*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Dalam
artikel sebelumnya, tentang ilusi Mahathir Mohamad yang harus dianggap serius. Soalannya
terus berlanjut, seperti yang diduga. Mahathir Mohamad memberi klarifikasi. Ibarat
seorang ayah menasehati anaknya yang di dengar sediri oleh para tetangga
mereka: ‘Nak, jangan mencuri, jangan tiru tetangga kita yang sebelah rumah’.
Dalam pernyatan itu sang anak tidak terinformasikan apakah sudah pernah
mencuri, demikian juga tetangga sebelah rumah juga tidak terinformasikan apakah
pernah mencuri. Namun nasehat tetaplah nasehat, tetapi nasehat yang membuat orang
lain bereaksi. Ketika semua tetangga protes, sang ayah tersebut hanya menjawab ‘ngeles’
enteng: ‘saya hanya menasehati anak saya jangan sampai mencuri, saya tidak
katakan tetangga telah mencuri’. Dalam hal ini cara berbahasa dapat menimbulkan
masalah. Itulah yang disebut bersilat lidah.

Mahathir Mohamad Soal Kepri: Nostalgia, Tak Perlu Dianggap Serius! (KOMPASTV); Begini Tanggapan Tegas Kemenlu RI soal Klaim Mahathir: Sampai Kapan Pun
Kepri Milik Indonesia (Tribunnews); Klaim
‘Tanah Melayu’, Eks PM Malaysia Diprotes Warganya Sendiri (VIVACOID); Tanggapi Mahathir, KSP: Kepri Wilayah
Indonesia! (BeritaSatu); Tanggapi
Mahathir, PDIP: Hormati Kedaulatan Setiap Negara! (detikcom); Kepulauan Riau Diklaim Mahathir Milik
Malaysia, Ormas di Yogyakarta Gelar Demo (iNews id); Warganet Indonesia Geruduk Akun Instagram Mahathir (aceh.tribunnews.com);
Netizen Indonesia dan Singapura Kompak
Gempur Instagram Mahathir Mohamad (mediakepri.co.id); Kedubes Malaysia: Komentar Mahathir Soal Kepri Bukan Sikap Pemerintah
Malaysia (kumparan.com); Saya tak
minta Malaysia tuntut Singapura, Kepulauan Riau – Dr M (KiniTV).
Lantas
bagaimana sejarah persepsi Bahasa Indonesia versus bahasa Melayu di Malaysia? Seperti
disebut di atas, silat lidah ala Mahathir Mohamad di Malaysia diperersepsikan
berbeda di Indonesia. Tentulah tidak hanya itu, soal kosa kata bahasa Melayu di
Malaysia yang berbeda dengan kosa kata Bahasa Indonesia bisa salah persepsi. Lalu
bagaimana sejarah Bahasa Indonesia versus bahasa Melayu di Malaysia? Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Bahasa Indonesia versus Bahasa
Melayu: Silat Lidah Persepsi di Indonesia Ala Mahathir Mohamad
Soal
perbedaan bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia sudah mengkrital pada tahun 1954
saat mana di Medan diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia. Para pegiatan
bahasa dan sastra Melayu asal Semenanjung Malaya turut hadir. Saat itu Inggris
masih tahap menjandikan kemerdekaan kepada Federasi Malaya (Semenanjung Malaya).
Jelas adalam hal ini jelang kemerdekaan Federasi Malaya, semuanya berjalan
baik-baik saja antara pegiat bahasa dan sastra Melayu di Semenanjung Malaya
dengan pegiatan bahasa dan sastra Bahasa Indonesia di Indonesia.
Selain pegiat bahasa dan sastra Melayu datang
ke Medan, juga _Perdana Menteri Federasi Malaya Abdoel Rachman berkunjung ke
Indonesia termasuk membicarakan kerjasama Federasi Malaysia dengan Pemerintah
Republik Indonesia untuk bekerja sama dalam pengembangan Bahasa Indonesia dan
Bahasa Melayu (lihat Algemeen Handelsblad, 14-11-1955). Salah satu tindak
lanjutnya adalah pembentukan “Jawatan Kuasa Menyamakan Bahasa Melayu dan
Bahasa Indonesia” yang diketuai Abdul Aziz yang mana subbagian panitia sibuk
mencari cara untuk “menyamakan atau mendekatkan Melayu Semenanjung dan
Indonesia” (Malaya (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 30-01-1956). Besar dugaan Che’ Za’ba dari University
Malaya terlibat di dalam komite tersebut sebagai satu-satunya orang Melayu yang
ahli dalam urusan bahasa Melayu. Lalu kemudian Abdul Aziz dan Zainal Abidin
telah berada di Jogjakarta untuk mencari guru dan dosen Bahasa Indonesia untuk
ditempatkan di Malaya dan Universitas Malaya (lihat De nieuwsgier, 28-06-1956).
Kehadiran mereka di Jogjakarta saat sedang dan turut menghadiri seminar sains
dan budaya di Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta. Zainal Abidin adalah nama
kecil dari Che’ Za’ba. Lalu kemudian mahasiswa Malaysia ke Indonesia yang mana
rombongan 35 mahasiswa asal Malaya. Para mahasiswa yang tergabung dalam
“Persatuan Bahasa Malayu University Malaya” ini akan mempelajari bahasa, budaya
dan seni Indonesia di negeri ini. Selain itu, mereka juga akan mengenal sistem
pendidikan dasar, menengah dan tinggi, administrasi negara, kondisi ekonomi dan
sosial umum dan struktur desa. Para mahasiswa yang akan berkunjung ke Djakarta,
Bogor, Bandoeug, Jogjakarta, Soerabaya, Bali dan Medan selama tiga minggu ini
telah diundang oleh Kemendikbud dan akan didampingi dalam perjalanannya oleh
anggota Senat Universitas Indonesia’. (Indische courant voor Nederland,
23-05-1957).
Upaya
pengembangan bahasa Melayu dan upaya menyamakan bahasa Melayu dengan Bahasa
Indonesia adalah suatu rintisan yang baik.Oraang Melayu di Malaysia menyadari
bahwa pengembangan Bahasa Indonesia di Indonesia telah berjalan dengan baik,
karena itu datang ke Indonesia untuk mempelajarinya. Dalam hal ini bahasa
Melayu di Federasi Malaya dan Bahasa Indonesia di Indonesia adalah dua hal yang
berbeda dan telah dibedakan. Lalu apa yang terjadi kemudian, oleh karena
karakteristik masing-masing negara dengan pengalaman sejarah yang berbeda-beda
upaya menyamakan bahasa Melayu dengan Bahasa Indonesia berjalan sendiri-sendiri
seperti hasilnya dapat dirasakan sekarang ini.
Banyak kosa kata yang dikembangkang sebagai
bahasa Melayu di Malaysia terkesan janggal dan kurang dipahami artinya di
Indonesia. Demikian sebaliknya banyak kosa kata Indonesia dikembangkan,
terutama dari bahasa-bahasa daerah di Indonesia kurang dimengerti di Malaysia.
Sebenarnya, tidak ada lagi alasan, secara lingustik, bahwa Bahasa Indonesia
masih dapat dikatakan sebagai bahas Melayu sebagaimana yang dipahami hingga ini
hari di Malaysia.
Dalam
hubungannya dengan berbahasa hingga masa ini, apakah menggunakan bahasa Melayu
dan Bahasa Indonesia, kerap muncul permasalahan. Bentuk-benetuk perumpamaan
dalam berbahasa masih kerap muncul, yang adakalanya maksud perumpamaan itu
sulit ditebak maksudnya kemana. Dalam komunikasi berbicara dengan perumpamaan
haruslah dijadikan sebagai pemanis bahasa dalam perkataan yang sebenarnya baik
sebelum dan sesudahnya.
Kebiasaan berbicara dengan perumpamaan ini
sangat lzaim pada era Hindia Belanda, dimana orang-orang Belanda berbicara
sesuatu dengan kalimat atau frase perumpamaan. Sebagai contoh, seorang panelis
Belanda dalam suatu rampat umum (seminar) mengatakan bahwa orang Indonesia
masih sangat hijau untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Ir Soekarno
membalas dengan kata-kata perumpamaan, bahwa kami bukan hijau lagi tetapi sudah
menguning. Kami terbiasa memanen hasil pada saat menguning sebelum menjadi
merah (membusuk). Apapun yang dimakdus Belanda dan Ir Soekarno dapat diketahui
maknanya. Oleh karena itu sendi berbicara dalam berkomunikasi harus dianggap
sebagai pemanis, pelembut dan pengalus perkataan.
Berbahasa
dalam konteks jurnalis dan pendidikan, adakalnya berbeda dengan konteks politik.
Belum lama ini Perdana Menteri Malaysia mengusulkan kepada Presiden Indonesia
agar bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa resmi ASEAN. Bagi orang Indonesia
bahasa Melayu yang dimaksud PM Malaysia adalah bahasa resmi di negara Malaysia,
sementara bahasa resmi di Indonesia adalah Bahasa Indonesia. Ketika Menteri
Indonesia melontarkan jawaban penolakan bahasa Melayu, justru dengan tegas
menyatakan Bahasa Indonesia lebih layak untuk diusulkan. Sontak muncul klarifikasi
dari Malaysia yang menyatakan bahwa bahasa Melayu yang diusulkan oleh PM
Malaysia bukan bahasa resmi Malaysia, tetap bahasa Melayu yang umum digunakan
di nusantara yang jumlahhnya 300an juta penutur termasuk di Indonesia.
Tentu saja pegiat bahasa di Indonesia semakin
geram, karena bahasa Melayu yang diklarifikasi, meski orang Indonesia sudah
mengetahui maksud sebelumnya, jelas menolak karena nama Bahasa Indonesia adalah
nama resmi di Indonesia. Sebagaimana disebutkan yang dimaksud Malysia penutur
bahasa Melayu berjunmlah 300an juta, yang notabene lebih dari 200 juta berada
di Indonesia, sudah barang tentu itu bukan lagi penutur bahasa Melayu tetapi
penutur Bahasa Indonesia. So, lalu apakah silat lidah orang Malaysia
berikutnya. Untuk uriusan bahasa deadlock sendiri karena orang Indonesia bahasa
yang digunakan di seluruh wilayah Indonesioa adalah Bahasa Indonesia (bukan
bahasa Melayu yang dimaksudkan Malaysia). Pertanyaannya: apakah sebodoh itu
orang Malaysia tidak mengetahui apa yang dimaksdu Bahasa Indonesia di
Indonesia? Tentu saja tidak. Inilah soal silat lidah dalam pertarungan politik
melalui cara berbicara dengan menggunakan bahasa,
Masih
hangat dibicarakan, dalam lupa tentang gerakan bahasa berbicara ala PM
Malaysia, tiba-tiba muncul lagi dari Malaysia dimana mantan Perdana Menteri
Malaysia Mahathir Mohamad berbicara tentang posisi wilayah administrasi Riau
dalam bernegara. Apakah dalam hal ini Mahathir memainkan silat lidah gaya
berbicara bahasa Melayu di Malaysia?
Tunggu deskripsi lengkapnya
Silat Lidah dan Berbeda Kosa
Kata: Bahasa Indonesia versus Bahasa Melayu
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






