*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lampung di dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
Lampung tentulah sudah tua. Prasasti-prasasri yang ditemukan di Lampung menjadi
bukti awal. Hanya saja prasasti-prasasti itu kurang terinformasikan dan jarang
diinterpretasi sebagai bagian dari sejarah zaman kuno di Lampung. Dalam
hubungan ini, apakah hanya prasasti saja yang ada di Lampung? Lalu apakah ada candi-candi kuno yang menyertai
sejarah peradaban kuno di Lampung tersebut? Tentu saja kita terus menunggu laporan-laporan
penduduk yang dapat ditindaklujuti oleh para arkeolog.

Lampung adalah prasasti Pasemah. Prasasti ini ditemukan di sisi sungai Way
Pisang, kini masuk wilayah desa Palas Pasemah, kecamatan Palas, kabupaten
Lampung Selatan. Prasasti ini terdiri dari 13 baris dengan aksara Pallawa bahasa
Sanskerta (Melayu Kuno). Berdasarkan keterangan pada masa ini, prasasti berasal
dari abad ke-7. Isinya mengenai penaklukan daerah Lampung dan kutukan pada
siapa saja yang berani memberontak (kerajaan) Sriwijaya.
Lantas
bagaimana sejarah prasasti-prasasti di Lampung? Apakah sejarah Lampung terkait dengan sejarah
Sriwijaya? Lalu apakah keberadaan prasasti di Lampung memiliki
peninggalan zaman kuno yang lain seperti candi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu saja tidak
penting-penting amat, tetapi jika digabungkan untuk menjawab satu pertanyaan
tunggal bisa memiliki makna: Apakah
sejarah Lampung bermula di danau Ranau? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Danau Ranau di Lampung: Prasasti
Pasemah
Pada
tahun 1935, Dr FM Schnitger, kepala dinas kepurbakalaan di Palembang menerima
laporan bahwa ditemukan, bukan patung, tetapi batu berbentuk gajah di dataran
Pasemah (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-12-1935).
Batu yang disebut Batoe Gadjah itu yang diduga berasal dari zaman megalitik
(prasejarah). Batu itu tepatnya berada di dusun Pagar Gading di
tempat sepi di hutan bambu dekat danau kecil. Gajah itu berbaring dengan gambar
prajurit di kedua sisi yang diukir dari batu andesit dan memiliki panjang 2,17
meter yang mana kepala gajah terkesan dibuat orang yang mahir.

prajurit di kedua sisi, yang membawa pedang simetris bilateral yang lebar di
sabuk, tetapi tidak menyerupai senjata yang dikenal di daerah Lampung saat ini
sebagai keris atau rentjong. Pengamat membandingkan batu gajah di Lampung itu
dengan disertasi yang ditulis oleh Dr. Thomassen a Theussink van der Hoop,
mantan pilot Hindia Belanda yang saat ini bekerja di Dinas Arkeologi di
Batavia, yang mana gambar prajurit semacam itu ada juga yang terdapat di Museum
Hanoi, karena itu mungkin untuk menyimpulkan bahwa para pejuang yang gambarnya
muncul di Batu Gadja diduga kuat berasal dari Indo-Cina atau Tiongkok Selatan. Batu
itu diduga telah memainkan peran ritual dan simbolik dalam kehidupan
orang-orang ini dan digunakan untuk pemakaman kepala suku.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Prasasti Lampung: Apakah Ada Candi
di Martapura?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





