*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Bukittinggi dalam blog ini Klik Disini
Narasi sejarah kita,
tentang sejarah zaman kuno tertolong karena masih ditemukannya candi, prasasti
dan benda-benda kepurbakalaan lainnya. Data-data zaman kuno ini jika
dikombinasikan dengan data-data zaman Now seperti peta satelit (googlemmap atau
googleerath) dan bentuk-bentuk visual lannya seperti video drone, gambaran
tentang sejarah zaman kuno kita akan memperkaya narasi sejarah yang bersumber
dari teks sejaman seperti peta, koran, majalah dan foto. Dalam konteks inilah
pentingnya keberadaan candi di suatu wilayah (daerah).

terdapat sejumlah candi di berbagai kabupaten seperti Dharmasraya, Pasaman, Tanah Datar dan Agam. Sebaran itu sudah
cukup mewakili luas provinsi Sumatra Barat yang sekarang. Di seputar
candi-candi tersebut juga ditemukan prasasti-prasasti. Penemuan benda-benda
kuno di wilayah provinsi Sumatra Barat semakin meningkat bahkan hingga pada
tahun-tahun terakhir ini seperti di Padang Nunang, Rao (2019). Oleh karena itu
sejauh data zaman kuno tersebut tetap ditemukan maka narasi sejarah zaman kuno
di Sumatera Barat tidak pernah berhenti. Namun yang menjadi persoalan, sejauh
mana data-data zaman kuno itu dianalisis yang sesungguhnya akan memperkaya (manambahkan
atau koreksi) narasi sejarah yang ada.
Lantas
bagaimana sejarah candi di Sumatera bagian tengah khususnya di provinsi
Sumatera Barat? Boleh jadi sudah ada yang menulisnya. Lalu apa
pentingnya sejarah candi-candi tersebut? Seperti disebut di atas, data candi dan benda
kepurbakalaan lainnya akan memperkaya narasi sejarah yang ada. Darimana
sejarahnya dimulai. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Candi-Candi Zaman Kuno
Pada masa ini biara dan biaro meski dipertukarkan
namun adakalnya ditafsirkan berbeda, nama geografi atau tempat tinggal
(Katolik). Tidak ada nama tempat Biasara atau Biaro di Tapanuli (Selatan),
tetapi ada nama tempat (nagari) Biaro [Gadang] di kecamatan Ampek Angket, kabupaten
Agam (Sumatera Barat). Nagari Biaro Gadang ini terdiri dari 6 wilayah jorong
yakni: Biaro (kantor kecamatan), Tanjung Alam, Tanjung Medan, Lungguk Muto,
Pilubang dan Batang Buo. Nama tempat Biaro juga ditemukan di kabupaten Musi
Rawas (Sumatera Selatan). Nama tempat Biara ditemukan di kabupaten Aceh Utara.
Mengapa tidak ditemukan nama tempat Biaro atau Biara di Padang Lawas (Tapanuli
Selatan)? Boleh jadi karena begitu banyak biaro (candi).
Penemuan candi zaman
kuno (biara arau biaro) masih terus ada. Demikian juga benda-benda
kepurbakalaan. Penemuan benda kepurbakalaan di Sumatwera Barat belum lama ini
tentulah menarik perhatian. Benda berupa patung (makara) itu ditemukan di desa
Padang Nunang, kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman. Patung tersebut ditemukan di
permukaan air selepas banjir akibat meluapnya sungai Sibinail (Kamis, 26-09-2019).
Berdasar peta satelit Googlemap, nama sungai Sibinail merujuk pada nama tempat,
suatu desa di kecamatan Muara Sipongi, kabupaten Mandailing Natal (Sumatra
Utara).
Penemuan makara di Rao yang diduga dari era Hindoe
Boedha, cukup beralasan, karena menurut informasi yang ada di kecamatan Rao terdapat
peninggalan zaman kuno era Hindoe Boedha seperti candi Koto Rao, prasasti Kubu
Sutan dan dwarapala (penjaga bangunan suci). Namun bagaimana kabar selanjutnya penemuan
itu kurang terinformasikan (apakah valid dari zaman kuno).
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Inventarisasi
Temuan Benda-Benda Kepurbakalaan
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






