Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (664): Bapak Bahasa Indonesia SANUSI PANE; Bahasa Melayu Tumbuh Kembang Berbeda Zaman

Tempo Doelo by Tempo Doelo
20.06.2022
Reading Time: 29 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN


























































































































































 

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Bahasa
Melayu dengan Bahasa Indonesia kini sudah sangat jauh berbeda. Memang Bahasa
Indonesia berakar dari bahasa Melayu, tetapi faktanya Bahasa Indonesia sudah
sangat jauh berkembang dibanding bahasa Melayu. Salah satu tokoh lama bahasa
Melayu adalah Raja Ali Haji (1808-1875). Nama Bahasa Indonesia sendiri muncul
pada tahun 1920an dan namanya ditabalkan dalam Kongres Pemuda 1928. Tokoh di
belakang pemberian nama baru dengan nama Indonesia adalah Sanoesi Pane. Dalam
Kongres Bahasa Indonesia, Sanusi Pane tidak hanya  pengarah, juga
membawkan makalah berjudul ‘Asal-Oesoel dan Sedjarah Bahasa Indonesia (lihat Het
nieuws v dag voor Nederlandsch-Indie, 20-06-1938).
  

ADVERTISEMENT

Raja
Ali Haji bin Raja Haji Ahmad juga dikenal dengan nama penanya Raja Ali Haji
(lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca. 1808 – meninggal di Pulau
Penyengat, Kesultanan Lingga (masa kini bagian dari Provinsi Kepulauan Riau),
ca. 1873) adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan
Melayu. Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu
lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa
Melayu standar (juga disebut bahasa Melayu baku) itulah yang dalam Kongres
Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa
Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah,
Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan
Bugis. Mahakaryanya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra
pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Bahasa
Melayu Riau-Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di
Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum
Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya
dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (“Bingkisan
Berharga” tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah
sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang
menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak
berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan,
Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya.
Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi
Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasehat kerajaan. Ia
ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5
November 2004
.
(Wikipedia)

Lantas
bagaimana sejarah Bahasa Indonesia dan Sanusi Pane sebagai bapaknya? Seperti
disebut di atas, sejarah bahasa Melayu tumbuh kembang berbeda zaman bahkan
sejak era Sriwijaya (abad ke-7) yang mana salah satu tokoh terkenal kemudian
Raja Ali Haji. Namun nama Bahasa Indonesia baru diproklamasikan pada Kongres
Pemuda 1928, dimana tokoh bahasa di belakang penamaan Bahasa Indonesia tersebut
adalah Sanoesi Pane. Lalu bagaimana sejarah Bahasa Indonesia dan sebagai
bapaknya Sanusi Pane? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Bapak Bahasa Indonesia Sanusi
Pane: Sejarah Bahasa Melayu Tumbuh Kembang Berbeda Zaman

Penamaan
Bahasa Indonesia belum lama (pada Kongres Pemuda 1928), sejarah Bahasa
Indonesia mulai ditulis pada tahun 1938 oleh sanga pemberi nama Sanusi Pane.
Dalam Kongres Bahasa Inodnnesia 1938, Sanusi Pane bertindak sebagai pengarah
dimana sebagai ketua kongres ditunjuk Dr Portbatjaraka. Sebagai pemateri,
Sanusi Pane mendapat kesempatan pertama pada hari dimulai yang mana materi
kongres disampikan pada hari kedua kongres (26 Juni 1938). Sebagai seorang yang
memberi nama Bahasa Indonesia pada tahun 1928, dalam Kongres Bahasa Indonesia
tahun 1938, Sanusi Pane membawakan makalah yang sesuai perannya dan sesuai
urutan materi-materi. Makalah yang disampaikan Sanusi Paner berjudul:
Asal-Oesoel dan Sedjarah Bahasa Indonesia (lihat De locomotief, 21-06-1938).

Dari sejumlah pembicara dalam Kongres Bahasa
Indonesia yang telah berlalu, ada tiga pembicara yang bermuatan politis (lihat
De Indische courant, 05-07-1938). Disebutkan lebih lanjut ‘yang pertama adalah Soekardjo
Wirjopranoto (dari Jawa) yang mendukung perlunya setiap orang Timur yang
memiliki kedudukan dalam badan-badan perwakilan harus menggunakan bahasa Bahasa
Indonesia. Yang kedua adalah Mohamad Thabrani (Madoera) yang menganjurkan,
antara lain, pembentukan sebuah lembaga, yang harus diberi tugas sebagai
berikut: (1) Mendesak pemerintah untuk memberikan pengajaran bahasa Indonesia
di sekolah dasar, menengah dan kejuruan. (b)  Dalam badan-badan perwakilan dari
Regentschapsraad sampai den Volksraad menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa umum dan bahasa Belanda khusus. (c) Menyiapkan surat menyurat dan
dokumen lainnya dalam bahasa Indonesia pada departemen dan dinas di bawahnya.
(d) Mengangkat hanya mereka yang berbahasa Indonesia sebagai pejabat dan
pejabat pemerintah, tanpa membeda-bedakan orang yang berpangkat lebih rendah
atau lebih tinggi, dan apakah pelamar itu pribumi, asing, atau Belanda. Lalu
yaang ketiga dengan tenang menyampaikan tetapi membahayakan yang, dengan alasan
penggunaan umum Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa ini dapat mengarah pada
“kesadaran diri tertentu” dan “kemerdekaan. Lebih lanjut disebutkan
Sanoesi Pane  menyatakan bahwa lembaga
yang akan didirikan juga harus memiliki tugas “memberi nasihat dari segala
jenis.”. Sanoesi Pane disebutkan meyakinkan bahwa bahasa Belanda tidak
penting dan harus dimasukkan dalam pendidikan sebagai mata pelajaran pilihan. Menurut
kutipan yang diberikan disini, setidaknya pidato ketiganya memiliki cap politik
yang kuat, lebih kuat: mereka harus, terutama Sanoesi Pane diberi label sebagai
blak-blakan anti-Belanda. Secara keseluruhan meskipun belum mungkin untuk
mengatakan ke arah mana “gerakan bahasa” ini akan berkembang, dapat
dipastikan bahwa, jika para penganutnya membiarkan diri mereka terlalu
dipengaruhi oleh tuturan seperti ketiganya di atas, “bahasa” sebagai
sarana untuk mencapai tujuan. Dan ini akan menjadi jelas lagi jika para
promotor Kongres ini mensubordinasikan perkembangan bahasa dibawah
kepentingan-kepentingan politi’.

Pernyataan
Sanoesi Pane di dalam kongres yang vulgar mengindikasikan bahasa Belanda tidak
penting, pilihan di sekolah dan anti-Belanda mengundang reaksi pers (berbahasa)
Belanda. Surat kabar De Indische courant, 06-07-1938 memberi reaksi (terutama
terhadap pernyataan Sanoesi Pane) dengan judul yang sangat marah Onredelijk
(Keterlaluan).

‘Kecewa kemarin, betapa patut disyukuri jika
para pemimpin masyarakat adat sungguh-sungguh ingin meningkatkan taraf bahasa
negeri sendiri, karena perkembangan bahasa pada hakikatnya berarti pembangunan
masyarakat. Namun, seperti yang kami nyatakan pada saat yang sama, satu syarat
harus diterapkan disini, yaitu bahwa tujuan itu harus bersifat eksklusif dan
harus dijauhkan dari kecenderungan politik. Kecenderungan politik ini,
bagaimanapun, terlihat pada Kongres Bahasa Indonesia pertama, yang diadakan di
ibukota Kerajaan Sunan, dengan cara yang akan menyakitkan bagi setiap tanah air
yang mencintai bahasa ibunya. bahasa kami (Belanda) dibicarakan oleh beberapa
nasionalis pribumi dengan cara yang sangat meremehkan dan cap politik
anti-Belanda yang ditekankan pada beberapa pidato. Mari kita lewati tanpa
basa-basi lagi kata-kata menghina yang diucapkan di alamat bahasa kita yang
indah, selain itu dengan sisi politik “gerakan bahasa” ini, dapat
berfungsi untuk mengulangi kesepakatan faksi nasional di Volksraad yang akan digunakannya
bahasa Melayu dalam pertimbangan umum tentang anggaran tahun yang akan datang,
dimana diketahui bahwa sikap ini dapat dianggap sebagai pengesahan terhadap
keputusan kongres bahasa tersebut di atas yang diadakan di Solo’.

Surat
kabar Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 07-07-1938 menurunkan
rangkuman hasil kongres yang diperolehnya dari berbagai surat kabar pribumi.
‘Surat kabar Tjaja Timoer (Batavia) menyoroti fakta bahwa konferensi bahasa di
Solo menunjukkan bahwa Volkslectuur tidak memiliki kebijakan bahasa yang tetap.
Dalam prae-nasihat St Pamoentjak bahwa ia ingin terus mendasarkan ejaannya
terutama pada metode van Ophuyzen (Melayu Riouw), sedangkan St Takdir di bidang
konstruksi bahasa dan tata bahasa, perubahan radikal sedemikian rupa sehingga
bahasa menjadi ekspresi langsung dari apa yang disebutnya “generasi
muda” (yang dia maksud adalah kelompok penulis muda, yang tidak benar-benar
menyebut metode tetap mereka sendiri dalam bentuk apa pun). Saran St. Takdir
adalah dalam bahasa Melayu Riouw, kami belum dapat menemukan aturan apa pun
tentang “perubahan radikal”. Adi Negoro (Pemimpin Redaksi Pewarta
Dell, Medan) jauh lebih jelas dalam pra-sarannya. Ini mengambil bahasa
sehari-hari Medansche (Melayu Riouw) sebagai dasarnya. diperkaya karena terus
diperkaya oleh surat kabar berbahasa Melayu umum, serta oleh kata-kata asing
(terutama istilah teknis). Dalam hal konstruksi bahasa, tata bahasa dan ejaan,
dia berpihak pada Pak Panangian Harahap (Tjaja Timoer), yang mempertahankan
metode van Ophuyzen (Melayu Riouw) dengan sukses besar’.

Disebutkan lebih lanjut, bahwa ‘Hasil Kongres
Bahasa. Secara konkret, konferensi bahasa berakhir dengan hasil sebagai
berikut: (1) Konstruksi bahasa Belanda yang akan digunakan dalam terjemahan
dari bahasa Belanda ke bahasa Melayu, yang terbukti didukung oleh Volkslectuur
(St. Takdir dkk), dapat dianggap telah ditolak. (2) Ejaan dipertahankan menurut
metode van Ophuyzen, kecuali untuk beberapa perbaikan kecil. (3) Sebuah
kesimpulan samar dicapai berkaitan dengan tata bahasa; “untuk memperbaikinya
(diperbaiki iagi)”. Namun, pada poin terakhir kongres belum menunjuk siapa pun
dan para pra-penasihat yang telah muju dalam hal ini, St. Takdir, Yamin dan Sanoesi
Pane, belum membuat rencana yang terperinci. Summa Sumrnarum: Di bidang bahasa
itu sendiri (konstruksi bahasa-tata bahasa ejaan), semuanya tetap sama. Akan
tetapi, para anggota kongres umumnya berpendapat bahwa hasil-hasil dari kongres
pertama ini telah tercapai dalam arti bahwa mulai sekarang, alih-alih ‘bahasa
Melayu’, orang akan lebih banyak berbicara dengan kata-kata dan tulisan dalam Bahasa
Indonesia sebagai bahasa pengantar. bahasa kesatuan dari populasi heterogen
negara-negara ini’.

Dari
Kongres Bahasa Indonesia di Solo tahun 1938 terindikasi hanya tiga orang yang
sudah maju (piawai) dalam urusan bahasa yakni Soetan Takdir Alisjahbana,
Mohamad Jamin dan Sanoesi Pane. Dalam hal ini, Sanoesi Pane tidak hanya
menguasai bidangnya (bahasa), tetapi juga secara politis tampak lebih memiliki
wawasan yang jauh ke depan, paling tidak soal bagaimana Sanusi Pane menyatakan
bahwa bahasa Belanda tidak penting dan bahasa Belanda ditempaatkan sebagai
pilihan di bidang pendidikan dan memajukan Bahasa Indonesia sebagai yang
diwajibkan. Sanoesi Pane oleh pers (berbahasa Belanda) dicap sebagai anti
(bahasa) Belanda.

Jika kita mundur ke masa lampau tahun 1928,
dalam Kongres Pemuda 1928, sebelum keputusan menjadi final, terdapat suatu
perbedaan pendapat antara Mohamad Jamin dan Sanoesi Pane. Mohamad Jamin sebagai
sekretaris dalam Kongres Pemuda 1928 nama persatuan menginginkan dengan nama
Bahasa Melayu, tetapi Sanoesi Pane tidak setuju dan mengusulkan nama Bahasa
Indonesia, sehingga forum sepakat nama bahasa persatuan disebut Bahasa
Indonesia (untuk melengkapi dua keputusan pertama yakni satu nusa (Indonesia)
dan satu bangsa (Indonesia). Dalam Kongres ini selain ketiganya menyampaikan
makalah, juga yang menyampaikan makalah seperti disebut di atas, Mohamad
Tabrani (pers, ketua Kongres Pemuda 1926) dan Soekardjo Wirjopranoto
(Volksraad)s serta Soetan Pamoentjak adalah Amir Sjarifoeddin Harahap (advokat,
bendahara Kongres Pemuda 1928); Ki Hadjar Dewantara (guru), dan HB Perdi
sendiri (pers). Sanoesi Pane adalah satu-satunya yang menyampaikan dua makalah
yakni pada tanggal 26 Juni pukul 9 pagi dengan topik asal usul dan sejarah
Bahasa Indonesia pagi dan pada tanggal 27 Juni dengan topik kelembagaan Bahasa
Indonesia. Ketika membicarakan topik kelembagaan Bahasa Indonesia ini, Sanoesi
Pane menyatakan bahasa Belanda tidak penting, harus dinomorduakan, sementara
Bahaasa Indonesia diwajibkan.   

Sanoesi
Pane adalah seorang yang komplit pada zamannya, tidak hanya urusan bahasa
tetapi juga dalam urusan politik. Sanoesi Pane dan Soetan Takdir Alisjahbana
sama-sama lulusan sekolah guru dan sama-sama menjadi guru (keduanya kebetulan
sama0sama lahir di dua kota kecil yang berdekatan di Tapanoeli: Sanaoesi Pane
lahir di Moearasipongi, Soetan Takdir Alisjahbana di Natal). Sanoesi Pane
selepas Kongres Pemuda 1928 berangkat ke India untuk belajar sastra. Sanoesi
Pane secara politis tetap berada di luar pemerintah, sedangkan Soetan Takdir
Alisjahbana (bersama Armijn Pane, adik dari Sanoesi Pane) tetap berada di Balai
Pustaka (milik pemerintah). Hal itulah mengapa di dalam Kongres Bahasa
Indonesia 1938 ini usulan St Takdir ditolak mengenai urusan terjemahan di Balai
Pustaka dari literatur Bahasa Belanda ke bahasa Melayu dengan menggunakan
struktur (tata bahasa) Belanda.

Seperti halnya, Mohamad Jamin dan Amir
Sjarifoeddin Harahap, Sanoesi Pane juga konsisten dalam visi misi politik
sedari awal (sejak muda dibangku kuliah). Pada awal tahun 1928, di kota Padang,
sejumlah siswa sekolah ditangkap karena membawa brosur/makalah yang ditulis
oleh Sanoesi Pane. Dalam suatu rapat umum yang diadakan Boedi Oetomo cabang
Batavia Sanoesi Pane mengajak anggota Boedi Oetomo untuk ikut berjuang secara
nasional (karena saat itu Boedi Oetomo masih membatasi misinya hanya terbatas
di Jawa dan Madoera dan bahasa resmi yang digunakan bahasa Belanda). Dalam
urusan dengan Boedi Oetomo/Jong Java, sebelumnya Soekarno yang masih duduk di
sekolah menengah (HBS) di Soerabaja pernah diadili dan akan dikeluarkan dari
organisasi, karena Soekarno mengingin penggunaan bahasa Melayu di dalam
organ.majalah Jong Java (bahasa resmi Jong Java juga bahasa Belanda). Dalam hal
ini Soekarno dan Sanoesi Pane, tidak hanya sama-sama memiliki misi politik yang
konsisten, keduanya juga saling kenal dekat. Pada tahun 1933 ketika Soekarno di
tahanan (penjara Soekamiskin Bandoeng), Ir Soekarno menutup diri dari semua
kunjungan/bezoek dari para nasionalis, dan hanya Sanoesi Pane yang diizinkannya
untuk bertemu. Sanoesi Pane adalah penasehat kebudayaan Ir Soekarno. Untuk
sekadar menambahkan dalam hal ini, sebelum sebelum penyelenggaraan Kongres
Bahasa Indonesia di Solo, pada bulan Mei, Ir Soekaro dipindahkan tempat
pengasikan dari Ende (Flores) ke Bengkoeloe (Sumatra). Sudah barang tentu Ir
Soekarno di Bengkoeloe tetap menyimak berita surat kabar terutama yang sedang
hangat soal Bahasa Indonesia dimana sobat lamnya Sanoesi Pane mencampakkan
bahasa Belanda. Ir Sokarno tentu sumringah. Meski dirinya dibatasi geraknya di
tempat pengasingan, masih ada rekannya yang berani bersuara keras kepada
(otoritas) Belanda.  

Like
Son, Like Father. Sanoesi Pane anak seorang guru lulusan sekolah (kweekschool)
Padang Sidempoean yang pernah menjadi guru ditempatkan di Moearasipongi (dimana
Sanoesi Pane lahir). Setelah pensiun dari guru, ayahnya Soetan Pangoerabaan
Pane menjadi sastrawan lokal di kota Padang Sidempoean dengan karyanya yang
terkenal Tolbok Haleon yang diterbitkan di Pematang Siantar tahun 1930. Saudara
Sanoesi Pane juga orang terkenal di zamannya, selain sastrawan Armijn Pane
(yang menerjemahkan buku RA Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang), juga sang
bungsu Prof Lafran Pane (pendiri HMI saat perang kemerdekaan di Jogjakarta
tahun 1947 yang kini telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional). Salah satu
cucunya juga sangat terkenal Prof Sangkot Marzuki (Batoebara), Ph.D (kepala
Lembaga Eijkman, Jakarta). Kakak perempuan Sanoesi Pane menikah dengan kakek
Sangkot Marzuki. Dalam hal ini, Sanoesi Pane, bukan orang biasa, Sanoesi Pane
berasal dari keluarga yang baik dan berpendidikan,

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Sanusi Pane dan Raja Ali Haji
Berbeda Zaman: Bahasa Indonesia Lahir dalam Konteks Persatuan

Pada
saat Radja Ali Hadji menulis buku Gurindam Dua Belas di Riau tahun 1847,
Asisten Residen (Afdeeling) Angkola Mandailing, mengintroduksi pendidikan
modern (aksara Latin) dengan mendirikan sekolah pemerintah. Guru-guru Belanda
yang mengajar di sekolah di Panjaboengan (onderafdeeling) dan Padang Sidempoean
(onderafdeeling Angkola), bahasa pengantar adalah bahasa Melayu. Sementara itu
di Riau belum ada sekolah (aksara Latin). Radja Ali Hadji menulis (pantun)
Gurindam Dua Belas masih menggunakan aksara Jawi (huruf Arab gundul). Pada
tahun 1954, dua lulusan sekolah di Angkola Mandailing diterima din sekolah
kedokteran di Batavia yakni Si Asta Nasoetion (Panjaboengan) dan Si Angan
Harahap (Padang Sidempoean). Dua siswa yang diterima ini (Docter Djawa School)
adalah siswa-siswa pertama yang berasal dari luar Jawa.

Pada tahun ini (1854) Elisa Netscher melakukan
studi bahasa Melayu di Riau (sudah barang tentu tidak di Jawa, tidak di
Tapanoeli dan tidak di Minangkabau, karena bahasa Melayu dituturkan secara umum
di wilayah Melayu, termasuk Riau). Dalam kesempatan inilah Elisa Netscher
menerjemahkan (ke dalam bahasa Belanda) karya Radja Ali Hadji. Tujuan Elisa
Netsher tidak sepenuhnya urusan bahasa (Melayu) ke Riau tetapi juga dalam
penyelidikan etnografi dalam pembentukab cabang pemerintah di Riau. Sebagaimana
kita lihat nanti, Elisa Netscher pada tahun 1862 diangkat menjadi Resident Riau
yang berkedudukan di Tandjoeng Pinang (Bintan).

Pada
tahun 1857 satu lulusan sekolah di Panjaboengan, Si Sati Nasoetion berangkat
studi ke Belanda untuk mendapat akta guru (pribumi pertama studi ke Belanda).
Pada tahun 1860 Si Sati alias Willem Iskander lulus dan mendapat akta guru.
Pada tahun 1861 Willem Iskander kembali ke tanah air dan kemudian pada tahun
1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru di Tanobato (onderafdeeling
Mandailing). Jumlah siswa yang diterma sebanyak 20 orang (lulusan sekolah di
Angkola Mandailing). Sekolah guru (kweekschool) Tanobato menjadi sekolah guru
ketiga di Hindia Belanda (setelah yang pertama didirikan di Solo tahun 1851 dan
yang kedua di Fort de Kock).

Setelah mengetahui adanya sekolah guru di
Tanobato, pada tahun 1864 Inspektur Pendidikan Pribumi Mr van der Chijs
mengunjungi sekolah guru ini. Mr van der Chijs menemukan sekolah guru Tanobato
ini diajarkan matematikan, fisika, biologi/botani, geografi, sejarah dan bahasa
Melayu. Mr van der Chijs kaget, bahasa Melayu diajarkan di tanah orang bukan
Melayu (Batak) oleh guru non Melayu. Mr van der Chijs sangat puas dalam
kunjungan tersebut dan menyatakan kweekschool Tanobato adalah yang terbaik, dan
sekolah guru di Fort de Kock tidak layak mendapat status (menyandang nama)
sekolah guru. Disebutkan guru Willem Iskander menulis buku pelajaran sendiri
dan telah menerjemahkan beberapa buku berbahasa Belanda. Mr van der Chijs
menganganggap sekolah guru Tanobato sebagai suatu keajaiban, di wilayah yang
kurang terinformasikan telah didirikan sekolah yang sangat bagus. Pada fase ini
bahkan belum satu sekolah didirikan di Riau Untuk sekadar menambahkan Willem
Iskander adalah kakek buyut Prof Andi Hakim Nasoetion, Ph.D (rektor IPB Bogor
1978-1987).

Lulusan
sekolah guru Tanobato, kemudian dengan cepat memenuhi sekolah-sekolah di
seluruh Angkola Mandailing. Kemajuan sekolah guru di (afdeeling) Angkola
Mandailing (residentie Tapanoeli) telah memicu para pegiat pendidikan di
Residentie Preanger yang kemudian pada tahun 1866 sekolah guru didirikan di
Bandoeng. Guru-guru eks murid Willem Iskander juga menulis buku pelajaran
sendiri. Beberapa buku Willem iskander dan juga beberapa karya muridnya
diterbitkan di Batavia. Salah satu buku yang terkenal karya Willem Iskandern
adalah Siboeloe-boeloe, Siroemboek-romboek yang berisi puluhan puisi dan
belasan prosa yang diterbitkan di Batavia tahun1872 (masih digunakan hingga
kini di sekolah-sekolah di Angkola-Mandaling (kini Tapanuli Selatan). Untuk
memajukan pendidikan dan peningkatan kualitas guru, pemerintah pusat akan
mengirim tiga guru muda untuk studi keguruan ke Belanda (layaknya Willem
Iskander tempo dulu). Tiga guru muda itu adalah Raden Soerono dari Solo, Raden
Adi Sasmita dari Bandoeng dan Barnas Loebis dari Tapanoeli (eks murid Willem
Iskander). Untuk membimbing tiga guru muda ini, pemerintah menunjuk Willem
Iskander dengan memberikan beasiswa untuk meningkatkan studinya di Belanda
(akta guru kepala). Mereka berempat dari Batavia berangkat pada bulan Mei 1874.
Seperti dikutip di atas Radja Ali Hadji pada tahun 1873 meninggal di Riau.

Oleh karena Willem Iskander berangkat studi
(kembali) ke Belanda, maka sekolah guru Tanobato ditutup pada tahun 1873.
Sebagai penggantinya, sekolah guru yang baru dibangun di Padang Sidempoean yang
akan dibuka tahun 1879 dimana direkturnya diproyeksikan Willem Iskander
sepulang studi dari Belanda. Namun di Belanda, Barnas Lubis meninggal dunia
1875, kemudian Raden Soerono sakit keras dan ketika dipulangkan ke tanah air
(wilayah tropis) meninggal di tengahh pelayaran di Port Said. Adi Sasmita juga
sakit, lalu yang tahun 1876 Willem Iskander dikabarkan meninggal di Belanda.

Pada
tahun 1876, saat berita meninggalnya Willem Iskander sampai ke Mandailing,
seorang Belanda yang masih belia yang menjadi opziener di Panjaboengan, merasa
tertarik dengan sastra dan budaya Batak (dan kerap mengirim tulisannya ke .
Lalu kemudian pegawai muda itu menjadi sangat dikenal di kampong halaman Willem
Iskander. Pada tahun 1878 ketiga Gubernur Jenderal berkunjung ke Angkola
Mandailing, dalam satu kesempatan sang GG tertarik dengan bakat pemuda tersebut
yang lalu menawarkan pekerjaan baru sebagai guru. Nama pemuda yang jatuh cinta
dengan sastra dan budaya Batak tersebut adalah Charles Adrian van Ophuijsen
(yang nota bene anak dari Controleur di Natal yang kemudian menjadi Residen di
residentie Padangsch Bovenlanden yang mendirikan sekolah guru Fort de Kock
tahun 1856). Like father, Lika son.

Untuk memenuhi persyaratan guru, Charles
Adrian van Ophuijsen, harus mengikuti ujian guru. Lalu pemerintah membentuk
komite ujian dimana ujiannya diadakan di Padang (ibu kota Province). Pada tahun
1879 Charles A van Ophuijsen lulus ujian guru dan kemudian ditembatkan di
sekolah guru Kweekschool Probolinggo sebagai guru bahasa Melayu. Dimanakah CA
van Ophuijsen belajar bahasa melayu? Sudang barang tentu di Panjaboengan
(kampong halaman Willem Iskander). Hal itu karena CA van Ophuijesen pada usia
delapan tahun dikirim ayahnya JAW van Ophuijsen yang menjadi residen di Palembang
untuk sekolah ke Belanda. Setelah lulus sekolah kedokteran di Belanda, CA van
Ophuijsen yang awalnya ditempatkan di bagian kesehatan militer di Hindia, lalu
dipindahkan sebagai opziener di Panjaboengan.

Pada
tahun 1879 sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean dibuka. Oleh karena
Willem Iskander telah tiada, maka yang ditunjuk adalah Mr Harmsen, direktur
Kweekschool Fort de Kock. Pada tahun 1881 guru CA van Ophuijsen dipindahkan
dari Kweekschool Probolinggo ke Kweekschool Padang Sidempoean. Setelah menikah
dengan guru sekolah TK di Probolinggo, mereka segera berangkat ke Padang
Sidempoean (CA van Ophuijsen kembali ke komunitas awalnya di Angkola
Mandailing). Salah satu lulus pertama sekolah guru Padang Sidempoean ini adalah
Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Pada tahun 1884 CA van Ophuijsen diangkat
menjadi direktur sekolah menggantikan Harmsen. Selama di Padang Sidempoean CA
van Ophuijsen semakin produuktif meneliti dan menulis artikel di surat kabar
dan jurnal ilmiah. Pada tahun 1887 salah satu lulusan terbaik murid van
Ophuijsen adalah Radjieoen Harahap gelar Soetan Casajangan.

Setelah mengabdi sebagai guru di Padang
Sidempoean selama delapan tahun, lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah
guru, CA van Ophijsen diangkat sebagai Inspektur Pendidikan Pribumi di Province
Sumatra’s Westkust yang ditempatkan di Padang. Province Sumatra’s Westkust
terdiri dari tiga residentie: Residentie Padangsche Benelanden ibukota di
Padang, Residentie Padangsche Bovenlanden ibu kota di Fort de Kock dan residentie
Tapanoeli ibukota di Sibolga). Meski tidak mengajar lagi, sebagai Inspektur
Pendidikan Pribumi, CA van Ophuijsen terus mengembangkan studinya tentang
sastra dan budaya Batak serta studi bahasa Melayu. Sementara itu, mantan murid
CA van Ophuijsen, Dja Endar Moeda setelah pensiun menjadi guru di Singkil, lalu
berangkat haji ke Mekkah. Sepulang dari haji, Dja Endar Moeda memilih tinggal
di Padang (ibukota provinsi) dan mendirikan sekolah swasta di Padang tahun
1895. Di kota Padang guru dan murid kembali bersua lagi setelah lama berlalu.
Dja Endar Moeda, direkrut penerbit surat kabar di Padang Pertja Barat sebagai
editor. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisisi surat kabar Pertja Barat
beserta percetakannya. Masih tahun ini Dja Endar Moeda menginisiasi organisasi
kebangsaan di Padang yang diberi nama Medan Perdamaian yang sekalgus menjadi
direkturnya. Pada tahun 1902 Medan Perdamaian membanti peningkatan pendidikan
di Semarang sebesar f14.000 yang diserahkan sendiri oleh Dja Endar Moeda
melalui Inspektur Pendidikan Pribumi Sumatra;s Westkust CA van Ophuijsen. Pada
tahun 1904 CA van Ophuijsen diangkat menjadi guru besar bahasa Melayu di
Universiteit Leiden. Pada tahun 1905 eks muridnya di Padang Sidempoean Soetan
Casajangan tiba di Belanda untuk melanjutkan studi. Dalam pengajaran bahasa
Melayu di Unniversiteit Leiden, van Ophuijsen dibantu sebagai asisten oleh
Soetan Casajangan. Seperti halnya di Padang, Dja Endar Moeda mendirikan
organisasi kebangsaan yang pertama (Medan Perdamaian), Soetan Casajangan di
Belanda pada tahun 1908 mendirikan organisasi mahasiswa yang diberi nama
Indische Vereeniging (kemudian namanya menjadi Perhimpoenan Indonesia).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

 

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

419.725 Mhz - PMI Kab Sleman DIY

Temukan Kelebihan Anak!

Temukan Kelebihan Anak!

Iklan

Recommended Stories

Pantai Samas Bantul yang Terkenal Konservasi Penyu nya

12.06.2015

Kode Pos Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau Kalimantan timur

12.05.2017

Khutbah Arafah Rasulullah SAW

24.10.2012

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?