Siapa Be Tiat Tjong? Boleh jadi
tidak ada yang ingat atau tidak mengetahuinya lagi. Yang jelas nama Be Tiat
Tjong dihubungkan dengan nama organisasi kebangsaan Chung Hwa Hui. Nama besar
tidak selalu terinformasikan. Itulah masalahnya. Namun sejarah tetaplah
sejarah. Untuk soal ini tidak hanya Chung Hwa Hui, yang minim narasi sejarahnya,
masih banyak lagi. Nama Be Tiat Tjong sulit ditemukan di internet. Tentu saja
tidak ada entri Be Tiat Tjong di laman Wikipedia.
dikenal sebagai CHH, adalah sebuah organisasi dan partai politik pro-Belanda
konservatif di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), yang sering dikritik karena
menjadi corong dari kalangan berkuasa Tionghoa kolonial. Partai tersebut
mengkampanyekan kesetaraan hukum antara etnis Tionghoa dan orang Eropa di
koloni tersebut, dan mengadvokasikan keikutsertaan politik etnis Tionghoa di
negara kolonial Belanda tersebut.
Lantas
bagaimana sejarah Be Tiat
Tjong? Nah,
itu dia! Seperti disebut di atas, Be Tiat Tjong adalah seorang tokoh sejak mahasiswa di
Belanda tetapi kini kurang terinformasikan. Yang dikenal adalah Chung Hwa Hui. Lalu
bagaimana sejarah Be Tiat
Tjong?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan-Pahlawan Indonesia
dan Be Tiat Tjong di Belanda
Setelah
lulus sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS), Be Tiat Tjong melanjutkan studi ke ssekolah menengah. Be
Tiat Tjong lulus ujian penerimaan di sekolah HBS di Semaranng tahun 1903 (De
locomotief, 25-04-1903). Pada tahun 1905
lulus ujian transisi naik dari kelas dua ke kelas tiga (lihat De
locomotief, 25-04-1905). Pada tahun 1906 naik ke kelas empat (lihat De
locomotief, 28-04-1906). Pada tahun 1907 naik ke kelas lima (lihat De
locomotief, 02-05-1907). Akhirnya Be
Tiat Tjong lulus ujian akhir di HBS Semarang tahun 1908 (lihat De locomotief, 22-05-1908).
Yang sama-sama lulus dengan Be Tiat Tjong adalah Raden Soemitro. Keduanya juga
sama-sama melanjutkan studi ke Belanda.
Kapan Be Tiat Tjong berangkat ke Belanda tidak
terinformasikan. Raden Soemitro berangkat bulan Juli 1908 (lihat Sumatra-bode, 08-07-1908).
Raden Soemitro berangkat dengan kapal ss Kawi dengan tujuan akhir Nederland.
Satu kapal dengan Raden Soemitro adalah Raden Ambia Soedibio. Het vaderland, 14-08-1908
menyebutkan Raden Soemitro adalah Raden Ambia Soedibio.adalah anak dari Bupati
Koetoardjo dan cucu dari Bupati Banjoemas. Mereka sama-sama lulus HBS, Raden
Soemitro lulus dari HBS Semarang dan Raden Ambia Soedibio lulus dari HBS
Soerabaja. .
Tampaknya Be Tiat Tjong sudah
berada di Belanda sebagaimana diberitakan De nieuwe courant, 10-09-1908. Disebutkan
dari 147 yang baru mendaftar di Technische Hoogeschool di Delft, 94 telah
terdaftar sebagai calon anggota DSC Groenlijst dimana terdapat 4 nama asing
tahun ini, yaitu: Be Tiat Tjong, Notodhiningrat, Ambia Soedibio dan Raden Soemitro.
Namun bagaimana hasil selanjutnya belum diketahui (karena masih bersifat
kandidat). Namun dalam perkembangannya Raden Soemitro sudah lulus ujian masuk
Indischen Administratieven Dienst (lihat De Telegraaf, 11-10-1908). Sementara Be
Tiat Tjong berlum terinformasikan.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Be Tiat Tjong: Organiasi Chung
Hwa Hui di Belanda, 1922
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




