*Untuk melihat semua artikel Sejarah Cirebon dalam blog ini Klik Disini
Secara
geomorfologis wilayah (pulau) Jawa terbagi tiga: barat, tengah dan timur.
Antara bagian barat dan tengah dipisahkkan oleh wilayah sempit. Di pantai utara
head to head antara pusat peradaban Tjirebon dan Tegal dan di pantai selatan
antara Banjoemas dan Tjiamis (Galuh). Pada era VOC (Belanda) wilayah Cirebon
termasuk Tjiamis hingga Soekapoera di pantai selatan Jawa. Sejak kehadiran
Belanda, navigasi pelayaran di pantai utara semakin intens, yang menjadi salah
satu factor mengapa wilayah Cirebon menjadi penting.

KESULTANAN CIREBON DI BAWAH KEKUASAAN VOC
TAHUN 1752-1809 M. Ahmad Johari, 2018. Skripsi. Kesultanan Cirebon yang
didirikan oleh Sunan Gunung Jati pada 1479 M mencapai puncak kejayaannya masa
Panembahan Ratu II (hinggan 1752). Perluasan kekuasaan wilayah dan mulai
berkembangnya pelabuhan Cirebon sebagi sentral perdagangan internasional.
Sumberdaya alam yang memadai membuat Cirebon sebagai bandar jalur sutra
sehingga banyak yang memperebutkan wilayah ini. Tiga kekuatan besar yakni
Banten, Mataram dan VOC sangat berambisi menguasai wilayah Cirebon. Pada
akhirnya VOC yang berhasil menanamkan pengaruhnya di Kesultanan Cirebon melalui
perjanjian persahabatan dengan para sultan. Para Sultan tidak lagi mempunyai
kebebasan dalam mengatur rakyatnya dan semua harus tunduk terhadap kebijakan
VOC. Bagaimana sejarah kejayaan Kesultanan Cirebon pada masa Sunan Gunung Jati?
Bagaimana Kesultanan Cirebon setelah masuknya Pemerintah VOC? Bagaimana
Kesultanan Cirebon setelah ditinggal VOC dan diserahkan ke Belanda? Untuk
menganalisis permasalahan di atas peneliti menggunakan pendekatan politik dan
ekonomi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, tahun 1752 M adalah masa
akhir kekuasaan Sultan Cirebon dibawah pemerintahan Panembahan Ratu II . Salah
satu fenomena yang berpengaruh pada penurunan eksistensi Kesultanan Cirebon
adalah dilakukannya perjanjian 8 Januari 1681 M. (https://digilib.uin-suka.ac.id/)
Lantas bagaimana sejarah keutamaan wilayah
Cirebon era VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, suatu
kerajaan terbentuk di Cirebon yang dalam perkembangannya melakukan kerjasama dengan
VOC/Belanda. Wilayah kekuasaan raja (Sultan) Cirebon dari pantai utara hingga pantai
selatan Jawa. Lalu bagaimana sejarah keutamaan wilayah Cirebon era VOC hingga
Pemerintah Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Keutamaan Wilayah Cirebon Era VOC hingga Pemerintah
Hindia Belanda; Pantai Utara hingga Pantai Selatan
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pantai Utara hingga Pantai Selatan: Wilayah Budaya
Sunda di Barat dan Wilayah Budaya Jawa di Timur
Tunggu deskripsi lengkapnya
Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang,
utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan
aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel
sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or
perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







