*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Dalam
soal Bahasa Indonesia tampaknya masih muncul berbagai pertanyaan pada masa kini.
Ada yang mempertanyakan mengapa bahasa persatuan Indonesia nama Bahasa
Indonesia, mengapa bukan bahassa Jawa yang dijadikan bahasa nasional dan
sebagainya. Namun ada juga yang coba menjelaskan tetapi. Pertanyaan-pertanyaan meski
tidak relevan tetapi mengindikasikan masih dipahami sepenuhnya. Yang menjadi
masalah utama adalah bagaimana menjelaskan duduk soalnya secara tepat. Ada yang
coba menulis narasi penjelasanya, tetapi malah dapat meinimbulkan pertanyaan
baru.

lain: (1) Mengapa Bahasa Jawa Tidak Menjadi Bahasa Persatuan? Bahasa Nasional?
Bahasa Resmi?; (2) Sumpah Pemuda: Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Sebagai
Bahasa Persatuan? Sebaliknya ada judul yang mencoba menjelaskan, antara lain:
(1) Kronologi Bahasa Melayu Berubah Menjadi Bahasa Indonesia pada Sumpah Pemuda
(Tempo.co); (2) Awalnya Bahasa Melayu sebagai Bahasa Persatuan (Tempo.co); (3) Alasan
Bahasa Jawa tidak Dijadikan Bahasa Nasional; (4) Soekarno: Bahasa Jawa Jangan
Jadi Bahasa Nasional; (5) Bukan Bahasa Jawa ataupun Melayu. Pada akhir-akhir
ini muncu pertanyaan baru, antara lain: (1) Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia,
Mana yang Lebih Cocok Jadi Bahasa Resmi ASEAN? (berita Republika)
Lantas
bagaimana sejarah asal usul bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia
dan mengapa nama Indonesia yang dipilih? Seperti disebut di atas, munculnya
pertanyaan menandakan minat yang penting arti bahasa penting dan
mengindikasikan penjelasan dalam narasi sejarah tidak sepenuhnya diterima. Ada
juga yang coba menjelaskan tetapi malah menimbulkan pertanyaan baru. Lalu
bagaimana sejarah asal usul bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia
dan mengapa nama Indonesia yang dipilih? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Bahasa Melayu: Secara Alamiah
Menjadi Bahasa Persatuan
Sejarah
bahasa Melayu di Indonesia adalah sejarah penggunaan bahasa sejak zaman kuno di
wilayah Nusantara yang orang Eropa menyebutnya Hindia Timur. Pertumbuhan dan
perkembangan bahasa Melayu ini sudah diketahui sejak 1500 tahun yang lalu
(lihat prasasti Kedoekan Boekit 682 M). Saat kehadiran oraang Eropa secara
masif, sejak tahun 1509, penggunaan bahasa Melayu (sebagai lingua franca) sudah
menyebar luas di Hindia Timur (Nusantara). Oleh karenanya orang Eropa
menggunakan bahasa Melayu.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu:
Mengapa Nama Bahasa Indonesia Dipilih?
Pemilihan
nama Indonesia dalam bahasa yang digunakan karena tujuan tertentu. Tujuannya
saat itu adalah pengukuhan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Dalam hal
ini nama yang dipilih sebelumnya adalah Indonesia untuk menggantikan nama yang
diberikan oleh orang Belanda, Hindia Belanda. Sementara satu nusa yang dimaksud
adalah semua wilayah yang menjadi wilayah yusrisdiksi Pemerintah Hindia
Belanda. Dua tujuan ini disadari dalam konteks perjuangan melawan kolionialisme
(mengentaskan orang asing/Eropa khususnya Belanda). Satu lagi dari tiga tujuan adalah
satu bahasa. Saat itu, dalam perjuangan melawan kolonialisme, yang dalam hal
ini para pemuda yang berkongres pada tahun 1928.
Para peserta yang berkongres tahun 1928 yang
menetapkan tiga tujuan, terdiri dari para pemuda/pelajar yang dapat dibilang mewakili
seluruh wilayah Hindia Belanda yang terdiri dari banyak pulau. Dalam struktur
Panitia Kongres terdiri dari Soegondo (Pemuda Indonesia asal Jawa) sebagai
ketua; Mohamad Jamin (Pemuda Sarikat Sumatra dari Minangkabau) sebagai
sekretaris; Amir Sjarofoeddin Harahap (Perhimpunan Batak dari Tapanoeli)
sebagai bendahara. Para anggota antara lain AB Senduk dari Minahasa
(Sulawesdi); Johannes Leimena dari Ambon (Maluku) dan Roebini asal Betawi (Batavia).
Nama
nusa (wilayah) dan nama bangsa (masyarakat) para pemuda sepakat, atau secara
alamiah sebelumnya merujuk nama Indonesia. Namun untuk nama bahasa yang
digunakan nama yang dipilih juga Bahasa Indonesia. Menagapa? Pertama, masyrakat
di wilayah Hindia Belanda terdiri dari banyak suku bangsa (Jawa, Batak, Minangkabau,
Melayu, Minahasa, Ambonm Betawi dan sebagainya) dengan bahasa ibu masing-masing.
Meski demikian mereka semua bisa berbahasa Melayu dan juga bahasa Belanda.
Dalam hal ini jelas bukan bahasa Belanda yang dipilih, tetapi bahasa Melayu
yang dipilih yang kemudian namanya disebut Bahasa Indonesia.
Hanya ada dua pilihan bahasa yang mungkin
dipilih yakni bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Lalu mengapa misalnya bukan
bahasa Jawa atau bahasa Batak yang dipilih? Jelas dalam hal ini lingua franca
saat itu di Hindia Belanda adalah bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Masyarakat
yang mampu berbahasa Belanda saat itu hanya sebagian kecil, dan itu terbilang
hanya kelompok elit dan terpelajar (seperti guru siswa dan mahasiswa).
Sementara bahasa Melayu digunakan secara luas di Hindia Belanda dan juga
sebagian golongan biasa banyak yang bisa berbahasa Melayu, meskipun itu berada
di pedalaman Jawa dan pedalaman Batak. Satu yang penting diantara dia bahasa
ini, bahasa Melayu adalah bahasa asli (pribumi).
Dengan
pilihan bahasa persatuan yang dipilih bahasa Melayu, lalu apa nama bahasa yang
digunakan dalam konteks satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Dalam hal ini
bahasa Melayu yang dipilih bukanlah pilihan bahasa tetapi secara alamiah hanya
bahasa Melayu yang sesuai untuk kebutuhan satu nusa, satu bangsa dan satu
bahasa. Dengan kata lain, secara alamiah dengan sendirinya menjadi bahasa yang
sesuai di wilayah Hindia Belanda (yang juga menjadi salah satu bahasa daerah di
wilayah Hindia).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu:
Mengapa Nama Bahasa Indonesia Dipilih?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





