Beberapa pulau besar
di provinsi Sulawesi Tenggara adalah pulau Buton, pulau Muna, pulau Kabaena dan
pulau Wawonii. Pulau Wawonii sebelumnya pulau di kabupaten Kowane sejak 2013
telah dimekarkan dengan membentuk kabupaten baru Kabupaten Kowane Kepulauan.
Lantas apa pentingnya (pulau) Wawonii? Nah, itu dia. Itu yang perlu diketahui. Yang
jelas tempo doeloe pulau Wawonii dimasukkan ke wilayah Konawe, tetapi kini
telah dimekarkan menjadi kabupaten sendiri.

doeloe dicatat sebagai Wawoni. Pulau Wawonii adalah salah satu pulau di wilayah
Kabupaten Konawe, provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau ini terletak di Laut Banda
tepatnya utara pulau Buton dan di selatan pulau Manui. Lalu mengapa ketika
dilakukan pemekaran tahun 2013 dengan membentuk suatu kabupaten baru, mengapa
bukan nama Wawonii yang digunakan tetapi Konawe Kepulauan. Kini kabupaten
Konawe Kepulauaan terdiri dari tujuh kecamatan (barat, utara, tengah, tenggara dan
timur laut). Ibu kota kabupaten berada di Langara. Pulau Wawonii sendiri dihuni
oleh beberapa etnik diantaranya, selain Wawonii juga Bugis, Buton dan Kulisusu
(Buton Utara). Sementara itu, orang Wawonii tidak hanya tinggal di pulau, juga
sebagian mendiami bagian utara dari pulau Buton.
Lantas
bagaimana sejarah (pulau) Wawonii? Seperti disebut di atas pulau Wawnii kini telah
menjadi kabupaten. Suatu kabupaten di pulau Wawonii dengan nama kabupaten
Kowane Kepulauan. Yang jelas sejarah suku Wawinii kurang terinformasikan.
Dengan nama baru kabupaten Kowane Kepulauan, sejarah Wawoni akan semakin kurang
terinformasika, Untuk mengangkat kembali sejarah Wawonii perlu digali lagi
sejarahnya. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Wawoni: Antara Kowane dan
Buton
Nama Wawoni sudah sejak lama dikenal dan sudah masuk
dalam dunia, Paling tidak nama Wawony di dalam peta dunia dapat di lihat dalam
buku geografi Pieter van der Aa berjudul De wijd-beroemde voyagien na Oost- en
West-Indiën, mitsgaders andere gedeeltens des werelds, gedaan door de Engelsen
(1706). Dalam buku ini nama Boeton juga disebut, suatu tempat yang berdekatan
di jalan menuju Maluku, Jalur Bouton adalah salah satu jalur navigasi pelayaran
yang terbilang aman dari Makassar ke Ternate dan Amboina melalui wilayah
perairan Wawoni

Konawe tentu saja belum dikenal (belum diidentifikasi), Dalam nuku ini tidak
diidentifikasi nama (pulau) Muda. Ini mengindikasikan bahwa pulau Wawani Boeton
yang sudah dikenal sejak zaman kuno, nama Wawani menjadi penting pada sejarah
navigasi pelayaran (perdagangan). Namun bagaimana gambaran tentang pulau Wawani
ini tidak ditemukan keterangan. Yang jelas bahwa jalur Bouton adalah salah satu
jalur navigasi pelayaran yang terbilang aman dari Makassar ke Ternate dan
Amboina melalui wilayah perairan Wawoni. Besar dugaan bahwa karena jalur
navigasi ini nama Wawoni begitu dikenal sejak masa lampau. Pada era Pemerintah
Hindia Belanda nama Wawoni dicatat sebagai Wowoni.
Jalur Boeton dan Wawoni ini pada dasarnya jalur sempit
tetapi aman. Meski demikian jalur ini memiliki bahaya sendiri karena adanya
karang dan beberapa titik terdapat perairan dangkal yang membahayagan navigasi.
Bahaya ini semakin nyata pada era pemerintahan Hindia Belanda karena tonase
kapal yang semakin tinggi. Kapal-kapal angkatan laut pemerintah Hindia Belanda
kerap ke kawasan ini karena sering menjadi wilayah pelarian bajak laut yang
juga paraa bajak laut sering menggangu penduduk.
Kapal angkatan laut
Amsterdam melakukan patroli di sekitar perairan Boeton karena dilaporkan ada
aktivitas bajak laut. Untuk mebersihkan jalur dari Makassar ke Amboina kapal
itu menyisir ke jalur Buton hingga ke perairan Wawoni namun tidak ditemukan
tanda-tanda. Patroli ini baru menedapat jejak bajak laut ini di perairan lebih
ke utara dan terjadi tembak menembak (lihat De Oostpost : letterkundig,
wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 21-05-1856). Pada
tahun 1867 sebuah kapal dalam pelayaran dari Ternate melalui Xula Bessi
mengalami serang badai di laut Banda. Kapal ini lalu menyingkir ke perairan
Wawoni dan terus ke jalur Boeton dan berlabuh di pelabuhan Boeton (lihat Bijdragen
tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indie, 1867). Dari Makasser,
14 September 1898 dilaporkan kapal perusahaan paket ss Graaf van Bijlandt (kapten
van der Lee) telah kandas di terumbu karang di selat Wowoni di utara Boeton.
Kapal terendam. Tidak ada kecelakaan pribadi yang terjadi. Juga tidak ada
bahaya bagi mereka yang ada di dalamnya (lihat Soerabaijasch handelsblad, 14-09-1898).
Tampaknya pulau Wawoni sejauh ini (sejak era VOC) hanya
sebagai penanda navigasi pelayaran. Belum ada keterangan yang melaporkan
bagaiman situasi dan kondisi di pulau Wawoni. Sehubungan dengan bahaya
pelayaran, paling tidak kasus kandasnya kapal Bijlandt kemudian dilakukan
pemetaan laut di sekitar (kawasan) antara pulau Wawoni dan pulau Manoei untuk
menentukan titik-titik koordinat yang mana yang harus dihindari dalam pelayaran
(lihat De nieuwe courant, 22-08-1901). Dalam perkembangannya diketahui bahwa
pulau Wowoni pada dasarnya berada di wilayah Boeton.

perlawan yang dilakukan oleh Ambe Ma di Loewoe, pemerintah Hindia Belanda
melakukan kontrak dengan (kerajasan) Boeton (lihat Het vaderland, 14-04-1906).
Disebutkan pada tanggal 8 April diadakan kontrak ploitik dengan Boeton. Lebih
lanjut disebut (kerajaan Boeton yang independen) Boeton en Onderh. dimasukkan ke
wilayah pemerintah Celebes en Onderh. Wilayah tersebut berada di bawah
pemerintahan seorang Sultan, dibantu oleh dewan bangsawan; dewan ini juga
memilih sultan. Kerajaan ini dibentuk oleh pulau Boeton (berukuran sekitar 86
mil persegi) dengan beberapa pulau tetangga dimana Moena, Kambaena dan Wowoni
adalah yang terbesar dan lanskap Poléjang dan Roembia yang berada di ujung
selatan dari semenanjung tenggara Sulawesi.
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Pulau
Wawoni dari Masa ke Masa
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






