*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Australia dalam blog ini Klik Disini
Berabad-abad
orang Indonesia (baca: Hindia Timur) datang dan menetap di benua baru
Australia. Itu bermula jauh sebelum kehadiran Portugis, orang-orang Hindia
Timur yang menjadi rekan bisnis orang-orang Moor yang beragama Islam yang
berasal dari Afrika Utara. Orang-orang Hindia Timur itu bahkan mencapai pulau
di Selandia Baru yang sekarang. Hal itulah mengapa bahasa Maori banyak yang
mirip dengan bahasa-bahasa di Hindia Timur. Migrasi orang Hindia Timur ke
Australia semakin banyak pada era Portugis (pantaio utara Australia) dan
semakin meningkat lagi pada era VOC (pantai barat Australia hingga pulau
Tasman). Arus migrasi itu baru menurun pada era Pemerintah Hindia Belanda.

migrasi orang Hindia Tiuur seakan berhenti. Sejak pelaut Inggris menemukan
Australia pada tahun 1773 dan terusirnya Inggris dari Amerika Serikat
(proklamasi kemerdekaan 1776), Perdana Menteri Inggris Lord Sydney menetapkan
Australia sebagai koloni baru Inggris dengan misi pertama menetapkan Australia
sebagai tempat pengasingan orang yang terjerat hukum (para pejuang demokrasi,
para narapidana dan golongan lainnya). Lalu kemudian muncul kebijakan baru
pemerintah Inggris dengan program transmigrasi setengah sukarela (pemerintah
Inggris mengirim rombongan-rombongan migran dengan biaya transportasi gratis
tetapi lahan dijual pemerintah dan dibayar dengan mencicil dari hasil
produksi). Ini sehubungan sejak 1829 seluruh Australia dinyatakan milik Inggris
(seperti halnya kasus 1824 tukar guling Malaka (Belanda) dan Bengkoelen
(Inggris). Untuk meningkatkan program ini selanjutnya diterapkan seleksi yang
ketat (usia muda 18-31 tahun dan berbadan sehat). Program transmigrasi ini di
South Australia (terbentuknya kota Adelaide) dan West Australia (terbentunya
kota Perth). Sehubungan dengan ditemukannya tambang-tambang baru, program
berikutnya adalah transmigrasi swakarsa di berbagai titik pertambangan
(rombongan ini jumlahnya sangat masif dan golongan mayoritas inilah yang kelak menjadi
awal munculnya sarikat (partai) buruh yang melahirkan kebijakan rasial (White
Policy). Kebijakan pemerintah berikutnya adalah mengirim para wanita muda
(gadis atau janda) untuk mengibangi sex ration di Australia.
Lantas
bagaimana sejarah menhilangnya orang-orang Belanda di Australia? Seperti disebut di atas, Inggris tersingkir dari
Amerika Serikat, dan Pemerintah Inggris memerlukan koloni pengganti (yang
awalnya sebagai tempat buangan). Kesepakatan-kesepakatan antara Belanda dan
Inggris menyebabkan seluruh Australia pada tahun 1829 menjadi milik Inggris.
Lalu bagaimana sejarah dilarangnya warga kulit berwarna coklat (Hindia Belanda)
di Australia? Seperti disebut di atas, golongan migran buruh
semakin mayoritas yang menyebabkan munculnya sarikat buruh Eropa yang diikuti
kebijakan White Policy. Lantas mengapa Australia Inggris menjadi rasis, tidak
seperti di Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Australia dari Belanda ke
Inggris: Awalnya Tempat Orang Buangan
Proklamasi
kemerdekaan Amerika Serikat 1776 menyebabkan Inggris tersingkir dari Amerika
Serikat. Sebelum kemenangan Amerika Serikat tercapai (yang dipimpin Jenderal
Washington), Inggris sudah menyadari akan kalah. Lalu Pemerintah Inggris
mengirim James Cook tahun 1772 ke Laut Selatan menyelidiki benua baru Australia
(yang sudah lama dihuni oleh orang-orang Belanda (yang berbpusat di Indonesia
Hindia Timur). Untuk misi itu, James Cook memetakan Australia sangat detail
(terbitlah peta Australia yang paling rinci yang menjadi lampiran buku yang
ditulis dan diterbitkan pada tahun 1777).
James Cook diberitakan pulang dari Laut
Selatan (lihat Haarlemse Courant, 05-08-1775). Laporan James Cook ini dibukukan
dan diterbitkan pada tahun 1777 dengan judul ‘A Voyage Round the World in his
Majesty Sloop Resolution, commanded by
Kapt James Cook 1772-1775’ ditulis oleh George Forster (lihat Oprechte
Haarlemsche courant, 03-04-1777). Setahun kemudian (1778) Pemerintah Inggris
(Perdana Menteri Lord Sydney) menetapkan Australia (New South Wales) sebagai
tempat pembuangan tahanan politik (Satu abad sebelumnya pada era VOC, Gubernur
Jenderal di Batavia tahun 1667 menetapkan Afrika Selatan sebagai tempat pembuangan
tahanan politik orang Hindia Timur-Indonesia). Tahun 1778 kini dijadikan
sebagai hari lahir kota Sydney yang menjadi ibu kota New South Wales (merujuk
pada nama Lord Sydney).
Untuk
mendukung kebijakan baru Pemerintah Inggris menetapkan koloni baru di Australia,
setelah kekalahan di Amerika Serikat, Pemerintah Inggris via Gubernur Jenderal
Inggris di Calcutta, merelokasi skuadron Inggris di Madras untuk merapat ke
pantai barat Sumatra (koloni Inggris di Bengkoelen). Orang Belanda di Hindia
Timur (termasuk di Sumatra) terancam. Inggris yang telah menggantikan Amerika
Serikat dengan Australia ingin pula menyatukannya dengan Hindia Timur (baca:
Indonesia). Misi itu tercapai pada tahun 1811.
Kehadiran skuadron Inggris di pantai barat
Sumatra, secara perlahan menyebabkan orang-orang Belanda di Sumatra menyingkir
ke Jawa (pusat VOC di Batavia). Kapal perang Inggris yang makin rajin
mengelilingi Australia, menyebabkan orang-orang Belanda di Australia menyingkir
ke Hindia Timur. Ketika Prancis (Napoleon) menduduki Belanda di Eropa, kemudian
militer Prancis tahun 1795 diperintahkan menduduki Jawa (mengambil alih dari
VOC). Inggris yang semakin menguat di Sumatra dan Australia mengambil
kesempatan menduduki kepulauan Sunda Kecil (kini Nusa Tenggara), Borneo, Celebes
dan Maluku (minus Ternate yang mendapat perlawanan dari VOC). Misi Inggris
akhirnya tercapau menyatukan Australia dan Hindia Timur dengan menduduki Jawa
pada tahun 1811. Habis sudah orang-orang Belanda di Australia.
Proses
politik di Eropa menyebabkan Inggris harus mengembalikan Hindia Timur kepada
belanda pada tahun 1816. Berat rasanya bagi Inggris. Awalnya hanya Jawa yang
diserahkan dan kemudian Inggris tetap bertahan di Sumatra hingga akhirnya terjadi
perundingan antara Inggris dan Belanda tahun 1824 (Traktat London). Satu yang
penting dari perjanjian ini adalah proses tukar guling Malaka (Belanda) dengan
Bengkoelen (Inggris) dan penarikan batas yurisdiksi di Borneo Utara (Serawak,
Brunai dan Sabah) dan Papoea Timur (kini Papua Nugini).
Sejak Traktat London (1824) kemudian menyusul
perundingan baru antara Belanda dan Inggris, yang kemudian pada tahun 1829
seluruh Australia menjadi milik Inggris.Pada tahun ini pula program transmigrasi
dari Inggris yang ditempatkan di West Australia (Perth) dan kemudian disusul South
Australia (Adelaide). Pada era ini untuk kebutuhan tenaga kerja didatangkan
dari Semenanjung (Melayu), Bengal (kini Bangladesh) dan Tiongkok (Cina).
Orang-orang Melayu, Cina dan India seakan menggantikan arus migrasi orang Hindia
Timur hingga berakhirnya era VOC. Namun untuk orang Hindia Timur (Indonesia)
yang berasal dari Papua tidak dipermasalahkan (karena alasan tertentu).
Penemuan
tambang-tambang baru di Australia, menyebabkan kebutuhan tenaga kerja di
Australia meningkat drastis. Untuk itu dikeluarkan program baru di Inggris
untuk mengarahkan migran buruh ke Australia. Jumlahbnya dari waktu ke waktu
meningkat dan jumlah migran buruh ini sudah melampaui jumlah orang Inggris
(orang buangan dan para transmigran). Para migran buruh yang sangat banyak ini
lambat laun menjadi kekuatan sendiri di Australia yang menyebabkan dilema bagi
pemerintah Inggris. Sarikat buruh yang terbentuk mulai memiliki bargaining
power dalam mempertahankan tingkat upah (setara Eropa).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Negara (Federasi) Australia:
Rasis White Policy dan Partai Buruh
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



