Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Jambi (1): Sebaran Candi Zaman Kuno di Daerah Aliran Sungai Batanghari, Jambi; M Sebo, Mauli, Sarolangun, Kerinci

Tempo Doelo by Tempo Doelo
22.05.2021
Reading Time: 24 mins read
0
Tata Cara Mandi Wajib yang Sesuai Sunnah Rasulullah
ADVERTISEMENT




false
IN


























































































































































 

RELATED POSTS

Dari album foto Bali-Jawa sekitar tahun 1920 (31): Kawasan pegunungan Jawa Timur

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (5)

Sejarah Menjadi Indonesia (325): Pahlawan Indonesia Tadjuddin Noor, Borneo; Indische Vereeniging di Leiden, Volksraad di Batavia

*Untuk melihat semua artikel sejarah Jambi di blog ini Klik Disini

Sejarah
Jambi haruslah bermula dari sejarah candi-candi di (kawasan) wilayah daerah
aliran sungai Batanghari. Besar kemungkinan dimulai dari wilayah hulu sungai
Batanghari yang sekarang.
Sebab wilayah hilir sungai masih rawa-rawa (tanah sedimentasi), seperti halnya
di hilir kota Palembang zaman kuno. Oleh karena itu dalam perkembangannya,
candi-candi di wilayah daerah aliran sungai Batanghari lebih beroritensi kepada
kerajaan-kerajaan di arah utara (Aru, Mauli-Pagarajoeng) daripada
kerajaan-kerajaan di selatan (Sriwijaya, Tulangbawang).

ADVERTISEMENT
Sungai tidak hanya infrastruktur alam dalam
bidang transportasi zaman kuno, juga nama sungai adalah penanda navigasi dalan
pelayaran (laut dan sungai). Nama sungai besar di (provinsi) Jambi adalah
sungai Batanghari, Nama ini merujuk pada batang yang juga diartikan sebagai
sungai (Sungai Hari). Nama sungai Batang[hari] menjadi salah satu penanda nama
geografis yang membedakan tidak adanya nama batang pada nama-nama sungai di
wilayah Palembang (provinsi Sumatera Selatan). Tidak pernah ditemukan catatan
tentang nama Batang Musi. Yang ada adalah nama sungai Banyu Asin (merujuk pada
nama sungai di Jawa). Penggunaan nama batang terkesan dari Jambi hingga ke
bagian utara di Atjeh.

Lantas
bagaimana sejarah candi-candi di daerah aliran sungai Batanghari di wilayah
provinsi Jambi yang sekarang
? Seperti yang disebut di atas, wilayah daerah aliran
sungai Batanghari berada diantara daerah aliran sungai Musi di sebelah selatan
dan daerah liran sungai di sebelah utara seperti sungai Indragiri, sungai
Kampar dan sungai Rokan (provinsi Riau) dan sungai Barumun (Sumatera Utara).
Lalu apa pentingnya keberadaan candi-candi kuno tersebut bagi provinsi Jambi
? Seperti disebut di atas, dari sejarah candi inilah
sejarah Jambi mulai dinarasikan.
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Sungai Batanghari: Kerajaan
Aru dan Kerajaan Sriwijaya

Dari
arah mana peradaban di (pulau) Sumatra bermula
? Itu tergantung eranya. Pada era permulaan peradaban
dari arah barat. Danau-danau yang dekat ke pantai barat menjadi pusat peradaban
di wilayah pedalaman (pulau) Sumatra. Pusat-pusat peradaban di pedalaman di
seputar danau adalah danau Kerinci (Jambi), danau Ranau (Sumatra Selatan dan
Lampung), danau Singkarak dan Maninjau (Sumatra Barat), danau Siais dan danau
Toba (Sumatra Utara), danau Takengon dan Tangse (Aceh). Peradaban baru bagi
penduduk asli Sumatra ini dipengaruhi oleh kebudayaan India.

Pada era ini antara satu pusat peradaban dan pusat
peradaban lainnya di wilayah pedalaman terhubung satu sama lain melalui jalan
darat (jalan lintas Sumatra bagian tengah yang sekarang). Aspek-aspek
kebudayaan melalui jalan darat ini berinteraksi seperti bahasa, aksara, religi,
teknologi termasuk arsitektur, dan navigasi pelayaran perdagangan tidak hanya
ke pelabuhan-pelabuhan di pantai barat juga di pantai timur. Seiring dengan
meningkatnya pengaruh India di Jawa dan kehadiran pengaruh kebudayaan Tiongkok,
maka pusat-pusat peradaban awal di pedalaman merangsek ke arah timur mengikuti
arah navigasi palayaran sungai yang kemudian terbentuk pelabuhan-pelabuhan baru
di pantai timur seperti Martapura, Palembang, Jambi, Indragiri, Bangkinang dan
Binanga (Padang Lawas Tapanuli). Tahap perkembangan peradaban (baru) dimulai
dengan orientasi ke pantai timur (di selat Malaka). Dalam perkembangan baru
inilah mulai muncul pembangunan candi-candi dan pasang surutnya
kerajaan-kerajaan di pulau Sumatra (Aru Padang Lawas di utara, Sriwijaya
Palembang di selatan dan Mauli Dharmasraya di tengah).

Data
tertulis paling tua di Sumatra adalah prasasti Kedukan Bukit (682) yang
mengindikasikan adanya dua nama tempat Minana[tamvan] dan Srivijaya. Nama
Minana ini diduga kuat nama Binanga yang sekarang di muara sungai Barumun
(Padang Lawas) dan Srivijaya diduga kuat nama raja atau nama tempat Palembang
yang sekarang (tempat ditemukan prasasti).

 

Nama Minana atau Minanga atau Binanga
disebutkan ditemukan bada sumber Tiongkok, T’ang-Hui-Yao yang ditulis oleh Wang
p’u pada tahun 961 pada era dinasti Tang, yang mana Minana atau Minanga atau Binanga
mengirimkan utusan ke Tiongkok pada tahun 645 M untuk pertama kalinya. Dalam
berbagai tulisan nama Minana dalam teks prasasti Kedukan Bukit dianggap masih
simpang siur. Ada yang menyebut Poerbatjaraka dan Soekmono pernah berpendapat
bahwa Minana terletak di hulu Sungai Kampar (pertemuan sungai Kampar Kanan dan
Kampar Kiri yang oleh Poerbatjaraka menyimpulkan Minana[tamvan] merupakan nama
lama dari Minangkabau. Buchari mengemukakan bahwa Minana berada di hulu Batang
Kuantan, sedangkan Slamet Muljana menyatakan bahwa Minana berada di hulu Sungai
Batanghari. Yang jelas (hingga) pada masa kini, nama Minana yang mirip,
satu-satunya, adalah nama Binanga di hulu sungai Barumun, Padang Lawas.

Jika
Minana adalah Binanga (di hulu sungai Barumun) dan Srivijaya berada di sungai
Musi maka terdapat paling tidak dua kerajaan (Kerajaan Aru di Binanga Padang
Lawas di sungai Barumun) dan Kerajaan Sriwijaya di sungai Musi. Keberangkatan
raja Jyestha Dapunta Hiyam (Kerajaan Aru) dengan 20.000 tentara hingga tiba di
tempat Raja  Sriwijaya (Pelembang) dengan
berlayar (perahu) menempuh perjalanan selama kurang lebih dua bulan dari April
hingga Juni yang mana separuh waktu pelayaran sungai dan separuh waktu yang
lain pelayaran pantai. Lama perjalaan ini masuk akal.

Dalam
teks itu (raja) Dapunta Hiyang mengawali perjalanan awal (sungai) April sebelum
memulai pelayaran (perairan pantai) dari Minana (awal Mei). Lalu sebulan
kemudian (pertengahan Juni) tiba di tempat tujuan muara sungai (Sriwijaya).
Tujuannya adalah untuk meresmikan Sriwijaya. Minana dalam hal ini besar dugaan
adalah kota pelabuhan dari Kerajan Aru (Angkola Mandailing). Seperti disebut di
atas, teks yang digunakan Sanskerta (pra Melayu Kuno, Jawa Kuno) terdapat kosa
kata yang khas seperti awalan ‘mar’ pada ‘marlapas’ dan bilangan ‘sapulu dua’
yang diartikan belasan (12) secara histo-linguistik hanya ditemukan pada Bahasa
Batak (hingga ini hari). Dengan demikian, tiga kata dalam teks prasasti Kedukan
Bukit (Minana, marlapas dan sapulu dua) terhubung dengan nama tempat di daerah
aliran sungai Baroemoen. Catatan tambahan: Aroe dalam bahasa India Selatan
(Ceylon) adalah air, jadi Kerajaan Aroe adalah Kerajaan Sungai. Nama sungai
B-aroe-moen diduga merujuk pada arti sungai (aru). Dimana posisi GPS kerajaan
Aru ini pada saat itu kira-kira berada di Batang Onang (onang atau inang=ibu)
dan Binanga adalah pelabuhannya.

Pada
era invasi Kerajaan Chola ke selat Malaka pada tahun 1030 Schnitger (1935)
menyatakan ada tiga kerajaan yang ditaklukkan, yakni Kedah (di Semenanjung Malaya),
Panai (sungai Barumun) dan Sriwujaya (sungai Musi). Panai ini diduga kuat
adalah Kerajaan Aru yang berpusat di Padang Lawas yang mana sungai Panai
bermuara di sungai Barumun di Binanga. Informasi ini mengidikasikan hanya ada
dua kerajaan di (pantai timur) Sumatra dan satu kerajaan (di pantai barat)
Semenanjung Malaya. Untuk sekadar catatan: di wilayah Tapanuli Sealatan yang
sekarang, sungai Barumun berhulu di pegunungan Bukit Barisan mengalir ke arah
pantai timur, sedang hulu sungai Angkola di pegunungan Bukit Barisan dan
mengalir ke arah pantai barat. Nama Angkola diduga kuat merujuk pada nama
(kerajaan) Chola.

Dalam literatur Eropa terdapat keterangan
bahwa sejak abad ke-2 M, lewat tulisan Ptolemaeus yang menyebutkan (pulau)
Sumatra bagian utara dianggap sebagai daerah berbahaya karena diduga dihuni
oleh sejumlah masyarakat kanibal, tetapi wilayah itu kaya dengan kamper,
khususnya yang diekspor sejak abad ke-5 atau ke-6 M melalui sebuah tempat yang
bernama Barus. Keterangan ini sedikit membantu bahwa paling tidak nama Barus
sudah diketahui (di Eropa) sejak abad ke-5. Artinya apa? Prasasti Kedukan Bukit
bertarih 682 (awal Sriwijaya) mengindikasikan Barus sudah dikenal jauh sebelum
dikenal nama Sriwijaya (Palembang). Barus adalah pelabuhan Kerajaan Aru di
pantai barat. Jika memperhatikan isi teks prasasti itu mengindikasikan nama
Minana jauh lebih besar (kuat) jika dibanding Srivijaya yang besar dugaan
Binanga yang sekarang sebagai pelabuhan di pantai timur (pelabuhan Kerajaan
Aru). Dalam teks itu mengindikasikan Minana atau Binanga sebagai kerajaan yang
jauh lebih kuat dari Sriwijaya. Dalam hal ini, Kerajaan Aru (berpusat di
Angkola Mandailing) terhubung dengan pelabuhan di pantai timur (Binanga) dan
pelabuhan di pantai barat (Baroes). Sebagai catatan tambahan: Jika Sumatra
bagian utara pada abad ke-2 sebagai kaya kamper, maka masuk akal jika pelabuhan
Barus jauh lebih awal jika dibandingkan dengan pelabuhan Soenda di Jawa
(prasasti Tugu, Cilincing abad ke-5) dan pelabuhan Koetai di Borneo (prasasti
Mulawarman di Muara Kaman, awal abad ke-6).

Pasca
invasi Chola di Selat Malaka, terbentuk dua kerajaan baru yakni kerajaan di
hulu sungai Batanghari (Kerajaan Mauli) dan kerajaan di hulu sungai Kampar.
Situs Kerajaan Mauli ini kini ditemukan candi Padang Roco (di Dharmasraya) dan situs
kerajaan di hulu sungai Kampar ditemukan candi Muara Takus. Kerajaan Aru
(Panai) tetap berada di hulu sungai Barumun di Binanga (muara sungai Batang
Pane) yang kini ditemukan banyak candi-candi. Kerajaan di candi Muara Takus
diduga kuat sukses Kerajaan Kedah, sedangkan Kerajaan Mauli adalah suksesi
Kerajaan Sriwijaya.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Kerajaan-Kerajaan di Kawasan Daerah
Aliran Sungai Batanghari

Pertanyaan
kedua yang juga penting adalah situs candi mana yang lebih dulu ada, situs
candi Padang Roco (Kerajaan Mauli) di hulu sungai Batanghari atau situs candi
Muara Sebo (Kerajaan Telainapura) di hilir sungai Batanghari? Jawaban
pertanyaan ini akan menjadi penting untuk menjelaskan mengapa Kerajaan
Sriwijaya bisa bangkit kembali, dan Kerajaan Mauli relokasi ke hulu sungai
Indragiri pada era Radja Adityawarman (Kerajaan Pagaroejoeng). Lalu apakah
relokasi itu di satu sisi adalah hal lain, dan munculnya kerajaan baru (Kerajaan
Telainapura) di hilir sungai Batanghari (dengan situs candi Muara Sebo)
?

Pada tahun 1286 Radja Jawa Singhasari, Kertanegara
menghadiahkan patung Boedha  (Arca
Amoghapasa) kepeda raja kerajaan di hulu sungai Batanghari (Kerajaan Mauli). Dalam
prasasti inilah disebutkan nama Mauli dan Dharmasraya. Tentu saja tidak ada
kerajaan waktu itu di hilir sungai Batanghari. Kalaupun ada mungkin kerajaan
kecil (vassal dari Kerajaan Mauli Dharmasraya).

Schnitger
(1935) melakukan ekskavasi di candi-candi Padang Lawas (di sekitar Binanga).
Beberapa candi dibangun lebih awal dan beberapa candi yang lain ada yang
dibangun relatif bersamaan dengan candi hulu sungai Kampar (candi Muara Takus)
dan candi di hulu sungai Batanghari (candi Padang Roco Dharmasraya). Menurut Schnitger
candi Padang Lawas, candi Muara Takus dan candi sungai Langsat (Padang Roco)
memiliki karakteristik yang sama.

Pada era invasi Chola, diduga kuat Kerajaan
Aru telah menjadi Hindoe. Schnitger menyimpulkan Padang Lawas (Kerajaan Aru)
telah menghianati (keluar) agama Hindoe dan beralih menjadi agama Boedha tetapi
dengan sekte (yang baru) Bhairawa (dewa-dewa yang menyeramkan). Beberapa
penulis Belanda menyatakan bahwa sekte Bhairawa ini adalah gabungan praktek Boedha
dan praktek agama Batak (Hindoe) yang menghasilkan sekte baru dalam agama
Boedha. Schnitger membandingkan dengan candi di Indo China menyimpulkan bahwa
sekte Bhairawa di Padang Lawas terbentuk dengan masuknya Boedha dari Indo China
tersebut. Pada prasasti di candi Sitopayan (Padang Lawas) Schnitger menemukan
ada beberapa nama yang terlibat dalam pembangunan candi Sitopayan yang
mengindikasikan nama gelar di Batak dan di Jawa. Schnitger juga menemukan candi
yang lain di Rokan (candi Manggis) yang menyimpulkan ada jalur komunikasi
(transportasi darat) dari Candi Padang Lawas dengan candi Muara Takus dan
menurut cerita rakyat (legenda) saat melakukan penelitian di Muara Takus, bahwa
orang Batak (Kerajaan Aru Padang Lawas) menyerang ke wilayah dimana terdapat
candi Muara Takus. Satu hal yang membuat Schnitger tercengang, dalam studinya
menyipulkan bahwa Radja Kertanegara adalah salah satu pendukung fanatik sekte
Bhairawa. Satu lagi radja tekernal lainnya yakni Radja Adityawarman juga
pendukung fanatik sekte Bhairawa. Radja Kertanegara adalah radja terakhir
Singhasari (meninggal 1298) dan Radja Adityawarman dari Kerajaan Mauli adalah
radja pertama Kerajaan Pagaroejoeng (di hulu sungai Indragiri). Radja
Adityawarman meninggal tahun 1375). Atas dasar keyakinan inilah diduga menjadi
alasan Radja Kertnanegara mengirim patung Boedha (sekte Bhairawa) kepada
Kerajaan Mauli di hulu sungai Batanghari. Kerajaan Sriwijaya yang mulai bangkit
(pasca invasi Chola) disebutkan pernah diserang Singhasari (diduga karena
berbeda, meski sama-sama Boedha, tetapi Singhasari di era Kertanegara penganut
agama (Boedha) Batak sekte Bhairawa. Alasan lainnya karena Kerajaan Srwijaya
yang mulai bangkit diduga menjadi ancaman bagi Kerajaan Mauli (sekte Bhairawa)
sehingga harus dilumpuhkan. Sejak itu Kerajaan Sriwijaya benar-benar mengalami
kemunduran (hingga kelak muncul Kerajaan Palembang).

Kerajaan
Padang Lawas (Kerajaan Aru) semakin berkembang. Ini mengingatkan Kerajaan
Sriwijaya yang pernah diperkuat Kerajaan Aru di Binanga (lihat lagi prasasti
Kedukan Bukit 682) telah menurun, sementara Kerajaan Aru di Binangan (Padang
Lawas) justru makin berkembang pesat (meski pernah sama-sama diinvasi oleh
Kerajaabn Chola dari India Selatan).

Setelah meninggalkanya Radja Kertanegara
(1298) Kerajaan Singhasari di hulu (wilayah Malang yang sekarang) mengalami kemunduran
dan muncul kerajaan Majapahit di wilayah hilirnya (wilayah Mojokerto yang
sekarang). Kerajaan Majapahir adalah penganut (agama) Hindoe. Dalam fase
kejayaan Kerajaan Majapahit (yang Hindoe) berhadapan dengan kerajaan-kerajaan
di Sumatra (yang Boedha) yang mana di Kerajaan Mauli dan Kerajaan Aru (Boedha
sekte Bhairawa),

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari album foto Bali-Jawa sekitar tahun 1920 (31): Kawasan pegunungan Jawa Timur

31.12.2021
Sejarah

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (5)

30.12.2021
Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (325): Pahlawan Indonesia Tadjuddin Noor, Borneo; Indische Vereeniging di Leiden, Volksraad di Batavia

30.12.2021
Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (324): Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris Asal Kutai; Pantai Timur Borneo pada Era VOC

30.12.2021
Sejarah

Dari album foto Bali-Jawa sekitar tahun 1920 (30): Enam foto dari Jawa Timur

29.12.2021
Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (323): Pahlawan Nasional Pengeran Mohamad Noor, Banjar; THS te Bandoeng, Volksraad dan BPUPKI

29.12.2021
Next Post

How I Spent Weekend: Annual Declutter

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Toeristenbond voor Nederland terbitan 1911: 25-30

Iklan

Recommended Stories

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Bank Sinarmas di  Jakarta Timur

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Bank Sinarmas di Jakarta Timur

20.11.2020

Air Terjun Tegan Kiri: Dari Suara Tangis sampai Keindahannya

10.04.2012

Khutbah Idul Adh-ha (Renungan Terhadap Keadaan Kita)

08.10.2013

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

21.01.2026
Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

21.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?