Lantas bagaimana sejarah Raden Mas Soesalit, putra semata wayang RA
Kartini? Seperti disebut di atas, RA Soesalit diharapkan dapat memenuhi
cita-cita ibunya untuk studi ke Belanda. Apakah itu tercapai? Yang jelas
saudara Soesalit adalah seorang revolusioner muda di Belanda dengan citat-cita
kemerdekaan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah RM Soesalit? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan RM
Soesalit: Putra Tunggal RA Katini
Ketika
sebelum lahir RM Soesalit, ibunya tempo doeloe setelah lulus sekolah dasar
Eropa (ELS) ingin melanjutkan studi. Namun keinginan itu tidak pernah tercapai.
Kini, RM Soesalit, putra tunggal RA Kartini, setelah lulus sekolah ELS di
Rembang melanjutkan studi ke sekolah menengah (HBS) di Semarang. Pada tahun
1920, RM Soesalit lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di HBS
Semarang (lihat De locomotief, 01-05-1920). Di atasnya yang naik ke kelas tiga
antara lain RM Soekadari dan di atasnya lagi yang naik ke kelas empat antara
lain JA Ondang dan RM Abdoel Madjid.
Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang dibuka tahun
1877 (sekolah HBS ketiga setelah di Batavia dan Soerabaja). Lama studi di HBS
lima tahun.; Siswa yang diterima adalah lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda
(ELS). Lulusan HBS dapat melanjutkan studi ke fakultas/universitas. RA Kartono
(abang dari RA Kartini) salah satu lulusan HBS Semarang golongan pribumi
pertama pada tahun 1896 (yang kemudian tahun itu melanjutkan studi ke Belanda).
Pada tahun 1920 ini, fakultas pertama dibuka di Indonesia (baca: Hindia
Belanda) yakni THS di Bandoeng (dimana pada tahun 1922 R Soekarno diterima). RM
Abdoel Madjid yang naik ke kelas empat HBS Semarang adalah abang dari RM
Soesalit (satu ayah, beda ibu). Ayah mereka, Raden Mas Toemenggoeng
Djojo-Adhiningrat hingga tahun 1918 masih sebagai bupati (regent) Rembang
(lihat De Indier, 12-09-1918). Â Â
Pada
tahun 1921 RM Soesalit lulus ujian di HBS Semarang, naik dari kelas dua ke klas
tiga (lihat De locomotief, 02-05-1921). Dalam hasil ujian HBS tahun 1922 tidak
terdapat nama RM Soesalit (lihat  De
expres, 01-05-1922). Di kelas di atasnya, yang lulus ujian naik ke kelas lima
antara lain Abdoel Madjid dan RM Soekadari, Tampaknya RM Abdoel Madjid
tertinggal satu tahun, apakah sebelumnya tinggal kelas atau menunda studi. Sebagaimana
diketahui pada tahun 1922 Raden Soekarno lulus ujian akhir di HBS Soerabaja dan
diterima di fakultas teknik THS di Bandoeng. Pada hasil kelulusan HBS Semarang
1923 tidak terdapat nama RM Soesalit, tetapi ada nama RM Abdoel Madjid.
Pada tahun 1923 RM Abdoel Madjid dan RM
Soekadari lulus ujian akhir di HBS Semarang. RM Soekadari tampaknya
mnelanjutkan studi ke Belanda. Ini dapat dilihat pada manifes kapal ss
Insulinde yang akan berangkat dari Batavia dengan tujuan akhir Rotteram tanggal
24 Juli dimana diantaranya terdapat nama RM< Soekadari (lihat.De Preanger-bode,
13-07-1923). Dalam manifes juga terdapat nama nona I Haroen (diduga kuat Ida
Loemongga bin Haroen Al Rasjid Nasoetion), Kwik Tjie Sing, Pangeran Ario
Soerjowidjojo. ALA Siahaja dan Sjamsoeddin. Dari ratusan penumpang hanya
nama-nama itu yang bernama non Eropa/Belanda. Catatan: Ida Loemongga lulusan
HBS di Prins Hendrik School (PHS) di Batavia yang kemudian melanjutkan studi
kedokteran di Universiteit te Utrecht, kelak pada tahun 1931 berhasil meraih gelar
doktor (Ph.D) dalam bidang kedokteran. Mohamad Hatta sebelumnya lulusan PHS
Batavi yang melanjutkan studi ke Belanda pada tahun 1921.
RM
Abdoel Madjid tidak melanjutkan studi ke Belanda. RM Abdoel Madjid melanjutkan
studi ke Bandoeng (THS). Pada tahun 1923 ini di Bandoeng organisasi Jong Java
melakukan rapat umum, dimana terbentuk pengurus baru yang diketahui oleh R
Soekarno, student di Tenchnische Hoogeschool (lihat De Indische courant, 19-12-1923).
Disebutkan sebagai sekretaris, Saleh siswa di OSVIA dan bendahara Abdoel Madjid
mahasiswa di Technische Hoogesschool.
Akan tetapi tampaknya Abdoel Madjid tidak
meneruskan studinya di Bandoeng. Hal ini karena dalam daftar kelulusan THS pada
tahun-tahun beriokut tidak terdapat nama Abdoel Madjid. Apakah RM Abdoel Madjid
telah mengundurkan diri dari THS Bandoeng dan lebih memilih studi ke Belanda?
Pada
tahun 1924 RM Soesalit lulus ujian transisi di HBS Semarang naik dari kelas
empat ke kelas lima (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 03-05-1924).
RM Soesalit baru menyelesaikan studinya di HBS Semarang tahun 1926 (lihat Algemeen
handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 27-05-1926). Tampkanya RM Soesalit harus
menyelesaikan studi HBS, normalnya lima tahun, menjadi tujuh tahun. Dalam hal
ini RM Soesalit ketinggal kelas dua tahun apakah karena tinggal kelas dan atau
menunda studi (cuti sekolah).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
RM Soesalit Djojoadiningrat
dan RM Abdoel Madjid Putra Djojoadiningrat: Perhimpoenan Indonesia di Belanda
dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Â
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




