculnya pelayaran reguler (Laboehan
Deli-Penang). Kebutuhan adanya dokter lokal (docter djawa school) semakin
mengemuka. Hasil perkebunan mulai terasa, harga tembakau Deli di Belanda sudah
mendapat harga yang memuaskan bahkan pada tahun 1869 volume ekspor Deli sudah
mencapai 157.000 Ton ke Eropa dan 37.500 Ton di pasar domestik (termasuk
Semenanjung). Sementara itu kuli semakin banyak yang didatangkan dari Cina,
Siam, Kling dan Java dengan perjanjian kerja. Para planter sudah kembali modal
dan untung. Controleur dan Sultan mulai tersenyum. Pemerintah Belanda mendorong
perusahaan-perusahaan Belanda khususnya untuk berinvest lebih besar dengan
mendatangkan kapital lebih banyak dari Eropa. Melihat apa yang tengah terjadi
di Deli, memicu minat Sultan Langkat dan Sultan Serdang agar investor juga
datang ke daerah mereka masing-masing. Pada tahun 1869 Pemerintah Belanda mengeluarkan
Keputusan Kerajaan Belanda No. 13 bertanggal 16 Desember 1869 bahwa Deli
Maatschappij yang didirikan dengan domisili di Amterdam akan bergerak di bidang
pertambangan dan pertanian serta reklamasi lahan terletak di Deli yang juga
diberikan hak pembangunan prasarana sebagaimana di tempat lain yang dengan
keleluasaan itu diwajibkan untuk melakukan pengolahan produk, penjualan produk
dan pembangunan kereta api untuk mendukung usaha sendiri maupun kemajuan. Lalu
berdasarkan Keputusan Kerajaan Belanda No. 16 bertanggal 14 Januari 1870
statuta Deli Mij disahkan dan mendapat layanan kanal di Hoogeveen Belanda dan
diakui sebagai badan hukum. Dalam hal ini Nienhuiys adalah planter pertama di
Deli dan Deli Mij adalah perusahaan pertama di Deli berbadan hukum.

Dalam Almanak 1870, Residentie Riouw en
onderhoorigheden konfigurasi pemerintahan menjadi terdiri dari beberapa
afdeeling: Siak Sri Indrapoera, Lingga, Karimon, Batam, Noord Bintang, Zuid
Bintang dan Tandjong Pinang. Afdeeling Siak Sri Indrapoera terdiri dari enam
onderafdeeling, yakni: Siak, Deli, Batubara, Asahan, Bengkalis dan Laboean
Batoe (Panei dihapuskan lalu dimasukkan ke Laboehan Batu dan Asahan dibentuk.
Asisten Residen ditempatkan di Siak, sedangkan di Deli, Batubara, Asahan,
Bengkalis dan Laboean Batoe masing-masing tetap dikepalai oleh seorang
controleur.


Pada tahun 1870, onderafdeeling Deli dibentuk dengan ibukota di Laboehan. Pada tahun 1874, keberadaan nama kampung
Medan Poetri di Deli sudah diketahui melalui koran (
lihat Bataviaasch handelsblad, 27-11-1874). Disebutkan di Medan sebagai tempat orang
Eropa/Belanda.
Ini mengindikasikan di (onderafdeeling)
Deli telah terdapat dua tempat orang Eropa/Belanda: di Laboehan dan di Medan. Laboehan
berada di sisi timur muara sungai Deli; Medan berada di hulu sungai Deli (dimana
sungai Babura bermuara). Foto: Deli Maatschappij, di Medan (1870)

Semakin banyaknya orang
Eropa/Belanda yang tinggal di Medan (Poetri) pada tahun 1875 ditempatkan
seorang letnan militer (
lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-03-1875).
Sementara itu, sebagian besar Laboean Deli
mengalami banjir, sejak 16 November, sebagian besar pasukan di Labuan Deli
dipindahkan ke Medan dan hanya menyisakan satu orang militer (Belanda) dengan
anggota sebanyak 30 orang pembantu non Belanda/pribumi (
lihat Java-bode: nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-03-1875). Apakah tanggal 16
November 1975 penanda akan ada perubahan ibukota Deli dari Labuhan Deli ke
Medan?


Bagaimana dengan di Medan? Praktis pada
tahun 1875 di Medan
dan
sekitar
sudah
terdapat antara 6000-7000 kuli
asal Cina (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 22-05-1875)
. Sementara itu kuli dari Jawa hanya terdapat di
beberapa titik, mereka berasal dari Bagelan. Lalu persoalan lain pun muncul.
Ini bermula ketika Mr H, pemilik perkebunan tembakau di Sungai Pertjoet (empat jam
jarak dari kota utama, Medan) dengan dua Eropa yang tengah berada di rumahnya,
terjadi kerusuhan oleh 70-100 dari kulinya memberontak dan membunuh orang
Eropanya dan sejumlah pegawainya dari Melayu. Dengan bantuan militer dibawah
komando Letnan Muller dengan satu detasemen yang dikirim, para pemberontak
dapat diamankan, efek domino terhadap ribuan kuli-kuli Cina dapat terhindarkan.
Foto: Kuli Cina di Deli (1870)

Pada tahun 1876 status onderafdeeling Deli ditingkatkan nmenjadi
afdeeling. Status C
ontroleur di Laboehan
ditingkatkan menjadi A
sisten Residen. Sementara itu seorang Controleur lalu ditempatkan di Medan. Pada tahun 1876
ini juga terjadi penggantian kepala garnisun Medan dari lentan dua JE van
Schaik kepada letnan dua CG Vossen (
lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-08-1876). Ini
semua cepat terjadi karena eskalasi sosial yang semakin meningkat utamanya dari
kalangan
orang Cina seperti perdagangan opium,
perampokan, dan kerusuhan.


Wilayah antara
Labuhan dan Medan
di
afdeeling Deli
cepat
berkembang, karena jalan poros dari pelabuhan
(Laboehan) ke area-area perkebunan di arah hulu (Medan dan sekitarnya). Komunitas Cina sangat cepat berkembang
mengimbangi
populasi penduduk Melayu. Komunitas Cina ini berbeda dengan para kuli asal Cina. Penduduk komunitas Cina adalah para penduduk yang
migrasi secara spontan dari wilayah-wilayah di Semanjung, Singapura dan pantai
timur Sumatra
(Riauw). Pimpinan tertinggi komunitas Cina di Labuhan adalah Kapten.
Sejumlah kuli Cina yang keluar dari perkebunan semakin menambah populasi
komunitas
Cina di sepanjang jalan poros
(Laboehan Deli-Medan).
Foto: Kantor dagang di
Laboeh (1876)

Sejumlah pimpinan komunitas
suku asli yang berbeda mulai mengeluh dan menyampaikan kepada Sultan, tentang
kenaikan mengkhawatirkan ketidakamanan di berbagai tempat. Lalu Sultan
membicarakannya dengan
Controleur.
Sejak itu peningkatan jumlah militer semakin kencang sehubungan dengan semakin
meluasnya perkebunan dan potensi kerawanan hingga ke Langkat. Pimpinan militer
di Medan kemudian ditingkatkan dari letnan menjadi pangkat mayor.


Para militer ini juga mulai
melakukan sejumlah pekerjaan sipil seperti pembangunan jembatan, tangsi-tangsi
dan garnisun. Semuanya dimaksudkan untuk mempermudah pergerakan militer.  Lambat laun, situasi sosial
di afdeeling Deli telah berubah drastis dari
suasana feodalistik (yang berpusat di istana Sultan) menjadi kondisi penguasaan
dengan perencanaan militer oleh militaire department (di depan) dan memperkuat
pemerintahan sipil oleh civiel departement (di belakang). Inilah awal praktek
kolonialisasi pemerintahan (penjajahan) yang sesungguhnya di Tanah Deli (dan
Langkat) untuk menggantikan kolonisasi swasta yang lebih longgar sebelumnya
. Foto: Garnisun militer di
Medan (1876)

Ibukota (afdeeling) Deli yang berada di Labuhan
Deli, tampaknya terlalu jauh bagi para planter untuk berurusan. Sebab kantor pusat
para planter sudah banyak di Medan dan sekitarnya,
sedangkan di Labuhan Deli sudah dianggap cabang dan hanya menyisakan
kantor-kantor untuk melayani logistik dan perdagangan ke Eropa. Kebutuhan untuk
memindahkan ibukota mulai menguat, Labuhan dianggap tidak layak untuk jangka
panjang, tetapi lokasi ibukota baru juga belum diketahui dimana: apakah di
Medan Poetri atau di tempat lain.


Dalam perkembangannya, afdeeling Deli, afd. Batoebara, afd. Asahan dan afd.
Laboehan Batu serta
afd Bengkalis dipisahkan dari
Residentie Riou
w dan kemudian afdeeling-afdeeling tersebut digabungkan menjadi satu residentie dengan nama Residentie Sumatra’s Oostkust dengan ibukota di Bengkalis. Dalam kopnteks inilah
kemudian d
i afd
Deli ditempatkan seorang
Asisten Residen yang mana membawahi dua
controleur di Langkat dan Serdang
plus di Medan. Peta Kampung Medan Poetri dan  Deli
Maatschappij (1875)

Pada tahun 1877) Medan telah menjadi tempat utama (tanah Delimaatschappij).
Perkembangannya sangat pesat, jauh melebihi perkembangan kota Lab
oehan sendiri, namun tidak terlihat menonjol kehadiran pemerintah. Sebaliknya swasta yang memainkan peran. Controleur, militer
dan polisi tidak banyak berbuat seperti di tempat-tempat yang lain. Aparat
pemerintah dimana-mana di wilayah
afdeeling bertugas
dengan pistol di pinggang. Bagaikan kota-kota di wild west. Intrik-intrik di
antara planter juga muncul antara perusahaan-perusahaan Belanda dan perusahaan-perusahaan
non Belanda. Kebetulan Delimaatschappij adalah perusahaan Belanda yang dalam
kedekatannya, perusahaan ini cukup banyak membantu
Pemerintah Hindia Belanda.


Aspirasi
para planter agar Resident yang berkedudukan di Bengkalis dapat dilakukan
relokasi ke Deli. Bahkan planter sudah menyediakan rumah khusus bagi Resident
jika berada di Deli dan diharapkan itu akan menjadi rumahnya di Soeka Moelia
jika relokasi ke Deli. Sementara penempatan
Controleur yang ada sekarang di Medan dapat lebih
khusus untuk membidangi masalah kepolisian saja. Namun itu tidak akan mudah
karena jika ada relokasi akan membuat ketidaknyamanan antara Resident dengan
Sultan Siak yang selama ini dianggap menjadi ‘Tuhan’ bagi  sultan-sultan di Deli, Langkat dan Serdang.
Foto: Rumah di Soeka Moelia, bakal rumah Asisten Residen (1876)

Selama tahun 1878 telah terjadi beberapa
perubahan di Deli. Pemerintah pusat akan menempatkan seorang notaris
independen, pergantian komandan garnisun Medan. Lalu,
Controleur pertama Medan, akan berakhir masa tugas
yang dijabatnya sejak 1875 dan digantikan oleh
Controleur klas-1 EWE Burger. Kemudian, di Medan
juga dibangun penjara yang lebih besar dan sebuah kantor post.
Ternyata berita-berita sebelumnya telah menandai
akan pindahnya kantor
Asisten Residen Deli dari Laboehan Deli ke Medan sebagaimana
diberitakan Bataviaasch handelsblad, 02-07-1879.


Dengan
pindahnya ibukota
afd Deli ke Medan, maka permintaan
para planter dan Sultan telah ditunaikan sebagian. Alasan utama perpindahan
ibukota Deli karena pengembangan perkebunan dan ketidakamanan yang semakin
meningkat di perkebunan-perkebunan, Dan itu, berarti pada tahun 1879 ini, Medan
memulai babak baru sebagai ibukota afd. Deli
. Sementara itu ibukota Residentie Sumatra’s
Ooskust masih
tetap berada di Bengkalis. Seperti kita lihat nanti
pada tahun 1884 ibu kota Residentie dari Bengkalis dipindahkan ke Medan;
sementara afdeeling Bengkalis dipisahkan dan dimasukkan ke afdeeling Siak (residentie
Riouw).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Labuhan Kota Lama dan Medan Kota Baru: Perkembangan
Kota Medan Sangat Pesat

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetSendShare
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

Inilah 7+ Toko Elektronik Terdekat di Tabanan dengan Harga Terjangkau!

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (15)

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (15)

Iklan

Recommended Stories

Alamat BCA Cilegon

Alamat BCA Cilegon

17.07.2013

Membuat Resep Kue Nastar Keju Melinjo

28.07.2011

The LEGO Ninjago Movie – Review

03.10.2017

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

23.01.2026
Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

23.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Review
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?