Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (620): Semenanjung Chersonesus dan Pulau Taprobana Peta Era Ptolomeus Abad ke-2; Daratan Menyempit dan Kemudian Meluas

Tempo Doelo by Tempo Doelo
29.05.2022
Reading Time: 22 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN



























































































































































false
IN


























































































































































Peta-peta pada dasarnya tidak dibuat oleh seorang diri. Seperti peta masa
kini adalah hasil kumulatif pengetahuan para ahli. Peta-peta masa lampau
seperti pada era Ptolomesu, peta-peta yang tersedia adalah hasil-hasil yang
dikumpulkan dari berbagai pihak dari seluruh penjuru peradaban, mulai dari
pelancong/penjelajah, para pelaut, yang mengumpulkan peta dari penduduk lokal
di berbagai tempat di muka bumi apakah dalam bentuk asli atau yang disalin.
Peta-peta yang tersedia inilah yang dianalisis oleh Ptolomeus untuk
mengkonstruksi muka bumi (Peta Dunia). Tentu saja harus diingat Ptolomeus tidak
memiliki waktu untuk mengkonfirmasi peta-peta itu ke berbagai wilayah yang
jauh. Saat itu harus pula diingay belum ditemukan kompas (hanya berdasarkan
ilmu awal astronomi). Ini sama dengan saya pada masa ini, saya kumpulkan
berbagai peta sejak era Portugis, VOC dan Pemerintah Hindia Belanda yang
kemudian saya analisis dalam kaitan penulisan topik-topik tertentu yang pada
gilirannya saya memahami konstruksi peta Indonesia masa lampau yang dapat
diperbandingkan dengan peta googlemap masa kini. Semua itu menjadi domoin saya dalam
penulisan berbagai artikel di dalam blog ini.

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

Dalam hal kapasitas Ptolomeus saat itu, saya yakin Ptolomeus adalah orang
yang bekerja di bidang keahliannya, geografi, dan melakukan pekerjaan sangat
teliti, sehingga peta yang dibuat/disalin ulang Ptolomeus adalah peta yang
benar-benar ada dan wujudnya seperti yang digambarkan dalam peta tersebut.
Namun sayangnya, tanpa menggunakan pemahaman yang komfrehensif, generasi Eropa
berikutnya, ada yang menganggap Ptolomeus menyalin peta yang salah dan
menganalisisnya dalam catatan geofrafinya. Jelas itu bukan tugas Ptolomeus,
karena keterbatasan banyak hal.

Generasi Eropa selanjutnya sepakat bahwa peta
Aurea Chersoneus itu beradaa di wilayah timur di Asia sekitar Semenanjung
Malaya yang sekarang. Hanya saja ditanggapi dengan pemahaman mereka saat itu,
bahwa peta itu dibuat berlebihan sehingga peta Aurea Chersonesur panjangnya
telah meleati garis ekuator. Tanda ekuator itulah yang sebenarnya membingungkan
gernerasi Eropa setelah Ptolomeus sehingga mereka dengan gampang menyalahkan
Ptolomeus bahwa bentuk sebenarnya peta itu salah.

ADVERTISEMENT

Dengan
asumsi, saya yakin bahwa peta yang dibuat/disalin sejak era Ptolomeus tentang
semenanjung Aurea Chersonesus adalah benar apa adanya, maka yang menimbulkan
pertanyaan adalah mengapa wujud semenanjung itu berbeda dengan pada masa 1.300
tahun berikutnya. Pertanyaan ini tentu memerlukan jawaban dengan mengumpulkan
bukti data yang lebih banyak.

Sebelum saya mencari dan mengumpulkan
bukti-bukti, ada satu peneliti Belanda dalam artikelnya yang terbit tahun 1942
yang membahas tentang geografi di seputar Selat Malaka dalam hubungannya
membuktikan posisi sebenarnya dimana letak kerajaan Sriwijaya. Peneliti
tersebut bernama V Obdeijn yakin dan menggambarkan bahwa pada awal era
Sriwijaya semenanjung Malaya masih lebih panjang hingga mencapai pulau Bangka
dan Belitung. Dalam hal ini peta intuitif Obdeijn tersebut saya sebut (saja)
sebagai peta Semenanjung Bangka. Oleh karena itu Peta Semenanjung Bangka inilah
yang kini saya interpretasi sebagai semenanjung Aurea Chersoenesus yang berasal
dari abad ke-2. Tampaknya Obdeijn dalam analisisnya pada artikel 1942 itu tidak
sama sekali menyebut atau menyinggung peta Aurea Chersonesus. Dalam hal ini,
saya adalah yang pertama menghubungkan petas Aurea Chersonesus dengan peta
intuitif Obdeijn yang karena itu saya sebut namanya peta Semenanjung Bangka.

Tunggu deskripsi lengkapnyaBagaimana
wilayah/kawasan semenanjung Aurea Chersonesus atau Semenanjung Bangka berubah
yang kemudian terpecah-pecah menjadi pulau-pulau yang lebih kecil seperti
Bangka, Belitung, Singkep, Lingga, Batam, Bintan dan Singapoera. Penjelasan ini
sudah dideskripsikan pada artikel terdahulu tentang Semenanjung Bangka, yang
mana terpecahnya daratan Semenanjung Bangka karena pengaruh abrasi jangka
panjang dari arah Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Proses abrasi jangka panjang
ini terjadi pada bahan batuan yang membentuk Semenanjung Bangka adalah batuan
granit yang banyak mengandung partikel kuarsa (bahan pasir).

Komposisi bahan pembentuk daratan Semenanjung
Bangka meski terdiri dari bahan batuan keras, tetapi karena mengandung kuarsa
maka akan lebih mudah berguguran jika diterjang arus laut/ombak dalam jangka
panjang. Hal itu akan berbeda dengan bahan batuan yang membentuk daratan
(pulau) Sumatra yang terdiri dari batuan andesit yang kuat dan solid sebagai
pengaruh aktivitas vulkanik di masa lampau. Oleh karenanya, meski Sumatra dan
Jawa terdapat pengaruh yang kuat dari arus laut/ombak Lautan India. Tidak menyebabkan
terjadi perubahan yang radikal di dua pulau. Harus diingat bahwa zaman dulu
pulau Sumatra dan Jawa masih ramping (tidak segemuk/seluas yang sekarang).
Bagaimana Sumatra dan Jawa menjadi lebih luas karena terjadi proses sedimentasi
jangka panjang di arah pantai timur Sumatra dan arah utara pantai Jawa. Proses
sedimentasi ini karena adanya aktivitas manusia di pedalaman ke dua pulau dan
juga karena ada dampak yang ditimbulkan aktivitas tektonik dan vulkanik.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Semenanjung Chersonesus dan
Pulau Taprobana: Proses Perubahan Daratan Jangka Panjang yang Menyempit
(Mengecil) dan Meluas (Membesar)

Kapan
pulau-pulau Bangka, Belitung dan lainnya terpisah satu sama lain dan terpisah
dengan sisa semenanjung (Semenanjung Malaya) tidak diketahui secara pasti
karena itu telah berlalu jauh di masa lampau. Itu sudah berbeda dengan berubah secara
perlahan-perlahan lebih dari 1.000 tahun. Besar dugaan bahwa daratan terluas di
Nusantara (antara Asia dan Australia) adalah daratan Semenanjung Bangka. Namun sesudahnya
daratan luas itu menjadi berkeping-keping menjadi pulau-pulau kecil dimana
pulau yang terbesar Bangka dan Belitung.

Dalam fase awal terbentuknya pulau-pulau kecil
(eks Semenanjung Bangka), seperti disebut di atas, gambaran  pulau Jawa dan Sumatra sangat ramping, tidak
segemuk/seluas sekarang. Demikian juga pulau Kalimantan, bentuknya masih kecil
dan tidak seluas sekarang. Deskripsi tentang pulau Kalimantan, juga dulu pada
era Ptoloemus disebut pulau Taprobana sudah dideskripkan pada artikel terdahulu
di dalam blog ini. Bahkan pulau Papua juga masih kecil dan tidak seluas
sekarang, yang juga telah dideskripsikan pada artikel terdahulu dalam blog ini.

Hal
itulah mengapa garis ekuator kini berada di sekitar pulau Lingga, suatu garis
ekuator yang telah dipetakan pada era Prolomeus sebagai garis ekuator yang
memotong semenanjung Aurea Chersonesus. Perubahan yang terjadi inilah yang
orang Eropa generasi setelah Ptolomeus memperhatikan peta Semenanjung Bangka
(Aurea Chersoneus) dianggap salah, karena sudah berbeda seperti bentuk yang
kurang lebih sama dengan yang sekarang.

Dalam hal ini Ptolomeus tidaklah bodoh, Dalam
hal ini generasi Eropa berikutnya tidak bisa menyalahkan Ptolomeus. Hanya
bentuk semenanjung Aurea Chersoneus yang berubah, perubahan yang tidak terlalu
dipahami di Eropa saat itu. Tentu saja hingga saat ini perubahan itu tidak
dimengerti hingga dapat dijelaskan pada artikel ini. Seperti halnya artikel
saya sebelumnya tentang peta pulau Taprobana, penjelasan semenanjung Aurea
Chersonesus dipotong garis ekuator dapat dikatakan penemuan terbaru dalam
sejarah geografi.

Tunggu
deskripsi lengkapny
a

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

 

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

#34 Pantai Green Bowl

Dieng Orienteering Race 2022 Sukses Digelar, Turut Promosikan Pesona Alam dan Ekraf Lokal

Iklan

Recommended Stories

IDAMAN PENUNTUT

5 Kelebihan Berwisata di Danau

23.03.2021

Siapa Bilang Tak Bisa Bisnis dengan Modal Nol?

13.04.2012
Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Bank Sinarmas di  Bali

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Bank Sinarmas di Bali

23.11.2020

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

23.01.2026
Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

23.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?